Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Kenapa kau berisik Akila? Ikut saja denganku, memangnya aku sungguhan ingin membunuh orang? Ikut saja aku Akila!" Ucap William dengan nada yang penuh peringatan.
Akila tersentak kaget, tangannya digenggam lalu ditarik. Bibir William dengan cepat menempel di bibir Akila lalu menahan tengkuk Akila yang mulai berontak.
Dada William tampak dipukul Akila beberapa kali, namun bibir William rakus menikmati bibir Akila.
Hahhh!
Nafas Akila memburu usai ciuman terlepas.
"Anggap itu hukuman karena kau berani menolakku." Ucap William bangkit berdiri seraya menjilat bibirnya sendiri.
"Aku tunggu kau dibawah, ganti dengan gaun pilihanku. Jika lama, aku benar-benar mengganti keinginanku. Aku tak pernah main-main dalam berucap Akila, kalau kau masih bertingkah maka kita buat Anak saja di kamar ini." Ucap William.
Usai mengatakan hal itu, William berlalu pergi keluar dari kamar itu.
Dengan segera Akila usap kasar bibirnya, ia jijik dan muak dengan cara William memperlakukannya.
"Pria gila!" Umpat Akila kesal bukan main.
---
Langkah kaki itu terdengar.
William ada bersama dengan Reno di bawah, tubuh William berbalik hingga tatapannya jatuh pada Akila yang cantiknya luar biasa.
Tak ada kata lain selain Akila itu sangat cantik.
Tubuhnya indah dipadu dengan gaun itu.
William menyukai pilihan gaunnya sendiri.
"Tersenyumlah Akila." Ucap William.
Akila membuang tatapannya, ia menatap ke arah lain alih-alih wajah William.
Tersenyum bagaimana? William itu pemaksa, bahkan saat ini saja ia memakai gaun hanya untuk melihat William membunuh pelaku yang membuat banyak kerugian di Perusahaan William.
William hanya bisa menghela nafas melihat Akila diam di tempat.
Akhirnya William yang melangkahkan kakinya mendekati Akila.
"Kau memang suka membuatku banyak bicara, Akila." Ucap William menarik pinggang Akila hingga tubuh mereka menempel.
Hidung William menghirup puncak kepala Akila. Wanginya candu bagi William.
Sial! Makin lama berdekatan dengan Akila, kini William merasa kalau Akila mampu menariknya semakin dalam.
William makin menginginkan Akila.
Apakah itu obsesi? Persetan! William tak peduli sama sekali.
"Ayo kita berangkat." Ajak William.
Akila menahan diri, ia memegang jas yang dipakai William.
"Apa kau sungguhan ingin membunuh orang? Tolong jangan lakukan itu William." Ucap Akila.
William jadi terkekeh kecil.
"Lihat nanti." Ucap William.
Tangan William tetap ada di pinggang Akila, ia membawa Akila keluar lalu masuk ke sebuah mobil.
---
Mobil itu kini ada di kota, entah kemana tujuan William saat ini. Tatapan Akila ada di jalan, ia mengamati banyak keramaian di luar sana sampai matanya tak salah melihat dua Anak kecil ada di sebuah minimarket jalan.
Mata Akila membulat, sungguh Akila tak salah lihat.
Itu dua kembarnya milik Akila.
Tiba-tiba...
"Hentikan mobilnya!" Ucap Akila refleks.
Mobil masih tetap jalan membuat Akila emosi.
"AKU BILANG HENTIKAN MOBILNYA!" Teriak Akila membentak.
William ikut kesal.
"Jangan berulah Akila!" Ucap William.
Mata Akila memberikan pelototan pada William, ia sama sekali tak menunjukkan raut takut.
"Kau ingin meminta orangmu menghentikan mobilnya atau aku pecahkan kaca mobilmu ini?!" Ancam Akila.
William benar-benar dibuat geram oleh Akila, tapi ia juga penasaran apa yang barusan Akila lihat.
"Hentikan mobilnya, Reno." Ucap William.
"Baik Tuan." Balas Reno.
Reno hanya patuh pada perintah William.
Pintu langsung terbuka, Akila mengangkat gaun itu lalu berlari tanpa ragu membuat William mengikuti Akila.
Nafas Akila terengah-engah.
Dimana Anak-anak yang tadi Akila lihat?
Jelas sekali kalau Akila mengenal dua Anak-anaknya.
'Dimana mereka? Dimana Athena dan Atheos? Dimana? Jelas sekali kalau yang aku lihat adalah mereka.' ucap Akila membatin.
Mata Akila sudah berkaca-kaca, kalau itu benar-benar Anak kembar milik Akila maka Akila sungguh akan merasa sedih.
'Ya Tuhan, aku tak salah melihat. Itu sungguh dua kembar milikku.' ucap Akila kembali membatin.
Mata Akila mengedar kemanapun, tapi tak ada yang Akila temukan.
Dua Anak itu sepertinya halusinasi milik Akila saja.
William memperhatikan Akila dalam diam.
Terlihat jelas kalau Akila sangat frustasi.
Air mata itu tak tertahankan.
Detik itu juga Akila berjongkok, wajahnya ia tutup dengan lututnya.
'Mommy rindu, sangat rindu.' ucap Akila membatin.
William mendekat.
"Siapa yang kau lihat Akila? Apa itu kekasihmu? Kau tampak frustasi hingga seperti ini." Ucap William.
Tangan Akila terkepal, melihat William membuat kefrustasian Akila meningkat.
Akila kembali berdiri, ia menatap wajah William lalu memukul dada William beberapa kali.
"Harusnya kau tak pernah mengusik hidupku lagi William. Kau mengacaukan segalanya, aku semakin membencimu." Ucap Akila.
William tak banyak bicara, ia langsung menarik tangan Akila lalu membawa Akila kembali masuk ke mobil itu.
Mobil pun pergi setelah William memberi perintah pada Reno untuk menjalankannya.
Terlihatlah dua Anak keluar dari persembunyiannya.
Athena memukul tangan Atheos yang masih membekap mulutnya.
Bugh!
Saat tangan Atheos menjauh, Athena langsung berucap.
"Mommy di depan kita, Mommy cantik sekali tapi kenapa kau membawaku bersembunyi? Harusnya kita rebut kembali Mommy dari pria bernama William itu. Posisinya dekat sekali kenapa harus bersembunyi?!" Tanya Athena emosi.
Akila sudah hampir digapai tadinya, tapi anehnya Atheos menyeret Athena untuk bersembunyi.
Air mata Athena berjatuhan.
"Bukan sekarang Athena, ini bukan waktu yang tepat. Asal keadaan Mommy baik-baik saja maka tenanglah. Aku juga rindu Mommy, tapi jika kita muncul sekarang maka kita hanya akan menyulitkan Mommy. Tunggu sebentar lagi." Ucap Atheos.
Isak tangis milik Athena berhenti perlahan.
Atheos mengusap lembut puncak kepala Athena.
"Kau lihatkan, Mommy juga rindu kita. Tenanglah, untuk saat ini apa yang aku katakan itu benar. Tunggu sebentar lagi, kita akan bertemu dengan Mommy. Kita bawa pulang Mommy." Ucap Atheos.
"Kau pasti bohong." Ucap Athena.
Atheos menggeleng.
"Sungguh, aku tak bohong." Jawab Atheos.
Keduanya berpegangan tangan untuk kembali bersama.
Ponsel milik Atheos menyala tanda ada pesan masuk.
Tuan Atheos, saya tertangkap. Apapun yang terjadi tetaplah bersembunyi. Saya akan berusaha bertemu dengan Tuan, saya sungguh ingin berterima kasih atas kebaikan Tuan pada saya.
Pesan itu adalah pesan terakhir Diego untuk Atheos.
---
Prak!!
Ponsel itu hancur, tubuh Diego tersungkur.
Postur tubuh yang besar tetap tak bisa menandingi bawahan milik William yang sudah terlatih.
"Jadi siapa nama Tuanmu itu? Tunjukan padaku!" Ucap seorang pria yang kini menarik kerah baju Diego.
Diego bungkam, tak akan sudi ia menyebutkan nama malaikat penyelamat hidupnya.
"Kau akan mati di tangan Tuan kami jika mulutmu tak mau berucap!" Ucap pria itu lagi.
Diego tersenyum.
"Aku rela mati daripada membongkar siapa nama Tuanku." Ucap Diego dengan yakin.
Bawahan William berdecih, ia menendang tubuh Diego hingga meringis mengeluarkan darah dari mulutnya.
Suara langkah kaki terdengar, pria itu langsung menjauh dari Diego.
Ada William yang muncul bersama Akila yang terus ia gandeng.
"Apa aku sudah memberimu perintah untuk melukainya?!" Tanya William dengan tatapan datar.
Pria itu menunduk.
"Maafkan saya Tuan, saya..."
"Keluar dari sini kalian semua!" Ucap William.
Rahang William sejak tadi mengeras, ia emosi pada Akila entah apa alasan Akila minta turun dari mobil di tengah jalan tadi.
Tubuh Akila ditarik terus masuk ke dalam Markas besar milik William.
Di tengah sana ada ruang makan yang sudah dihias.
Akila bingung dan tak mengerti.
"Makanlah!" Ucap William dengan nada datar.
Sepertinya William hendak membuat acara sampai meminta Akila menggunakan gaun, tapi mood pria itu sudah kacau.
Akila hendak duduk tapi William malah mengambil gelas lalu memecahkannya ke lantai.
"Apa kau tak sadar kalau mood ku buruk saat ini Akila?!" Tanya William.
Akila menatap wajah William penuh amarah.
"Malam ini aku ingin seluruh pasukkanku tahu bahwa kau istriku, tapi kau mengacaukan segalanya Akila!" Bentak William.
Akila masih diam.
"Katakan sesuatu agar aku berhenti marah! Katakan Akila!" Bentak William.
Akila semakin terkejut, ia juga mundur saat satu gelas William lemparkan ke lantai lagi.
Pelayan saja sudah menunduk takut, bahkan para penjaga juga tak ada yang berani mengangkat kepala mereka.
Nafas William tak beraturan, melihat Akila diam terus akhirnya William berucap.
"Seret pria itu ke hadapanku Reno!" Perintah William.
"Baik Tuan." Balas Reno patuh.
Tubuh Diego benar-benar diseret oleh Reno ke hadapan William.
Tangan William meraih pisau yang ada di atas meja membuat Akila tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jika Akila mengingat kisah lama, maka endingnya orang yang kini tersungkur itu akan mati.
Akila dengan berani melangkah mendekati William, ia menahan tangan William.
"Jangan William." Pinta Akila.
William jadi melihat ke arah wajah Akila.
"Aku kira kau bisu, sekarang kau sudah mau bicara ya?" Tanya William.
"Maaf. Aku hanya seperti melihat temanku, aku merindukannya. Dia perempuan, dia sahabat terdekatku. Tolong jangan marah William."
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .