Saling mengenal, nyaman, jatuh cinta hingga akhirnya memutuskan untuk menikah, semua itu adalah proses yang di lalui dua insan yang di pertemukan oleh semesta untuk saling melengkapi satu sama lain.
Kehidupan rumah tangga yang penuh suka duka terlewati dengan canda tawa, nyatanya tidak menjadi jaminan bahwa pondasi yang terbangun akan terus kokoh. Milda Anggraini, harus menelan pil pahit karena mendapati sang suami mempunyai wanita idaman lain.
Sakit dan sudah tidak sanggup untuk menjalani pernikahan yang telah hancur Milda meminta untuk diceraikan, tetapi di saat yang bersamaan ia dinyatakan hamil. Terjebak dalam situasi yang rumit akhirnya Milda tetap bertahan meski sulit.
Sampai pada suatu hari seorang pria bernama Dewa kembali datang di kehidupannya dan membantu ia untuk melewati masa-masa sulit. Bagaimana kisah mereka selanjutnya akankah Milda tetap bertahan menjadi istri Devan atau meminta cerai dan menerima Dewa menjadi pria pengganti Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6
Perasaan yang masih tak karuan, membuat Milda tidak bisa tidur semalaman. Pagi ini, dia terus duduk melamun di balkon kamar, padahal jam baru menunjukkan pukul enam pagi.
"Mil, kamu ternyata di sini." Rania yang baru saja bangun terlihat bingung ketika mendapati sang sahabat duduk melamun di balkon. Sebagai seorang sahabat tentu saja dia merasa begitu khawatir dengan kondisi Milda saat ini.
Kepala Milda menoleh perlahan ke arah sumber suara. Dia masih bisa tersenyum meski wajahnya terlihat begitu pucat karena kurang tidur. "Aku ingin melihat matahari terbit. Kamu sendiri sudah bangun, apa ada jadwal pagi?"
Rania mendekat dan ikut duduk di samping sang sahabat. "Hari ini aku libur. Mil, wajah kamu pacar sekali. Apa tidak sebaiknya kamu dirawat saja di rumah sakit?"
"Aku baik-baik saja kok." Milda berdiri dan bersiap-siap untuk kembali masuk ke dalam kamar. "Karena hari ini kamu libur, aku akan memasak sarapan pagi untuk kita makan bersama."
Ketika Milda hendak beranjak pergi, Rania tiba-tiba saja meraih pergelangan tangannya. "Jangan melakukan aktivitas dulu. Lagi pula wajahmu terlihat begitu pucat, istirahat sajalah."
"Tidak, aku bisa kok." Dia melepaskan tangannya dari genggaman Rania dan kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba perut Milda terasa nyeri. Tubuh Milda mendadak lemas, dia jatuh bersimpuh sambil memegangi bagian perutnya.
Melihat hal tersebut, Rania pun segera berlari menghampiri sang sahabat. Matanya membulat sempurna ketika melihat wajah sang sahabat yang berkeringat dan juga sangat pucat. "Mi-Milda, kamu pucat sekali. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Perutku sakit sekali." Milda kembali meringis ketika sakit di bagian perutnya semakin menjadi. Bukan hanya panik tetapi pikirannya juga mulai dipenuhi dengan hal-hal negatif.
Belum hilang rasa kekhawatiran Rania tiba-tiba saja diantara kedua kaki Milda keluar darah segar. "Mil, kamu mengalami pendarahan. Kita harus segera ke rumah sakit."
Kondisi tubuh yang semakin lemas membuat Milda, tidak lagi bisa merespon. Dalam kondisi setengah sadar air matanya mulai keluar dari sudut mata.
Dalam kondisi panik, Rania bergegas meraih ponsel di atas nakas. Saat ini dia benar-benar membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan sahabatnya.
***
Sementara di tempat berbeda. Soraya terbangun ketika mendengar suara dering ponsel dari atas nakas. Perlahan dia beranjak turun lalu meraih ponsel tersebut. "Huh, Rania? Bukannya dia adalah teman dekat Milda, untuk apa dia menelpon Devan pagi-pagi begini."
Soraya terdiam sebentar lalu segera mematikan panggilan tersebut. Dia tidak akan membiarkan Milda mengambil alih perhatian Devan lagi, karena sekarang ia ingin menguasai laki-laki itu sendiri. Ya, kemarin dia dan Devan sudah resmi menikah.
Setelah meletakkan ponsel itu di atas naskah, Soraya bergegas kembali berbaring. "Sayang, bangunlah. Hari ini kita harus pergi liburan ke luar kota." Dia menepuk pelan pipi Devan pelan, hingga akhirnya pria itu terbangun.
Sambil mengerjapkan mata, dia tersenyum lalu membalas pelukan Soraya. "Apa kamu sungguh-sungguh ingin pergi berlibur? Waktunya sangat singkat karena aku harus bekerja."
Soraya menganggukkan kepalanya cepat. "Pokoknya kita harus pergi hari ini juga. Kamu sudah janji kepadaku. Pergilah mandi dan aku akan mengemas pakaian kita."
"Baiklah, sayang." Devan bangkit dari posisi berpalingnya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekarang yang ada di pikiran Devan hanyalah tentang bagaimana membahagiakan Soraya. Padahal di tempat lain Milda sedang kesakitan dan sangat membutuhkan dirinya.
***
Brankar rumah sakit di mana Milda terbaring tak berdaya, didorong masuk ke sebuah ruangan khusus untuk menjalani pemeriksaan.
"Kak Dewa tunggu di sini, aku akan memeriksa Milda," ujar Rania kepada Kakaknya. Ya, karena Devan tidak bisa dihubungi mau tidak mau dia meminta bantuan dewa untuk membawa meledak ke rumah sakit.
"Baiklah, aku akan tunggu di sini." Dewa berusaha untuk mengatur napas karena tadi dia berlari dan menggedong Milda.
Rania yang dibantu asistennya menyiapkan peralatan medis untuk memeriksa kondisi janin Milda. Kehamilan di trimester awal memang sangat rentan.
Begitu banyak faktor pemicu pendarahan pada ibu hamil dan salah satunya adalah stress. Kehamilan yang terjadi diambang batas kehancuran rumah tangga membuat Milda tidak bisa mengontrol pikiran dan perasaannya.
***
Satu jam berlalu. Akhirnya Milda sudah sadar, ia memandangi sekeliling ruangan sambil mengerjap bingung. Namun setelah beberapa saat dia ingat, apa yang telah terjadi kepadanya.
"Akhirnya kamu sadar juga, apa ada yang sakit?"
Milda memicingkan matanya, melihat seorang pria yang berdiri di samping brankar rumah sakit. Kilau pantulan cahaya dari jendela membuat wajah pria itu tidak terlihat jelas. "Kamu siapa?"
Lengkungan senyum tergambar dari wajah pria itu, ia melangkah lebih dekat agar Milda bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas. "Ini aku, tadi kamu mengalami pendarahan. Aku dan Rania yang membawamu ke mari."
Milda terdiam sebentar, menatap wajah pria yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia lihat. Pria itu masih sama, bahkan senyumnya masih sama namun yang berbeda hanya keadaan diantara mereka. "Kak Dewa ... a-apa yang terjadi, apa kondisi janinku baik-baik saja?"
'Bagaimana cara aku mengatakan semuanya, apa dia akan mengerti dengan kondisi yang terjadi. Kasihan sekali kamu, Milda, batin Dewa'
"Kita tunggu Rania saja. Aku tidak tahu harus menjelaskan semua." Dewa terlihat canggung, sampai salah tingkah sendiri. Dia mengambil kursi dan duduk di samping brankar. "Kamu jangan terlalu cemas, semoga semua baik-baik saja."
Milda menundukkan kepala, ia tak kuasa menahan air mata. Semua pikiran negatif tentang kondisi sang janin, mulai memenuhi kepalanya. "Ya, semoga saja."
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Milda dan Dewa menoleh ke arah pintu. Terlihat Rania melangkah masuk bersama seorang perawat wanita.
Pikiran Milda semakin tak karuan ketika ekspresi wajah sang sahabat seolah menjelaskan segalanya. "Ran, katakan kepadaku jika semuanya baik-baik saja." Dia mulai berkaca-kaca.
Rania mendekat dan langsung meraih tangan Milda. "Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu ... Mil, janin kamu tidak berkembang dengan sempurna. Janin kamu harus segera dikuret, sebelum semakin memperburuk kondisi kesehatanmu."
Satu-satunya harapan yang Milda miliki, kini terancam hilang dari dirinya. Hancur berkeping-keping, Milda masih berharap semua itu hanya mimpi, tetapi nyatanya bagian perut yang kian berdenyut seolah menyadarkan dia bahwa semua nyata.
"Ran, aku tidak mau dikuret. Devan, dia pasti juga tidak mau kehilangan anaknya. Katakan Devan di mana sekarang, Ran?"
Rania mencengkram erat kedua sisi pundak Milda. "Dengarkan aku baik-baik, Mil. Sejak kamu masuk rumah sakit, pagi ini Devan sudah tidak bisa dihubungi. Dan kamu tahu apa, temanku yang bekerja di perusahaan Devan mengatakan bahwa dia pergi berlibur ke luar kota bersama wanita itu. Aku mohon, kamu harus kuat menjalani semua ini. Kamu harus diberikan tindakan medis secepatnya."
Milda tidak bisa lagi menahan air matanya, ia tertunduk lemas seraya terus terisak-isak. Setelah beberapa saat dia kembali melihat Rania. "Ran, kenapa hidupku begitu berat. Aku hanya ingin bahagia tetapi susah sekali."
Rania yang mulai berkaca-kaca, segera mendekat dan memeluk sahabatnya. "Kamu harus sabar dan kuat. Badai akan berlalu, yakinlah."
Bersambung 💕
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya...
follow akun Instagram Author
@alya_aziz04
*pelakor, dia akan menunjukkan sifat aslinya dengan rayuan menjijikan dan mengunakan tubuhnya untuk menjerat mangsa dan merusak rumah tangga orang
*pebinor ini yang bahaya, lelaki licik, dia tidak akan menunjukkan sifat asli tapi dengan liciknya dia akan datang sebagai pahlawan menjijikan dia akan menunjukkan sifat palsu sok baik, sifat buruknya dia sembunyikan, dia dengan licik mendekati istri yang sedang ada masalah rumah tangga dan sok beri saran tapi sebenarnya dia dengan licik menghasut supaya istri bercerai, sesudah bercerai baru dia melancarkan aksinya,
faktanya pebinor lebih licik dari pelakor
tapi karena author dan reader rata wanita labil jadi mereka kebaperan dengan kebaikan lelaki lain alias pebinor
Dan utk Devan ada saatnya km menyesal. Menyesali semua yg tlh trjd kemudian kecewa, kecewa berkepanjangan. Slmt menikmati kebahagiaan sesaatmu Devan yg pd akhirnya penyesalanmu tak ada gunanya lg