Namaku Yuta Mayasaki, aku mempunyai seorang pacar bernama Giza, gadis cantik yang merupakan madona sekolah SMA Jayakarta.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, Ayahku yang seorang duda membawa pacarnya dan juga seorang gadis yang merupakan anak dari pacarnya.
Namun saat aku melihat penampilannya... ya, benar sekali, anak dari pacar ayahku itu adalah Giza.
Bagaimana hubunganku dengan Giza seterusnya? Apakah masih boleh kita berpacaran walaupun kita kakak adik? Bukankah ini cinta terlarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noya Clarissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.5 Bertemu Ketua Osis
Bel istirahat sudah berbunyi, tetapi kali ini tidak ada gadis imut yang biasanya memanggilku saat jam istirahat dimulai.
Tadi pagi, saat kami sarapan bersama, Giza bilang kepadaku, katanya hari ini dia gak bisa makan bekal bareng karena dia ada urusan sama guru. Giza juga menyarankanku untuk makan bersama temanku saja.
Tapi yah ... teman-temanku—khususnya Rito dan Fujii, mereka berdua jarang sekali membawa bekal. Menurut mereka, membawa bekal itu hanya memberatkan isi tas mereka.
Padahal hanya sebuah kotak makan 'kan? Kupikir itu tidak terlalu berat seperti buku pelajaran. Tapi yasudahlah, toh aku bisa makan sendirian di atap sekolah.
Seperti biasa, walau tanpa Giza, aku mengeluarkan kotak makanku dari tas lalu berjalan keluar kelas. Aku membeli minuman kesukaanku—Lemon tea—yang ada di vending machine dekat tangga sekolah lalu bergegas menaiki tangga menuju pintu atap sekolah.
Sesaat setelah aku sampai di atas, aku membuka perlahan pintu atap sekolah itu, lalu aku melihat ada suatu hal yang janggal. Di sudut kanan atap sekolah, ada seorang gadis dengan rambut berwarna merah sedang menatap pemandangan di bawahnya sambil bersandar ke pagar besi yang berada di depannya.
Dia tidak menyadari aku yang sedang membuka pintu saat itu. Sesaat aku sempat berpikir seperti "Wah, ternyata ada orang yang tahu tempat ini juga ya di sekolah". Tetapi kalau dipikir-pikir lagi, ini adalah sebuah hal yang langka.
Karena aku tidak mau terus berdiam diri di luar pintu, aku memberanikan diri untuk masuk ke pintu itu lalu mencoba untuk menyapa gadis itu.
Sambil memperhatikan langkahku, aku mendekati gadis yang sedang bersandar di pagar atap sekolah itu.
"H-halo? K-kamu lagi ngapain ya di sini?"
Gadis berambut merah itu sempat tersentak tubuhnya karena kaget mendengar suaraku sebelum akhirnya ia berbalik badan menghadap ke arahku.
Hah? Gadis ini ... aku seperti mengenalnya.
Aku berpikir demikian, sembari terus mencoba untuk mengingat hal-hal yang mungkin berkaitan dengan gadis ini.
Secara tiba-tiba, ingatan tentang acara pemilihan ketua osis SMA Jayakarta dua bulan yang lalu terlintas di kepalaku.
Ah ... sepertinya aku tahu dia siapa.
"Kak Ayane?"
"Ah, halo ... siapa ya?"
"Ah, maaf"
Dilihat dari raut wajahnya, kak Ayane sepertinya sedang menghadapi sebuah masalah. Namun sebelum aku berasumsi hal yang lain-lain, aku akan memperkenalkan diriku dulu.
"Nama aku Yuta, lebih lengkapnya Yuta Mayasaki"
"Yuta ...? Oh, sepertinya aku mengenal namamu, kamu itu ... pacarnya Giza 'kan?"
Wah, sepertinya Giza menceritakan diriku ya.
"Ah, iya, itu benar"
"Sudah kuduga! Giza itu setiap hari selalu bercerita tentang hal-hal yang dilakukannya bersamamu. Aku memang mengenal namamu, tapi ini pertama kalinya aku melihat dirimu"
"Begitu ya ... aku juga baru pertama kali berhadapan langsung dengan kak Ayane, aku tahu kak Ayane dari acara pemilihan ketua osis dua bulan yang lalu"
Aku ikut bersandar bersama gadis itu. Rambut dia tergerai seperti bendera yang tertiup angin.
"Ngomong-ngomong, kak, kamu lagi ngapain di sini?"
"Seharusnya aku juga bertanya, ada apa kamu ke sini?"
Eh ...? Sepertinya Giza tidak menceritakan kalau kita selalu makan bekal bersama di sini.
"Aku mau makan bekal yang ku bawa"
"Hee ... kamu sering ke sini?"
"Tidak juga sih ..."
Bohong sih ... ehehe.
"Begitu ya"
"Iya, jadi?"
"Kenapa?"
"Kak Ayane belum jawab pertanyaanku 'kan?"
"Oh iya"
Tiba-tiba, suasana di sekitarku menjadi tegang. Raut muka kak Ayane yang sebelumnya sempat ceria sekarang kembali menjadi serius.
"Sebenarnya tidak ada hal yang spesial sih ... aku hanya sedang ... frustasi ..."
"Frustasi?"
"Ya ... saat ini, osis sedang kekurangan anggota baru, semua siswa yang sudah mendaftar memutuskan untuk undur diri"
Ah ... yang diceritakan Giza kemarin ya. Haruskah aku bilang kalau penyebabnya adalah dia sendiri? Tapi kalau begitu, dia mungkin akan sakit hati.
"Apa kamu tahu penyebabnya?"
"Tidak ... mereka tiba-tiba saja begitu"
"Memangnya ada masalah? Walaupun kak Ayane bilang kalau osis sedang kekurangan anggota, aku tidak pernah mendengar adanya tugas osis yang terlantar, itu semua karena kamu 'kan kak?"
"Itu benar, tapi ... sekarang aku sudah kelas 3 SMA, apa yang akan terjadi kepada osis ini ketika aku sudah lulus?"
"..."
Aku terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan kak Ayane. Pernyataan dia memang benar adanya, wajar jika ia merasa frustasi karena ia mempunyai beban yang sangat berat.
Saat aku sedang merenungi pernyataannya, dia tiba-tiba melompat ke arah depanku. Dia memiringkan badannya sambil memutar-mutar ujung rambutnya.
"... kalau kamu gimana? Apakah Yuta berminat untuk bergabung dengan osis?"
Aku kira dia mau ngapain. Ternyata cuman mau nanya hal itu toh, kenapa dia menggodaku seperti itu.
"Sebenarnya, kemarin Giza sudah mengajakku untuk bergabung dengan osis"
"Benarkah?"
"Ya ... tapi aku belum mau menerimanya"
"Oh ... begitu ya ..."
Ekspresi mukanya tiba-tiba menjadi sedih, kalau dilihat-lihat, muka kak Ayane yang lagi sedih imut banget ya. T-tapi tentu saja masih imutan Giza.
"Tapi ... aku mau kalau hanya membantu"
"Maksudnya?"
"Untuk sementara, aku akan membantumu dalam urusan osis sampai kamu bisa mendapatkan anggota"
"Apa kamu serius?"
"Ya, tentu saja aku akan bilang ke Giza dulu, jika dia mengizinkannya berarti aku akan membantumu"
"Yey!"
Kak Ayane melompat kegirangan. Syukurlah dia sudah merasa lebih lega.
"Makasih ya, Yuta"
Sesaat setelah dia berterima kasih kepadaku, ia langsung berjalan ke arah pintu atap sekolah yang terbuka itu.
"Kak Ayane, apa kamu gak mau makan dulu? Aku bisa membagi bekalku sedikit kalau kamu mau"
"Ah, makasih, tapi tidak usah, aku masih kenyang, bye-bye, Yuta"
"Ah, bye-bye"
Perlahan, sosok gadis itu mulai menghilang dari pandanganku. Aku bergegas berjalan ke tempat biasa aku makan—di pojok kiri atap sekolah—untuk mulai memakan bekalku.
Sembari membuka tutup kotak makan, aku menatap ke arah langit. Cuaca saat ini masih cerah walau sebentar lagi akan memasuki musim salju.
Saat aku hendak menyantap suapan pertamaku, suara pintu atap sekolah itu terdengar terbuka lagi. "Kak Ayane lagi?" pikirku. Namun sepertinya dugaanku salah.
"Yuta~!"
Terdengar langkah kaki berlari ke arahku sambil memanggil namaku. Walau hanya suaranya yang terdengar, aku yakin bahwa gadis itu adalah Giza.
Beberapa detik kemudian, sosok gadis itu terlihat di pandanganku. Giza terlihat tergesa-gesa karena mungkin habis berlari sambil membawa roti yang sepertinya ia beli dari kantin kalau aku lihat dari bungkusnya.
"Giza? Apakah urusanmu sudah selesai"
"Haah ... iya, aku berlari ke sini setelah urusanku selesai agar aku bisa makan bareng sama Yuta"
"Padahal kamu tidak harus memaksakan itu, kamu juga sudah bilang tadi pagi 'kan?"
"Iya sih ... tapi aku pengen ..."
"Yoshi, yoshi, sini duduk di sampingku"
Pacarku itu segera berjalan ke arahku, lalu bersandar di pundakku.
Pada akhirnya, aku makan bareng sama Giza lagi, ehehe.
diriku adalah masa depanku
setetes air diujung ranting
terjebak dalam masa lalu
happy Reading ❤️
kn kasian pacarin adik sendiri🥹