PROSES REVISI. KALO ADA CERITA NGEGANTUNG DAN NGGAK NYAMBUNG MOHON DI MAKLUMI, AKAN SEGERA DI REVISI. TERIMA KASIH.
"Jessii, ini permintaan terakhir kakek kamu jangan di tolak dongg!"
"Pliss maa! aku nggak mau di jodohin.. Apa lagi sama orang sombong kek dia!!"
Meliana mengusap dadanya agar bisa lebih tenang untuk menghadapi sikap keras kepala yang di miliki anak bungsunya itu.
Ya, Jessica Relieta anak dari Meliana dan Reta itu mendapat pesan terakhir dari Kakek Jessica bahwa dia ingin melunasi hutang - hutangnya dengan menjodohkan cucu nya.
Karena dijodohkan dengan keluarga kerajaan Raden Agung Yagsa, seorang Jessica yang pecicilan itu pasti susah untuk mengubah diri menjadi seseorang yang anggun.
Namun karena juga hutang kakek Jessica yang sangat tidak mendukung, mau tak mau Jessica menerima perjodohan itu dengan berat hati.
Tetapi ketika sang pangeran meminta untuk di cintai apakah Jessika bisa mengabulkan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan indah (REVISI)
Semua seketika melirik ke arah pintu.
"Eh.. my baby udah dateng!!" Teriak Riana histeris sambil menghampiri Farel.
"Gua kira itu Putra," ucap Bianca.
"Sama," sambung Camila.
"Kalian aja gue nggak." Ketus Jessica melipat tangannya di dada.
"Eh Jess, lo di tunggu di parkiran sama si Putra noh!" Seru Farel.
Seketika wajah Bianca dan Riana bersinar - sinar.
"Cie.. di jemput calon suami..," goda Bianca.
"Aduh aduh.., kayak nya lagi latihan buat jadi suami yang baik nih!!" Sambung Riana yang ikut menggoda.
"Ih!! apa-an sih kalian!!" Ketus Jessica yang mulai bete karena di ledek oleh teman - temannya.
"Hayu Jess bareng sama gue, gue juga udah di jemput Shawn." Ajak Camila.
"Eh gue ikut dong!! mau lihat Shawn nya Camila tuh gimana.., sekalian.. calon sepasang suami istri ini mau apa," goda Bianca kembali sambil menyenggol pelan bahu Jessica.
"Ih apa-an sih kalian!! Kok ngeroyok gue gini!!" Seru Jessica tak terima.
"Ayo cepet!! Ntar Putra nya marah loh!!" Seru Riana dengan histeris.
Semua mengangguk lalu pergi meninggalkan kelas dengan langkah yang penuh semangat.
Namun, lain hal nya dengan Jessica. Dia sangat lemas lesu tak bertenaga karena dia akan segera di bawa ke tempat calon keluarga barunya itu berada.
Ia akan sangat - sangat merindukan suasana bersama teman - temannya yang sangat tercinta itu.
"Loh.. Jessi.., Why are you? Kok keliatan sad gitu?" Tanya Riana ketika melihat Jessica yang malah diam ketika yang lain sedang berjalan.
"Kok kalian malah semangat ngeliat gue yang bakal pergi dari kalian!!" Teriak Jessica yang mulai memunculkan bulir - bulir mutiara dari matanya.
Seketika semua tersentuh, kemudian mereka langsung menghamburkan pelukan kepada Jessica saking sad nya suasana di sana.
"Huhu.. iya ya.., kalo lo pergi gua duduk sama siapa!!" Teriak Bianca terisak - isak.
"Iya.., ntar aku nyari skin care and make up yang cocok sama siapa lagi!! Kulit kita kan satu jenis Jess,huhu." Sambung Riana.
"Ntar yang jadi tim gue siapa lagi Jess! Ketika gue bersama dua cewek alay ini!!" Seru Camila.
"Camila omg kita nggak alay!!" Balas Riana tak terima.
"Kalian tuh liat cogan dikit langsung ke goda, lah gue kan kebal sama si jessi. Kalau Jessi nggak ada, yang di pihak gue sapa lagi?!" Jelas Camila.
"Lo kok nggak nganggep gue sihh, huhu.. lo jahat!" teriak Bianca.
"Ya.. gue harus nerima takdir kalo gue juga bakal ke-ikutan alay," sambung Camila.
Jessica tertawa kecil melihat pertengkaran teman - temannya itu. Sungguh ini akan menjadi kenangan yang indah dan suasana yang akan paling di rindukan olehnya.
"Mereka kenapa?" Tanya Putra pada Farel.
"Biasa lah.. urusan cewek." Jawab Farel.
Putra menghembuskan nafasnya kasar. Ia sangat menyesal karena telah menunggu Jessica lama - lama di parkiran. Bukannya tidak ingin, karena dia salah satu pangeran ter muah di sekolahnya, dia harus mendapatkan goda-an receh dari para fans beratnya. Bahkan ada yang lebih ekstrim sampai mereka ingin meminta fotbar dengan tangan yang bergandengan, ya nggak mau lah Putra punya gue!!
"Berapa lama lagi!" Tegas Putra membuat para wanita menghentikan momen sad nya itu.
"Perpisahan doang nggak boleh!" Ketus Jessica.
Putra memutar matanya malas.
Putra memberi kode pada Farel yang langsung di tangkap baik olehnya, alhamdulillah sekarang Farel sedang sehat.
"Eh.. temen - temen.. mau pada ikut nggak?! Kita ada kejutan loh!! buat lo pada," seru Farel.
"Wah?! Kamu bakal ngasih surprise buat kita semua?!" Balas Riana tak kalah serunya.
"Benar!! Makanya kalian jangan nangis lagi dong.., cup cup..," Farel mencubit pipi Riana sekaligus mengelap air matanya.
"Cepet!" Ucap Putra yang langsung pergi begitu saja.
"Ayo - ayo cepet!" Seru Farel yang langsung di ikuti para cewek.
Setelah semua sampai di parkiran, mereka melihat ada Muhtaz dan Jeri yang sedang duduk di atas motor dan saling mengobrol di sana.
Putra menghampiri motor besar milik dirinya sendiri dan duduk di atasnya.
"Langsung Put?" Tanya Muhtaz.
Putra mengangguk.
"Eh tapi pacar gue udah ngejemput!!" Seru Camila.
"Udah suruh pulang duluan aja!! Masa lo mau meninggalkan moment terakhir bareng si badan jalan tol ini sih!!" Seru Bianca.
"Iya.., suruh pulang cepet sekarang!!" Sambung Riana.
"Iya iya bentar," ucap Camila yang kemudian menelpon pacarnya yang sedang menunggu di luar gerbang sekolah itu.
"Iya maaf ya Shawn," ucap Camila.
"Iya..," Sambungnya lagi.
"Gimana gimana?" Tanya Bianca.
"Udah, dia udah otw balik." Jawab Camila.
"Nah beres! Lo sama si Muhtaz La," ucap Farel.
"Hah?! Kok sama dia?!" Protes Camila tak terima.
"Mau sama siapa lagi? Jeri?" Tanya Farel.
Camila berdecak.
"Tau gitu gue sama pacar gue aja!" Ketusnya.
"Nggak boleh ada yang kesana selain kita!" Tegas Putra.
Camila memutarkan matanya malas. Tak ada pilihan lain untuk nya, dia langsung berjalan ke arah motor Muhtaz.
Muhtaz memberikan helm yang berada di joknya itu ketika Camila sudah sampai di hadapannya.
Bianca yang tidak punya pilihan lain harus di bonceng bersama Jeri yang sama nakal nya dengan Farel.
Setelah semua menaiki motor masing - masing, mereka pun menancap gas menuju ke suatu tempat yang lumayan jauh dari sekolahnya itu.
♡♡♡
"Wah!! banyak banget pohonya!" Seru Bianca.
"Namanya juga puncak," jawab Jeri.
Seketika para wanita langsung terdiam.
"Gila!! lo pada bawa kita ke sini?!" Histeris Jessica.
"Kenapa?" Tanya Muhtaz.
"Nggak kira - kira."
Putra mengamparkan karpet yang baru saja ia bawa dari dalam rumah.
Yap, sekarang mereka sedang berada di vila milik Putra yang sangat besar. Vila yang terletak di puncak itu sangat lah terasa sejuk, apalagi sekarang mereka sedang menikmati angin sore di taman Vila tersebut, mantap.
"Gue pengen pipis Jess!" Bisik Camila.
"Ya pipis lah," jawab Jessica simpel sambil mengoprek rumbut yang ada di tanah taman.
"Anter lah!! Lo mau gue nyasar sendiri di rumah sebesar itu?!" Seru Camila.
Jessica mengangguk.
"Put, wc dimana?" Tanya Jessica sambil bangkit dari duduk nya.
Putra mengangkat tangannya dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah timur yang menunjukan dua buah ruangan kecil yang berdempetan.
Jessica yang sudah tahu kemudian mengangguk dan mengajak Camila.
Mereka berjalan sambil berbincang hal - hal yang penting mau pun tidak penting. Seperti kecoa yang bermetamorfosis.
Memang di dalam persahabatan ke empat orang itu, orang yang paling dekat dengan Jessica adalah Camila.
Walau mereka baru bertemu di SMA, berbeda dengan Bianca yang sudah bersama Jessica dari SD, tapi Jessica dengan Camila mempunyai satu pemikiran.
"Tungguin ya," ucap Camila.
"Oke." Jawab Jessica.
Camila pun masuk ke dalam toilet dan Jessica menunggu di didepannya.
"Neng sedang apa di sini?"
Botol sih jadi orang.
Tirta, Taya, tidakkah kalian berkomunikasi dengan Putra? Bahkan besan meninggalpun tak ada yang muncul.