MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Sudah dua hari berlalu, tentang kematian Ibu Asih. Sejak itu pula Pak Arif tidak juga pulang ke rumah, tidak ada yang mengetahui dimana keberadaannya saat ini. Terakhir hanya pamit akan mengajar mengaji ke kampung sebelah, entah benar atau tidak kabar tersebut.
Kirana dan Syakir berusaha mencari keberadaan Pak Arif untuk memberitahukan tentang berita duka atas meninggalnya Ibu Asih, Ibunda Kirana, Istri Pak Arif.
"Kiran, kita harus mencari Bapak kemana lagi?" tanya Syakir pelan menatap wajah Kiran yang sudah terlihat lelah. Hijabnya sudah basah karena peluh disekitar kening dan leher.
Kirana menoleh ke arah Syakir lalu tersenyum manis.
"Kamu lelah? Pulanglah Syakir, biar Kiran yang mencari Bapak sendiri," ucap Kiran dengan suara pelan.
Syakir menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Kiran, Syakir akan tetap menemanimu, mencari Bapak Arif adalah hal yang terpenting untuk pernikahan kita, hanya Bapak Arif yang bisa menjadi wali untukmu Kiran," ucap Syakir dengan suara yang lembut.
Kiran hanya mengangguk pelan menuruti keinginan kata-kata Syakir. Keduanya baru saling mengenal dan keduanya baru saling bertemu dan saling berbicara, namun rasa mencintai sudah bisa dirasakan.
"Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan Syakir? Perjalanan hidup kamu masih panjang, apa kamu tidak menyesal untuk menikahi aku?" tanya Kiran pelan kepada Syakir.
"Syakir hanya mengharap ridho Allah SWT," ucap Syakir pelan dan lembut.
"Ada alasan lain?" tanya Kiran pelan kepada Syakir.
"Ibu Asih, amanah Ibu Asih yang membuat Syakir yakin dan mantap untuk segera menikahi kamu, Kiran," ucap Syakir pelan.
Mereka berdua melanjutkan perjalanannya untuk mencari Pak Arif ke kampung sebelah, tempat dimana Pak Arif mengais rejeki sebagai guru mengaji. Beberapa bulan terakhir memang sifat Pak Arif agak berbeda, lebih banyak diam dan ketus.
"Kita tanya pada Ustad atau Kyai atau sesepuh disini," ucap Syakir pelan kepada Kiran.
Kiran mengangguk pelan tanda setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Syakir.
Syakir dan Kiran menuju salah satu rumah alim ulama yang sangat disegani di kampung itu. Kyai itu menyambut kedatangan mereka dengan baik dan sopan.
"Assalamu'alaikum, Kyai Ubed, maaf mengganggu aktivitasnya," ucap Syukur menyapa Kyai Ubed yang sedang bersantai di teras rumahnya.
Syakir mendekati Kyai Ubed dan mencium punggung tangan Kyai Ubed dengan sopan, diikuti oleh Kirana yang mencium tangan itu secara bergantian.
"Waalaikumsalam, kamu Syakir? Cucu Nenek Sugondo? Kamu penghafal Al-Quran? Muhammad Syakir," ucap Kyai Ubed pelan dan memuji Syakir.
Kirana menatap Syakir dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Kirana bahkan tidak mengenal sosok Syakir, calon suaminya itu.
"Ada hal penting yang ingin kami tanyakan, perihal Pak Arif?" tanya Syakir pelan namun sedikit ragu.
Tatapan Kyai Ubed kepada Syakir seolah bertanya, ada hubungan apa kamu dengan Pak Arif. Lalu tatapannya berpindah kepada Kirana.
"Siapa dia Syakir?" tanya Kyai Ubed dengan suara pelan menunjuk ke arah Kirana.
"Namanya Kirana Hapsari, biasa dipanggil Kiran, putri semata wayangnya Pak Arif, kami berdua kemari untuk menanyakan keberadaan Pak Arif, sudah dua hari ini tidak pulang, bahkan Ibu Asih, istrinya sudah meninggal karena sakit," ucap Syakir menjelaskan dengan pelan.
Kyai Ubed menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti dengan penjelasan Syakir.
"Masuklah dahulu, kita bicarakan baik-baik di dalam, ada beberapa hal penting yang akan saya sampaikan mengenai Pak Arif," ucap Kyai Ubed pelan.
Syakir dan Kirana masuk ke dalam rumah besar itu. Rumah bernuansa islami, dengan banyak gambar para alim ulama dan para habib terkenal yang terpampang di dinding ruang tamu.
Harum wewangian khas dari buhur yang di bakar sebagai aromaterapi seisi rumahnya.
Syakir dan Kiran sudah duduk di sofa ruang tamu, menunggu Kyai Ubed yang ijin untuk ke dalam sebentar.
"Syakir, perasaan Kiran kenapa kurang enak begini, seperti ada sesuatu yang terjadi dengan Bapak," ucap Kirana pelan namun terlihat sangat cemas.
"Istighfar Kiran, jangan pernah mendahului sesuatu hal yang belum kamu ketahui," ucao Syakir mengingatkan.
Kyai Ubed keluar dari kamar dan masuk ke ruang tamu dengan membawa siwak dan tasbih, lalu duduk di sofa berhadapan dengan Syakir dan Kirana.
Fatima, istri Kyai Ubed datang membawa satu nampan besar yang berisi minuman dan makanan untuk suami dan kedua tamu yang datang.
"Fatima istriku, mereka adalah murid-muridku dari kampung sebelah, dia Syakir, penghafal Al-Quran yang khatam dalam waktu singkat di Pondok Pesantren Al Ikhlas milik Habib Al Jupri," ucap Kyai Ubed menjelaskan secara detil.
Syakir tersenyum manis dan mengucapkan salam kepada Fatima, sedangkan Kirana berdiri dan mencium punggung tangan Fatima.
"Ohh, Syakir, ya anak cerdas kesayangan Habib Al Jupri karena dengan cepat menghafal Al-Quran," ucap Fatima yang ikut memuji Syakir.
Kirana hanya menatap Syakir dengan senyuman. Wajahnya sangat tampan, auranya sangat terlihat mempesona kaum hawa, rajin ibadah, penghafal Al-Quran, baik, tulus, perhatian dan pintar. Sifat dan karakter yang selalu diidamkan oleh para kaum hawa. Namun, Kirana boleh senang karena Syakir lebih memilih Kirana dibandingkan wanita lainnya.
"Baiklah, tentang Pak Arif, beliau memang guru mengaji di salah satu madrasah asuhan Bapak. Namun setelah mengajar, Pak Arif bekerja di rumah Miss Sheila, seorang janda kaya raya yang usianya masih terbilang muda," ucap Kyai Ubed mengakhiri ceritanya lalu terdiam mengingat kembali kejadian naas dua hari yang lalu.
"Lalu apa yang terjadi Pak Kyai?" tanya Kiran dengan rasa penasaran dan tidak sabar.
Kyai Ubed menatap Kiran dengan wajah sendu lalu meneruskan ceritanya hingga selesai.
"Sore hari setelah mengajar, seperti biasa Pak Arif melanjutkan pekerjaannya di rumah Miss Sheila sebagai tukang kebun dengan upah harian. Hari itu Pak Arif terlambat datang karena ada anak madrasah yang harus menyelesaikan bacaan Qur'annya. Keterlambatannya hanya sekitar lima belas menit, dan mereka terlibat percekcokan dan Miss Sheila meninggal terbunuh di ruang tamunya oleh Pak Arif, karena semua bukti mengarah kepada Pak Arif," ucap Kyai Ubed pelan menjelaskan.
Kiran menatap nanar dengan rasa tidak percaya, sejahat Bapaknya terhadap dirinya itu sifatnya mendidik, tidak mungkin jika Bapak membunuh Miss Sheila untuk kepentingan pribadinya.
"Kalau boleh jujur Bapak sendiri kurang percaya dengan kejadian ini. Namun, semua bukti mengarah hanya kepada Pak Arif, dan tidak ada bukti lain yang bisa membantu meringankan hukuman Pak Arif. Sore itu juga Pak Arif dibawa ke kantor polisi, tidak ada yang mengabari tentang apa yang terjadi pada Pak Arif kepada keluarga Pak Arif, karena Pak Arif adalah orang yang tertutup dan tidak pernah membuka siapa dirinya sebenarnya," ucap Kyai Ubed pelan dengan nada menyesal tidak mencari keluarga Pak Arif.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana