Disarankan membaca Novel "Bumi Tanpa Senja" terlebih dahulu.
Novel ini akan banyak bercerita tentang asisten Tuan Muda Dirgantara yaitu Jefri yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan salah satu karyawan Coffee Shop bernama Jingga.
Tapi dikarenakan kesibukannya dalam bekerja mengurus perusahaan Dirgantara membuatnya jarang sekali sempat bertemu dengan gadis yang bernama Jingga itu.
Hingga pada akhirnya ketika ia bertemu kembali dengan Jingga, ternyata gadis itu sudah memiliki calon suami, anak pak lurah, yang bernama Bayu.
Akankah Jefri melupakan Jingga dan mencari wanita lain sebagai pendamping hidupnya?
Atau mungkinkah ia akan merebut Jingga dari Bayu?
Penasaran?
Yuk simak kisah mereka!
Note :
- Kisah lanjutan Bumi dan Senja juga ada disini
- Kisah Marcel dan Nesya juga akan muncul di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hary As Syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Calon Menantu Idaman
“Jingga!”
Jingga menoleh ke arah suara yang memanggilnya dengan mengembangkan senyum terbaiknya. Tapi saat sadar panggilan itu bukan dari seseorang yang ia tunggu, senyum di wajahnya menyusut perlahan.
“Kak Bayu?”
“Kau sudah pulang? Ayo aku antar! Kita pulang sama-sama,” ajak Bayu.
Kenapa harus dia yang menjemputku? Kenapa bukan Tuan Jefri saja?
Tuan, kau dimana? Apa benar kau hanya sekedar singgah saja dan tak kembali lagi kesini? Tanya Jingga dalam hati.
Jingga masih berada di tempatnya. Ia menengok ke kiri dan kanan. Masih berharap Jefri tiba-tiba muncul saat itu.
“Jingga, ayo! Sudah malam. Biar aku antar pulang,” ajak Bayu lagi.
Jingga tampak kecewa Jefri tak muncul saat itu. Mau tidak mau, ia pun dengan terpaksa pulang dengan Bayu.
Baru saja motor mereka pergi meninggalkan Coffee Shop, Jefri pun datang dengan mobilnya.
“Ck, sepertinya aku terlambat! Jingga sudah pulang duluan,” gerutu Jefri sambil melihat ke arah Coffee Shop yang sudah tutup itu.
Ia pun menjalankan mobilnya untuk kembali ke apartemennya.
***
“Jingga, kita singgah beli martabak manis sebentar, ya,” ucap Bayu sambil menoleh ke samping sebentar saat mengendarai motor.
“Iya, Kak. Terserah Kak Bayu saja,” sahut Jingga tak bersemangat.
Bayu mengangguk lalu melajukan motornya sampai di tempat menjual martabak. Ia memesan dua martabak manis rasa keju dan coklat kacang. Setelah itu, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Jingga.
“Kak, terimakasih ya sudah mengantarku dua kali hari ini,” ucap Jingga saat turun dari motor Bayu.
“Tidak masalah. Aku senang mengantarmu. Oh ya, kalau malam kau biasa pulang sendiri, ya? Naik apa? Kau pulang cukup malam, bahaya seorang perempuan pulang malam-malam sendirian.”
“Aku biasa pulang naik ojek, Kak. Selama ini tidak ada masalah, Kak. Aku sudah terbiasa pulang sendiri jam segitu,” jawab Jingga.
“Tapi kau harus tetap hati-hati. Kalau kau mau, aku bisa menjemputmu pulang tiap malam,” tawar Bayu.
“Eh, tidak perlu, Kak. Kakak tidak perlu repot-repot mengantarku. Aku biasa pulang sendiri kok,” tolak Jingga secara halus. Kalau Jefri yang menawarinya seperti itu, mungkin ia akan dengan cepat mengangguk.
“Ya sudah, yang penting kau harus berhati-hati saat pulang.”
Bayu lalu mengambil kantong berisi martabak manis yang mereka beli tadi dan memberikannya pada Jingga. “Ini untuk Bapak dan Ibumu. Salam sama Bapak dan Ibu, ya.”
Jingga pun menerima itu dengan sungkan. “Aku pikir kakak beli ini untuk kakak sendiri. Terimakasih banyak ya, Kak. Kakak sudah mengantarku malah membelikan martabak juga untuk orang tuaku.”
“Santai saja, tidak perlu sungkan. Ya sudah, aku pulang dulu. Kau masuklah ke dalam, istirahat. Kau pasti sangat lelah seharian bekerja.”
Jingga pun mengangguk. Bayu menghidupkan mesin motornya lalu pergi meninggalkan rumah Jingga. Jingga masih berdiri di tempatnya melihat motor Bayu yang kian menjauh dari rumahnya.
“Kak Bayu baik, sih. Tapi...aku tidak ada perasaan apapun padanya. Beda saat aku berada di dekat Tuan Jefri.”
“Huft, sudahlah Jingga! Berhenti bermimpi! Malam ini saja dia tidak datang. Entah kapan bisa bertemu dengannya lagi.”
Jingga pun lalu masuk ke dalam rumahnya. Di dalam ada adik laki-lakinya bernama Jerry yang sedang menonton pertandingan sepak bola dengan ayah dan ibunya.
“Pak, Bu, Jingga pulang,” ucap Jingga saat masuk ke rumahnya. “Wah, kebetulan lagi nonton bola, ini ada cemilan, martabak manis.”
“Asikkk...Kak Jingga gajian, ya? Tumben beliin martabak. Dua rasa lagi,” seru Jerry kegirangan sambil membuka kotak martabak dan langsung memakannya.
“Ini baru tanggal berapa. Kakakmu belum gajian tanggal segini,” sahut ibu.
“Ini dari Kak Bayu,” kata Jingga lalu hendak masuk ke dalam kamarnya.
“Bayu anak Pak Lurah? Wah, calon mantu idaman ibu sekali dia itu! Sudahlah anaknya baik, tidak pelit pula,” ucap ibu dengan mata berbinar senang karena diberikan martabak manis oleh Bayu.
Ayah Jingga dapat melihat dua raut wajah yang berbeda. Ibu terlihat sangat senang tapi Jingga malah tampak murung.
“Jingga, sebaiknya kau mandi dulu lalu istirahat. Kau pasti lelah seharian bekerja,” kata Ayah yang bisa menangkap rasa tidak suka Jingga saat istrinya membanggakan Bayu.
“Baik, Pak,” sahut Jingga.
“Tunggu, tunggu! Jadi, tadi dia mengantarmu pulang, ya? Kalian berkencan? Ini kan malam minggu,” tanya ibu ingin tau lebih banyak.
“Tidak, kami tidak berkencan. Tadi ketemu di jalan,” jawab Jingga.
“Masa sih? Kenapa tidak berkencan saja?” tanya ibu lagi.
“Ibu saja yang berkencan dengannya,” jawab Jingga asal-asalan lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan ibu yang mengomelinya.
“Ck, kau ini ditanya baik-baik malah jawab seperti itu! Bayu itu anak yang baik, berpendidikan, dari keluarga terpandang,” omel ibu.
“Sudahlah, Bu. Ayah mau nonton bola, bukan mau nonton ibu mengomel,” sela ayah.
“Ih, ayah ini, ibu kan lagi menasehati Jingga.”
“Anak kita baru pulang kerja, masih lelah. Biarkan dia istirahat. Besok saja kalau mau bicara padanya.”
Ibu pun tak menjawab lagi. Ia hanya diam sambil ngedumel dalam hati.
.
Bersambung...
Note : kalau ada yg bingung, ini mulai ceritanya sejak pertama kali Jefri bertemu Jingga ya. Saat itu Senja masih koma dan Bumi masih menemaninya. Makanya Jefri masih sangat sibuk mengurusi perusahaan. Jadi, cerita ini di awal akan banyak menceritakan kehidupan Jingga dan Jefri saja sampai nanti Senja kembali sadar, baru masuk ke cerita Bumi dan Senja juga 🙏😊
dpt notif update cuma satu d biarin dulu,, mana tau ada tambahan ny gtu,, ternyata emang cuma satu 🤭