Kisah antara Diva dan Andra, Diva adalah gadis kecil yang manis dan menggemaskan tidak sengaja bertemu Andra, si pria tampan yang kaya raya. Tidak menyangka pertemuan tidak di duga membuat Andra menjadikan Diva sebagai anak angkatnya, namun apa jadinya setelah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Akankah perasaan Andra si pria yang belum kunjung menikah berubah mencintai Diva. Jika takdir siapa yang tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Sismala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keponakan Nakal
Diva berjalan ke kamarnya dengan perasaan kacau. Si tua bangka itu terus saja menghantui pikirannya. Padahal Leon adalah pria tampan berumur 38 tahun, namun Diva selalu memanggilnya si tua bangka.
"Ceklek..! " Pintu kamar Diva terbuka. Koleksi baju- baju seksinya berserakan dimana- mana, bunga dan boneka dari para fansnya berserakan, tas dan sepatu di atas tempat tidur, make up berjatuhan dilantai jangan lupakan gaun- gaun pesta pun berhamburan.
"Akhhhhh DADDY..!!!! " Teriak Diva yang membuat Andra tidur tergopoh- gopoh bangun lari ke kamar anaknya.
"Ada apa teriak- teriak Diva..?!" Tanya Andra kesal pada anaknya dari luar pintu, mengganggu mimpi indahnya saja dihari libur.
"Lihatlah sendiri Dad..!! " Diva mendengus kesal lagi- lagi berteriak yang membuat Andra kembali menutup telinga.
"Bisa hentikan teriakan konyolmu Diva, Dad hampir mati mendengarnya," Diva tak menanggapi malah keluar dari kamar mendorong Andra masuk.
"WHAT! ... kamu gila Diva Daddy tau Daddy semalam kesal tapi bisakah berhenti bertingkah konyol seperti ini..?! " ceramah Andra panjang lebar sambil mengeratkan rahangnya menahan emosi karna kamar Diva berserakan.
"Bukan Diva Dad, bisakah berhenti salah sangka denganku..!" Teriak Diva kesal melihat sikap Andra yang selalu memojokkannya padahal dia tidak melakukannya.
"Lantas siapa yang melakukan nya..!" Bentak Andra sambil memegang kuat bahu Diva menggunakan kedua tangannya.
"Aku tidak tau, bisakah Dad lepaskan ini bisa menyakitiku,..! " Jawab Diva sambil meringis menahan sakit.
"Sorry Baby Dad tidak bermaksud menyakitimu," Andra langsung memeluk Diva dengan perasaan bersalah.
"Hahaha..," Tawa pecah bocah berumur 4 tahun dari bawa kolong tempat tidur. Kontan Andra dan Diva menoleh melihat anak menyebalkan yang merusak kamar Diva.
"Dasar monster kecil..!" Teriak Diva "Beraninya merusak istanaku," Diva langsung mengejar bocah kecil itu di dalam kamar yang lumayan luas dengan napas ngos-ngosan. Sangat menyebalkan kalau berada di posisi Diva saat ini.
"Wkwkwk ... dasar nenek lampir," ejek bocah kecil itu yang membuat Andra dan Diva gemas ingin menggonikannya.
"Hey Axelo kemari kamu anak nakal..!!" teriak wanita cantik berumur 30 tahun yang ternyata kakak ipar Andra.
"Maafkan anak Mbak ya Diva"
"Dont worry, Diva anak yang pemaaf," jawab Andra, sementara Diva melotot melihat perilaku Andra yang seakan seperti angel kesiangan. Tadi saja ia dimarahi taunya yang merusak kamarnya anak Tiana, Andra bersikap baik seperti kemasukan jin.
"Diamlah jangan menyakiti hati kakak iparku yang gampang menangis, bisa habis Daddy dimarahi Ommamu," Bisik Andra pelan di telinga Diva.
"What ever," Diva mendengus kesal. "Iya Mbak Tiana," jawab Diva sekenanya dengan tidak ikhlas pastinya.
"Terima kasih Mbak sama Axelo ke kamar dulu ya Diva," Pamit Tiana.
"Iya mbak," jawab Diva.
"Biar maid yang bersihkan sayang, Daddy mau kencan dulu," Andra berlalu pergi. Sedangkan Diva mendengus kesal, ternyata bukan ide baik berada di rumah yang penuh makhluk menyebalkan. Belum lagi kalau sampai Andra menikah. Bisa seperti neraka mungkin. Eyang, Omma segeralah pulang cucumu teraniaya.
"DADDY..!," Teriak Diva, yang dibalas kekehan Andra.
Pasti anaknya saat ini sedang naik pitam karna gaun disney kesayangannya kotor.
Mall
Diva sedang berada di mall bersama Renata. Diva sudah menceritakan kejadian mengesalkan dirumahnya pada Renata.
"Hahaha terus lo ngambek gitu sama anak kecil, ?! " tawa Renata sahabatnya pecah.
"Dia beda Re, kalau biasa anak kecil gemesin, yang ini geremin sampek pengen gue goniin terus gue buang ke samudra atlantik plus dengan emak dan babenye..!!," Diva masih membayangkan kejadian tadi pagi yang membuatnya naik pitam.
"Bener juga ide lu, ekhh semalam siang Pak Tomi nyariin elu tuh," Renata mengaduk cappucino dingin kesukaannya.
"Ngapain dia nyarik gue,?" Tanya Diva heran tidak seperti biasanya, apa dia ada membuat kesalahan batinnya berbicara.
"Gak tau tuh gue, atau mungkin karna nilai merah lo di pelajaran dia," Jawab Renata enteng, yang langsung si balas pelototan tajam dari Diva.
"Ekhh..! somplak lo kira gue elu yang banyak merah- merah..!" Diva mencabikkan bibirnya kesal pada Renata yang mengatainya, baru juga Renata dia traktir banyak hari ini malah membuatnya kesal.
"Hehehehe sorry- sorry..," Renata malah nyengir tak berdosa. Kan kampret. " Eh kenyuk jangan- jangan___," Renata memainkan jari telunjuk di keningnya yang sudah pasti otaknya dangkal.
"Jangan- jangan apa sih..?! " Diva penasaran langsung kembali mendesak Renata untuk menjawab kemungkinan Pak Tomi mencarinya.
"Jangan- jangan elu mau dijadiin pembokat di rumah dia, kan muka elu cocok Div..! " Renata langsung tergelak melihat ekspresi kesal Diva yang siap mengeluarkan ledakan ultimatum panas.
"Lo masih mau hidup..!! " bentak Diva geram yang langsung jadi bahan tontonan pengunjung cafe di mall. Renata langsung membekap mulut Diva ketika ingin berceloteh lagi.
"Maaf- maaf kita jadi bahan tontonan ini Div, sabar Div hehehe.." Renata merangkul Diva mengelus Dada Diva agar amarahnya reda.
"Elu sihh.." Sinis Diva kesal ingin kembali marah sebelum Renata memberikan aba- aba siaga untuk meredakan emosi.
"Tarik napasss...! ya.. begitu buang..tarik napas buang..!" Akhir Diva bisa tenang.
"Husshh..! husss..!! " suara napas Diva menahan emosi, "Legaaa.. nya.." Ucap Diva lirih.
Restoran
Andra masih ragu apakah dia ingin menyatakan perasaannya atau tidak di satu sisi dia masih ragu untuk melamar Vanessa, entahlah Vanessa memang baik, cantik dan berkarir dia adalah wanita idaman. Namun entah mengapa dia takut kalau Vanessa tidak menerima anaknya, apalagi Vanessa belum mengetahui kalau Diva adalah anak angkat. Bisa saja Andra menempatkan Diva di rumah orang tuanya, malah orang tuanya mungkin akan sangat berantusias bersama Diva yang ceria dan menggemaskan. tapi dia tak sanggup melihat anaknya tidak berada disisinya semua ini membuatnya merasa gundah.
"Hey kenapa diam sih Dra, apa ada yang mengganggu pikiranmu..?! "
Vanessa mencoba menebak isi pikiran kekasihnya.
"Dont worry, saya baik- baik saja hanya sedikit masalah pekerjaan honey," jawab Andra mengusap lembut pipi Vanessa, ia terpaksa berbohong tentang perasaannya, Entahlah itu sangat mengganggu perasaannya.
"Oh baiklah sayang, ayo diminum, apa minuman ini akan habis sendiri jika dipandang olehmu,? " Gurau Vanessa memecah keheningan.
"Dasar wanita penggoda, mari bersulang," Andra mengangkat gelas kaca yang berharga ratusan ribu pergelas ke atas untuk bersulang, Wine merah menjadi saksi kencan mereka siang ini.
"Ini untuk kita sayang," Vanessa meminum seteguk wine putih dengan senyum merekah.
"l love you.. " Andra langsung mendaratkan ciuman di pipi Vanessa.
" You too," Jawab Vanessa menatap lembut Andra.
Mansion
Diva berbaring di kamarnya. Sehabis mengeluarkan banyak uang untuk Renata, bukannya membuat pikirannya jernih malah semakin membuatnya kalut. Renata memang bukan teman yang bisa diajak kompromi. Diva semakin mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya.
"Nyebelin..!! nyebelinn...!! " Teriak Diva. Hingga satu jam lamanya Diva menggerutu membuatnya lelah dan tertidur. Berbeda dengan Diva yang kesal, saat ini Leon sangat merindukan Diva, entah kenapa kakinya tergerak melangkah ingin memasuki kamar wanita yang sangat di cintainya. Dari dulu gadis kecilnya, mempesonanya dan daya pikatnya membuat dia semakin tergila- gila. Leon memang telah berkeluarga tapi perasaannya tak mampu dipungkiri kalau dia masih mencintai Diva, Dia sudah membayangkan akan menceraikan istrinya yang menyebalkan, hidup bahagia bersama Diva dan anaknya yang membuatnya semakin bersemangat menjalani hidup.
"Tunggu aku sayang," ucap Leon dalam hati sambil tersenyum membayangkan hidup bersama wanita yang dicintainya Diva.
Leon telah sampai dikamar wanita pujaannya yang tidak terkunci membuatnya semakin terpesona, dengan pemandangan indah di ranjang king size bersprai biru muda, seorang gadis belia berbaring telungkup mengenakan dress biru laut selutut yang sedikit tersikap menambah kesan manis dan menggemaskan.
Leon segera menutup pintu dengan sangat hati- hati agar Diva tidak terbangun. Ia berjalan menuju ranjang memeluk tubuh mungil Diva. Diva merasakan ada sekarung yang menimpah tubuhnya hingga ia terbangun dari alam bawah sadarnya.
"Akkhhhh..!! SIAPA KAUU..!!" bentak Diva kesal, yang benar saja badan sebesar gajah menindih tubuhnya yang selidi. Tidak lama Diva Langsung memelototi matanya, ketika seseorang membalikkan tubuhnya yang ternyata dia adalah Leon.
"Maa.. maaf Uncle tapi to..tolong lepaskan aku," Diva berbicara dengan tergagap menahan rasa takutnya Leon berbuat macam- macam padanya.
"Baiklah asal kamu mau meminum vitamin ini sayang," Leon menyerahkan sebutir kecil obat berwarna merah muda kepada Diva, dia memang sudah merencanakan untuk memakai cara licik karna Diva selalu menghindar dan menjauhinya tidak ada pilihan lain selain cara ini.
"Diva sehat untuk apa minum vitamin uncle,?! " tanya Diva yang kelewat polos sambil mengerjabkan matanya, membuat Leon semakin gemas dan ingin cepat- cepat menikahinya.
"Minumlah sayang," Rayu Leon dengan senyumannya. Tanpa ragu Diva yang polos langsung menelan obat itu dengan alasan ia suka warna pink.
"Sayang..!! " Teriak Istrinya istri Leon dari ruang tamu. Sial gerutu Leon mengganggu kesenangannya saja. "Sebentar sayang nanti aku akan kembali." bisik Leon.
Diva tidak menjawab pertanyaan Leon saat ini tenggorakannya terasa panas sehabis menelan sebutir obat aneh. Leon langsung mengunci pintu kamar Diva dan bergegas keluar menemui istrinya.
"Ada apa sayang,?" Tanya Leon biarlah dia memanjakan istrinya sebelum nanti saatnya tiba untuk menceraikan istrinya.
"Temani aku belanja sayang ayolah anak kita juga ingin ke toko mainan malam ini," pinta Istrinya yang cantik dengan sedikit kebohongan mengatas namakan anaknya pasti suaminya tidak bisa menolak batinnya dalam hati.
"Baiklah tapi jangan lama- lama saya masih banyak kerjaan," Leon memberikan syarat sudah pasti tidak di tepati istrinya karna sudah 2 hari suaminya tidak bermesraan dengannya. Membuat Tiana ingin liburan di puncak, dia sudah menitipkan anaknya pada salah satu maid di rumah orang tuanya.