Bagaimana jadinya jika kedua orang yang memiliki sikap yang bertolak belakang mejalani kehidupan dalam sebuah ikatan pernikahan?
Dewa pria sederhana yang ingin meraih asa si Universitas internasional dengan bermodalkan bea siswa. Bertekad menjadi siswa terbaik, justru mengantarkannya ke jurang kehancuran hingga harus menikah dengan Zoya. Wanita pembuat masalah yang ternyata memiliki kehidupan penuh luka.
Zoya di benci oleh Ayahnya sendiri karena di anggap sebagai pembunuh sang ibu. Kurangnya kasih sayang dan perhatian membuat Zoya menjadi anak yang sangat nakal.
Sampai ia di jebak oleh Kakaknya sendiri hingga menikah dengan Dewa untuk balas dendam.
Bagaimana kisahnya? langsung baca ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Masa Lalu.
Dewa dan Zoya masih bersembunyi sampai kedua polisi itu keluar. Setelah memastikan semuanya aman, mereka berdua langsung keluar. Dewa merasa lega saat terbebas dari tempat sempit itu. Ia menggerakkan kakinya yang kram karena terus menekuk.
"Akhirnya mereka pergi juga" kata Zoya cukup kegerahan berada disana.
"Kita harus secepatnya pergi" kata Dewa melirik Zoya yang hari ini cukup bejasa membantu dirinya.
"Ya" Zoya mengangguk dan berdiri di ikuti Dewa di belakangnya.
Saat Zoya ingin membuka pintunya ternyata lampu disana tiba-tiba padam hingga ruangan itu sangat gelap. Zoya langsung ketakutan, ia sangat phobia dengan kegelapan.
"Kenapa berhenti?" kata Dewa yang ikut mematung di belakang Zoya.
"Aku tidak bisa melihat" kata Zoya melawan ketakutannya.
Dewa mengerutkan dahinya, disan memang sangat gelap. Ia kemudian menggunakan tangannya untuk mera ba kedepan dan ternyata Zoya ada tepat di depannya. Dewa lalu berjalan maju hingga dadanya menyentuh punggung Zoya, tangannya terulur untuk membuka pintu hingga ada sedikit cahaya dari luar.
"Ayo, keluar" kata Dewa yang melihat Zoya hanya diam saja.
"Eh iya" Zoya tersadar dan langsung berjalan keluar.
Di luar masih sama gelapnya tapi ada sedikit cahaya dari bagian depan yang lampunya menyala terang, sepertinya lampu bagian belakang sengaja di matikan. Zoya bingung harus ke mana dulu, karena ia sendiri sebenarnya tidak tau jalan untuk keluar.
"Lewat mana?" tanya Dewa masih setia mengikuti Zoya.
"Aku tidak tau" kata Zoya seadanya.
"Kau ini bagaimana sih, Aku pikir kau tau jalannya" gerutu Dewa kesal sendiri karena ternyata Zoya sama tak taunya.
"Kau saja yang cari jalan sana" kata Zoya mendengus kecil.
"Kalau aku tau, aku tidak mungkin mengikuti mu" seru Dewa.
"Siapa suruh kau mengikuti ku! Sudah pergi sana" kata Zoya.
"Kau lupa kalau kau yang menarik ku lebih dulu" kata Dewa tak mau kalah.
"Banyak Bac od. Aku mau pergi dan jangan mengikuti ku" kata Zoya malas berdebat dengan Dewa karena posisinya saat ini belum aman. Ia harus menyelematkan diri segera.
"Tidak akan" cetus Dewa berjalan berlawanan arah dengan Zoya.
Tapi baru saja beberapa langkah mereka berjalan, terdengar suara orang yang berlari. Dewa dan Zoya seketika kaget, berjalan berbalik dan kembali ke ruangan Dapur tadi.
Zoya merasa jantungnya berdetak tak karuan karena harus kembali ke ruagan gelap ini.
"Sementara kita tunggu disini dulu sampai semua aman. Aku ingin istirahat sebentar, nanti bangunkan aku kalau udah sepi" kata Dewa mendudukkan tubuhnya yang cukup lelah. Ia harus mengistirahatkan dirinya, karena ia rasa polisi tadi sepertinya masih banyak yang berada disana.
"Hei, jangan coba-coba tidur kau!" bentak Zoya semakin ketakutan karena Dewa malah ingin tidur.
"Kau ini berisik sekali, sudah jangan menggangguku" kata Dewa tak mempedulikan Zoya. Ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu lalu memejamkan matanya.
Zoya ikut mendudukkan tubuhnya, ia benar-benar sangat ketakutan di ruangan gelap seperti ini. Ia menenggelamkan wajahnya di lutut dan langsung mengingat kejadian masa kecilnya.
Flashback On.
Kala, itu Zoya masih berumur 7 tahun dan Kakaknya berumur 8 tahun. Mereka berdua sangat dekat dan saling menyayangi. Suatu hari, Zoya dan Zac sedang menjalani semester akhir tahun. Mereka disuruh belajar dan tidak boleh keluar rumah oleh Ayahnya.
"Kak..aku bosen belajar terus, Pengen makan es krim" ucap Zoya kecil menatap Zachary dengan penuh harap.
"Nggak bisa sekarang, Besok aja. Nanti Ayah marah kalau kita keluar" kata Zac menolak tentunya karena dia tak ingin membuat Ayahnya marah.
"Tapi aku pengennya sekarang kak, Ayah juga nggak ada di rumah kan... Kita cuma sebentar" kata Zoya masih merayu kakaknya.
"Nanti gimana kalau ketahuan?" kata Zac tak tega juga melihat adiknya.
"Enggak bakalan ketahuan kak, Kita lewat pintu belakang" kata Zoya menemukan ide di kepalanya.
Zachary menghela nafas sejenak, ia akhirnya mau di ajak Zoya untuk pergi membeli es krim. Dia juga bosan kalau harus belajar terus.
*****
"Zoya! Cepat habiskan es krim milikku, Nanti Ayah keburu pulang" kata Zac saat melihat adiknya cukup lama memakan es krim nya.
Ia sangat cemas karena takut Ayahnya tau kalau mereka kabur dari rumah.
"Sebentar lagi dong kak, Ini masih banyak" kata Zoya cemberut.
"Bawa pulang aja" kata Zac tak sabar.
"Tapi kak...
"Mau pulang atau aku tinggal" Zac terpaksa harus mengancam adiknya karena benar-benar takut.
Meski cemberut, Zoya akhirnya mau di ajak pulang. Tapi untung tak bisa di raih, ketika mereka berdua hampir sampai rumah, Ayah Davies yang baru saja pulang bekerja melihat keduanya dan langsung membawa mereka pulang.
"Siapa yang menyuruh kalian keluar rumah?" Ayah Davies begitu berang saat mengetahui anaknya melanggar perintahnya.
"Ayah...Jangan marahi Kakak, Zoya yang sudah mengajak Kakak pergi" kata Zoya tak ingin kakaknya disalahkan karena memang ia yang mengajaknya.
"Tidak Ayah! Zac yang salah" Zac ikut membela adiknya.
Ayah Davies yang memang sudah membenci Zoya, langsung memegang kedua lengan Zoya yang kecil.
"Aku tau kalau kau memang suka membuat masalah. Sekarang kau mengajak kakakmu untuk mengikuti mu yang pembangkang itu" bentak Ayah Davies membuat tubuh kecil Zoya gemetar.
"Ayah! Zoya tidak salah, tapi aku yang salah disini" teriak Zac ikut menangis melihat adiknya yang ketakutan.
"Diam Zac, Pergi ke kamar mu sekarang" kata Ayah Davies.
Dengan air mata yang terus mengalir, Zachary langsung berlari ke kamarnya.
"Kau harus aku hukum agar tidak jadi anak pembangkang" kata Davies menyeret Zoya kecil ke ruangan belakang yang berupa sebuah gudang.
"Ayah...Maafkan Zoya Ayah..." ucap Zoya terus merengek dan memohon.
"Tetap disini dan jangan keluar sebelum kau merenungi kesalahanmu" kata Davies meninggalkan Zoya di dalam ruangan gudang yang begitu gelap dan pengap.
Zoya terus menangis dan memohon untuk di buka kan pintu, tapi Ayahnya tak pernah kembali, membiarkan Zoya kecil semalaman berada di ruangan gelap itu.
Flashback Off
"Ayah...Maafkan Zoya...Zoya janji tidak akan nakal lagi....." Zoya masih merancau dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Ia terus mengingat malam kelam itu hingga ia tak sadarkan diri namun mulutnya terus merancau.
Dewa terbangun saat mendengar sayup-sayup orang yang menangis sesenggukan. Ia melihat keadaan sekitarnya yang masih gelap gulita. Ia kemudian membuka ponselnya dan mencari sumber suara tangis itu, dan ia kaget saat melihat Zoya yang meringkuk dan menangis.
"Zoya" ucapnya langsung mendatangi wanita itu.
"Ayah...Maaf..." Zoya masih merancau dengan suara pelan.
"Hei, Ada apa denganmu?" kata Dewa menepuk pelan pipi wanita itu.
Happy Reading.
Tbc.