NovelToon NovelToon
°

°

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Patahhati / Balas Dendam / Poligami
Popularitas:139.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ollane

Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.

Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.

Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.

Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.

Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6: Jangan Pergi, Alma

Alma, angkat telponku dalam satu jam. Jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan ke rumahmu sekarang juga.

Pesan tersebut membuat Alma resah. Akhirnya saat Aldo kembali menghubungi, Alma mengangkatnya. Aldo langsung bertanya panik, "Alma, kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang terjadi saat aku meninggalkanmu di tepi jalan?"

Alma terlihat datar, lalu membalas ketus. "Aku tidak apa-apa."

Aldo terlihat lega, "syukurlah. Maafkan aku, Alma. Aku tidak berniat meninggalkanmu sendirian. Aku hanya takut kebablasan melakukan apa yang tidak mau kulakukan, jika mengantarmu kepada suamimu ...." Aldo meringis. Dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Aku baik-baik saja," Alma mengulangi kalimatnya. Berbohong, tentu saja. Apanya yang baik-baik saja?

"Alma," Aldo memanggil. "Untuk yang selalu kubahas, ingin aku tanyakan balik, kamu masih mencintaiku?"

Alma tidak sadar, di balik pintu kamarnya ada Adli yang mematung. Awalnya Adli ingin menerobos masuk, marah-marah lalu merebut ponsel Alma tapi setelah mendengarkan percakapan awal Alma dengan Aldo, Adli ingin mendengarkan kelanjutannya. Bertindak setelah percakapan mereka selesai dan banyak informasi yang sudah terbongkar.

"Iya."

Jawaban singkat Alma membuat dada Adli remuk. Iya, katanya? Ah, sudahlah.

"Awalnya aku lupa, tapi semenjak kamu pulang tiga bulan yang lalu. Ternyata jawabannya, iya. Hanya saja selama ini sudah terkubur, hanya saja kamu menggalinya lagi tapi ... perasaan itu kembali terkubur setelah kamu meninggalkanku kemaren, Do."

Aldo yang awalnya terlihat senang kembali meminta maaf, "Alma, maafkan aku ... kumohon ...."

"Aku baik-baik saja," Alma menjawab. Bukan untuk meyakinkan Aldo tapi diri sendiri.

"Aku yakin kamu tidak bahagia dengan suamimu yang sekarang, bagaimana kalau kita kabur berdua? Aku akan membawamu ke luar negeri ... Paris. Kota mana yang menjadi tujuan saat aku meninggalkanmu dulu. Lupakan tentang Adli, mari hidup bahagia bersamaku, Alma. Aku takkan mengulangi kesalahan yang sama. Aku takkan pernah meninggalkanmu lagi ... aku mohon, terima ajakanku. Aku berjanji akan membahagiakanmu, Alma ... aku janji ... kamu boleh membunuhku jika tidak."

Awalnya Alma diam. Rasa ragu menyerembat ke hatinya. Bibirnya nyaris berbisik, "ba—"

Mendadak Adli menerobos masuk, merebut ponsel dari tangan Alma lalu mengumpat. Lelaki itu tersenyum sinis, diremuknya ponsel sang istri lalu membuangnya ke kolam luar. Adli meremuk dagu dan kedua pipi Alma, ditatapnya wajah memuakkan tersebut. "Dasar perempuan murahan! Pergi kemana kamu dengan Aldo tadi siang!" Mengingat istrinya pulang dalam keadaan basah kuyup, Adli terlihat jengkel. "Jawab aku, bodoh. Memuakkan." Alma mendorong dada Adli menjauh saat lelaki itu menciumnya. Lelaki itu terlihat kesal, "saat Aldo mengajakmu barusan apa yang menjadi jawabanmu? Ya atau tidak? Kamu ingin ikut dengannya atau tidak?"

Tak ada jawaban dari Alma, Adli mengerang. "Jawab aku, ******. Jawab!"

"Ya ...." Alma yang ciut menjawab.

Adli tersenyum sinis. "Oke, silahkan pergi. Pergi!" Semakin kesal lelaki itu menghamburkan semua barang-barang Alma. Banyak tumpukan pakaian langsung dimasukkannya ke dalam koper. "Bawa semua barangmu lalu pergi! PERGI! Sana kabur bersama mantan pacarmu! Kubilang pergi!" Alma mengabaikan koper yang sudah dikemasi oleh Adli, tidak tahan oleh teriakan Adli wanita itu berlari keluar dari kamar menuju halaman depan. Alma berlari menjauhi rumah suaminya. Seperti yang Adli suruh, dia akan pergi tanpa membawa apapun.

Alma pikir Adli tidak akan perduli. Apalagi perginya Alma atas suruhan lelaki itu. Ternyata Adli mengejar, Alma kalah cepat oleh lelaki itu yang langsung mengampit tubuhnya dari belakang. "Mau kemana kamu, hah?" Adli bertanya geram. Alma pasrah ditahan dari belakang dan lelaki itu mengecup dahinya bertubi-tubi.

"Kamu menyuruhku pergi ...."

"Aku memang mengusirmu tapi tak ada yang menyuruhmu benar-benar pergi!" Adli menarik lengan Alma untuk diseret kembali ke rumah, Alma mengimbangi langkah Adli dengan tertatih-tatih.

"Jika kamu pergi siapa yang akan mengurus Yura dan kandungannya untukku!" Adli memasukkan Alma ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Kini mereka berdua saja. Adli membuka koper Alma yang tadi dia kemasi, dengan berantakan kembali dia letakkan semua barang-barang itu ke tempat asalnya. Alma hanya mematung memerhatikannya. Sepanjang waktu, lelaki itu terus menggerutu. Setelah selesai menyusun kembali barang-barang Alma, Adli menangkup pipinya, mengusap bibirnya dengan jempol lalu mencium keningnya, puncak hidungnya, lalu lengkungan bibirnya.

"Kamu merindukanku setelah tiga bulan?"

Alma diam. Adli mengecup keningnya sekali lagi.

"Kamu tidak merindukanku, hah?"

Alma masih diam, Adli hanya menatapnya dingin. "Diammu jawabanmu." Lelaki itu mencium puncak hidungnya lagi. Entah kenapa dada Alma terasa semakin sesak, satu tetes air matanya jatuh dari irisnya yang merah.

"Kamu tidak akan kabur bersama Aldo 'kan? Kamu tetap akan di sini 'kan?"

Adli bertanya, seperti takut jika Alma mengiakannya.

Alma terus diam. Diam Alma selalu berakhir dengan kecupan Adli di salah satu tempat di wajahnya.

"Jangan pergi, Alma ...."

Setelah bisikan itu Adli keluar dari kamar Alma. Mengunci Alma dari luar. Alma menjatuhkan diri ke tepian ranjang, memejamkan mata. Berusaha mengatur pikirannya. Semuanya terasa berat, tingkah suaminya yang aneh, skandal tidak sengaja dengan Sean dan ajakan Aldo untuk melarikan diri. Semua itu seperti hantaman batu di kepala Alma. Alma yakin tidak bisa menjalaninya dengan baik.

Satu hal yang bagus untuk hari ini. Akhirnya ponsel sialan itu berakhir tragis dibuang oleh Adli, Aldo tidak akan menganggunya lagi dengan mengirim pesan atau menghubungi tapi resiko buruk lainnya bisa jadi Aldo nekat ke rumahnya. Kedatangan Aldo akan memancing perkelahiannya dengan Adli dan kerusuhan itu tidak akan pernah berakhir bagus.

Alma membuka lemarinya. Adli tidak menata pakaiannya lagi dengan benar, terpaksa Alma kembali mengeluarkan pakaiannya dan merapikannya di dalam lemari agar terlihat lebih memanjakan mata. Setelah itu meletakkan kembali koper ke atas lemari, di posisi awalnya.

Alma melirik kain gorden yang menghias setiap jendela kamarnya. Kalimat mulai terngiang di kepalanya, untuk menyuruhnya bunuh diri. Tak ada senjata tajam, Alma bisa menggunakan salah satu kain gorden untuk gantung diri. Alma bukan ingin mati, tapi apa yang menimpanya Alma yakin tidak bisa menjalaninya. Napas dan dadanya mulai terasa berat. Alma butuh kelapangan, tapi seperti tidak akan datang, kepala Alma selalu dihantui oleh perasaan bersalah.

Tangan gemetar Alma mulai membelai salahsatu kain gorden, Alma menariknya kuat. Tidak cukup tenaga, Alma mengambil kursi dan gunting. Gunting tersebut digunakannya untuk memotong kain gorden sepanjang mungkin, Alma menggantungnya ke tengah ruangan. Setelah ikatannya cukup kokoh, dia mulai memposisikan kedua telapak kakinya di atas kursi. Alma melingkari kain gorden berbahan kuat itu ke lehernya, mengikatnya. Alma bersiap hendak menendang mejanya. Alma memejamkan mata, antara yakin dan ragu, Alma tidak tahu apakah ini pilihan terbaik?

>><<

1
katerina
lanjutkan karya bagus ini
Eka Pengestu
padahal bgus loh...knpa slalu buat cerita yg gantung gini sih thor kek di PHP in..😫
cinta pertama
ditunggu updatenya Thor
cinta pertama
yah... penasaran deh? lanjutkan Thor
cinta pertama
benar-benar menguras emosi dan bikin penasaran. semangat kak ollane... author favoritq
NandhiniAnak Babeh
author kemana ya.. sudah 2 bulan ga ada kabarnya lagi nih 🤔🤔🤔
Rika Jhon
ahaha sean bnr2 udh gila bkn stres lg..tpi aq suka n mendukung itu😀
Rika Jhon
ahaha sean stres🤣
Rika Jhon
ahaha ngakak bgt sm kelakuan ny sean
Rika Jhon
ahaha sean menghayal alma hamil dan dy akn memiliki anak dr alma
Rika Jhon
do'a mu aq dukung sean..dan akan di kabulkan olh otor ny😁
Rika Jhon
wuih sean udh mulai fall in love sm alma tpi dy tdk menyadarinya
NandhiniAnak Babeh
author where are you
NandhiniAnak Babeh
author Cepat bangun dan up lagi.. aku begitu setia dengan Karyamu sampai² slalu mengintip ke lapak mu di setiap waktu nya
NandhiniAnak Babeh
author dimanakah dirimu.. jangan bikin reader jadi tergantung seperti ini 😩😩😩😩😩
Vinna_hot mommy
wew....msh blom up jga c othor....
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
ande
up up up up😊😊😊😊
Lenabid Daeng Lumang
udh gk up lg y Thor😁SDH terlalu lama diriku menunggu🤭
Lenabid Daeng Lumang
kadang geram jg sma si Alma,,kan jadi kasihan sma Sean

semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊
Indah Tuk Di Kenang
up dong thorrr...semangat💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻ada aku yang menunggu😭😭walau berat😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!