"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)
"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)
"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIAR
Evelyn dan Pak Dar semobil ketika pulang kerja. Pemandangan itu terekam beberapa karyawan yang memang berada di parkiran, termasuk Ata cs.
"Gila, ini mah bukan gosip. FAKTA," cerocos Lita agak sedikit ngegas. Bahkan sampai mengeluarkan ponselnya, mau motret mungkin.
"Udahlah, biarin aja," sanggahku. Malas berhubungan dengan Evelyn dan Pak Dar, peringatan Tristan tak dihiraukan dan semakin ngelunjak.
"Bukti itu mah, buat jaga-jaga aja kalau istrinya datang ke kantor lagi," celetukan Mbak Tiwi membuatku melongo. Wah...gak bisa dibiarkan nih, kasus perselingkuhan mereka bisa jadi mencoreng nama perusahan. Masalah pribadi mencuat di lingkungan kantor.
"Pak Bos kemana, tumben izinin kamu bareng kita?" tanya Mbak Tiwi sambil membuka pintu mobil.
"Masih ada klien, habis meeting baru jemput. Kita jadi makan di mana nih?" tanyaku yang sudah duduk manis di kursi belakang.
"Pujasera langganan saja, lagi pengen ayam geprek nih," usul Lita sambil memoles kembali lipstiknya. Memang gadis yang lagi getol mencari gebetan ini sangat menyukai ayam geprek di pujasera jalan X. Katanya sih, psmilik kedai ayam geprek itu ganteng banget.
Tak membutuhkan waktu lama, ketiga perempuan itu sudah sampai di pujasera langganan. Senyumku memudar secara perlahan, bahkan aku sampai berhenti di tengah jalan dan Lita menabrakku. Mungkin ia juga melihat siapa yang sedang kutatap. Evelyn. Bukan dengan Pak Dar, tetapi dengan Arfi, salah satu staf kepegawaian. Keduanya duduk berdampingan tanpa ada jarak, saling tatap dan senyum memuja tampak di wajah keduanya.
"Kok bisa sih?" Lita sudah memotretnya.
"Pak Dar ditaruh mana?" pertanyaan begoku.
"Benar-benar lihai selingkuh kali ya," cicit Mbak Tiwi seraya berjalan mendekati Evelyn dan Arfi.
"Ta, duduk sini." Aku yakin Mbak Tiwi pura-pura gak tahu keberadaan Evelyn. Dia cuek aja duduk di kursi tepat di belakang Evelyn.
"Kaya'nya lo punya masalah sama gue ya, Ta? setiap gue sama laki selalu ke gap sama lo."
Aku melongo, kok jadi gue sih?
"Seorang Nyonya bos, nguntit lo? kurang kerjaan banget. Kasta Ata ma level 10, sedangkan lo masih merangkak ke level 5," balas Lita kesal.
"Udah ah," kataku menghentikan perdebatan. "Sori ya, Lyn. Hidup lo gak penting buat gue urus. Suka-suka lo dah mau sama siapa, asal jangan sama Tristan."
Evelyn tersenyum sinis, "Emang kenapa? Pak Tristan belum tahu aja kelebihan gue ketimbang lo."
"Emang kalau udah tahu kenapa?" tantangku. "Bakal naksir lo? tolong deh, Fi, bangunin tante lo."
Aku lihat wajah Evelyn memerah, menahan kesal mungkin karena aku panggil tante. Wajarlah aku sebut tante, Evelyn udah nikah, punya anak juga umurnya 30 sangat berbeda dengan status Arfi yang single dan berumur 26 tahun. Hanya bisa mengelus dada, cowok brondong juga digaet. Astaghfirullah.
"Dah ah, makan-makan. Gue laper." Terpaksa ku sudahi debat kali ini, beberapa pengunjung mulai melirik dan bisik-bisik tentangku. Mbak Tiwi dan Lita diam saja, karena aku bisa membalikkan keadaan. Lagian Evelyn mengusik diriku, mereka tak usah turut campur.
Lita cerdik, benar memang dia menimpali candaanku atau Mbak Tiwi, tapi jangan salah ponselnya diletakkan di kursi lain dengan record on. Aku melongok pada ponselnya lalu tersenyum. Niat banget jadi detektif.
"Kita duluan ya," pamit Arfi, tapi tidak dengan Evelyn yang melihat kita sinis sembari menggamit lengan Arfi.
"Oh My God. Arfi sehat gak sih. Dia tuh ganteng, pasti mampu lah cari cewek yang lebih baik dari Evelyn," gerutu Lita sedikit meninggi.
"Bukan lebih baik, tapi lebih hot goyangannya." Duh, celetukan Mbak Tiwi malah bikin otakku ngeleg.
"Lah emang udah sampai goyang, Mbak?" tanyaku polos, ya kalau dipikir enggak sampai lah, Evelyn udah punya suami.
"Lo pikir mereka jalan cuma makan mie ayam doang. Ya elah nyonya bos, Evelyn udah expert kali, pasti dia yang jadi tutor gratis untuk Arfi."
Ucapan Mbak Tiwi terngiang jelas dalam pikiranku. Sepulang dari pujasera dan dijemput Tristan, aku hanya diam. Menatap lurus ke jalan, memikirkan bagaimana suami Evelyn kalau tahu punya bini seperti itu.
"Sayang," tegur Tristan sembari menyentuh pipiku sedangkan tangan lain memegang setir.
"Eh apa, kamu bilang apa?"
"Aku gak bilang apa-apa, aku cuma heran aja kamu diam banget. Ada apa?"
Aku menatap Tristan, ingin bertanya tentang 'kelihaian' Evelyn tapi aku ragu. Pembahasan dewasa yang belum tentu Tristan tahu. "Evelyn."
Sengaka kupancing hanya namanya saja, aku ingin tahu ekspresi Tristan, karena aku takut membayangkan dia dekat dengan Evelyn.
"Kenapa?" tanyanya datar.
"Ekspresimu lempeng kayak gini emang kamu gak mau tahu atau pura-pura gak tahu sih?" selidikku sedikit curiga. Bertemu Evelyn tadi membuatku berpikir Evelyn bukan tipe pemilih. Dia bisa saja menggandeng kalangan atas ataupun kalangan bawah. Yang penting ada yang mau, pasti langsung sikat.
"Ck....curiga lagi sih, gak usah bahas orang lain kalau bikin kamu curiga sama aku," tegas Tristan sedikit ketus. Aku hanya menghela nafas berat.
"Tadi di pujasera kita bertemu Evelyn sama Arfi."
"Oh...ganti pasangan?"
"Aku gak tau juga, tadi pas kita diparkiran kantor dia jalan bareng dan masuk mobil sama Pak Dar, eh tapi di pujasera sama Arfi. Kagetlah, terus kita berdebat," ucapku hati-hati, karena Tristan sangat tidak suka kalau aku bersikap bar-bar di tempat umum.
"Kamu dan Evelyn?" tebaknya tepat, dan aku mengangguk.
"Dia kesal sama aku, sampai menuduhku ngutit dia kalau sedang pacaran. Bahkan dia mengancam hubungan kita."
"Apa hubungannya dengan hubungan kita?"
"Kamu kemungkinan target selanjutnya."
Ya Allah, aku ingin menangis setelah cerita itu. Membayangkan Evelyn mendekati Tristan dengan bujuk rayu saja aku nyesek, apalagi sampai mengalami, eh...Naudzubillah. Jelas aku tak bisa. Namun suasana sendu wajahku berbanding terbalik dengan Tristan, ia malah tertawa ngakak sebagai target Evelyn.
"Aku kaya, aku tampan. Kalau aku mau memilih perempuan di atasnya aku pun mampu. Tapi percayalah aku masih waras, melepas barang ori demi barang second, itu tidak mungkin aku lakukan," bisiknya penuh goda.
"Yakin nih omongannya, tapi kok aku merasa buaya lagi muncul ke darat ya."
Tristan tertawa ngakak, "calon istrinya tak mudah percaya apalagi masalah perselingkuhan. Bagiku, sekali berselingkuh, maka orang itu tetap selingkuh. Sudah tabiatnya," terang Tristan penuh percaya diri.
Kutepuk lengannya dan dia mengadu, "Ih...suudzon," omelku gemas. Kami pun tertawa, semakin dekat dengan hari H, aku semakin deg-degan. Kubiarkan Tristan mengendari mobil, aku tak tega mengajaknya bicara hingga mataku dengan lancang menatap seorang perempuan mengenakan tank top dan memeluk sang pria erat.
"Mas....Itu...." ucapku terbiasa.
"Lah kan bener,
yg jelas ditunggu kelanjutannya