inilah ujian terberat dalam hidupku, Mas Rayhan suamiku yang aku cintai berselingkuh dengan mantan muridnya. Setelah aku tau perselingkuhan itu, Mas Rayhan bilang ia akan bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi. Tapi Mas Rayhan bohong, ia masih berhubungan dan bahkan malah menghamilinya.
Akankah aku bisa mempertahankan rumah tangga ini atau memilih bercerai?
ig author : wentyoktaria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wenty Oktaria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bahagia
Akhir-akhir ini mas Rayhan sangat baik kepadaku. Ia tambah perhatian, tambah romantis. Pulang kerja tak pernah larut malam, selalu membawakanku sesuatu sepulang kerja, entah itu dalam bentuk makanan atau benda. Ia bilang, ia ingin lebih memanjakanku.
Walau aku belum sepenuhnya percaya padanya karena pengkhiatannya itu tapi aku wajib bahagia. Aku harus menemukan kebahagiaanku. Aku harus bangkit, tidak bisa kuterpuruk terus menerus.
Mas Rayhan mulai sering mengajakku kesalon khusus muslimah. Ia juga membelikanku skincare yg menurutku harganya terbilang mahal. Ia juga membelikanku gamis-gamis yang bagus, agar penampilanku terlihat anggun dan sering mengajakku jalan-jalan ke mall.
Aku juga mulai berolah raga untuk mengikis lemak sedikit demi sedikit dalam tubuhku. Mas Rayhan bilang, aku akan tambah cantik kalau lemak ditubuhku terkikis sedikit saja.
Tak jarang saat ini ia lebih banyak mengungkapkan kata-kata "I love you" atau "I miss you" saat kami sedang berduaan.
Harapku, semoga kemesraan ini terus terjalin, aku ingin sehidup sesurga dengannya.
****
Hari ini Mas Rayhan mengajak aku dan Syafiq berlibur keluar kota.
"Pakaian yang mau dibawa sudah dimasukkan semua kedalam koper?" Tanya Mas Rayhan.
"Sudah."
"Oke, kopernya aku masukkan bagasi ya."
Kami pergi menggunakan mobil pribadi. Karena jarak tempat tinggal dan tempat tujuan kami hanya butuh waktu empat jam untuk sampai disana.
"Hati-hati dijalan ya..." Pesan ibu mertuaku kepada kami.
"Iya, Bu... kami jalan dulu ya..." Pamitku.
Mobil melaju, aku melihat Syafiq yang main dijok tengah sendirian. Bahagia sekali dia. Sudah lama Mas Rayhan janji mau mengajakku jalan-jalan keluar kota, tapi karena berbagai kesibukan dan juga karena masalah aku dan dia waktu itu, jadi selalu tertunda.
"Mas, aku bahagia banget." Ucapku.
"Iya, aku juga."
Lalu tangan kirinya menggenggam tanganku dan menciumnya.
"Abi... kok cium-cium tangan Mama?" Syafiq yang melihat Mas Rayhan mencium tanganku mulai protes.
"Iya, Abi kan sayang sama Mama." Jawab Mas Rayhan.
"Kalau sama Aku?" Tanya Syafiq.
"Iya sayang juga."
"Kalau begitu nih, cium juga tangan aku." Pinta Syafiq sambil tertawa.
"Nanti ya, Abi kan lagi nyetir."
Kami bertiga pun tertawa.
Tak terasa sudah 4 jam berlalu, akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Kami menginap dihotel bintang lima.
"Besok mau kemana?" Tanya Mas Rayhan.
"Ketempat wisata yang ada hewan-hewannya ya. Aku mau ngasih makan kelinci atau domba." Jawab Syafiq.
"Oke."
"Sekarang kamu tidur dulu, biar besok bangunnya ga kesiangan." Perintahku.
"Iya, Ma..."
"Yuk, kita bobo...." Ajakku.
"AC nya matiin aja ya, karena kan disini udaranya sudah dingin." Pintaku.
"Masih kurang dingin buat aku, Ma..." Jawab Syafiq.
"Sebelum tidur baca doa dulu yuk." Perintahku.
"Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut." Syafiq membaca doa mau tidur dengan lancarnya.
"Udah, Ma... aku mau tidur ya."
Aku tidak bisa tidur karena kedinginan. Karena Syafiq sudah tidur, segera kuambil remote ACnya dan kumatikan. Ternyata Mas Rayhan juga belum tidur.
"Aku kira kamu udah tidur, Mas?"
"Aku juga belum bisa tidur karena kedinginan."
"Oh ya, aku punya sesuatu untuk kamu." Ucap Mas Rayhan.
"Apa?"
"Sebentar ya..."
"Tutup mata kamu dulu dong!" Pintanya.
"Oke."
Beberapa detik aku memejamkan mata, tiba-tiba Mas Rayhan memegang jemariku, memasangkan cincin dijari manisku.
"Coba, buka matanya!"
"MasyaAllah Mas, Bagus banget..."
"Makasih ya..."
Aku mencium tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Barakallah fii umrik, istriku." Ucap Mas Rayhan sambil mencium keningku.
"MasyaAllah aku sampai lupa hari ulang tahunku."
"Aku kan sengaja ajak kamu kesini, karena mau kasih hadiah ke kamu, dihari ulang tahun kamu."
"Makasih, Sayang..."
"Aku bahagia." Ungkapku.
Aku benar-benar terharu, tak terasa air mata menetes dipipiku.
"Udah, jangan nangis." Kata mas Rayhan sambil menyeka air mataku.
"Aku terharu, Mas..."
Lalu kami berdua berpelukan.
Aku benar-benar lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Karena ditahun-tahun kemarin tak ada hadiah istimewa. Beruntung tahun ini Mas Rayhan memberikan hadiah ini kepadaku, cincin emas permata seberat lima gram, ah aku bahagia.
ki ga dilanjut
kutunggu kelanjutannya