Masa lalu yang membuat kehidupan Shirena Indira, wanita yang saat ini ingin melupakan trauma berat yang dialaminya.
Namun siapa sangka, dirinya malah dikejutkan dengan perjodohan yang dilakukan keluarganya.
Dan yang membuat dirinya lebih terkejut lagi, ketika ia mulai mampu menjalani kehidupan pernikahannya, selalu saja ada persoalan kecil maupun besar yang terjadi tepatnya di satu tahun pernikahannya, hingga beban yang harus ia rasakan sangat begitu besar sudah mulai tak bisa ia bendung lagi. Dan masalah demi masalah yang terjadi kembali mengingatkannya akan semua trauma masa lalunya.
Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Shirena?
Dan apakah kebahagiaan akan datang setelah pernikahannya atau malah kembali terjebak dengan masa lalunya?
Cerita ini sedikit mengandung bawang, dimohonkan kepada readers untuk selalu menyiapkan tisu yaa :')
Happy reading and enjoy it!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Sial banget sih ketemu pria seperti itu, cukup hari ini deh ketemu, jangan lagi. Pria ini maunya apa sih sebenarnya" kata Irena.
"Bodo ahh bodo amat, pusing kepalaku. Aku harus cepat ganti pakaian, sebelum ada pria sinting satu lagi datang" gerutunya.
"Siapa yg kamu maksud sinting? Saya?" tanya Pak Chan.
Irena melirik Pak Chan pelan-pelan. Tenang Irena tenang, sekarang pikirkan baik-baik bagaimana caranya mengulur waktu pergi meeting lebih lama agar bisa membersihkan baju yang kotor ini. Ayo Irena, ayo berpikirlah!
Irena tersenyum saat melihat ke arah Pak Chan, sepertinya ia sudah mempunyai ide apa yang harus ia lakukan.
"Pak maaf pak saya buru-buru nih, sakit perut kebelet mau ke toilet pak" jawab Irena.
"Sakit perut? Itu kamu, anu itu ... belakang kamu berdarah" ucap Pak Chan sambil menunjuk ke arah belakang celana kerja Irena.
Sungguh hal yang sangat memalukan bagi Irena, saat dirinya tidak menyadari bahwa hari ini adalah tanggal dua puluh lima, jadwal menstruasinya sudah datang. Wajah Irena semakin pucat, gugup dan tegang. Seketika pria dihadapannya membuka jas kerjanya dan menutupi bercak darah merah yang ada dicelana Irena.
OMG!! Kenapa semua ini terjadi. Untuk pertama kalinya dihadapan seorang Direktur. Jantungku rasanya mau copot, mataku tidak bisa berkedip, pandanganku terus tertuju ke lorong depan didepan sana, sedikit lagi masuk ke toilet sedikit lagi padahal.
"Sepertinya aku harus lari secepat mungkin, ku tahan dulu rasa malu ku ini, yaa ayoo Irena teruslah berjalan, ayoo jalan Irena" ucap Irena dalam hati.
Irena berlari masuk ke dalam toilet, ia hidupkan keran air dan menoleh ke arah kaca dengan ekspresi yang tak terduga miliknya. Apa ini jas kerjanya? Sudah terkena bercak darah merahku. Tidak salah nih pria itu bersikap seperti ini? Kejadian yang sungguh memalukan? Ya Allah, cobaan apa lagi ini?
Ia menggelengkan kepalanya, mengerutkan kening dan menampik pikiran aneh yang ada di kepalanya, ia hanya bisa terdiam dan berpikir lagi. Sudah terjadi ya sudahlah harus dihadapi bahkan rasa malu ini sekalipun.
"Sial!! Kenapa harus begini sih hari ini? Kenapa? KENAPAAAA???" ucap Irena.
"Ini bermula dari pria barista sinting itu nih. Ya semua gara-gara dia. Ya Allah jauhkanlah pria seperti itu dalam hidupku, pria sinting tidak tau etika tidak tau sopan santun, jangan biarkan aku ketemu dia lagi ya Allah" ucap Irena sambil membersihkan dan mengganti bajunya.
Ia terus mengomel sampai akhirnya suara ketukan pintu toilet terdengar. Siapa sangka yang mengetuk adalah Pak Chan, apa iya dia mengikuti dan menungguku sampai selesai bersih-bersih. Apa dia mendengar ocehan ku, tidak mungkin bukan dia itu pikirnya.
"Tokkk ..."
"Tokkk..."
"Tokkk..."
"Irena.. Irena .. Are you okay?" tanya Pak Chan dari depan pintu.
Wahh beneran dia ternyata. Aku terlalu gugup jika harus berhadapan dengannya sekarang. Belum siap rasanya, masih terpikir olehku kejadian memalukan ini.
"Iya sebentar lagi Pak" jawab Irena.
"Buruaannn cepat, kita sudah telat nih" teriak Pak Chan.
Ya pikirku dia khawatir dengan keadaan ku, ternyata dia khawatir takut telat ketemu customer kami. Ternyata hanya kege-eran ku saja yang semakin tak karuan
Irena keluar dari toilet, ia mencoba untuk bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka terus berjalan, berjalan seperti beneran tidak ada yg terjadi, berjalan ke arah ruangan kantor masing-masing. Irena mulai menyiapkan berkas-berkas untuk dibawa, dan melihat Pak Chan sudah menunggu didepan kantornya dan memperhatikan apa yang dilakukannya.
Suasan begitu tegang, mereka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu didepan lobby kantor. Ditengah perjalanan, Chan memberikan minuman dan roti untuknya. Irena menerimanya dan mulai menyantapnya. Alhamdulillah pikirnya, perutnya memang sedang lapar tapi ia tidak menyadari karena ada banyak kejadian yang terjadi hari ini.
Telepon tiba-tiba berbunyi. Ibu ya dari Ibu, pasti Ibu bertanya tentang dinner malam ini. Yang benar saja, apa mungkin Ibu mempertanyakan hal seperti itu sepagi ini.
"Ya Bu wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh" ucap Irena.
"Irena kamu jangan lupa dinner kita sama teman Ibu ya, jangan lama pulang ya nak, kita harus on time ya nak, kita gak boleh mengecewakan mereka karena telat datang, ingat loh ya nak" ucap Ibu Irena.
Ya tentu saja ia ingat, sangat sangat ingat rencana dinner Ibunya itu batinnya.
"Ya Bu baiklah, Ibu tunggu saja dirumah. Irena usahakan pulang cepat ya. Udah ya Bu, Irena lagi sama Boss nih ada kerjaan" balas jawab Irena.
"Iya sayang, happy working anakku. See you" kata Ibu Irena.
Irena kembali mengerutkan keningnya sambil merapikan hijabnya. Irena kenapa sih hari ini? Kenapa hari ini tidak seperti hari biasanya, sesuai yang direncanakannya? Bukannya biasanya lancar-lancar saja ya? Ya pria itu iya pria itu.
"Aduhh masih aja aku mikirin Pria itu?" gerutunya.
Ia terus mengumpati dirinya, tidak perduli siapa yang lagi disampingnya, tidak perduli Chan mendengar perkataannya atau tidak. Berharap tidak berjumpa lagi dengan pria itu. Sambil terus menyantap roti yang diberikan Bos nya.
"Kamu kenapa kayak orang gila bicara sendiri? Kalau ada masalah sama pacar jangan bawa-bawa ke kantor, sudah berap kali saya peringatkan" kata Pak Chan.
"Engg, enggak Pak, tidak ada apa-apa. Hemm Pak makasih ya tadi Bapak udah nolongin saya, jas nya nanti saya pulangin ya Pak, saya laundry dulu, soalnyaaa .. itu Pak, itu jasnya terkena sedikit itunya" ucap Irena terbata-bata karena menahan malu.
"It's okay, lain kali kamu itu harus hati-hati jangan teledor seperti itu, untung cuma saya yang lihat. Coba karyawan yang lain, mau ditaruh dimana muka saya punya manajer jorok seperti kamu" ucap Pak Chan.
"Habis meeting kamu saya antar langsung pulang saja, istirahat saja kamu. Tenangkan pikiran kamu biar tidak terjadi lagi hal memalukan seperti itu. Lagian Ibu kamu saya dengar nyuruh kamu cepat balik kan? Mungkin ada hal yang urgent" ucap Pak Chan.
Lagi-lagi hati Irena tersentuh, yang tadinya kesal dengan perkataan Chan. Dibalik sosok yang super super jutek dan pemarah, ternyata Bos nya begitu perhatian padanya, ehh pada bawahannya.
Direktur tampan, he's looking so perfect today. Emosional tinggi tapi sepertinya penyayang. Bertahun-tahun kerja barengan sama dia, kenapa baru baiknya sekarang pikirnya. Apa kebaikannya tertutupi karen dia tukang marah-marah? Ahh sudahlah, rencana Allah lebih indah untuk hari esok dan seterusnya, Amiin.
Irena terus menatap wajah Chan, memikirkan hal apa lagi yang tidak ia ketahui tentang bosnya itu.
"Loh kenapa aku mikirin pria sinting satu lagi?" gerutunya dalam hati sambil tersenyum.
Fix! Shirena Adriva sudah gila!!
"Bisa ikutan sinting juga aku nih" gumamnya
DinDut itu Pacarku Mampir
nulis novel salah satu cara utk mengungkapkan isi hati
Apapun yg kk pilih maka pertanggungjawaban lah pilihan itu kak
Lanjut lah
Kyk jemuran aja di gantung
Selesai kan lah karya yg udh kk buat
"Rasa yang terpendam"