"Pernikahan kontrak perjanjian, tapi pernikahan satu kali seumur hidup antara aku dan kamu.
~Alterio Mahendra
Alterio Mahendra, terpaksa menikah dengan Gabriela key Angelin. Yang berawal dari kesalahpahaman, dan untuk kebahagiaan orangtuanya.
Tak disangka, Al terpesona dengan istri kontaknya, dan berusaha mendapatkan hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minsecret03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. TINGGAL BERDUA
Perlahan key membuka maniknya, mengerjap berkali-kali dan tersenyum tipis. Tapi itu semua tidak berlangsung lama, saat key merasa ada yang aneh.
Didepan wajahnya ada dada bidang telanjang, dan napas hangat menerpa lehernya. Seingatnya, key belum punya suami, bahkan pacar. Jadi siapa yang masuk ke dalam kamarnya? dan seenaknya jidatnya tidur seranjang denganya.
Dengan hati-hati key mendongakan kepalanya keatas, melihat wajah pria yang tidur dengannya. Sekejap jantungnya berdetak kencang, dengan napas yang tercekat.
"Al?" Key baru ingat, semalam key menikah dengan pria dingin ini. Tapi berani sekali pria ini memeluknya, bahkan kakinya ikut menimpa kaki kecilnya tanpa merasa berdosa.
Dengan hati-hati key melepas lengan kekar suaminya yang melilit dipinggangnya, dan melepas paksa kaki jenjangnya yang menimpa kaki kecilnya.
Dengan grasa grusu, key bangkit dari tidurnya memeriksa piyama tidurnya dari atas sampai bawah. Selamat, masih lengkap walau kancing teratas piyamanya terbuka.
Sejenak key mengamati wajah tampan Al, dan langsung melemparnya mengunakan bantal.
"Kebo." Cibirnya.
Dengan kesal key mengikat rambutnya asal, sembari melangkah kearah kamar mandi.
"Untung suami, kalo gak habis Lo." Geram Key, menatap pantulanya pada pantulan cermin di dalam kamar mandi.
Selesai dengan ritual membersihkan diri didalam kamar mandi, key keluar dengan wajah yang ditekuk dan bibir yang dimanyukan kedepan. Ia masih kesal.
Tepat didepan pintu, manik key bertemu dengan manik Al yang duduk ditengah ranjang, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Key akui Al tampan baru bangun. Apalagi rambutnya yang berantakan, dan juga dada bidangnya yang terpampang jelas didepan matanya. Jadi ceritanya, key menganggumi Al? Tidak bisa dibiarkan, yang ada key melanggar peraturan yang ia buat sendiri.
"Kenapa?" Tanya Al, dengan suara khas bangun tidur menyadarkan lamunan key.
Dengan gegalapan, key mengelengkan kepalanya dan melangkah kearah sofa. Key kedapatan, memalukan.
Al hanya mengakat bahunya acuh, beranjak dari ranjang dengan malas.
"Kita pulang."
"Kemana?"
"Apartemen."
Key menganggukan kepalanya, dan bentar. Apartemen? jadi mereka berdua akan tinggal serumah? Berdua?
"Bentar, apartemen?"
Al hanya mengangguk kan kepalanya, sembari melangkah kearah kamar mandi.
"Berdua?"
"Iya."
"Gak, gue gak mau."
Sontak Al menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya menghadap kearah key. Apa maksud gadis ini? Emang apa salahnya tinggal berdua diapartemen. Orang mereka berdua udah sah suami istri semalam.
"Kita tinggal terpisah. Beda rumah, beda kamar, dan beda Kehidupan."
"Terserah. Jelasin sendiri sama bunda."
Key lupa lagi. Orangtua mereka pasti datang berkunjung, yang otomatis mereka harus tinggal berdua. Kalo tidak,
mereka ketahuan.
"Ck." Key berdecak kesal, mengusap wajahnya gusar. Semakin melangkah kedepan, semakin sulit juga. Key pikir pernikahan diam-diam dengan perjanjian diatas kertas itu gampang. Nyatanya lebih dari kata sulit.
Masa tiap hari memainkan drama seperti sinetron. Padahal tidak digaji, malah rugi.
Key takut kata-kata 'cinta datang karena terbiasa' menjadi kenyataan.
Mana tinggal serumah, makan berdua, memainkan drama romantis lagi dihadapan orang tua mereka. Key tersiksa memikirkan itu.
"Ayo."
Key melongo menatap Al yang kini sudah rapi, berdiri tak jauh dari tempatnya. Sejak kapan pria itu memakai kaos, dan menganti celana pendeknya? Seingatnya Al masuk kedalam kamar mandi barusan.
"Bukannya Lo didalam kamar mandi?"
"Ck, melamun."
"Masa iya sih, Lo lewat darimana?"
"Atap."
"Gak lucu."
Al mengehela napas, dan tersenyum tipis kearahnya.
"Cepat, atau gue gendong."
"Apaan sih."
Key bangkit dari tempatnya, melangkah kearah ranjang mengambil totbag nya dan mengikuti langkah kaki suaminya.
Ternyata mereka dihotel. Kok key baru sadar? Saking capeknya semalam, key tidak peduli dimana ia berada. Yang paling hanya ranjang, untuk istirahat.
_____________
Sesuai perkataan Al, mereka kini disebuah apartemen. Yang key lihat, apartemen ini sudah ditempati. Barang-barang juga terlihat lengkap, namun penempatan barangnya membuat mata sakit, saking tidak pas nya.
"Jangan bilang ini apartemen Lo."
"Iya."
"Pantasan."
Al menaikkan alisnya, mengikuti langkah kaki Istrinya menyelesuri apartemen menggunakan maniknya.
"Aneh." Cibirnya.
Dari pada adu mulut, lebih baik Al menghindar. Melangkahkan kakinya kearah kamar, tanpa mengubris keberadaan istrinya
"Bentar–"
"Hm."
"Gue bisa renovasi kan?"
"Terserah."
Key tersenyum kemenangan, dan kembali melanjutkan langkahnya. Semakin melangkah, semakin key tercengang. Apa memang apartemen pria seperti ini? Gak ada menariknya.
Diruang tengah hanya ada sofa, meja, dan televisi. Didapur terasa hening, dan sepi. Perabotannya kurang lengkap, bahkan bisa dibilang kosong. Key pikir lengkap, hanya ruang tengah saja yang terlihat berisi.
Key berdecak kesal, menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya kasar.
"Mulai dari nol lagi. Semangat key, gak papa cuman satu tahun doang."
Dengan langkah lebar, key melangkah kearah ruang tengah membuka ponselnya dan menyelusuri dunia perabotan. Lebih baik pesan dari toko online saja, key malas keluar rumah. cukup menyusun tata letaknya saja perkerjaanya key. Selebihnya, suami dinginnya.
Apa gunanya tinggal berdua dengannya, lebih baik dimanfaatkan baik-baik. Lagian siapa suruh ngajak nikah, belum kenal key sih.
Saking seriusnya, key tidak menyadari jam yang memutar dan Al yang kini duduk disampingnya.
"Makan apa?"
Sontak key tersentak, dan menghela napas lega.
"Jangan tiba-tiba muncul, bikin kaget aja."
sergahnya, menatap tajam kearah suaminya.
"Makan apa?"
"Tiang."
"Yaudah sana makan tiang."
Key memilih diam, kembali fokus kelayar ponselnya tanpa mengubris keberadaan Al. Lebih baik ucapannya tidak dibalas, yang ada emosi saking kesal.
"Pesan makanan."
"Pesan sendiri."
"Key."
"Iya-iya, diam. Jangan bising, kayak bocil aja."
Al hanya mengangguk kan kepalanya, beralih ke layar televisi yang menyala. Bentar, sejak kapan Al jadi penurut? Kenapa semua ucapan gadis ini selalu Al turuti. Sejak kapan juga dia banyak bicara? Aneh. batin Al.
Seketika hening, yang terdengar hanya suara televisi. Al fokus kearah tv, dan key sibuk mengotak ngatik ponselnya.
Tok tok
Dengan cepat key beranjak dari tempatnya, melangkah kearah pintu apartemen. Dan kembali dengan kotak makanan yang terbungkus plastik.
"Nih makan."
"Air."
"Ambil sendiri dari dapur."
"Key."
Siempunya memejamkan mata sebentar, dan tersenyum ketus kearahnya.
"Iya bentar." Key melangkah kearah dapur, dengan menghentak-hentakan kakinya. Dan itu semua tidak hilang dari pandangan Al, dan terkekeh sembari mengelengkan kepalanya. Ada-ada saja kelakuan Istrinya.
Key kembali keruang tengah, dengan dua gelas air mineral.
"Good girl."
Key menaikan alisnya, dan kembali duduk disamping suaminya.
"Eh, gue lupa. Lo suka kan sama menunya? gue lupa tanya tadi waktu pesan."
"Hm."
"Jawab iya kek."
"Iya."
"Good boy." key meniru ucapan Al, dan terkekeh melihat wajah kesal suaminya.
Selama makan hanya terdengar kunyahan, dan suara televisi.
"Kenyang." key bersandar pada sandaran sofa, sembari mengelus perutnya.
"Berapa bulan?"
"Jangan Ngada-ngada deh Al."
"Kode."
"Nggak ada kode-kodean."
"Apa salahnya–"
Tok tok
Terdengar kembali ketukan pintu. Key dan Al saling melemparkan tatapan, dan mengelengkan kepalanya. Seingatnya key tidak ada janji dengan seseorang, Al juga sama. Orangtua mereka juga tidak ada janji atau berencana mengunjungi mereka.
Al mengarahkan tatapannya kearah pintu, sembari mengintruksi key membuka pintu.
💪💪💪💪