Zeya Putri bekerja disuatu perusahaan terkenal dikota Jakarta. Zeya terpesona oleh ketampanan dari Arka Krisdya yang tak lain adalah atasannya dikantor itu. Meskipun terlihsat dingin dan kaku, Arka memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap anak-anak panti asuhan. Karena Arka merasa senasib dengan mereka. Begitu pula dengan Arka, ia pun jatuh pada pesona seorang Zeya. Bahkan sejak ia mengirimkan lamaran diperusahaan yang ia pimpin.
Namun Arka tersandung masalah dengan Dela Deffana, anak dari pemilik perusahaan sekaligus orang yang berjasa dihidupnya.
Dela seorang wanita cantik, kaya, berpendidikan tinggi. Ia tampak begitu sempurna. Namun sayang, Ia tak bisa mendapatkan hati Arka. Ia besekongkol dengan Randi, seorang pria terlihat sangar yang kebetulab juga menyukai Zeya.
Arka terpaksa harus menikahi Dela, karena suatu hal yang ternyata itu hanya jebakan Dela. Namun disisi lain ia pun tak mau kehilangan Zeya bahkan ingin memilikinya.
Sementara Zeya rela dinikahinya meskipun dia tau Arka telah menikahi Dela. Zeya menjadi istri keduanya.
Bagaimana kisah cinta mereka?
Apakah akhirnya mereka akan berpisah?
Ataukah kekuatan cinta Arka dan Zeya bisa membuat mereka bisa bersama dan saling menunggu?
Tentunya tanpa adanya duri didalam kehidupan mereka
Yuk baca ceritanya..
Jangan lupa like dan koment ya dear.. 😉🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Sekolah
****
Mobil Arka memasuki parkiran sebuah hotel. Acara reuni diadakan di Ballroom hotel di Jakarta. Mereka sampai di tempat acara sekitar pukul setengah tujuh lewat sepuluh menit.
Zeya membuka pintu mobil dan berjalan disamping Arka. Mereka nampak seperti pasangan yang serasi.
Bukan seperti seorang pimpinan dan anak buah tentunya. Haha
Zeya terlihat gugup, telapak tangannya basah. Baru kali ini dia ikut di acara seperti ini. Tadinya dia ingin menolak kemauan Arka tapi dia tak ada keberanian untuk itu.
Selagi bukan ajakan yang buruk Zeya pasti mau melakukan untuk Arka. Apalagi cuma menemaninya di acara reuni seperti ini.
Mereka berdua memasuki ruangan yang telah disiapkan untuk acara. Ruangan sudah mulai dipenuhi oleh banyak orang.
Beberapa pasang mata menatap kedatangan Arka dan Zeya. Mereka terpana dengan pasangan yang baru datang itu.
Benar-benar serasi!
Zeya kaget tiba-tiba tangannya digandeng oleh Arka. Wajahnya memerah seketika. Arka merupakan pria kedua yang menggandengnnya. Sebelumnya dia pernah berpacaran dengan laki-laki satu kampus dengannya.
Namun laki-laki itu memutuskannya tanpa alasan yang jelas. Dan sampai saat ini pun Zeya belum pernah punya hubungan lagi dengan siapa pun.
Dia tak menyangka kalau yang menggandeng tangannya saat ini adalah atasannya. Bukan seperti pada umumnya sepasang kekasihlah yang saling bergandengan tangan.
Pak Arka, kenapa bapak membuatku gugup begini batin Zeya
Seorang pria yang sedang duduk dengan seorang wanita muda yang cantik melambaikan tangannya pada kami berdua.
"Kita kesana Zey" ajak Arka
Zeya hanya mengangguk mengikuti kemauan Arka.
"Heiii gimana kabarmu bro, lama kita tidak jumpa"
"Kabar gue baik sampai saat ini"
Pria itu adalah Tito teman sekolah Arka dulu. Dia mengamati Arka dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Lu emang nggak culun sekarang, lu keren" katanya sambil berdecak kagum.
"Gue biasa aja To"
"Gimana kabar lu" tanya Arka
"Seperti yang lu lihat, kabar gue sehat"
Tito melirik kearah Zeya yang tepat berada disamping Arka.
"Oh iya, kenalin ini Zeya"
"Kenalin juga ini pacar gue, Sitha" kata Tito sumringah
Zeya mengulurkan tangannya pada Tito dan wanita yang bersama Tito. Mereka saling berjabat tangan.
"Nah gitu dong ka, jangan culun kayak dulu. Sama cewek aja nggak berani" ledeknya
"Tapi serius lu hebat, jempol empat buat lu. Dapat cewek cantik kayak Zeya" Tito berbisik
"Berisik lu"
Tito terkekeh melihat tingkah Arka. Mereka berempat saling bertukar cerita.
"Sayang kamu sama Zeya ngobrol aja dulu disini, kita berdua mau nyamperin temen-temen dulu ya" kata Tito
"Iya sayang"
Arka mendekat dan membisikan sesuatu ke telinga Zeya.
"Zey jangan kemana-mana disini aja"
"Baik pak" jawabnya pelan terdengar seperti gumaman
Mereka pun meninggalkan Zeya dan Sitha.
Zeya dan Sitha pun akhirnya tak canggung dan bisa langsung akrab satu sama lain.
"Mbak Sitha orang mana?"
"Saya orang asli Jakarta, jangan panggil mbak panggil aja Sitha"
"Mungkin umur kita tidak jauh berbeda, umurmu berapa?"
"Umurku dua puluh dua tahun" jawab Zeya
"Tuh kan beda setahun doang, umurku dua puluh tiga tahun"
"Kamu disini bekerja atau kuliah Zey?"
"Saya disini bekerja Sit, satu kantor sama pak, ehh mas Arka maksudnya"
Zeya hampir keceplosan menanggil Arka dengan panggilan pak.
"Udah lama di Jakarta"
"Belum sih, belum lama. Baru beberapa bulan"
"Oh gitu, semoga kamu betah ya tinggal disini"
"Iya, mudah-mudahan aja betah"
Sementara Zeya dan Sitha tengah berbincang-bincang. Ada sosok wanita menghampiri mereka berdua. Wanita itu adalah Dela.
Dia datang sambil mengamati penampilan Zeya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tatapannya pun begitu sinis tidak bersahabat.
"Kamu, staff baru dikantor saya kan?"
"Mbak nanya sama saya" Kata Zeya sambil menunjuk dirinya sendiri
"Iya siapa lagi kalau bukan kamu" jawabnya ketus
"Iya saya staff dikantor mbak"
"Kamu ngapain datang kesini"
Sitha menatap Dela dengan tatapan tidak suka.
Kenapa wanita ini tidak sopan sekali batinnya kesal.
"Lu itu siapa sih, nanya-nanya tapi nggak sopan" kata Sitha sudah terlanjur kesal
"Gue nggak ada urusan sama lu"
"Dia temen gue, jadi itu juga jadi urusan gue"
Ternyata Arka dan Tito tahu kalau Zeya dan Sitha terlibat adu mulut dengan Dela. Mereka berdua langsung menghampirinya.
"Ada apa Zey?" tanya Arka mendekati Zeya
"Nggak ada apa-apa kok"
Mata Arka langsung menatap tajam kearah Dela. Seolah-olah tengah menyelidiki apa yang terjadi.
"Kamu yang ngajak dia kesini?"
"Iya, kenapa?" jawab Arka datar
Wajah Dela memerah seketika dia seperti menahan rasa cemburu. Cemburu karena Arka mengajak Zeya kesini.
"Oh, baguslah kalau begitu. Seleramu ternyata yang beginian" ucapnya sambil berlalu meninggalkan mereka semua
"Udahlah jangan digubris, Dela emang dari dulu kayak gitu" Tito mencoba mencairkan suasana
"Jangan dipikirin ya Zey" kata Sitha
"Iya aku nggak apa-apa kok" Zeya tersenyum
Arka menatap wajah Zeya dengan tatapan tak menentu.
"Ya udah kita makan dulu yuk" ajak Tito
"Gue udah laper nih" katanya sambil memegang perut
"Oke kita makan dulu" kata Arka sambil merangkul pinggang Zeya
Zeya nampak begitu canggung dengan perlakuan Arka padanya. Dari kejauhan Dela memperhatikan sikap romantis Arka pada Zeya. Dela merasa hatinya terbakar.
Dia tak tahan melihat pemandangan didepan matanya. Kenapa Arka bisa bersikap manis pada gadis itu. Hatinya sesak dipenuhi api cemburu.
Sementara itu Zeya yang merasa risih diperlakukan seperti itu buru-buru menghindari Arka. Arka hanya mengernyitkan dahinya sambil menahan senyum.
Zeya mengambil beberapa makanan yang disajikan di acara itu. Mereka berempat kemudian makan bersama-sama. Tito dan Sitha terlihat begitu romantis. Mereka makan satu piring bersama.
Arka dan Zeya saling bertatapan seperti menahan malu melihat keromatisan mereka berdua.
"Kenapa kalian makan sendiri-sendiri gitu" celetuk Tito
"Aku nggak kenyang mas kalau makan sepiring berdua gitu" kata Zeya asal-asalan
"Haha kamu bisa aja Zey"
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang. Pukul setengah sebelas malam mereka memutuskan untuk pulang. Untung malam ini adalah malam weekend jadi tak masalah harus pulang malam seperti ini.
"Saya naik taksi aja pak pulangnya" kata Zeya
"Saya yang ngajak kamu, saya juga yang harus ngantar kamu pulang"
"Ayo masuk ke mobil" perintahnya
"Iya pak"
Akhirnya Zeya pun menuruti ajakan Arka. Dua puluh menit kemudian sampailah mereka diujung gang kosan Zeya.
"Mobil tidak bisa masuk ya Zey"
"Ini gang kecil pak, jadi mobil nggak bisa masuk"
"Oh gitu"
"Ya udah saya antar kamu sampai kosan"
"Ehh nggak usah pak, nggak usah. saya pulang sendiri aja"
"Jangan menolak, ini sudah larut malam saya harus memastikan karyawan saya sampai rumahnya dengan selamat" tandasnya
Sejak kapan pak Arka perhatian gini, mengatasnamakan karyawannya lagi. huh batin Zeya
Tapi nggak apa-apa deh, aku seneng kok dianterin bapak. Haha
"Ayo kita jalan"
"Baik pak"
Mereka berdua berjalan beriringan di gang kecil ini. Arka melihat-lihat kondisi lingkungan sekitar kosan Zeya. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai dikosan Zeya, kosan berukuran dua meter sepertinya.
Arka tercengang melihatnya.
"Sudah sampai pak, ini kosan saya" kata Zeya
"Oh iya, kamu masuk saja. Saya langsung pulang"
"Makasih pak"
"Kamu masuk dulu"
Zeya mengangguk meng-iyakan. Setelah Zeya masuk Arka pergi meninggalkan kosannya.
****
Ilustrasi Arka diperankan oleh Mark Prin 🤭