Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, akan tercium juga. Begitulah kata pepatah.
Meira Andana, gadis cantik yang baru menginjak kelas 3 SMA. Harus menikahi CEO tampan yang sifatnya random sekali.
Karena unsur persahabatan Papanya dengan Papi CEO, ia pun setuju untuk menikah. Ekonomi keluarga menurun karena sang Papa meninggal dalam kecelakaan tabrak lari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siska febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Pagi-pagi, Jason sudah berada di parkiran sekolah. Memandangi buket coklat yang ia beli khusus untuk Meira. Berharap gadis itu akan menyukai pemberiannya.
Ia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Meira. Sebelum janur kuning melengkung. Namun kenyataan tidak sesuai yang diinginkan Jason.
Tasya dan Arnetta sudah menunggu di depan gerbang saat tak sengaja melihat mobil Meira.
Gadis itu turun setelah berpamitan pada Tommy. Pagi sekali Reyhan ke kantor karena ada rapat keluarga yang sangat penting. Nanti siang ia akan menjemput Meira untuk membawa gadis itu kerumah orangtuanya.
"Pagi, Mei," sapa Tasya dengan senyuman jahilnya.
Meira memutar bola matanya malas.
"Tadi malam hujan 'lho. Ada kegiatan tengah malam nggak?"
Sudah hapal dengan isi otak Tasya yang memang agak sedikit korslet. Sepertinya urat-urat Tasya terpasang tidak rapi.
"Kegiatan tidur!" jawab Meira ketus.
Tawa Arnetta meledak. Padahal Tasya ingin kabar baik dari Meira. Pingin punya ponakan, tapi keinginan gadis itu cukup aneh dan tak logis saat Meira masih bersekolah.
Berjalan bertiga beriringan. Jason keluar dari mobilnya dan langsung memanggil Meira dengan tergesa-gesa. Meira menoleh.
"Kenapa, Jason?" tanya Meira.
"Mau ikut gue sebentar. Sebentar aja ya, gue ada sesuatu buat lo," mohon Jason.
Meira tak enak untuk menolaknya. Menyuruh temannya menunggu di koridor dan ia ke parkiran bersama Jason.
Tersentak kaget saat tangan Jason menggenggam tangannya.
Jason membuka pintu depan mobil dan mengeluarkan buket coklat setelah melepaskan genggaman tangan. Memberikan pada Meira saat ini.
"Ini buat lo. Semoga suka ya."
"Nanti gue ganti ya uang lo."
Jason panik, "Eh nggak usah. 'Kan gue yang ngasi ini buat lo. Terima aja."
"Maaf ngerepotin lo."
Melihat ada sebuah kertas kecil disana. Meira pun mengambil dan membacanya. Jason menjadi malu-malu.
Mei, hadiah ini gak seberapa dengan cinta gue buat lo. Semoga suka ya
^^^Jason^^^
Meira terdiam sejenak. Ada rasa bersalah pada Jason yang terus berharap padanya. Tidak mungkin ia berkata kepada Jason jika dirinya sudah menikah. Takut jika rahasia ini nyebar ke sekolah dan dia di keluarkan dari sekolah.
Menatap Jason cukup lama. Meira pun memutuskan kontak matanya.
"Makasih ya, gue duluan," pamit Meira.
Padahal Jason berharap jika gadis itu mengatakan suka pada hadiah yang diberikannya. Tapi tak apalah, ia akan tetap semangat mengejar cinta Meira. Diterima gadis itu saja rasanya sudah senang.
Arnetta dan Tasya tersenyum menggoda pada Meira yang mendapatkan buket coklat itu. Tidak besar, sedang lah ya ukurannya.
"Kasihan tau Jason berharap terus," kata Arnetta.
"Gue nggak bisa jujur ke dia," balas Meira.
"Minta ya coklatnya," pinta Tasya dan mencabut coklat itu dari buketnya.
Hati Meira merasa tak enak. Seharusnya Jason sadar, jika sudah ditolak berkali-kali jangan berharap lagi. Tapi lelaki itu tetap berharap padanya. Kalo begini Meira merasa bersalah.
Berjalan menuju ke kelasnya. Tasya asik mengemil coklat tanpa mempedulikan percakapan kedua sahabatnya itu.
"Gue udah jatuh cinta sama Mas Reyhan."
"Wajar karena dia suami lo. Gak lama lagi pernikahan kalian menginjak empat bulan. Toh suami lo juga baik 'kan sama lo?"
Meira mengangguk, Reyhan memang baik. Pria seperti itulah yang diidamkan Meira. Sejauh ini pria itu tidak pernah kasar padanya dan selalu memberikan perhatian kecil.
"Ayo main kerumah gue," ajak Meira.
"Nanti aja, pulang sekolah mau kerumah Nenek dulu." Tasya menyengir lebar.
"Nggak ngajak lo!" ketus Arnetta dan Meira bersamaan.
Tasya mencebikkan bibirnya merasa dicampakkan oleh kedua temannya ini. Karena kesal ia mencabut coklat lagi di buket punya Meira itu dan duduk di bangku dengan perasaan dongkol.
Meira dan Arnetta hanya acuh saja. Nanti juga mood-nya bakalan baik sendiri.