Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gema dari kedalaman gelap
Dua bulan setelah pertemuan kembali Maya dan Rian di kedai memori Distrik 4, ritme kehidupan baru di Neo-Veridia mulai terbentuk. Sinar fajar yang menyapu debu-debu reruntuhan kini diiringi suara ketukan palu, deru mesin konstruksi sipil, dan lalu lalang warga yang mulai belajar mempercayai satu sama lain. Namun, di balik narasi pemulihan yang damai itu, tidak semua hantu masa lalu benar-benar telah musnah.
Di lantai dasar kedai, aroma kopi Arabika menyatu dengan wangi cat kayu baru. Rian sedang membersihkan konter ketika pintu berdentang pelan. Seorang pria berjaket kulit kusam dengan kacamata pemindai retak di wajahnya melangkah masuk. Ia tidak tampak seperti pelanggan yang mencari kopi atau sekadar ingin berbincang. Matanya liar, menyapu sekeliling ruangan dengan gelisah sebelum akhirnya mengunci pandangannya pada Rian.
"Kau... kau Rian, kan?" suara pria itu parau, nyaris berbisik.
Rian meletakkan kain lapnya dan tersenyum ramah—senyum tulus yang kini menjadi ciri khasnya. "Selamat pagi. Ya, aku Rian. Ada yang bisa kubantu?"
Pria itu mendekat, lalu dengan gemetar meletakkan sebuah tabung logam berukuran ibu jari di atas meja. Tabung itu berlapis baja padat dengan segel biometrik bertuliskan logo yang sudah pudar: *Archivia-Sub level 0*.
"Mereka mengejarku," bisik pria itu, napasnya memburu. "Dewan Pemulihan Sipil berpikir mereka telah menghancurkan seluruh pusat data Archivia saat pilar utama meledak. Tapi mereka salah. Mereka hanya memotong kepalanya. Jantungnya masih berdetak di bawah tanah."
Rian mengerutkan kening, menatap tabung logam itu dengan rasa asing yang menggelitik bagian belakang kepalanya. "Maaf, Tuan, tapi tempat ini tidak lagi menangani perdagangan atau penyimpanan memori. Jika ini berkaitan dengan sistem lama, Anda mungkin harus melapor ke—"
"Tidak ada yang bisa dipercaya di Dewan!" potong pria itu kasar. "Ada faksi rahasia di dalam Dewan Pemulihan yang dipimpin oleh mantan Perwira Kategori. Mereka tidak ingin menghapus Archivia, Rian... mereka ingin **mengaktifkan kembali** protokol *Oblivion Prime* yang tersisa di server cadangan Distrik Bawah tanah. Dan tabung ini... ini adalah kunci dekripsinya. Kau yang merancangnya!"
Rian terpaku. Kata 'Oblivion' berdesing asing di telinganya, namun jemarinya mendadak bergetar secara refleks. Senyuman hangat di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kebingungan yang membingungkan jiwanya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari tangga atas. Maya turun dengan membawa senampan cangkir bersih. Begitu matanya menangkap tabung logam di atas meja dan raut wajah pria asing itu, baki di tangannya hampir saja terlepas.
"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya Maya tegas, menyergap maju dan menempatkan posisinya sedikit di depan Rian, berniat melindunginya.
Pria kusam itu menoleh pada Maya. "Nama saya Evan... mantan teknisi pemeliharaan saluran Distrik 9. Saya tahu siapa Anda, Maya. Anda yang memimpin perlawanan. Tapi Anda harus tahu, kemenangan kita tiga bulan lalu hanyalah ilusi jika server cadangan *Oblivion Prime* tidak dihancurkan malam ini."
Evan mengecilkan suaranya, menatap Maya dan Rian secara bergantian. "Mereka mulai melakukan uji coba senyap. Warga Distrik 2 yang tidur semalam... puluhan dari mereka tidak bangun pagi ini. Pikiran mereka telah dikosongkan. Faksi baru itu sedang mengumpulkan kesadaran warga untuk memberi daya pada kecerdasan buatan baru."
Atmosfer di dalam kedai yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es.
Maya menatap Rian. Pria itu tampak memegang pelipisnya, menatap tabung logam tersebut dengan pandangan kosong. Amnesia telah menyelamatkan jiwa Rian dari kejamnya dosa masa lalu, tetapi kini masa lalu itu datang menagih keahliannya. Faksi baru membutuhkan kode pemulihan yang hanya bisa dibuka oleh pola kesadaran perancangnya—Rian sendiri.
"Rian... kau tidak apa-apa?" tanya Maya lembut, meraih jemari Rian.
Rian menatap Maya dengan mata yang memancarkan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Maya... aku tidak tahu apa yang dia bicarakan. Tapi ketika aku melihat alat ini... ada sesuatu di dalam kepalaku yang terasa sangat sakit. Seperti ada pintu terkunci yang berusaha didobrak dari dalam."
Maya menggigit bibir bawahnya. Konflik baru ini bukan lagi tentang menjatuhkan sebuah rezim penindas yang tampak nyata, melainkan melawan sisa-sisa pembusukan dari dalam sistem baru yang seharusnya menyembuhkan mereka. Lebih berat lagi, konflik ini menuntut pilihan yang sangat sulit dari Maya: membiarkan Rian tetap aman dalam ketahuannya yang membahagiakan, atau membiarkan Rian kembali menyentuh kegelapan masa lalunya demi menyelamatkan kota yang baru saja bernapas.
Tiba-tiba, suara sirine peringatan membahana dari kejauhan luar kedai, diikuti derap sepatu lars berat yang mengepung jalanan Distrik 4.
"Mereka sudah di sini," bisik Evan panik.
Maya menatap ke luar jendela, lalu kembali menatap Rian. Senyum fajar mereka yang damai kini terancam oleh bayang-bayang baru.
"Simpan tabung itu," kata Maya pada Rian dengan nada tajam namun penuh tekad. "Cerita baru kita mungkin belum selesai ditulis, Rian. Dan kali ini, kita akan melindunginya bersama."