NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 GUNCANGAN DI GERBANG SEKTE

Lin Mo melangkah lurus menuju gerbang utama Sekte Cahaya yang menjulang tinggi dan megah di kejauhan. Pintu gerbang yang dibangun dari batu putih berukir indah itu tampak bersinar diterpa sinar matahari pagi, melambangkan kemuliaan dan kesucian yang selalu dipuja oleh seluruh murid sekte. Namun di mata Lin Mo, kemegahan itu kini tampak begitu palsu dan menjijikkan. Di balik kemilaunya, tersembunyi keserakahan, pengkhianatan, dan kebusukan yang tak kalah pekatnya dengan kegelapan di dasar Lembah Kematian. Lin Mo melangkah dengan tenang namun setiap langkah kakinya seakan membawa tekanan berat yang tak terlihat, membuat udara di sekelilingnya terasa semakin berat dan menyesakkan bagi siapa pun yang melihatnya melintas.

Sesampainya di gerbang utama, dua belas orang murid penjaga yang sedang berjaga langsung menyadari kehadirannya. Mereka semua saling berpandangan dengan mata terbelalak tak percaya. Berita tentang kematian Lin Mo telah disebarkan luas oleh Lin Tian sendiri kemarin sore. Seluruh murid sekte telah diberitahu bahwa Lin Mo telah tewas jatuh ke jurang karena kecerobohannya sendiri saat berlatih di puncak tebing. Tak ada satu pun orang yang menyangka bahwa pemuda yang seharusnya sudah hancur berantakan di dasar lembah itu kini berjalan santai melintasi gerbang utama seakan tak terjadi apa-apa. Keheningan mendadak menyelimuti seluruh area gerbang. Hanya suara langkah kaki Lin Mo yang terdengar jelas dan berirama mantap di atas tanah batu yang bersih.

Salah seorang kepala penjaga yang bernama Wu Qiang akhirnya melangkah maju dengan wajah merah padam bercampur takut dan marah. Ia adalah orang yang cukup dikenal karena kesetiaannya kepada Lin Tian dan kekuatannya yang berada di tingkat menengah. Wu Qiang mengangkat tangannya menghadang jalan Lin Mo sambil menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh ancaman.

"Berhenti di tempatmu! Siapa yang mengizinkanmu melangkah masuk ke gerbang ini?!" bentak Wu Qiang dengan suara lantang berusaha menutupi rasa takut yang mulai merambat di hatinya. "Menurut kabar yang kami terima, Lin Mo sudah tewas kemarin! Kau yang muncul tiba-tiba ini pasti penipu atau hantu yang menyamar! Segera akui siapa kau sebenarnya dan pergilah sebelum kami melumpuhkanmu dan menyeretmu untuk dihukum berat karena berani berpura-pura menjadi orang yang telah tiada!"

Lin Mo berhenti melangkah. Ia menatap Wu Qiang dengan pandangan yang tenang dan datar, seakan orang yang berdiri menghadangnya itu hanyalah sebutir debu yang tak berarti. Tatapan itu begitu tenang namun mengandung kedalaman yang tak terukur, membuat Wu Qiang secara tak sadar mundur selangkah karena merasa seakan sedang ditatap oleh gunung yang menjulang tinggi.

"Aku tidak menyamar menjadi siapa pun," ucap Lin Mo pelan namun suaranya terdengar jelas hingga ke telinga dua belas orang penjaga yang berdiri berbaris di sana. "Aku adalah Lin Mo yang kalian katakan telah tewas. Aku kembali bukan untuk meminta pengakuan atau simpati. Aku kembali untuk menuntut apa yang menjadi hakku. Minggirlah dari hadapanku. Jangan menghalangi jalan yang seharusnya menjadi milikku."

Suara itu begitu tenang namun mengandung wibawa yang menekan dada setiap orang yang mendengarnya. Wu Qiang menelan ludah dengan susah payah. Namun rasa takut akan kemarahan Lin Tian ternyata jauh lebih besar daripada rasa hormat atau takut yang baru saja muncul di hatinya. Ia mengeratkan gigi dan melambaikan tangannya memberi isyarat kepada sebelas orang murid lainnya untuk maju bersama-sama.

"Jangan percaya padanya! Ini pasti sihir atau tipu muslihat! Lin Mo yang asli sudah lemah tak berdaya dan pasti sudah mati! Tangkap dia! Lumpuhkan kakinya dan bawa dia menghadap Tuan Muda Lin Tian! Biarkan dia yang memutuskan nasib penipu lancang ini!" seru Wu Qiang berusaha membakar semangat anak buahnya agar berani melangkah maju.

Sebelas orang murid itu pun segera melangkah maju mengelilingi Lin Mo. Mereka memancarkan energi kekuatan yang berwarna-warni, bersiap menyerang secara bersamaan. Di mata mereka, Lin Mo hanyalah orang yang sudah kehilangan kekuatannya dan tak mungkin mampu melawan satu orang pun, apalagi melawan mereka yang berjumlah dua belas orang. Namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang berdiri di tengah-tengah lingkaran mereka itu kini telah mewarisi kekuatan Naga Abadi, kekuatan yang jauh melampaui imajinasi siapa pun di sekte ini.

Lin Mo menatap mereka yang mengelilinginya dengan tatapan yang masih tetap tenang. Ia tidak menarik napas dalam-dalam. Ia tidak pula bersiap melancarkan serangan. Lin Mo hanya berdiri tegak di tempatnya, lalu perlahan memancarkan sebagian kecil dari aura kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya.

Seketika itu juga, udara di seluruh area gerbang seakan berhenti berhembus. Tekanan berat yang luar biasa melanda seluruh tubuh dua belas orang murid penjaga itu seketika. Mereka merasa seakan ada gunung raksasa yang tiba-tiba menindih punggung mereka. Lutut mereka terasa lemas seketika. Bunyi dentuman halus terdengar dari tubuh mereka saat mereka terpaksa berlutut ke tanah satu per satu tanpa mampu menahannya. Mereka menatap Lin Mo dengan mata terbelalak penuh ketakutan yang luar biasa. Mulut mereka terbuka namun tak ada suara yang mampu keluar dari tenggorokan mereka. Seluruh tubuh mereka kaku dan gemetar hebat, tak mampu mengangkat kepala sedikit pun untuk menatap wajah pemuda yang berdiri tenang di hadapan mereka.

Lin Mo melangkah melewati barisan mereka yang berlutut tak berdaya di tanah. Saat melintas di samping Wu Qiang yang menatapnya dengan mata terbelalak penuh ketakutan, Lin Mo berhenti sejenak dan menatapnya dengan pandangan yang dingin namun tetap tenang.

"Aku tidak membunuh kalian karena kalian hanyalah pelaksana perintah yang buta," ucap Lin Mo pelan namun setiap kata terdengar jelas dan menekan ke dalam hati Wu Qiang. "Namun ingatlah hari ini. Ingatlah saat kalian berlutut tak berdaya di hadapan orang yang kalian anggap sampah dan telah tiada. Sampaikanlah kepada Lin Tian dan Xu Yao bahwa aku telah datang. Katakan bahwa aku sedang menunggu mereka di aula utama sekte. Katakan pula... bahwa utang yang mereka timbun dengan pengkhianatan itu... harus dibayar kembali hari ini juga."

Lin Mo melangkah pergi meninggalkan gerbang utama yang kini sepi senyap. Dua belas orang murid penjaga itu masih berlutut di tanah hingga lama setelah sosoknya menghilang dari pandangan. Napas mereka tersengal-sengal hebat, keringat dingin membasahi pakaian mereka sepenuhnya. Wu Qiang menatap punggung Lin Mo yang menjauh dengan pandangan yang penuh ketakutan dan kebingungan yang tak mampu ia gambarkan dengan kata-kata. Ia menyadari satu hal yang sangat jelas hari ini — pemuda yang kembali itu bukan lagi Lin Mo yang lemah dan sabar seperti dulu. Ia telah berubah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat, jauh lebih mengerikan, dan jauh lebih berwibawa daripada siapa pun yang pernah ia temui seumur hidupnya.

Berita tentang kedatangan Lin Mo menyebar bagaikan api yang membakar hutan kering ke seluruh penjuru Sekte Cahaya. Dari gerbang utama hingga ke halaman dalam, berita itu berpindah dari mulut ke mulut dengan kecepatan luar biasa. Seluruh murid sekte yang mendengarnya terkejut tak terkira. Mereka semua berlarian menuju aula utama untuk melihat sendiri kebenaran berita itu. Beberapa orang merasa takut, sebagian besar merasa penasaran, dan tak sedikit pula yang datang dengan niat menghina dan menertawakan pemuda yang mereka yakini tak mungkin masih hidup.

Lin Mo berjalan lurus menuju aula utama sekte yang merupakan tempat paling suci dan paling dihormati di seluruh wilayah sekte. Di sana, para tetua sekte berkumpul untuk memutuskan segala urusan penting, dan di sanalah Lin Tian saat ini sedang duduk dengan bangganya di kursi yang dulu merupakan milik Lin Mo — kursi pewaris sah Sekte Cahaya. Lin Mo melangkah masuk ke dalam aula utama yang luas dan megah itu diiringi pandangan mata yang beragam dari ratusan murid yang telah memenuhi ruangan itu hingga penuh sesak. Suara bisik-bisik terdengar di mana-mana, namun tak ada satu pun orang yang berani melontarkan makian kasar seperti biasanya. Karena begitu mereka menatap wajah Lin Mo yang tenang namun memancarkan wibawa yang menindih, kata-kata penghinaan itu mati sendiri di kerongkongan mereka.

Di atas panggung utama aula, duduk beberapa orang tetua sekte dengan wajah terkejut dan bingung. Dan di tengah-tengah mereka, duduklah Lin Tian dengan jubah mewah berwarna emas putih, wajahnya tampak pucat pasi namun tetap berusaha mempertahankan penampilan yang tenang dan berwibawa. Di sampingnya berdiri Xu Yao dengan wajah cantik namun kini tampak kaku dan penuh ketakutan yang berusaha disembunyikan. Mereka berdua menatap Lin Mo yang berjalan mendekat dengan langkah tenang dan mantap, seakan setiap langkah yang diambilnya sedang menghantam hati mereka berdua berkali-kali lipat.

Lin Mo berhenti tepat di tengah aula, di hadapan panggung utama tempat para tetua dan dua orang pengkhianat itu duduk. Ia menatap lurus ke arah Lin Tian dan Xu Yao dengan pandangan yang jernih dan tenang. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Tidak pula ada air mata atau kesedihan yang ditunjukkan. Lin Mo hanya berdiri di sana dengan tenang, menatap mereka berdua yang kini duduk di atas kursi yang seharusnya menjadi miliknya. Keheningan mendadak menyelimuti seluruh aula yang tadinya riuh itu. Semua orang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Lin Mo akhirnya membuka bibirnya perlahan. Suaranya terdengar lembut namun bergema di seluruh penjuru aula, terdengar jelas dan tegas di telinga setiap orang yang hadir di sana.

"Lin Tian... Xu Yao... Aku telah kembali..." ucap Lin Mo pelan namun setiap kata menembus langsung ke dada mereka berdua. "Kalian kira aku sudah mati di dasar lembah itu. Kalian kira dengan demikian kalian bisa menikmati apa yang kalian rampas dariku dengan tenang. Namun kalian keliru. Aku tidak mati. Aku kembali hidup-hidup untuk menuntut kembali apa yang menjadi hakku. Dan hari ini... di hadapan seluruh murid sekte dan para tetua... aku ingin bertanya kepada kalian berdua. Apakah kalian siap menerima pembalasan atas segala pengkhianatan dan kejahatan yang telah kalian lakukan?"

Suara itu baru saja selesai terucap, namun seluruh aula seakan gemetar hebat. Cahaya keemasan samar tiba-tiba memancar dari tubuh Lin Mo, menerangi seluruh ruangan aula yang luas itu dengan cahaya yang hangat namun penuh wibawa yang tak tertahankan. Di saat itu juga, setiap orang yang hadir di sana menyadari satu hal yang tak terbantahkan — badai besar baru saja tiba. Dan badai itu dipimpin oleh pemuda yang mereka semua pernah hina dan buang.

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!