Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon istri pilihan Arsen
Gala Aghia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan tangan sedikit bergetar.
"Maksud undangan ini, apakah berhubungan dengan anak anak kita?" tanyanya sambil menatap lekat relasi bisnisnya. Ngga ingin salah paham dengan maksud ucapan relasinya walaupun hatinya sudah menduga ke arah sana.
"Ya. Kalo kamu setuju, kita akan membicarakan rencana pernikahan anak anak kita malam nanti," tegas Latif Jaffar menjawab.
Gala Aghia tersenyum cukup lebar. Ini adalah berita yang ditunggu tunggu dirinya dan istrinya. Sampai sampai suasana tiap makan pagi selalu menegangkan karena ketidakjelasan nasib perjodohan putrinya.
"Tentu kami setuju. Putriku sangat beruntung dipilih oleh putramu." Dalam hati Gala Aghia sangat berharap agar putrinya nanti bisa jatuh cinta dan hidup bahagia bersama Arsen Angkasa. Karena dia tau saat ini putrinya melakukannya atas dasar keterpaksaan. Karena keinginannya dan istrinya. Karena Kepentingan mereka.
Gala jadi merasa bersalah dan kasian juga pada Ananta.
"Anakku juga sangat beruntung." Latif Jaffar tersenyum. Setelah pernikahan anak anak mereka, kedudukan putranya sebagai CEO nanti akan semakin kuat. Para pemegang saham lainnya yang ikut mendongkrak saham mamanya tapi putrinya ditolak Arsen, sudah diberikan keuntungan yang lain. Bagi mamanya yang penting kedudukan Arsen sudah diamankan. Dia tidak peduli seberapa besar harus menyuap mereka.
Dia ngga menyangka mamanya akan seeffort itu mempertahankan kekuasaannya.
"Semoga putriku tidak mengecewakanmu dan tante," ucap Gala terharu. Putrinya mengalahkan banyak konstestan yang orang tuanya memiliki kekuasaan dan kekayaannya yang ngga berbeda jauh darinya. Selain itu jangan lupakan, saingan putrinya juga sangat cantik cantik dan punya prestasi di bidang masing masing.
Gala tau sekali soal ini, karena dia sudah menyelidiki siapa saja yang jadi saingan putrinya.
"Tentu saja tidak. Putrimu akan menjadi istri yang bisa mengimbangi Arsen sebagai CEO. Dari relasi bisnis kita akan jadi keluarga," bantah Latif menenangkan hati Gala Aghia.
Gala bisa tersenyum lega. Penantian ini berakhir baik untuknya dan keluarganya. Secepatnya dia akan menghubungi istrinya. Dan meminta istrinya saja yang mengatakan kabar bahagia ini pada putrinya.
Dia sudah membayangkan segembira apa istrinya nanti.
*
*
*
"Ya, om akan datang."
"Thank's, om." Latif memilih menelpon om dan tantenya saja saat berada di dalam mobil yang masih terparkir di basemen perusahaan Gala Aghia.
"Jadi siapa yang dipilih Arsen?" tanya Yusril penasaran.
"Anaknya Gala dan Prameswari, Om."
Hening sesaat.
"Ooh, oke. Om akan datang."
Setelah menelpon Omnya, Latif juga menelpon Tantenya untuk memberi kabar yang sama. Tantenya Sekar juga memutuskan akan datang malam ini. Latif baru bisa menghembuskan nafas lega. Keinginan mamanya sudah dia sampaikan.
Sekarang dia menyandarkan punggungnya pada jok kursi mobilnya yang sudah dia turunkan sedikit. Dia merasa lelah.
Semoga acara malam ini lancar, harapnya dalam hati.
Latif kemudian memeriksa kembali pesan yang sudah dikirimkannya pada Danisa. Ternyata masih dalam kondisi belum terbaca. Dia menghembuskan nafas panjang dan lelah. Mungkin dia harus mendatangi kuburan putranya untuk menemukan istrinya.
*
*
*
Arsen sudah membaca dan membalas pesan papinya.
Malan ini, ya, batinnya. Dia kemudian menelpon sekretarisnya agar memasuki ruangannya.
"Batalkan semua pertemuan dengan klien malam ini," perintahnya tegas.
Sekretarisnya hanya bisa menuruti dan harus bersiap mendapat omelan dari klien yang sudah berharap bisa bertemu bos super sibuknya malam ini.
"Baik, pak."
"Katakan permintaan maaf dan lakukan reschedule kalo mereka masih ingin bertemu saya." Arsen ngga peduli dengan kemarahan mereka. Bukan dia yang sengaja membatalkan pertemuan mereka, tapi ini atas intervensi neneknya.
"Siap, pak."
Setelah sekretarisnya keluar dari ruangannya, Arsen memejamkan mata sejenak sambil mengistirahatkan punggungnya yang sedari tadi dalam posisi tegak.
Papinya ternyata bergerak sangat cepat. Belum nyampe tiga jam dia memberi keputusan tentang calon istri yang dia pilih, acara pertemuan kedua keluarga sudah diatur dengan cepat malam ini.
Sedarurat itukah pernikahan ini untuknya?
Arsen mengambil nafas lebih dalam dan melepasnya perlahan.
Dia mencoba mengingat wajah Ananta yang sudah mengabur karena wajah itu sempat kesalib dengan wajah wajah yang lain. Si-alnya masih tetap kabur.
Kembali Arsen menarik nafas lebih dalam lagi dan melepaskannya perlahan.
Getaran ponsel yang dia letakkan di atas mejanya membuat dia membuka matanya. Dia meraihnya dan reflek menegakkan lagi posisi duduknya begitu tau mamanya yang menelpon.
"Kamu sudah mendapat kabar dari papimu?" tanya mamanya langsung begitu sambungan telpon diterima putranya.
"Sudah, ma. Nanti malam akan ada acara di rumah nenek. Mama akan datang, kan?" Arsen menunggu jawaban mamanya dengan perasaan ngga tenang.
Kalo nenek tidak mengundang mamanya, dia tidak akan datang, tekatnya dalam hati.
Terdengar helaan nafas berat mamanya.
"Iya. Kata papimu, nenek juga meminta mama datang."
Syukurlah, batinnya lega.
"Kamu yakin dengan pilihanmu?" tanya mamanya pelan.
"Yakin ngga yakin," jawabnya ambigu.
"Arsen! Jangan main main dengan pilihan hidupmu," marah Annette.
Arsen tertawa pelan.
"Tenang, ma. Aku serius, kok. Lagi pula dia cantik dan kaya raya," jawab Arsen tambah ngawur. Hanya dengan mamanya dia bisa berterus terang dan bicara apa adanya.
"Hemm....," dengus mamanya.
"Gadis itu ngajar di kindergarten. Pasti dia seorang yang sabar," jelas Arsen.
"Loh, hanya guru TK? Kenapa kamu ngga milih yang lebih dari itu?" Suara Annette terdengar panik. Dia jadi takut Arsen sengaja melakukannya hanya karena tidak suka neneknya ikut campur dalam urusan pribadinya.
"Tenang, ma. Dia punya gelar master, kok. Sedangkan aku hanya bachelor." Arsen tertawa santai.
Terdengar lagi helaan nafas berat mamanya.
"Kamu masih punya cukup waktu untuk membatalkannya kalo ngga yakin." Annette masih mencoba mempengaruhi putranya. Walaupun dalam hatinya sudah diliputi sedikit perasaan lega karena jenjang pendidikan calon istri Arsen ternyata melebihi putranya. Dia hanya ingin putranya bahagia.
"Ngga, ma. Aku sudah yakin."
Arsen masih mendengar helaan nafas berat mamanya lagi.
"Ya, sudah. Terserah kamu saja."
*
*
*
Ananta menatap kagum pada lukisan dan hasil prakarya anak anak kindergarten yang dipamerkan di gedung serba guna, cukup mengundang banyak tamu, khususnya orang tua yang ingin melihat perkembangan anak anak mereka. Juga penyandang dana kindergarten ini.
Karena TK ini sering mencetak siswa yang berprestasi saat sudah berada di sekolah lanjutan. Minat dan bakat mereka sudah diarahkan hingga nantinya bisa berkembang.
Juga ada panggung tempat para siswa menari dan bernyanyi. Selain itu ada bazar yang memeriahkan acara ini.
Ananta juga cukup lelah karena terlibat di dalamnya. Tapi itu memang sangat berguna, Karena saat ada sesi tanya jawab, Ananta bisa melakukannya dengan sempurna. Apalagi kepentingan Ananta di sini untuk mendukung karir papanya di masa depan.
Tidak ada para guru yang menjulitinya, karena mereka melihat Ananta tidak hanya sekadar menumpang populer.
"Terimakasih, ya, atas kerja samanya," ucap Ananta setelah sesi wawancara selesai. Dia beruntung rekan rekannya tidak ada yang menjatuhkan keberadaan dirinya.
"Sama sama, Bu Ananta."
Mungkin karena sikap Annata yang rendah hati dan tidak sombong hingga menjadikannya idola mereka
Cantik, ramah, kaya raya dan berprestasi, membuat mereka bangga mengenal Ananta.
Tante Jesi sebagai kepala sekolah dna Tante Zahra sebagai ketua yayasan di kindergarten ini juga merasa senang dan lega karena acara tahunan ini sukses dan lebih rame pengunjungnya karena kehadiran Ananta yang diselipi isu sebagai anak anggota dewan, hingga mengundang rasa penasaran pengunjung dan para pencari berita untuk hadir di acara ini. Mereka seakan ingin membuktikan kapasitas Ananta apakah memang pantas untuk menjadi salah satu pendidik kindergarten ini.
Orang tua para siswa juga sepertinya tidak berkeberatan acara ini diexpose sebagai panjat sosial Ananta untuk menaikkan pamor papanya. Bagi mereka asal.Ananta kompeten, tidak masalah.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?