Cerita seorang anak yang membalas kematian ayahnya karna perebutan gelar terhebat dia bercita cita menjadi pendekar terkuat. Dan kisah romantis dengan rini teman masa kecilnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulton Mubarok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 melawan perintah
Rouf menghela nafas dengan pelan, seakan masalahnya awalnya sekarang sudah selesai. Dia melihat Ali yang masih membungkuk seperti dia sedang tertekan.
Tatapan matanya seakan kosong, dia hanya melihat kebawah sambil pikiranya entah hilang pergi ke mana.
" Apa aku mampu? Untuk mengalahkan orang yang menjadi suruhan ayah Agas."
Rouf yang melihat Ali dengan wajah begitu murung, lantas dia tiba-tiba mendekat dan menatap tajam ke arah pemuda tersebut.
" Ali kau tak perlu takut, aku percaya kepadamu. Kau itu sebenarnya sangat hebat dan berbakat seperti ayahmu!? Bahkan mungkin lebih."
Ali sebenarnya memang senang dengan ucapan yang terdengar dari ucapan mulut Rouf itu, tapi karena jawaban sesungguhnya bukan itu dia langsung kembali menatap wajah Rouf dengan penuh tanda tanya.
" Aku sendiri yang akan melatihmu!? Aku sudah membiarkanmu berlatih sendiri cukup lama m. Kuda-kuda dan kembang-kembang jurus milikmu menurutku sudah sangat bagus dan sempurna, sudah saatnya harimau muda harus di ajarkan untuk pergi kehutan sendiri dan segera berburu."
" Tapi guru.. Apa aku bisa berlatih dengan secepat itu? "
Ali sedikit ragu dengan ucapan gurunya tentang mudahnya menjadi seorang pendekar hebat hanya dengan beberapa waktu sangat tipis.
Ali tau, para murid di pedepokan tempatnya belajar banyak dari murid-murid Rouf dulu keluar menjadi seorang pendekar ternama dan hebat.
Bahkan ada sebuah sejarah dari para seniornya tentang kehebatan Rouf, dulu ada satu orang dari murid Rouf yang sangat tidak berbakat kemudian dia menghilang beberapa minggu.
Setelah menghilang untuk beberapa minggu, dia kemudian kembali lagi kepedepokan dengan berjalan berdampingan bersama Rouf anehnya setelah dia terlihat lagi di pedepokan waktu itu dia kemudian sudah sangat berbeda dia sekarang menjadi sorang pendekar yang tidak bisa di remehkan siapa pun.
Tapi meski dengan itu semua, Ali masih tetap merasakan ketakutan saat mengingat hari dimana dia akan bertarung nanti.
Rouf tidak semakin mengerasinya atau malah memarahinya, dia kemudian memeluk murid kecilnya tersebut.
Rouf pasti mengerti kenapa Ali bisa sampai seperti ini, tapi meskipun begitu ini adalah pilihannya yang terbaik yaitu untuk bisa mengalahkan centeng dari kepala desa Yaitu centeng-centengnya ayah Agas.
Ali langsung terharu dengan pengertian Rouf, dia memang sudah menganggap Rouf seperti ayah kandunya sendiri. Sehingga saat-saat romansa seperti ini ia sangat rindukan.
" Baik guru, muridmu ini tidak akan mengecewakanmu,. " Ali mengambil tangan Rouf dan langsung menciumin-nya.
Rouf kemudian mengelus kepala Ali, " Baik.. hari ini kamu cukup latihlah pernafasanmu!? tenangkan pikiranmu besok kita akan pergi."
Ali lantas segera pamit, saat setelah Rouf berkata demikian. Rouf pun mengiyakan dan kembali menyemangati Ali agar selalu tidak menyerah.
Rini yang sedari tadi menjadi seorang penonton juga larut dalam kekhawatiran-nya dia segera mengejar Ali setelah berpamitan dengan ayahnya.
" Li... Tunggu Li. Ali." kata rini sambil kemudian menarik kain tangan kanan milik Ali sedikit, Rini menundukkan pandanganya di hadapan Ali entah kenapa saat ini dia tidak bisa menatap sosok Ali saat ini.
Sambil kepalanya tertunduk dia terlihat sangat sedih mengingat kejadian yang menimpanya bersama Ali. Pengeluaran murid gara-gara melukai Agas juga Rini ketahui Rini menjadi sangat takut dengan ke adaan mental Ali saat ini.
Sifat Ali yang selalu peka terhadap perasaan seseorang, segera membuatnya langsung menepuk dan mengelus lembut kepala Rini.
" Makasih Rin.. Udah jangan terlalu mengkhawatirkan aku!? "
Sambil tersenyum dia memberi keyakinan kepada Rini, Rini hanya bisa menatapnya sambil tersenyum. Dia yakin sosok pria tampan di depannya itu pasti sedang berbohong kepadanya, tetapi demi untuk tidak membuatnya kembali tertekan Rini mengiyakan perkataanya tadi.
" Hemm..! "
Sambil membalas senyuman Ali, Rini tersenyum dengan secantik dan semanis mungkin untuk mengubah mood yang menyedihkan ini.
Secara tidak sengaja, senyuman Rini itu berhasil membuat Ali tersipu malu, sambil mengagaruk garuk pipinya dengan senyum malu-malunya dia mengiyakan maksud Rini,
" Ehh.. Pipi mu kok memerah!? kamu enggak papakan? " seru Rini.
" Hehe.. Iya enggak papa."
" Huuh dasar.. yaudah aku juga besok mau bersiap-siap nih.. aku mau bikinin kamu makanan yang enak buat latihan kamu besok enggak apa-apa kan!? "
Ali tertawa kecil sambil ngeledek " cieeee... Rin kamu kok perhatian banget ternyata.. !? "
Wajah Rini langsung berubah jadi merah merona mendengar ledekan Ali tadi.
" Ehh... Enak ajah, besok buat bapak Ding!? Kamu jangan ge-er yaah... " sambil cemberut dan ngegelembungin pipi manisnya.
" Iya Rin iyah.. " balas Ali sambil tertawa, melihat wajah Ali berubah karena tertawa, Rini pun ikut balik tertawa. tapi kebahagiaan mereka tidak akan bertahan lama karena besok adalah latihan berat yang di tunggu tunggu Ali sedari dulu untuk bisa menjadi pendekar Hebat...
tujuh belas tahun berlalu tapi masih jadi bocah kecil yg lincah?????