NovelToon NovelToon
Love'S Mr. Arrogant

Love'S Mr. Arrogant

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Balas Dendam / Badboy / Tamat
Popularitas:162.4k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Septiani

Kasus penculikan yang dialami keluarga Alantska, menyeret Gerald, si mantan ketua gengster beserta adiknya masuk ke dalam lubang penderitaan dari lelaki yang bernama Edzar.

Edzar Alantska, sang penguasa kejam, berdarah dingin. Ia bertekad, untuk menjadikan rumah tahanannya sebagai neraka bagi Gerald beserta adiknya Clara. Ia tidak akan mengampuni Gerlad, sebelum Gerald bertanggung jawab atas kasus penculikan adiknya yang bernama Raline.

"Hey Bung, adikmu boleh juga. Akan kunikahi dia besok ya," ucap Edzar, mengapit kedua pipi Clara, membuat Gerald begitu emosi, melihat adiknya disentuh seperti itu oleh Edzar, si Tuan kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suffering Begins

"Tuan Muda, mereka sudah datang Tuan," ucap seorang pengawal kepada Edzar.

Edzar mengangguk pelan, dengan wajah datarnya yang terlihat begitu arogan dan dingin. Perlahan kedua kaki panjangnya ia ayunkan, melangkah pergi menuju teras rumah. Bersiap untuk melihat bedebah gila yang sudah ia nantikan sejak malam.

"Lapor Tuan, penangkapan Gerald beserta adik perempuannya sudah selesai," ujar seorang pengawal yang baru turun dari mobil hitam, tepat di halaman rumah.

 

Edzar mengernyit heran, merasa ada yang aneh dengan apa yang di dengarnya barusan. "Apa? … Adiknya?"

"Iya Tuan, tadi tersangka Gerald hendak melarikan diri dari kota ini bersama adiknya, tetapi sudah kami tangkap keduanya Tuan."

Edzar semakin mengerutkan dahinya. "Di mana dia?"

 

Pengawal itu pun mengarahkan Edzar untuk ikut dengannya, lalu membukakan pintu mobil, dan memperlihatkan keberadaan Clara yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas kursi mobil.

 

Salah satu alis Edzar mengangkat ke atas, menatap heran. "Adiknya perempuan?" gumam Edzar dalam hati. Seulas senyuman sinis penuh maksud tergurat jelas di bibirnya. Entah apa yang pria ini pikirkan, akan tetapi tidak semena-mena, Edzar tersenyum, jika tidak ada maksud lain.

 

"Bagus!” ucapnya pelan. Lalu menengok ke salah satu pengawal yang berdiri di sampingnya. “Masukan dia ke penjara bawah tanah," perintah Edzar, sambil berbalik, pergi memasuki istana mewahnya itu. Para pengawal itu

bersigap, lalu segera membawa Gerald dan Clara ke ruang penjara bawah tanah. Sesuai dengan permintaan Tuannya.

***

Percikan air dari plafon atap, menetes membasahi wajah Clara. Tubuhnya terasa begitu sakit dan kaku. Perlahan Clara membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya masih terasa begitu pusing, seakan-akan ada bayangan hitam yang berputar di atas kepalanya. Sesekali ia membuka mata lalu memejamkannya kembali. Ia merintih, menahan sakit yang kian memusat di ujung kepalanya. Sampai akhirnya, ia baru teringat akan Gerald—kakaknya, dan ia pun langsung terperanjat membuka matanya lebar-lebar.

 

"Kak Gerald," ucapnya dengan suara yang terdengar begitu parau dan lemah.

 

Percikan air itu masih membasahi wajahnya. Sekarang, ia pun benar-benar sadar. Clara langsung bangun, sambil menyapukan matanya ke sekeliling ruangan.

 

Mengamati setiap sudut ruang, yang tak pernah ia lihat sebelumnya. "Di mana aku?" gumamnya sambil melihat ke sekliling ruangan, yang hanya ada tembok batako berwarna abu, serta jeruji besi yang berjajar rapi mengurung

dirinya.

“Jeruji besi?” batinnya. Ia semakin tersadar, bahwa dirinya kini sedang berada di dalam sebuah sel tahanan. Tapi suasana sel ini begitu hening dan sepi, seperti ... hanya ada dirinya seorang. Clara pun segera berdiri, dan ketika ia hendak mengayunkan kakinya, terasa ada suatu benda keras yang melingkar di pergelangan kaki kananya. Dan benar saja, ketika ia alihkan pandangannya ke bawah, sebuah borgol kaki dengan rantai panjang yang menyambung ke ruang WC, sudah mengunci sebelah kakinya.

 

"Apa ini, kenapa aku ada di sini? Kenapa kakiku diborgol seperti ini?" ucap Clara begitu panik.

Matanya kembali memandang ke depan sana, ternyata ada dua sel tahanan lain, yang sama ukurannya, yaitu berukuran 3x4 meter per sel-nya. Namun sel penjara itu kosong tak berpenghuni.

 

Karena merasa panik dan ketakutan, Clara pun berteriak sekencang mungkin meminta pertolongan, berharap akan ada orang lain di sel ini yang bisa membantunya.

"Tolong...." Teriak Clara, sekencang mungkin.

 

"Tolong, apakah ada orang di sini?" Lagi-lagi Clara berteriak meminta tolong. Namun, seolah tak mendapat respon apapun dari sekeliling, ia pun menghentikan teriakannya, karena tenggorokannya yang terasa kering dan sakit, membuat ia harus menelan salivanya berkali-kali, dengan begitu kuat.

 

Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. Begitu pelan, bahkan nyaris tak terdengar.

"Clara.” Suara seorang lelaki terdengar dari sisi selnya.

“Siapa itu?” tanya Clara, menepi ke sisi sel.

Kevin baru terbangun ketika mendengar teriakkan adiknya itu. “Clara, ini aku, Kakakmu,” jawab Gerald begitu lirih.

 

"Kak Gerald? Kak Gerald di mana?" panggilnya melihat ke sekitar.

 

"Clara, Kakak ada di sebelahmu, di sebelah selmu, kita terhalang tembok, Cla,” jawab Gerald pelan, sambil mengeluarkan tangannya dari balik jeruji besi itu. Dan melambai-lambaikannya.

 

Clara begitu terkejut, saat mendapati lambaian tangan dari kakaknya. Ia segera menggenggam erat tangan saudaranya itu.

 

"Kakak kau baik-baik saja kan Kak?" tanya Clara, dengan mata yang berkaca-kaca. Sambil menggenggam erat jari jemari tangan Gerald, yang terlihat kotor dan sedikit membiru akibat perkelahiannya waktu itu.

 

 

Gerald sejenak terbatuk, seraya menahan sakit di bagian perutnya. "Uhuk, uhuk, Kakak baik-baik saja, Cla," jawab Gerald dengan suaranya yang begitu parau dan lemah.

 

 

"Kakak, kita ada di mana Kak? Kenapa kita berada di dalam sel tahanan ini?" tanya Clara, sambil meneteskan air matanya yang tak bisa ia tahan. Namun, sebisa mungkin ia berbicara layaknya orang normal yang tidak menangis.

 

Gerald menyapukan kedua matanya ke sekitar, matanya yang sayu itu, benar-benar terlihat sangat lelah. "Aku juga tidak tahu kita di mana, Cla," jawab Gerald begitu berat. Hatinya terasa begitu pilu, pun rasa sesak yang menguar hebat di dadanya, membuatnya harus mengatur nafas sebaik mungkin.

Rasa pedih dan kecewa pada dirinya sendiri, semakin membuat ia menyesali semuanya, karena untuk ke sekian kalinya Clara harus ikut terlibat dalam penderitaan yang sama dengannya. Ia merasa bahwa dirinya bukanlah kakak yang baik untuk Clara.  Harusnya ia bisa memberikan kebahagiakan kepada sang adik bukan malah memeberikan penderitaan dan luka yang tiada habisnya.

Bersambung...

Jangan lupa kasih likenya ya.

1
Rustan Sarny Apul Sinaga
typo nama bikin pusing thor
Rustan Sarny Apul Sinaga
waduh... banyak typo thor...
Shafa Shafa
mana lanjutannya Thor.....
Anonim
lanjut thorrr
Moms Olive
hadeeeeee diapain y tuuuhhh Clara 😝😝😝
Moms Olive
keyeeeennn laaaa cerita y 🤩🤩🤩
momoy himayah
lanjutan nyh mana thor. aku menanti mu. kalo d gantung gini ga enakkk banget😭😭😭
Ida Lailamajenun
jgn" adik nya edzard kabur ma pacar nya lagi bukan diculik
Ida Lailamajenun
namanya typo Thor Kevin Moura 🤔
Ida Lailamajenun
baru mampir liat visual nya jadi ajib ajib😁😁
hua
lanjutt
Verry Aza
ceritamu bagus Thor kenapa dikit banget up nya 😥😥
Vizza Tatita
bab ini bikin baper melihat sang kakak begitu menyayangi adiknya 😭😭😭
Ummil 023
di gantung kayak jemuran 😭
Ummil 023
lnjt😭😭😭😭😭
Ummil 023
up
Susi Nugroho
Lanjut
Wine Widianti
up
Verry Aza
seneng rasanya up LG Thor☺️☺️☺️
Sibollo
kak othor ko terulang-uang?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!