Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sinar matahari pagi menyinari jalanan pualam putih Kota Awan Suci yang sudah dipenuhi oleh ribuan kultivator.
Lin Xiao berjalan memimpin kelompok kecilnya menembus keramaian pasar dengan tangan bersedekap santai.
Di tangannya, token emas murni pemberian Nona Yue diputar-putar dengan gerakan yang sangat lincah.
"Kita akan menghabiskan setiap keping nilai dari token ini sebelum matahari terbenam hari ini." ucap Lin Xiao tanpa menoleh ke belakang.
Xue Mingyue yang berjalan di sisinya mendengus pelan sambil merapatkan jubah penyamarannya.
"Kau benar-benar tidak memiliki urat malu sedikit pun untuk memeras harta seorang wanita." sindir gadis pewaris es utara tersebut.
"Ini tidak bisa disebut sebagai memeras, Xue'er, ini adalah biaya operasional di muka." bantah Lin Xiao dengan senyum mengejek.
"Jika kita mati tergencet gravitasi di dalam reruntuhan itu, setidaknya kita mati dengan memakai peralatan pelindung yang mahal."
Meng Shan tertawa keras mendengar perdebatan kedua tuannya yang sudah menjadi rutinitas harian tersebut.
"Saya setuju dengan Tuan Lin Xiao, Nona Xue'er!" seru raksasa itu dengan penuh semangat.
"Lagi pula, Nona Yue itu terlihat sangat kaya, dia tidak akan jatuh miskin hanya karena kita membeli beberapa potong baju zirah."
"Tutup mulutmu, raksasa bodoh, kau hanya selalu memihak pada iblis gila ini karena dia mengizinkanmu berbuat kasar." balas Xue Mingyue memutar bola matanya.
Langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah bangunan raksasa yang cerobong asapnya mengepulkan uap panas ke udara.
Bangunan itu berbentuk seperti tungku perapian raksasa yang terbuat dari batu obsidian hitam legam.
Sebuah papan nama dari besi merah menyala menggantung di atas pintu masuknya.
"Rumah Tempa Surgawi, ini adalah tempat pandai besi terbaik di seluruh distrik luar kota ini." Ucap Lin Xiao menatap papan nama tersebut.
Kriet.
Lin Xiao mendorong pintu besi yang tebal itu dan hawa panas yang luar biasa langsung menerpa wajah mereka.
Di dalam bangunan itu, puluhan pandai besi berbadan kekar sedang memukul logam di atas landasan tempa masing-masing.
Tring. Tring. Trang.
Suara palu yang berbenturan dengan besi spiritual menggema memekakkan telinga di seluruh ruangan besar tersebut.
Seorang pria tua bertubuh pendek namun memiliki otot lengan yang sangat besar berjalan mendekati mereka sambil mengelap keringat.
"Selamat datang di Rumah Tempa Surgawi." sapa pria tua itu dengan suara serak dan kasar.
"Aku adalah Tuan Chen, pemilik tempat ini. Apa yang dicari oleh tiga pengelana di toko senjataku pagi ini?"
Lin Xiao tidak membuang waktu untuk berbasa-basi dan langsung melemparkan token emas Nona Yue ke atas meja landasan tempa.
Tuan Chen menangkap token itu dengan sebelah tangan, dan matanya langsung membelalak lebar melihat lambang yang terukir di sana.
"I-ini adalah token VIP tingkat tertinggi dari Paviliun Bulan!" seru Tuan Chen dengan nada suaranya yang mendadak berubah sangat hormat.
"Tuan-tuan yang terhormat, maafkan kelancangan mataku yang buta ini, silakan ikuti aku ke ruangan khusus di belakang."
Tuan Chen segera membawa mereka bertiga masuk ke sebuah ruangan kedap suara yang jauh lebih sejuk dan mewah.
Puluhan rak kaca memajang senjata-senjata pusaka tingkat menengah yang memancarkan energi spiritual sangat padat.
"Kami akan melakukan ekspedisi ke sebuah tempat yang memiliki medan gravitasi ekstrem." jelas Lin Xiao langsung pada intinya.
"Aku butuh perlengkapan pelindung yang bisa menahan tekanan fisik hingga ratusan kali lipat untuk kami bertiga."
Tuan Chen mengangguk mengerti dan langsung membuka salah satu lemari penyimpanannya.
"Jika kalian menghadapi tekanan gravitasi, kalian tidak membutuhkan zirah baja yang kaku karena itu justru akan menghancurkan tulang kalian sendiri." jelas Tuan Chen.
Srak.
Pria tua itu mengeluarkan tiga gulungan kain yang terlihat seperti sutra namun memancarkan kilauan logam.
"Ini adalah Jubah Sutra Gravitasi yang ditenun dari sutra laba-laba batu dan serbuk besi meteorit." promosi sang pandai besi.
"Jubah ini sangat ringan, namun bisa menyebarkan tekanan gravitasi secara merata ke seluruh permukaan kulit sehingga organ dalam kalian tetap aman."
Meng Shan mengambil jubah yang ukurannya paling besar dan mencoba menariknya dengan kekuatan Inti Emas miliknya.
Jubah itu sama sekali tidak robek, melainkan melar dan kembali ke bentuk semula dengan sangat lentur.
"Luar biasa! Ini jauh lebih nyaman daripada jubah kusam yang gatal ini." puji Meng Shan dengan wajah berseri-seri.
"Ambil ketiga jubah itu, kami akan langsung memakainya sekarang juga." putus Lin Xiao menyetujui barang tersebut.
Xue Mingyue mengambil jubah miliknya dan merasa cukup puas karena desainnya tetap terlihat elegan meskipun fungsinya untuk bertahan hidup.
"Selanjutnya, apakah Tuan memiliki bahan logam kuno yang sangat langka?" tanya Lin Xiao menyandarkan tubuhnya ke meja.
"Aku ingin mencari logam yang memiliki kepadatan energi paling tinggi di tokomu ini."
Tuan Chen mengerutkan keningnya, merasa sedikit ragu untuk mengeluarkan barang simpanannya.
"Aku memiliki sebongkah Besi Bintang Jatuh yang kudapatkan dari seorang penjarah makam sepuluh tahun lalu." jawab Tuan Chen perlahan.
"Tapi bongkahan logam itu sangat keras dan tidak bisa dilebur dengan api spiritual biasa, jadi benda itu tidak bisa dijadikan senjata."
"Keluarkan saja, aku hanya ingin melihatnya." desak Lin Xiao dengan nada absolut.
Tuan Chen berjalan ke brankas rahasia di sudut ruangan dan membawa sebuah kotak timah berukuran sedang.
Saat kotak itu dibuka, sebuah bongkahan logam seukuran kepalan tangan yang berwarna hitam kebiruan tergeletak di dalamnya.
Logam itu memancarkan aura kuno yang sangat misterius, seolah-olah benda itu bukan berasal dari dunia ini.
Di dalam Dantian Lin Xiao, roh Kaisar Pedang Haus Darah tiba-tiba mendengus dengan nada penuh ketertarikan.
'Itu adalah sisa material dari era pembangunan Makam Para Raja, Lin Xiao.' gema suara kaisar pedang di dalam pikiran pemuda itu.
'Dekatkan pedang karatanmu ke logam itu, biarkan dia memakan makanannya yang sudah lama tertunda.'
Lin Xiao mempertahankan wajah datarnya dan perlahan mencabut pedang besi berkarat dari pinggangnya.
Tuan Chen menatap pedang kusam milik Lin Xiao dengan pandangan yang sangat meremehkan.
"Tuan muda, jangan bilang kau ingin menggunakan pedang rongsokan itu untuk memotong Besi Bintang Jatuh ini?" ejek Tuan Chen dengan tawa tertahan.
"Bahkan pusaka tingkat tinggi milik ahli Jiwa Murni akan patah jika dipukulkan ke logam aneh ini."
Lin Xiao tidak menjawab ejekan itu, dia hanya mendekatkan ujung pedang berkaratnya ke permukaan Besi Bintang Jatuh tersebut.
Sring.
Suara dengungan yang sangat nyaring dan tajam mendadak meledak di dalam ruangan kedap suara itu.
Pedang berkarat di tangan Lin Xiao bergetar hebat, memancarkan cahaya merah darah yang menembus lapisan karat kotor di permukaannya.
Krak. Krak.
Mata Tuan Chen nyaris keluar dari rongganya saat melihat bongkahan Besi Bintang Jatuh itu mulai retak.
Logam kuno yang diklaim tidak bisa dilebur itu perlahan mencair menjadi cairan hitam kebiruan dan merayap naik ke bilah pedang Lin Xiao.