Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Perlahan, kelopak mata Mili bergerak. Pandangannya yang kabur perlahan mulai memperjelas langit-langit ruangan yang putih bersih, berpadu dengan aroma antiseptik yang menyengat dan suara teratur dari monitor detak jantung.
Sensasi dingin dan lemas masih menjalar di seluruh tubuhnya saat kesadarannya berangsur pulih. Ingatan terakhirnya mendadak berputar cepat di kepala: gaunnya yang terkena tumpahan minuman, kamar mandi yang sepi, lalu sebuah tangan misterius yang membius mulutnya dari belakang.
"David!" panggil Mili panik. Suaranya terdengar parau dan bergetar saat ia mencoba mendudukkan tubuhnya yang terasa berat.
Pintu kamar perawatan VIP itu segera terbuka. Jonas melangkah masuk dengan terburu-buru, wajahnya memancarkan lega saat melihat Mili sudah siuman.
"Nyonya, tolong tenang dulu. Jangan memaksakan diri untuk bergerak," ucap Jonas lembut namun sigap mendekati tepi ranjang.
Mili memegang lengan baju Jonas dengan erat, matanya menyalang penuh kecemasan.
"Di mana suamiku, Jonas?! Dan kenapa aku ada di sini?"
"Nyonya dibius di kamar mandi pesta resepsi dan hampir dibawa kabur menggunakan jet pribadi," terang Jonas dengan nada sehati-hati mungkin.
"Tuan David melakukan tindakan nekat untuk menghentikan pesawat itu sebelum lepas landas. Saat ini... Tuan David sedang menjalani perawatan intensif di kamar sebelah karena luka parah di kepalanya."
Dada Mili serasa dihantam beban berat. Air mata seketika menetes membasahi pipinya saat membayangkan keberanian luar biasa sekaligus bahaya maut yang baru saja diterjang David demi menyelamatkannya.
Air mata Mili mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang masih pucat.
Ia memegang erat pergelangan tangan Jonas, memohon dengan suara yang bergetar hebat.
"Antarkan aku untuk melihat suamiku," ucap Mili sambil menangis terisak.
"Tolong, Jonas... aku harus melihatnya."
Melihat kesedihan Nyonya tuanya yang begitu mendalam, Jonas mengangguk pelan.
Ia segera memanggil perawat yang berjaga di luar ruangan.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang membawa kursi roda.
Dengan lembut, Jonas dan perawat membantu Mili berpindah dari ranjang ke kursi roda, lalu mendorongnya perlahan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan intensif di sebelah.
Pintu ruangan berdecit pelan saat dibuka. Di sana, di atas ranjang medis yang dikelilingi berbagai alat pemantau detak jantung, David terbaring lemah.
Kepala pria itu terbebat perban putih bertotolkan sisa noda darah, wajahnya yang biasa memancarkan aura dominan kini tampak pasrah dan dingin.
"David..." bisik Mili penuh penyesalan dan kepedihan.
Mili menggeser kursi rodanya mendekati sisi ranjang.
Dengan jemarinya yang bergetar, ia meraih tangan kanan David yang terbebas dari infus, lalu membawa jemari suaminya ke bibirnya.
Mili mencium punggung tangan suaminya yang masih memejamkan mata erat-erat.
"Bangun, David... jangan tinggalkan aku," tangis Mili pecah, menyandarkan keningnya di atas genggaman tangan pria yang telah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.
Jemari tangan David yang berada dalam genggaman Mili mendadak memberikan respons.
Sebuah gerakan kecil, halus namun sangat terasa, membuat tangis Mili seketika terhenti.
Perlahan, kelopak mata David yang terasa berat mulai terbuka.
Pandangannya yang samar dan buram berangsur-angsur fokus, mengunci sosok Mili yang sedang menunduk di samping ranjangnya dengan pipi yang basah oleh air mata.
"S-sayang... kamu... kamu sudah sadar?" ucap David dengan suara yang sangat parau dan terbata-bata.
Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis, meski rasa sakit di kepalanya masih menembus kesadaran.
"David...!" jerit Mili antara kaget dan lega luar biasa. Air matanya makin deras mengalir, tapi kali ini karena rasa syukur yang membuncah.
Mili langsung berbalik ke arah pintu dengan panik dan berteriak sekuat tenaganya, "Dokter!! Perawat!! Suamiku sudah sadar!"
Jonas yang berada di luar ruangan langsung mendobrak masuk bersama tim medis.
Dokter utama dengan sigap mendekati ranjang David, memeriksa refleks pupil mata dan indikator vital pada monitor yang mulai menunjukkan detak jantung David yang kian stabil.
Sementara itu, Mili terus menggenggam erat jemari suaminya, tidak ingin melepasnya sedikit pun.
Dokter segera memeriksa keadaan David yang baru saja siuman dari koma singkatnya.
Dengan senter kecil di tangan, sang dokter memeriksa refleks pupil mata David, lalu mencatat angka-angka yang tertera pada monitor tanda vital di samping ranjang.
"Tuan David, bisakah Anda mendengar suara saya?" tanya dokter dengan nada tenang dan profesional.
"Untuk memastikan kesadaran Anda sudah pulih sepenuhnya, tolong sebutkan nama lengkap Anda, nama istri Anda, dan alamat rumah Anda saat ini."
David memejamkan matanya sejenak, menahan nyeri yang berdenyut di balik perban di kepalanya.
Perlahan, ia kembali membuka mata dan menatap wajah dokter, lalu beralih menatap Mili yang berdiri menggenggam jemarinya dengan napas tertahan.
"Nama saya David Kartajaya..." jawab David dengan suara parau namun mantap. "Istri saya Mili... dan kami tinggal di kediaman utama kawasan elit Jalan Wijaya Nomor 12."
Mili menahan napasnya, menantikan respons dari tim medis dengan dada yang berdebar kencang.
Dokter menghela napas panjang, lalu menyunggingkan senyum lega yang seketika meruntuhkan ketegangan di dalam ruangan VIP tersebut.
"Luar biasa," ucap dokter sambil mematikan alat pemeriksanya.
"Ingatan Tuan David sempurna dan tidak ada tanda-tanda amnesia traumatik pasca benturan keras. Keajaiban kecil, mengingat benturan di kepalanya sangat hebat."
Mili langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menangis lega menahan haru.
Ia meremas jemari suaminya lebih erat.
David menyunggingkan senyum tipis, menatap Mili dengan pandangan teduh yang penuh kepemilikan.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, Sayang... bahkan jika kepalaku dihantam lebih keras dari itu."
Dokter mengangguk pelan, menyusun berkas medis David sebelum menatap pasangan suami istri itu dengan raut wajah yang kembali serius.
"Meskipun respons otak Tuan David sangat baik, benturan keras saat kecelakaan itu tetap berisiko menimbulkan komplikasi jika tidak dipantau secara ketat," tegas dokter memberi nasihat.
"Selain itu, Nyonya Mili juga masih berada dalam masa pemulihan akibat efek zat bius dosis tinggi yang sempat mengendap di tubuhnya."
Dokter mengalihkan pandangannya pada Jonas yang berdiri siap di dekat pintu.
"Kalian berdua wajib menjalani rawat inap di rumah sakit ini selama minimal lima hari ke depan. Tidak ada aktivitas berat, tidak ada pekerjaan kantor, dan yang paling penting, tidak boleh ada stres," lanjut dokter memberi instruksi mutlak.
"Kami perlu melakukan obervasi berkala untuk memastikan tidak ada pendarahan dalam susulan pada Tuan David."
Mili mengangguk cepat, menyetujui seluruh perkataan dokter tanpa keraguan sedikit pun.
"Baik, Dok. Kami akan ikuti semua petunjuk Dokter."
"Bagus. Istirahatlah yang cukup," pamit dokter seraya melangkah keluar ruangan bersama para perawat.
Setelah pintu tertutup rapat, David menoleh ke arah istrinya.
Senyum tipis mengembang di bibirnya yang pucat, walau raut wajahnya menyiratkan sedikit keberatan akan aturan ketat tersebut.
"Lima hari di sini? Itu terlalu lama, Sayang," keluh David dengan suara parau, mencoba merajuk.
Mili menepuk pelan tangan David yang menggenggamnya, menatap suaminya dengan sorot mata tegas yang tak bisa dibantah.
"Tidak ada protes, David. Kali ini kamu harus penurut, atau aku yang akan marah padamu."
"Iya, iya, Sayang... Aku menurut. Daripada nanti kamu melarangku ke ruang rahasia lagi," goda David dengan tatapan mata yang penuh kilat kejahilan, meski wajahnya masih tampak pucat.
"David!" seru Mili melotot, pipinya seketika memerah padam menahan malu sekaligus gemas.
David pun tertawa terbahak-bahak, suara tawa khasnya yang tajam namun hangat memecah keheningan kamar RS VIP tersebut.
Tawa yang mengabaikan rasa nyeri berdenyut di perban kepalanya—menegaskan bahwa di balik bahaya maut yang baru saja mereka lalui, kepemilikan dan gairah di antara mereka berdua sama sekali tak berkurang sedikit pun.