Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Hari yang Melelahkan... Malah Dibikin Tambah Capek!
Hari yang cukup melelahkan. Mika dan Ryuji bertengkar sampai guru datang. Lalu saat istirahat makan siang, mereka malah mengikuti Moiro secara diam-diam—meski ujung-ujungnya ketahuan olehnya.
Seharian ini Moiro tidak tenang, selalu diikuti mereka berdua. Untung saja sekarang sudah waktu pulang sekolah, tanda berakhirnya kehidupannya di sekolah, dan tanda awal kehidupan di tempat kerjanya. Sungguh amat merepotkan.
Moiro kembali membayangkan malaikat pencabut jati diri dan membuat dirinya sendiri bergidik. Ia tidak sanggup membayangkan hari ini akan jadi seperti apa.
Dan ia juga tak pernah membayangkan kalau suaranya akan dibuat-buat menjadi lebih feminin—ia tak pernah melatihnya pula.
Seharian ini ia sangat sibuk—Gak sih, cuma gak inget aja.
Bloon.
Moiro berjalan pulang, melewati koridor, menuju pintu keluar sekolah.
Moiro berhenti sejenak di dekat pintu sekolah, menghela napas pendek lalu bertanya pelan, "Kalian mau sampe kapan ngikutin aku?"
Di belakangnya, dari samping lemari tempat menyimpan sepatu, keluar dua orang.
Ya, mereka adalah Mika Sano dan Ryuji Yamaguchi—duo stalker yang malah kompak soal beginian.
Alamak. Jangan jadi penguntit ya teman-teman!
Mika keluar lebih dulu, menggaruk kepalanya yang tidaklah gatal sambil tersenyum kaku, "Ternyata ketahuan ya? Kupikir kamu gak tau."
Ryuji keluar sambil melipat tangan, berdiri di belakang Mika, "Pasti ketahuan lah. Kau aja grasak-grusuk pas ngikutinnya."
"Aku grasak-grusuk? Gak salah denger, nih? Bukannya kamu yang begitu? Langkah sama mulutmu selalu bunyi. Berbisik aja terdengar nyaring."
Keduanya kembali bertengkar. Saling menatap tajam satu sama lain, seolah ada gelombang petir menyambar di antara tatapan mata mereka.
Moiro menatap datar, sudah capek dengan kelakuan mereka yang aneh—padahal kelakuannya saat sendirian lebih aneh.
Moiro mengeluarkan sapu tangan—yang terlipat—yang sebelumnya diberikan Mika padanya, mengangkatnya ke arah keduanya.
Keduanya menoleh, hampir bersamaan.
Moiro akhirnya berkata, "Sapu tangan ini bakal kubersihin dulu, jadi kubawa pulang. Besok kukembalikan."
Mika membalas, kedua tangannya terangkat rendah di depan tubuhnya, telapaknya menghadap ke depan, "Tidak masalah kok kalau aku yang membersihkannya sendiri."
Moiro kembali memasukkannya kembali ke dalam saku, "Aku memaksa."
Mika menjadi diam. Dua tangannya turun perlahan.
"B-baiklah kalo begitu..." balas Mika pelan. Dia tak bisa menolaknya jika Moiro sudah bersikeras.
Moiro berpaling—merasa masalahnya di sana sudah selesai—lalu berjalan ke luar bangunan sekolah.
"Kalo gitu," ia mengangkat satu tangannya, melambai sok keren tanpa menoleh, "Sampai jumpa."
Kemarin juga kayak gitu. Koit aja sana!
Tangannya kembali diturunkan, dimasukkan ke kantong celana, dan terus berjalan menuju luar gerbang sekolah dan pulang ke rumah.
Di pintu sekolah, Mika menatapnya sambil tersenyum. Matanya sedikit berbinar dengan pipi yang sedikit memerah. Saat itu, hatinya terasa hangat dan nyaman.
Ryuji menoleh, sadar hal itu. Dia langsung nyeletuk, "Kau suka sama dia?"
"EH?!" Mika menoleh cepat. Wajahnya memerah dengan cepat, "E-enggak... Anu..."
Ryuji langsung nyengir lebar, melihat kesempatan untuk mengganggunya.
Dia mendekat, sikunya menyenggol ringan lengan Mika sambil menyeringai, "Heee...? Yakin nih gak suka?"
Mika membuang pandangannya, menatap ke bawah. Matanya bersinar, mulutnya rapat—sedikit mengerucut—bersamaan dengan wajahnya yang merah bagai buah stroberi.
Melihat hal itu membuat Ryuji semakin yakin kalau dia memang menyukai Moiro dan semakin ingin mengganggunya.
Dia sedikit membungkuk, lalu berpose sok imut—kedua tangannya mengepal halus dan diletakkan di bawah dagu, bola matanya terlihat membulat penuh dengan binar-binar cwintah.
Dia mencoba berperan, seolah menjadi Mika.
"Mo-Moiro. Aku... suka!" ucapnya dengan nada sok imut, penuh ejekan.
BANGG!
"DIAAAMM...!" seru Mika.
Pipi Ryuji dipukul kuat oleh Mika dan membuat kepalanya terdorong miring.
Dahi Mika mengerut. Wajahnya merah, campuran emosi antara malu dan marah.
...***...
Di rumah, Moiro bersiap dan menyiapkan barang-barang yang akan membantunya di kafe nanti.
Setelah selesai, ia sempat menatap barang-barang tak terpakai yang akan dijual besok, lalu kemudian berangkat.
...***...
Setibanya di depan kafe, ia mengernyit, membayangkan bayangan hitam yang dilihatnya di kaca sebagai malaikat pencabut jati diri. Tubuhnya seketika bergetar ngeri.
Padahal itu cuma pantulan gorila.
Bentar, KOK ADA GORILA?!
Lebih tepatnya papan iklan kecil dengan gambar gorila yang sedang dibawa oleh beberapa orang.
AUTHOR GAK JELAS!
Moiro mengingat kedua orang tuanya sekilas, dan itu membuatnya kembali bertekad. Ia masuk, lalu pergi menuju ruangan bos.
Sesampainya di sana, ia disambut oleh bos dengan senyuman.
Moiro berkata beberapa hal yang diperlukan, melakukan sedikit basa-basi, lalu pergi berganti pakaian setelah dipersilakan oleh bosnya.
Moiro berjalan menuju ruang ganti.
Di perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa pelayan laki-laki yang menggunakan pakaian pelayan normal.
Kafe tempatnya bekerja bisa dibilang cukup unik, sebab ada dua lantai dengan tema yang berbeda—satu dengan gaya normal tapi mewah, dan satunya ala-ala maid. Itulah yang membuat Moiro terjebak saat ingin bekerja paruh waktu.
Ia tak tau kalau kafenya memuat dua tema sekaligus, dan dirinya malah berakhir di tema yang salah, ditambah lagi malah menjadi pelayan.
Moiro masuk ke ruang ganti khusus untuknya—ruangan bekas gudang yang sudah dirapikan—sebab dia satu-satunya yang dipekerjakan crossdress.
Selesai berganti pakaian, akhirnya... Moiro benar-benar kembali terlihat seperti prempuan. Sangat imut, sangat manis, dan sangat indah.
Wajahnya kembali memerah samar saat menatap dirinya sendiri di pantulan cermin, merasa malu karena laki-laki sepertinya harus memakai pakaian maid dan akan dilihat oleh orang-orang.
Masih di dalam ruangan, ia mencoba melatih suaranya.
Ditinggikan—kedengeran kayak teriak. Direndahkan—terlalu berat, kayak lagi ngancem. Dilengkingkan—kayak bwotie menjerit.
...---...
Di luar gudang itu, ada dua orang waiter yang kebetulan lewat dan mendengar suara aneh di dalam sana.
"Kau denger itu?" bisik salah satunya, mulai ngeri.
Yang satunya sudah bergidik, "Kayaknya gudang ini mulai berhantu...!"
"Cabut yuk! Nanti kita kasih tau bos!"
Mereka pun kabur dari sana.
Bakal jadi rumor ini mah.
...---...
Kembali ke Moiro.
Semua suara sudah ia coba sampai dirinya... tak menemukan yang cocok baginya.
"Duh... gimana ini...?" gerutunya dalam hati, tubuhnya sampai jatuh berlutut sambil bertopang dengan dua tangan.
Ia menunduk. Satu tangannya memegangi kepalanya, lalu berbisik nyaring, "Ya, lagian ngapain kupikirin, sih?!"
Kemudian duduk dan mendongak, "Nada seadanya kan bisa? Diubah dikit gak masalah juga, kan? Lagipula, suaraku gak seberat itu!"
Moiro bangkit, menghela napas pendek lalu menatap tajam ke pintu keluar. Ia mencoba melatih suaranya lagi, yang mana tak banyak diberi perubahan—hanya dibuat sedikit lebih halus.
Moiro masih merasa kurang feminin, tapi setidaknya itu lebih baik dari yang lain—apalagi dari versi bwotie tadi.
Ia kembali menatap serius pintu keluar, lalu berjalan dengan mantap dengan tekad penuh semangat—lebih ke arah terpaksa daripada semangat.
Ia keluar ruangan, berjalan cepat menuju lantai ia bekerja.
Beruntung, Moiro tak bertemu siapapun di perjalanan.
Ya iya lah. Udah pada kabur.
Moiro akhirnya sampai di pintu karyawan—khusus para maid—beristirahat, sekaligus tempat awal dirinya mengenakan seragam maid saat diterima kerja.
Di dalam sana ada satu ruangan lagi, yang mana digunakan untuk berganti pakaian atau seragam kerja.
Moiro menghela napasnya singkat, lalu masuk dan menyapa senior-seniornya di sana.
Ia membungkuk kecil, mengucap salam dengan perasaan sedikit malu, lalu kembali tegak.
Tatapannya jadi datar saat tebakannya benar, para seniornya pingsan—lagi.
Masih sama, hidung mereka mimisan, senyuman kebahagiaan, dan terbaring di lantai.
Moiro menatap datar, "Moga gak ada masalah..."
"SOALNYA INI HARI PERTAMAKU KERJAA!"