NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketidakpastian

Setelah melakukan beberapa pertemuan dengan rekan bisnis, Aurelia baru bisa bernapas lega pukul delapan malam. Otaknya berpikir, tangannya bergerak mendatangi beberapa kontrak, matanya sibuk membaca beberapa proposal yang terdiri dari ribuan huruf dan angka.

Wanita itu akan mendinginkan pikiran terlebih dahulu. Kakinya melangkah melewati pintu utama mansion. Ia berjalan diikuti Tyana seperti biasa. Tangannya menteng tas berwarna coklat. Ketukan heelsnya menimbulkan bunyi irama yang sering sekali terdengar indah.

Kantung matanya tidak bisa disembunyikan. Wajahnya terlihat guratan kelelahan.

Kakinya berhenti setelah memasuki kamarnya. Tyana tidak ikut masuk, Aurelia menyuruh wanita itu agar istirahat.

Tangannya menaruh tas di rak yang sudah tersedia. Ia mendudukkan dirinya di kasur. Dengan perlahan, tangannya melepaskan heelsnya dengan tinggi tujuh centimeter. Matanya menangkap mata kaki yang memerah. Ia menghembuskan napas panjang.

Jari-jari itu bergerak mengusapnya perlahan. Lalu tangannya yang bergerak melucuti kancing kemejanya terhenti oleh suara ketukan pintu.

"Masuk."

Aurelia melihat Tyana berdiri di ambang pintu. Ia mendengus dan menurunkan bahunya.

"Ada apa Tyana? Apa kamu tidak bosan melihat wajah saya?" Aurelia mengangkat dagu, ia kembali mengancingkan kancing kemeja atas yang sudah terlepas.

"Tuan Giovani menyuruh anda menemuinya di ruang kerja." Tyana menatap lurus tanpa berniat menatap mata Aurelia secara langsung.

Aurelia memutar bola matanya, "kamu saja yang pergi gantikan aku." Tubuhnya ia rebahkan keatas kasur dengan kaki yang masih menjuntai di bawah, ia menggesekkan tangannya ke kasur. Matanya terpejam karena dapat merasakan kelembutan dan kenyamanan itu.

"Tapi sepertinya, ini bukan waktu untuk bercanda, nona." Tyana melangkah dan menutup pintu perlahan.

Tangan Aurelia berhenti bergerak. Gadis itu membuka kembali matanya. Ia menahan napas sebentar dan menghembuskannya kasar. Tubuhnya ia paksaan duduk.

"Katakan padanya. Aku baru sampai, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu." Aurelia beranjak tanpa mendengar kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Tyana. Wanita itu mencopot aksesoris di depan cermin. Kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.

Tyana hanya melihat tanpa berkata apapun lagi. Ia melangkah mundur dan keluar dari kamar Aurelia. Kakinya melangkah menuju ruangan Giovani, ia akan menyampaikannya pesan dari atasannya.

Setelah kurang dari dua puluh menit membersihkan diri. Aurelia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Ia tidak mengenakkan piyama karena akan menemui Giovani terlebih dulu.

Langkahnya berhenti diambang pintu. Pupil Aurelia terlihat membesar, tangan wanita itu masih memegang knop pintu. Tubuhnya yang terdiam beberapa detik akhirnya bergerak. Kakinya melangkah perlahan, menghampiri Giovani yang sudah berdiri menunggunya.

Jika Giovani menemuinya di kamar, maka ia akan membahas hal yang tidak bisa ditunda. Aurelia menyadari aura kemarahan dalam diri Giovani.

"Aku habis mandi dulu, dan berniat menemui Papa setelah ini." Nada suaranya terdengar kaku. Ia melepas jedai yang membungkus rambutnya.

Giovani menatap Aurelia dengan membawa amplop coklat ditangan.

"Saya tidak suka menunggu. Kamu juga tahu itu."

Aurelia hanya bisa menghembuskan napas. Ia menelan salivanya susah payah. Kakinya melangkah semakin mendekat ke arah Giovani.

"Maaf." Ia menundukkan kepala. Tidak berani menatap raut Giovani yang siap mengeluarkannya isi hatinya yang selalu kacau.

"Seandainya setiap kata maaf bisa menghasilkan sesuatu, mungkin perusahaan ini sudah menjadi yang terbesar di negeri ini."

Aurelia masih menunduk, tangannya bergerak menyelipkan rambutnya kebelakang telinga. Sekeras apapun ia berusaha, yang Giovani lihat hanyalah satu kesalahan. Dari ribuan pencapaian yang berhasil Aurelia kejar, Giovani hanya melihat ke atas. Pada mereka, yang sudah berhasil melangkah jauh.

"Dia orang yang akan menjadi calon suami kamu."

Aurelia menatap amplop coklat yang dilempar Giovani. Amplop itu tergeletak dilantai dan sedikit terbuka, sehingga memperlihatkan beberapa lembar foto seorang pria.

"Aku cuma mau nikah sama Andriant." Ia bersuara dengan sisa-sisa keberanian. Detik itu juga, Aurelia memberanikan diri menatap wajah Giovani. Tangannya mencengkram celana dengan erat.

Giovani maju satu langkah. Rahangnya terlihat mengeras.

Plak!

Tamparan itu kembali hadir. Aurelia hanya bisa nenutup matanya sesaat. Ia tidak merasakan bekas tamparan itu. Yang ia rasakan adalah kesedihan, menjadi seorang anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ayah. Matanya kembali terbuka, ia melihat Giovani yang tertawa pelan. Pria itu manggut-manggut dengan senyuman smirk.

"Saya tidak butuh pria bodoh itu."

Aurelia melebarkan matanya. Ia menatap Giovani berani. "Bukannya Papa, mau aku menikah dengan orang yang berkuasa?" Ia menahan sesak di dadanya.

"Dia berkuasa, Pa. Dia anak dari seorang pejabat negara yang memiliki wewenang tinggi." Aurelia mundur satu langkah.

"Kalau aku nikah sama dia. Papa bisa ambil kesempatan itu buat memperkuat bisnis Papa." Aurelia berbicaralah dengan susah payah. Ia menatap Giovani penuh ketakutan.

"Tapi dia memiliki scandal." Giovani menyeringai. Pria itu mengingatkan bahwa Adriant adalah pria yang selalu memiliki masalah. Dan itu, sudah menjadi konsumsi publik.

Aurelia hanya diam. Dengan dada yang naik turun menahan sesak. Ia menggigit bibir bawahnya sedikit. Matanya masih menatap pada Giovani.

"Putuskan hubungan kamu dengan Adriant."

"Kamu akan bertemu pria itu sebentar lagi. Saya sudah tidak punya banyak waktu dan tenaga." Giovani membalikkan badannya, ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Aurelia. Pintu ia tutup dengan suara yang cukup keras.

Aurelia memejamkan matanya sejenak. Ia kemudian melihat amplop coklat itu. Tubuhnya lemas seketika, ia lunglai dilantai. Wajahnya merah padam. Ia membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara teriakan.

Tangannya bergerak perlahan mengambil amplop itu. Ia membuka beberapa foto didalamnya. Matanya mengamati foto-foto itu dengan teliti.

Seorang pria mengenakan jas terlihat. Ia tidak mengenalnya, bahkan tidak mau mengenalnya. Aurelia menggeram, ia meremas lembaran foto itu sekuat tenaga, dan melemparkannya ke sembarang arah.

Aurelia meraup wajahnya kasar. Ia berusaha menetralkan deru napasnya yang berpacu cepat. Lalu beranjak berdiri, tangannya bergerak mengambil tas. Ia menyambar ponsel di atas kasur dan memasukkannya.

Sebelum pergi, Aurelia menghadap cermin lebih dulu. Wanita itu mendudukkan dirinya dan mulai memakai lipstik. Ia merapihkan rambutnya.

Setelah selesai. Aurelia berjalan meninggalkan kamarnya. Ia akan pergi keluar rumah, seperti tidak sedang menghadapi masalah. Senyum itu tercipta kembali. Ia berjalan dengan santai dan menyapa asisten rumah.

"Anda akan pergi sendiri, nona?" Supir pribadi bertanya pada Aurelia yang meminta kunci mobil padanya.

Aurelia tersebut tipis. "Iya. Jangan beritahu Tyana, biarkan wanita malang itu beristirahat."

Supir itu mengangguk cepat.

"Baik, nona. Hati-hati."

Tidak ada supir. Tidak ada asisten pribadi. Aurelia akan pergi keluar seorang diri.

Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bibirnya bergerak mengikuti irama musik yang baru saja ia putar. Sesekali ia tertawa disela lagu. Sangat terlihat menikmati musiknya yang bergenre santai tapi bersemangat.

Setelah beberapa menit. Mobil itu berhenti di parkiran sebuah apartemen. Ia keluar dari mobil. Lalu mulai melangkahkan kakinya. Ia berjalan dan berhenti di depan pintu. Ia menekan beberapa angka, lalu pintu itu terbuka seketika.

Tubuhnya mematung. Matanya melihat dua manusia yang tampak larut dalam ciuman yang begitu dalam hingga tidak menyadari pintu apartemen telah terbuka.

Aurelia berdehem. Tangannya terlipat di depan dada. Ia bersikap santai, seolah ini adalah pemandangan yang sudah biasa. Mereka berdua menghentikan aktivitasnya dan melihat keberadaan Aurelia kemudian terlihat terkejut.

Pria itu tersenyum kikuk kearah Aurelia. Ia menggaruk tengkuknya kemudian mendorong tubuh wanita yang berada di atas tubuhnya kasar.

"Kamu tidak memberi tahu bahwa akan kesini. Maaf sayang, pemandangan ini menodai matamu." Pria itu membersihkan sisa saliva di bibir menggunakan tisu. Ia menyuruh wanita itu keluar hanya dengan satu gerakan.

Aurelia melihat tajam pada wanita yang baru saja melewati dirinya. Rambut wanita itu beranjak, kancing kemejanya terbuka dengan rok yang tersingkap ke atas.

Sebelum keluar dari pintu, wanita tadi merapihkan penampilannya dulu, kemudian pergi tanpa sepatah katapun.

Aurelia melangkahkan kakinya. Ia menghampiri pria itu yang saat ini berdiri dengan kedua tangan yang ia rentangkan.

Tubuh Aurelia mendekat, tapi tidak membiarkan tubuhnya masuk kedalam dekapan pria itu.

"Wanita mana lagi itu, Adriant?" Ia bersuara dengan nada rendah. Bola matanya bergerak mengamati raut Adriant yang terlihat masih kikuk.

"Bukan siapa-siapa, sayang. Yang penting sekarang adalah kamu..." Adriant melangkah dan memeluk Aurelia erat.

Tapi hanya sebentar, Aurelia langsung mendorong pelan tubuh Adriant hingga mundur kebelakang.

"Lupakan wanita-wanita itu. Dan nikahi aku secepatnya, Adriant."

Adriant diam. Lalu tertawa kecil. Ia kemudian berkata.

"Lia..."

Kepalanya terlihat menggeleng pelan.

"Aku belum bisa."

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!