NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Menara di Balik Hutan

Tiga hari perjalanan setelah meninggalkan kota kecil itu, jalan besar yang Sasuke ikuti perlahan menyempit menjadi jalur tanah yang jarang dilalui, dikelilingi hutan yang semakin lama semakin lebat. Ia sempat singgah di dua desa kecil lainnya sepanjang perjalanan—tidak ada insiden seperti sebelumnya, hanya tatapan penasaran dari penduduk, dan tak jarang beberapa gadis muda yang mencuri-curi pandang lalu buru-buru menunduk begitu Sasuke tidak sengaja menoleh ke arah mereka. Di salah satu desa, seorang gadis pemilik kedai bahkan memberinya sepotong roti gratis dengan wajah memerah, buru-buru masuk kembali ke dapur sebelum sempat mendengar ucapan terima kasihnya.

Ia tidak terlalu memedulikannya, meski ingatan Sasuke Uchiha di kepalanya samar-samar mengenali pola itu sebagai sesuatu yang familiar—wajah ini memang selalu menarik perhatian, di dunia mana pun ia berada. Bagian dari dirinya yang dulu adalah pemuda hampa dan penyendiri merasa canggung dengan semua perhatian itu; bagian lain, yang kini bersanding dengannya, hanya menerimanya sebagai sesuatu yang wajar, tak perlu ditanggapi berlebihan.

---

Di sebuah kota persinggahan bernama Ellendale—kota dagang berukuran sedang yang menjadi titik terakhir sebelum jalan raya benar-benar berakhir dan digantikan hutan liar—Sasuke berhenti untuk mengisi ulang perbekalan. Di sinilah untuk pertama kalinya ia mendengar nama itu disebutkan secara langsung.

Ia sedang duduk di sebuah kedai teh kecil di pinggir jalan ketika sekelompok petualang berzirah lengkap memasuki tempat yang sama, wajah-wajah mereka lelah namun masih diwarnai adrenalin, seolah baru saja lolos dari sesuatu yang mengerikan. Salah satu dari mereka, seorang pria berbadan besar dengan kapak raksasa tersampir di punggung, duduk berlawanan meja dengan Sasuke, langsung memesan minuman keras meski hari masih siang.

"Dungeon sialan itu," pria itu bergumam pada rekan-rekannya, cukup keras hingga terdengar oleh Sasuke. "Sudah dua kali tim kami coba. Dua kali juga kehilangan orang."

"Setidaknya kita masih hidup," seorang wanita berzirah ringan menyahut, suaranya lelah. "Vance tidak seberuntung itu di lantai dua puluh tiga kemarin."

Hening sejenak menyelimuti meja mereka.

Sasuke, tanpa bermaksud menguping, tetap mendengar percakapan itu dengan jelas—salah satu keuntungan dari indra yang jauh melampaui manusia biasa. Ia menyesap tehnya perlahan sambil menyerap setiap informasi yang terlontar.

"Dungeon yang kalian maksud," Sasuke akhirnya bertanya, tidak bisa menahan rasa penasarannya, "yang di Hutan Terlarang sebelah barat?"

Pria berkapak itu menoleh, menatap Sasuke dari ujung kepala hingga kaki, sedikit terkejut melihat lengan kosong di sisi kiri pemuda di hadapannya, namun tidak berkomentar soal itu.

"Kau tahu soal itu?" tanyanya. "Ya, itu yang kami maksud. Dungeon Seratus Lantai. Sudah berdiri sejak entah kapan, tidak ada yang pernah berhasil menembus lebih dari lantai tiga puluhan. Kau bukan mau ke sana, kan, Anak Muda?"

"Mungkin," Sasuke menjawab jujur.

Wanita berzirah ringan tadi mendesah, menggelengkan kepala. "Jangan. Serius. Monster di sana tidak masuk akal—makin dalam, makin gila kekuatannya. Bukan tempat untuk petualang solo, apalagi yang..." ia berhenti sejenak, matanya melirik ke arah lengan kosong Sasuke sebelum buru-buru mengalihkan pandangan, seolah takut menyinggung.

"Aku mengerti maksudmu," Sasuke berkata, tanpa nada tersinggung sedikit pun. "Terima kasih atas peringatannya."

Pria berkapak itu mengangkat gelasnya sedikit, semacam salut singkat. "Kalau kau memang nekat, setidaknya bawa ini." Ia menyerahkan selembar kertas kecil dari sakunya—peta kasar menuju gerbang dungeon, lengkap dengan beberapa catatan singkat mengenai bahaya di lantai-lantai awal. "Anggap saja hadiah perpisahan. Semoga kau lebih beruntung dari kami."

Sasuke menerima peta itu dengan anggukan singkat. "Terima kasih."

---

Meninggalkan Ellendale keesokan paginya, jalan raya yang tadinya masih terawat kini benar-benar berakhir, digantikan jalur tanah yang nyaris tak terlihat, tertutup rerumputan liar dan akar-akar pohon yang menonjol dari tanah. Hutan Terlarang menyambutnya bukan dengan gerbang atau tanda peringatan, melainkan dengan perubahan suasana yang begitu kentara—suara burung yang biasa menemani perjalanannya perlahan menghilang, digantikan keheningan yang terasa hidup, seolah hutan itu sendiri sedang mengawasi setiap langkahnya.

Pepohonan di sini jauh lebih tua dari yang pernah ia lihat sepanjang perjalanannya, batangnya sebesar rumah dengan akar-akar yang menonjol dari tanah seperti urat raksasa yang membeku. Cahaya matahari nyaris tidak menembus kanopi di atas, membuat seluruh hutan terendam dalam senja abadi meski hari masih siang. Kabut tipis mengambang rendah di antara akar-akar pohon, memberi kesan bahwa hutan ini ada di antara dua dunia—tidak sepenuhnya nyata, tidak sepenuhnya mimpi.

Ia berjalan tanpa suara, indranya—yang kini jauh melampaui manusia biasa—menangkap setiap gemerisik daun, setiap napas makhluk yang bersembunyi mengawasinya dari kegelapan. Beberapa kali sesuatu yang besar bergerak di kejauhan, menggetarkan tanah dengan langkahnya, namun tak satu pun berani mendekat. Entah karena insting mereka mengenali bahaya yang jauh melampaui level mereka, atau karena alasan lain yang tidak ia pahami.

Sekitar tengah hari, ketika ia berhenti sejenak di dekat sungai kecil untuk mengisi kantung airnya, sesuatu akhirnya cukup berani untuk mendekat.

Semak-semak di seberang sungai bergemerisik keras, dan sesosok makhluk menyerobot keluar—seekor beruang raksasa dengan bulu hitam legam dan tanduk melengkung di kepalanya, tingginya hampir tiga kali tubuh manusia dewasa. Matanya menyala merah, air liur menetes dari rahangnya yang terbuka lebar, menggeram rendah yang menggetarkan tanah di bawah kaki Sasuke.

Ia bersiap menghadapinya, mengandalkan naluri bertarung yang sudah mendarah daging dari pengalaman bertahun-tahun sebagai shinobi—jauh lebih dari cukup untuk menghadapi satu makhluk buas, tanpa perlu mengeluarkan sesuatu yang lebih besar dari itu.

Beruang bertanduk itu melompat menyeberangi sungai dengan kecepatan mengejutkan untuk ukuran tubuhnya, cakarnya yang sebesar perisai terayun lurus ke arah kepala Sasuke.

Sasuke tidak bergerak dari tempatnya berdiri, hanya memiringkan kepala beberapa senti—cukup untuk membiarkan cakar itu melesat tepat di sampingnya, merobek udara dengan suara berdesing tajam.

Makhluk itu, terkejut karena serangannya meleset dari target yang tampak diam saja, mencoba menyerang lagi dengan rahangnya. Sasuke mengangkat tangan kanannya yang tersisa, menangkap rahang bawah beruang itu dengan satu gerakan, menahannya di udara meski makhluk itu meronta sekuat tenaga.

"Aku tidak ingin membunuhmu," Sasuke berkata pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada makhluk yang tidak mungkin memahaminya. "Tapi kau tidak memberiku banyak pilihan."

Dengan satu hentakan cepat namun terkendali, ia melemparkan makhluk itu menabrak batang pohon terdekat. Suara benturan keras menggema di seluruh hutan, diikuti keheningan panjang. Beruang bertanduk itu merosot ke tanah, tidak sadarkan diri namun masih bernapas—Sasuke sengaja menahan kekuatannya, tidak ingin membunuh makhluk yang sebenarnya hanya mempertahankan wilayahnya sendiri.

Ia melanjutkan perjalanan setelah memastikan makhluk itu tidak dalam bahaya, meninggalkan sungai kecil itu di belakangnya.

---

Menjelang senja, setelah berjam-jam menembus rimbunnya hutan, pepohonan akhirnya membuka menjadi sebuah area lapang berbentuk lingkaran sempurna, seolah sesuatu yang sangat kuat pernah membersihkan tempat ini dengan sengaja bertahun-tahun lalu. Rerumputan di sini tumbuh aneh—lebih pucat, hampir keabu-abuan, seolah cahaya matahari yang jarang menyentuhnya telah mencuri warnanya.

Di tengahnya, menjulang sebuah struktur batu tua berbentuk menara terbalik—bukan menjulang ke langit, melainkan tenggelam jauh ke dalam tanah, dengan mulut gerbang besar berbentuk lingkaran yang menganga gelap di permukaan tanah, dikelilingi ukiran-ukiran kuno yang sudah usang dimakan waktu. Batu-batu penyusunnya berwarna hitam pekat, berbeda dari batuan alami di sekitarnya, seolah sengaja didatangkan dari tempat lain—atau dibentuk oleh sesuatu yang bukan berasal dari alam sama sekali.

Sasuke melangkah mendekat, memperhatikan ukiran-ukiran di sekeliling gerbang itu lebih dekat. Sebagian besar sudah terlalu usang untuk dibaca, namun pengetahuan asing dari Sha Nagba Imuru yang bersemayam di kepalanya membantunya mengenali sebagian simbol yang tersisa—bukan bahasa manusia mana pun yang ia kenal, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua, mungkin dari zaman sebelum benua-benua ini terbagi seperti sekarang.

Salah satu ukiran yang masih cukup jelas menampilkan sosok humanoid dengan banyak lengan, dikelilingi lingkaran-lingkaran konsentris yang masing-masing dipenuhi simbol berbeda—seratus lingkaran, ia menghitung, sesuai dengan seratus lantai yang konon ada di bawah sana.

Ia berdiri di tepi gerbang itu, menatap kegelapan yang seolah tidak berujung di bawahnya. Udara yang keluar dari mulut menara itu terasa dingin dan berat, sarat dengan sesuatu yang sulit ia jelaskan—seperti tekanan tak kasatmata yang menekan dari segala arah, campuran antara rasa hormat dan peringatan yang sama kuatnya.

Ia mengaktifkan Rinnegannya sepenuhnya di balik poni rambutnya, mencoba menembus kegelapan dengan penglihatan yang jauh melampaui manusia biasa. Yang ia lihat hanyalah anak tangga batu yang turun spiral tanpa akhir, menghilang dalam kegelapan pekat beberapa meter di bawah permukaan, dengan sesekali kilatan cahaya redup entah dari sumber apa, jauh di kedalaman yang tak terjangkau matanya.

Ia mengingat kata-kata pria berkapak tadi—"monster di sana tidak masuk akal, makin dalam, makin gila kekuatannya”—dan kata-kata pedagang tua sebelumnya tentang rombongan Emas yang hanya menyisakan satu orang yang bahkan tak lagi bisa bicara.

Sebagian kecil dari dirinya, sisi yang dulu adalah pemuda penyendiri yang tak pernah berani mengambil risiko apa pun dalam hidupnya, terasa ragu sejenak, menimbang kembali apakah keputusan ini bijak.

Namun sisi lainnya—sisi yang telah melihat pertempuran yang jauh lebih mengerikan dalam ingatan yang kini menjadi miliknya, sisi yang memiliki kekuatan yang bahkan Dewa Agung sendiri akui luar biasa—hanya merasakan satu hal: rasa penasaran yang menuntun kakinya untuk terus melangkah maju.

“Seratus lantai” pikirnya, menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah ke ambang gerbang. “Mari kita lihat apa yang menunggu di dasarnya.”

Tanpa ragu lagi, ia melangkah masuk ke dalam kegelapan, dan gerbang di belakangnya seolah menelan cahaya senja terakhir yang masih tersisa di dunia luar.

---

*Bersambung ke Bab 6: Lantai Demi Lantai*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!