Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk Atau Ujian?
Saat matanya bertemu dengan mata seorang wanita di seberang ruangan, senyum itu hilang. Johan buru-buru membuang pandangan.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," katanya.
Alana mengangguk pelan.
Lima menit berlalu. Tanpa sengaja saus steak mendarat di bagian dada dress pinknya.
"Ah," keluhnya pelan.
Ia berdiri dan melangkah ke toilet wanita untuk membersihkan nodanya.
Dari balik pintu lorong, samar-samar Alana mendengar suara orang mengobrol. Ia awalnya tak mau peduli. Tapi langkahnya terhenti saat keluar toilet.
Di depannya, Johan sedang berdiri berhadapan dengan Safa. Sahabat dekatnya sendiri.
Dan yang lebih menghancurkan, Safa memeluk Johan.
"Maaf ya," suara Johan pelan tapi jelas terdengar. "Aku nggak boleh selalu cuek sama Alana. Nanti dia bisa curiga."
"Tapi kamu bawa dia ke tempat ini. Resto favorit kita," jawab Safa, nadanya menuntut.
"Iya, karena aku tahu kamu pasti di sini sama teman-temanmu."
Johan melepaskan pelukannya perlahan.
"Udah ya, jangan cemburu lagi. Aku sama Alana emang suami istri. Tapi itu cuma di atas kertas."
"Di atas kertas? Tapi kalian sampai punya anak," desak Safa.
"Hey, itu aku terpaksa. Karena Mama aku mau cucu."
Jleb.
Dada Alana seperti ditikam ribuan panah. Napasnya tercekat.
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia berbalik masuk lagi ke toilet, mengunci pintu dan menangis.
Air mata Alana jatuh di toilet di kepalanya cuma ada Cia, anaknya.
"Tenang. Dia bisa nyakitin aku. Aku juga harus kuat."
bisik Alana pelan.
Alana cepat-cepat menghapus air matanya. Dia ke wastafel untuk cuci muka dan merapikan diri. Kalau sudah rapi, dia balik ke meja. Johan masih duduk di sana.
"Sayang, maaf. Bajuku kena saus."
"Aku kira kamu kabur. Kamu dari toilet? Tadi nggak lihat apa-apa kan?" tanya Johan.
"Nggak. Memangnya kenapa? Ada hantu?" jawab Alana sambil senyum.
"Ah nggak. Ya sudah, makan lagi yuk."
Alana senyum lagi. Senyum manis seperti biasa. Padahal di dalam hatinya sakit sekali.
Habis makan, Alana langsung ajak pulang. Dia ingat Cia yang dititip ke Jessica, adiknya Johan.
"Nggak mau nonton dulu? Jarang-jarang kita pacaran begini," kata Johan.
"Nanti saja ya sayang. Aku khawatir sama Cia. Dia demam. Kasihan Jessica kalau Cia rewel."
"Oh iya juga. Ya sudah kita pulang."
Sampai rumah, Alana langsung ke kamar anaknya. Jessica tidur di kasur besar. Cia tidur di box bayi.
Alana mengelus kepala Cia lalu menyelimutinya. Dia juga menyelimuti Jessica dan mematikan tablet yang masih nyala.
"Aunty ini, tidurnya sambil nonton lagi."
Pintu kamar ditutup pelan. Lalu Alana masuk ke kamar mereka.
"Mereka sudah tidur?" tanya Johan.
"Sudah. Demam Cia juga sudah turun."
Alana memeluk Johan.
"Makasih ya untuk malam ini. Aku senang, Han."
"Sama-sama sayang. Aku juga senang kalau kamu senang."
Alana melepas pelukannya. Wajahnya tenang, tapi hatinya marah.
"Aku mau hapus makeup dulu ya. Lalu tidur."
"Jangan dihapus," kata Johan. Tangannya menyentuh pipi Alana.
"Sudah lama kita tidak... aku kangen."
Jantung Alana berdebar kencang. Dia harus cari alasan.
"Gini saja. Makeup aku tidak usah dihapus. Kamu mandi dulu. Nanti aku kasih kejutan kecil."
"Beneran? Oke, aku mandi dulu ya."
Johan mencium kening Alana. Lama dan hangat.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Alana langsung ke laci. Dia buka laci rahasianya dan minum pil KB. Tanpa Johan tahu.
Setelah itu dia ganti baju. Pakai baju tidur seksi kesukaan Johan. Dia harus tetap terlihat polos. Seolah dia tidak tahu apa-apa.
---