Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Kusut di Ujung Jari
Keheningan malam di lorong benteng timur kini terasa lebih mencekam bagi Kai. Kebenaran yang baru saja ia dengar dari balik pilar, tentang persekongkolan keji antara Rei dan Mai, membuat kepalanya berdenyut hebat. Dunia tempatnya berdiri terasa seperti lantai es yang siap retak kapan saja. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh untuk merenungkan langkah berikutnya, sesosok bayangan putih berkelebat pelan di ujung koridor yang sunyi, menuju ke arah taman batu yang mati.
Kai menajamkan penglihatannya. Jubah sutra putih bersih dan tusuk konde emas berbentuk bangau yang memantulkan cahaya bulan.
Hana.
Gadis suci dari selatan itu berjalan tergesa-gesa, menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah sedang menghindari kejaran sesuatu. Dorongan rasa penasaran sekaligus waspada membuat Kai memutuskan untuk mengikutinya dari balik bayang-bayang pilar. Hana berhenti tepat di bawah pohon dedalu tua yang meranggas, bersandar pada batang pohon sambil memegang dadanya yang naik turun, mencoba mengatur napas.
"Keluar dari sana, Kai. Aku tahu kau mengikutiku," ucap Hana tiba-tiba, suaranya yang biasanya jernih dan tenang kini terdengar bergetar oleh rasa cemas.
Kai tertegun sejenak, lalu melangkah keluar dari kegelapan. "Kau punya nyali yang besar untuk berkeliaran di area pribadi bentengku pada jam seperti ini, Gadis Suci."
Hana berbalik dengan cepat. Saat melihat Kai, seberkas rasa lega yang teramat sangat melintas di matanya, sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan di depan para tetua tadi. Ia melangkah mendekati Kai, lalu meraih lengan baju pemuda itu dengan cemas.
"Kau harus pergi dari benteng ini, Kai. Sekarang juga," bisik Hana setengah mendesak, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Kai.
"Mai dan Rei... mereka tidak berniat menyelamatkanmu ataupun klanmu. Mereka mengincarmu. Lebih tepatnya, mereka mengincar darah Naga Merah untuk membuka segel gerbang utama!"
Kai menyipitkan matanya, berpura-pura terkejut meskipun hatinya sudah membeku sejak tadi.
"Bagaimana kau bisa tahu? Dan kenapa kau, seorang utusan dari klan seberang yang seharusnya mengawasiku, justru memberitahuku hal ini?"
Hana menggigit bibir bawahnya, tampak ada pergulatan batin yang hebat di wajahnya.
"Karena Mai... Mai adalah saudari seperguruanku di kuil kuno perbatasan sebelum dia membelot. Kami terikat sumpah darah perguruan yang tidak bisa kulanggar secara terang-terangan. Jika aku menentangnya secara terbuka, klan selatan dan kuilku akan terseret ke dalam perang darah."
Hana melepaskan cengkeramannya pada lengan Kai, lalu menunduk. "Aku tahu sifat aslinya. Dia kejam dan licik. Dia sengaja memprovokasimu agar kau terlihat seperti monster di depan keluargaku, sementara Rei akan berpura-pura menjadi pelindungmu. Aku datang ke sini secara sembunyi-sembunyi hanya untuk memperingatkanmu, Kai. Aku tidak ingin melihatmu mati sebagai bidak catur mereka."
Kai menatap Hana, mencoba mencari setitik kebohongan di mata gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni, terbungkus dalam ketakutan yang nyata. Gadis suci yang dikira musuh, ternyata justru bergerak di dalam lumpur secara sembunyi-sembunyi demi menyelamatkannya.
"Lalu bagaimana dengan Yuki?" tanya Kai rendah, suaranya memecah keheningan. "Dia selalu berada di sisiku. Dia yang meredam panas di tubuhku setiap kali naga ini bergejolak."
Mendengar nama Yuki disebut, ekspresi Hana mendadak berubah menjadi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menatap Kai dengan pandangan prihatin. "Kau benar-benar tidak tahu, atau kau sengaja membutakan dirimu, Kai? Kau pikir seorang siluman rubah sepertinya melakukan semua itu tanpa imbalan?"
Kai terdiam.
Dadanya mendadak terasa sesak.
"Kitsune adalah makhluk yang hidup dari memanipulasi energi," lanjut Hana, suaranya bergaung pelan di antara embusan angin.
"Yuki tidak sedang menyelamatkanmu. Dia sedang menjagamu agar 'buahnya' matang dengan sempurna. Dia menginginkan Naga Merah di dalam dirimu. Dia ingin menyerap seluruh esensi naga itu ke dalam dirinya."
Kai mengernyitkan dahi, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya.
"Masuk akal? Seorang siluman rubah menginginkan seekor naga? Kekuatan naga itu bisa membakarnya dari dalam hingga menjadi abu dalam sekejap."
"Bagi rubah biasa, mungkin iya," sahut Hana tajam, melangkah satu ayunan lebih dekat hingga jarak mereka menipis.
"Tapi jika dia berhasil menelan esensi naga itu tanpa hancur, dia tidak lagi menjadi siluman rubah yang bersembunyi di balik topeng kutukan. Dia akan naik tingkat menjadi makhluk surgawi yang tak tertandingi. Pikirkan, Kai! Siapa yang memberimu ramuan penenang selama ini? Siapa yang selalu tahu kapan naga itu akan bangkit?"
Kata-kata Hana menghantam kesadaran Kai seperti gada besi. Di dalam kepalanya, suara bisikan Naga Merah mendadak mendengus, seolah membenarkan ketakutan yang baru saja disuarakan oleh Hana.
Yuki yang selalu tampak lembut namun misterius, Rei yang anggun namun penuh siasat politik, Mai yang liar dan mengancam dari bayangan, serta Hana yang bergerak dalam diam di bawah sumpah darah perguruan. Kai mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Semua wanita di sekelilingnya ternyata memiliki agenda masing-masing, menjadikannya pusat dari badai yang siap menghancurkan benteng timur.
"Terima kasih atas peringatanmu, Hana," ucap Kai, matanya kini berkilat merah sepenuhnya, bukan karena amarah sang naga, melainkan karena tekadnya sendiri yang telah bulat. "Tapi aku tidak akan lari. Jika mereka mengira aku adalah bidak yang bisa mereka atur... maka mereka harus bersiap menghadapi papan catur yang akan kubakar habis."