NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Menyesal Saat Aku Hamil Anak CEO

Mantan Suamiku Menyesal Saat Aku Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Jung

Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan yang Menghancurkan Hati

Aroma bumbu rendang dan sup iga sapi yang gurih memenuhi setiap sudut dapur, namun bagi Alara, wewangian itu terasa mencekik. Sejak pukul tiga sore, ia berdiri di depan kompor atas perintah mutlak mertuanya. Alara diminta menyiapkan hidangan terbaik, seolah-olah rumah ini akan menyambut seorang ratu.

Jemarinya yang mengiris bawang gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena rasa perih yang kian menggunung di dalam dada.

Tepat pukul tujuh malam, bel pintu depan berbunyi nyaring.

Wendah yang sudah berdandan rapi dengan kebaya modern bergegas paruh waktu menuju pintu, mendahului Alara dengan langkah yang begitu ringan.

"Oh, Nindy! Sayang, akhirnya kamu datang juga," seru Wendah, suaranya melengking riang, dipenuhi kehangatan yang tak pernah sekalipun Alara rasakan selama lima tahun menjadi menantunya.

Nindy melangkah masuk dengan anggun, mengenakan dres selutut berwarna pastel yang tampak berkelas. Ia mengulas senyum manis, lalu mengulurkan sebuah kotak bingkisan eksklusif.

"Malam, Mama Wen. Maaf kalau Nindy agak terlambat karena jalanan sedikit macet. Ini ada sedikit hantaran kue kesukaan Mama."

"Aduh, repot-repot sekali. Terima kasih ya, Sayang," sahut Wendah sembari merangkul pundak Nindy akrab.

"Ayo langsung ke ruang makan saja, semuanya sudah siap."

Alara berdiri mematung di ambang sekat ruang tengah, memegang mangkuk sup yang panas. Dadanya berdenyut nyeri mendengar sebutan 'Mama Wen' yang meluncur begitu alami dari bibir Nindy. Statusnya sebagai istri sah di rumah ini seolah menguap begitu saja, digantikan oleh bayangan wanita muda yang kini dituntun masuk oleh ibu mertuanya.

Makan malam bergulir bagai sebuah pertunjukan teater yang kejam, di mana Alara dipaksa menjadi penonton di rumahnya sendiri. Bagas duduk di kepala meja, tampak canggung namun tidak melakukan tindakan apa pun untuk mengubah situasi.

"Nindy ini baru saja menyelesaikan proyek audit besar di kantornya, Bagas," ujar Wendah membuka obrolan, sembari mengambilkan sepotong iga sapi terbaik ke dalam piring Nindy.

"Muda, pintar, dan berprestasi. Perempuan zaman sekarang itu harus cerdas seperti Nindy, bukan cuma bisa berdiam diri di rumah tanpa menghasilkan apa-apa."

Nindy tersenyum tipis, melirik Alara sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum menatap Bagas.

"Ah, Mama bisa saja. Mas Bagas pasti jauh lebih hebat di perusahaannya. Aku masih harus banyak belajar dari Mas Bagas."

Bagas berdeham pelan, mengulas senyum formal yang tipis. "Kamu hebat di usiamu yang sekarang, Nindy. Proyek audit itu memang terkenal rumit."

Alara hanya bisa menunduk, menusuk-nusuk daging di piringnya yang mendadak terasa hambar bagai pasir. Di meja makan ini, ia sengaja diabaikan. Eksistensinya dilewati seolah ia hanya seorang pelayan yang bertugas menyajikan makanan.

"Pria sesukses Bagas ini, sudah sepantasnya memiliki keturunan yang bisa meneruskan nama besar dan aset keluarga," Wendah tiba-tiba mengubah arah pembicaraan, nadanya mendadak berat dan penuh penekanan.

Wanita tua itu melirik Alara dengan tatapan dingin yang menusuk, lalu beralih menatap Nindy dengan binar penuh harap.

"Keluarga kami butuh rahim yang sehat, wanita yang bisa memberikan masa depan yang utuh untuk Bagas."

Meja makan seketika diliputi keheningan yang mencekam. Alara merasa tenggorokannya tersumbat, napasnya terasa pendek dan menyiksa. Isyarat itu terlalu vulgar, terlalu telak menghantam harga dirinya di depan wanita lain.

Namun, yang membuat hati Alara benar-benar retak adalah reaksi suaminya. Bagas hanya diam, terus mengunyah makanannya seolah kalimat ibunya hanyalah angin lalu yang tidak perlu dibela.

Setelah jamuan makan malam yang menyiksa itu usai, Alara tidak sanggup lagi bertahan di lantai bawah. Ia melarikan diri ke dalam kamar, mengunci pintu, dan duduk di tepi ranjang sembari menggenggam jemarinya yang dingin.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Bagas melangkah masuk, menghela napas panjang sembari melepas jam tangannya dengan gundah. Ia bisa merasakan atmosfer kamar yang begitu pekat oleh luka.

"Mas ...," Alara membuka suara, getar di nadanya tak lagi bisa disembunyikan.

"Apa kamu benar-benar nyaman melihat ibumu memperlakukan Nindy seperti calon istrimu di depan mataku sendiri?"

Bagas menghentikan gerakannya. Wajahnya tampak sangat tidak nyaman, garis-garis kelelahan dan frustrasi tercetak jelas di keningnya.

Pop

"Ra, tolonglah. Tadi itu hanya makan malam biasa. Ibu hanya menjamu tamu."

"Makan malam biasa?!" Alara bangkit berdiri, air matanya menetes deras membasahi pipi.

"Ibumu secara terang-terangan menghinaku mandul di depan wanita itu, Mas! Ibumu mengatakan Nindy adalah wanita yang pantas memberimu keturunan, dan kamu ... kamu hanya diam dan menikmati makananmu!"

Bagas mengusap wajahnya dengan kasar, melangkah mendekati Alara dengan dahi berkerut.

"Lalu aku harus bagaimana, Alara? Apa aku harus menggebrak meja dan membentak ibuku sendiri di depan tamu? Ibu itu sudah tua, keras kepala! Kamu tahu sendiri bagaimana sifatnya. Tolong bersabarlah sedikit, jangan semua hal dimasukkan ke dalam hati."

Alara melangkah mundur, menatap suaminya dengan tatapan yang tak lagi hanya berisi luka, melainkan juga kekosongan yang mendalam.

"Bersabar untuk apa, Mas? Bersabar sampai kamu benar-benar bersanding dengan Nindy di pelaminan? Sampai aku benar-benar diusir dari rumah ini?"

"Nindy itu cuma pilihan Ibu, Alara! Aku tidak mengambil tindakan apa pun!" Bagas membalas dengan suara yang tertahan, matanya menatap Alara dengan pandangan jengah.

"Kenapa kamu tidak bisa mengerti posisiku yang terjepit di antara kamu dan Ibu?"

"Karena posisi terjepitmu itu perlahan-lahan membunuhku, Bagas," bisik Alara parau. Suaranya melemah, kehabisan energi.

Bagas tidak menjawab lagi. Dengan raut wajah yang mendingin, ia menyambar bantal dan selimut cadangan di dalam lemari, lalu melangkah keluar kamar menuju ruang kerja tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup rapat, menyisakan Alara yang ambruk di lantai berkarpet.

Selama lima tahun pernikahan mereka, baru kali ini Alara menyadari satu hal yang teramat pahit, pernikahan ini mungkin memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Cinta Bagas telah lama mati, terkubur di bawah sikap netralnya yang pengecut.

Malam kian larut, namun mata Alara menolak untuk terpejam. Kamar tidur utama itu terasa begitu luas dan dingin tanpa kehadiran siapa pun. Sekitar pukul sebelas malam, Alara bangkit dari tidurnya untuk mengambil segelas air hangat di dapur, berharap bisa menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

Namun, saat ia baru saja membuka pintu kamar perlahan, sayup-sayup suara percakapan dari arah lorong dekat tangga menghentikan gerakannya. Lampu koridor sudah diredupkan, dan di sana, Bu Ratna sedang berdiri membelakangi kamar, memegang ponsel di telinganya.

Alara menahan napas, menyembunyikan tubuhnya di balik daun pintu yang terbuka sedikit.

"Iya, Jeng. Makan malam tadi sukses besar," ujar Wendah, terkekeh pelan dengan nada puas yang begitu kental.

"Bagas sama sekali tidak menolak. Dia bahkan memuji prestasi Nindy di meja makan tadi."

Suara di seberang telepon terdengar bergumam samar, tampaknya memberikan tanggapan yang mendesak.

Wendah tersenyum, matanya berkilat licik di kegelapan lorong.

"Tidak perlu terburu-buru, Jeng. Yang penting kita buat Bagas dan Nindy semakin dekat dulu setiap hari. Biarkan menantuku yang mandul itu perlahan-lahan sadar diri dan mundur dengan sendirinya. Setelah itu, semua rencana pernikahan mereka akan berjalan sesuai dengan apa yang sudah kita susun."

Mata Alara langsung terbuka lebar di balik kegelapan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Seluruh tubuhnya mendadak kaku bak batu, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.

Ternyata, penderitaan dan penghinaan yang ia rasakan di meja makan tadi hanyalah sebuah hidangan pembuka. Sebuah konspirasi yang jauh lebih besar, lebih terstruktur, dan lebih kejam tengah bergerak perlahan di dalam kegelapan untuk melenyapkan eksistensinya dari hidup Bagas untuk selama-lamanya.

Bersambung...

1
Nurul Jung
😄
Noey Aprilia
Dfinisi mrtua durjana....
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Noey Aprilia
Alara....ttp sm kputusanmu y,jgn smp kena bjuk rayu setan lg....kbnrn mlai trungkap,biarkn mreka nrima hkuman yg stimpal atw bhkn lbih mnykitkan.....
Noey Aprilia
Sprti biasa.....orng akn mnysal stlh khilangn....slmt mnkmti pnyesalan bagas....
Nurul Jung: okok 😄
total 3 replies
Noey Aprilia
Hai kk....
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘
Nurul Jung: Hallo kak, salam kenal juga, terus simak kisah Alara ya 😍
total 1 replies
Nurul Jung
Hari ini aku kasih double up ya sayang. Besok kalau mau tak kasih double up, tinggalin jejak yaa
Sabhana Pena
sialan si bagas
Sabhana Pena
loh, kok si Nindy udah ngehubungi. Alara duluan?
Nurul Jung
Betul itu 🤭🙏
Sabhana Pena
yaaa begitulah konflik dengan mertua kaya... ga papa Alara, setelah badai pasti ada 🌈. stay strong 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!