Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Bawah Tanah dan Jenderal Yin Pertama
Angin beracun berhembus semakin kencang saat Lin Ye melangkah lebih dalam menyusuri dasar Jurang Kematian yang gelap gulita.
Terobosan ke tahap pertama Alam Pengumpulan Qi telah memberikan perubahan drastis pada ketajaman indera fisiknya.
Kini ia bisa melihat dengan sangat jelas di tengah kegelapan pekat seolah-olah hari sedang siang benderang.
Suara tetesan air dan pergeseran bebatuan dari kejauhan terdengar begitu nyaring di dalam telinganya.
Bahkan hembusan napas tipis dari serangga beracun yang bersembunyi di balik tengkorak pun tidak luput dari pendengarannya.
Lin Ye melangkah dengan gerakan yang seringan kapas.
Seolah-olah kakinya sama sekali tidak menyentuh tanah berlumpur yang berbau busuk di bawahnya.
Aura energi Yin yang sedingin es terus berputar mengelilingi tubuhnya bagaikan pelindung tak kasat mata.
Roh bayangan setianya terus melayang dalam keheningan tepat di belakang punggungnya.
Mata merah roh tersebut terus memindai sekeliling lembah untuk mencari mangsa baru.
Setiap kali mereka melewati mayat yang masih menyimpan sisa-sisa jiwa penasaran, Lin Ye langsung menyerapnya tanpa ampun.
Pusaran hisapan dari telapak tangannya menelan jeritan jiwa-jiwa lemah itu dalam sekejap mata.
Energi kultivasi murni terus mengalir membanjiri jalur meridiannya secara konstan.
Danau spiritual di dalam dantiannya semakin meluap dan memancarkan cahaya biru kelam yang semakin terang.
Hanya dalam waktu singkat, ia merasa kultivasinya telah stabil sepenuhnya di tahap pertama Alam Pengumpulan Qi.
Namun, Lin Ye sama sekali belum merasa puas dengan pencapaian kecil ini.
Ia tahu bahwa para tetua di Sekte Pedang Surgawi rata-rata berada di Alam Pembentukan Inti.
Ia masih membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar dan mengerikan untuk bisa menghancurkan sekte sombong tersebut.
Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia merasakan sebuah anomali energi yang sangat kuat dari arah depan.
Kabut berdarah di wilayah ini terlihat jauh lebih pekat hingga hampir menutupi jarak pandangnya.
Suhu udara anjlok hingga mencapai titik beku yang membuat embun es terbentuk di ujung rambut hitamnya.
Suara gemuruh air terjun terdengar samar-samar menyibak kesunyian mematikan di dasar jurang tersebut.
"Mendeteksi fluktuasi energi Yin purba yang sangat masif pada jarak lima ratus meter di arah jam dua belas."
"Peringatan: Energi ini tidak berasal dari mayat biasa, melainkan dari sebuah eksistensi kuno yang tertidur."
Suara mekanis sistem bergema memberikan peringatan yang justru membuat sepasang mata Lin Ye berbinar penuh antisipasi.
Ujung bibirnya melengkung membentuk seringai dingin saat ia segera melesat menembus kabut tebal tersebut.
Ia bergerak secepat kilatan bayangan hitam di antara tumpukan tulang belulang raksasa.
Beberapa menit kemudian, Lin Ye tiba di hadapan sebuah dinding tebing batu hitam yang menjulang tinggi menembus awan.
Dari celah tebing tersebut, mengalir deras sebuah air terjun aneh yang tidak memancarkan warna air jernih.
Air terjun itu berwarna hitam kemerahan dan mengeluarkan bau anyir darah yang sangat kental.
Aliran air darah itu jatuh ke dalam sebuah kolam batu di bawahnya yang bergolak bagaikan lautan racun.
Lin Ye menyipitkan matanya dan memfokuskan energi Qi ke kedua matanya untuk melihat menembus tirai air darah tersebut.
Di balik aliran deras yang mengerikan itu, ia melihat sebuah lorong gua gelap yang tersembunyi dengan sangat rapi.
Mulut gua itu dihiasi oleh ukiran dua patung iblis berkepala serigala yang terlihat sangat hidup dan ganas.
Aura Yin purba yang dideteksi oleh sistem terus mengalir keluar dari dalam lorong gua misterius tersebut.
"Sebuah makam kuno tersembunyi di dasar jurang pembuangan?" gumam Lin Ye pelan dengan nada tertarik.
Ia tidak membuang waktu dan langsung memusatkan energi di kedua kakinya sebelum melompat tinggi melintasi kolam darah.
Tubuhnya melesat bagaikan anak panah menembus celah sempit di antara derasnya air terjun berdarah.
Ia mendarat dengan sempurna di mulut lorong gua tanpa ada setetes air pun yang mengenai jubahnya.
Hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyambutnya saat ia melangkah masuk ke dalam lorong batu tersebut.
Dinding lorong itu dipenuhi oleh lumut bercahaya biru redup yang memberikan penerangan suram di sepanjang jalan.
Lin Ye memerintahkan roh bayangannya untuk melayang beberapa meter di depannya sebagai pelindung dan penunjuk jalan.
Ia berjalan dengan penuh kewaspadaan sambil mengamati berbagai ukiran kuno di dinding gua.
Ukiran-ukiran itu menceritakan kisah peperangan kuno antara ribuan kultivator melawan pasukan lapis baja yang menunggangi naga tulang.
Pemimpin pasukan naga tulang itu digambarkan sebagai sosok jenderal raksasa yang memegang tombak bergerigi.
Namun, di akhir ukiran, jenderal itu dikhianati oleh bawahannya sendiri dan disegel hidup-hidup oleh para tetua aliran lurus.
Lin Ye mendengus sinis saat membaca kisah pengkhianatan yang tergambar di dinding batu tersebut.
"Sepertinya dunia kultivasi memang tidak pernah berubah sejak zaman kuno."
"Pengkhianatan dan kemunafikan adalah sifat dasar dari mereka yang mengaku sebagai aliran lurus," batinnya dengan dingin.
Tiba-tiba, roh bayangan di depannya berhenti melayang dan mengeluarkan suara mendesis pelan.
Layar sistem berkedip merah memunculkan peringatan bahaya di depan pandangan Lin Ye.
"Mendeteksi Formasi Pembunuh Jiwa tingkat menengah yang tersembunyi di balik lantai batu di depan inang."
Lin Ye menghentikan langkahnya dan menatap lantai batu paving yang terlihat rata namun memancarkan kilatan energi mematikan.
Jika seorang kultivator biasa melangkah ke atasnya, jiwa mereka akan langsung tercabik-cabik oleh ribuan bilah angin spiritual.
Namun bagi Lin Ye, formasi ini tidak lebih dari sebuah rintangan kecil yang mudah diatasi.
Ia menyeringai tipis dan memerintahkan roh bayangannya untuk memicu formasi tersebut.
Roh bayangan itu melesat maju dan menabrakkan dirinya ke atas lantai paving batu kuno tersebut.
Seketika itu juga, cahaya keemasan meledak terang benderang menyinari seluruh lorong gelap gua.
Ribuan bilah angin berbentuk pedang emas melesat keluar dari dinding dan lantai dengan kecepatan kilat.
Bilah-bilah angin itu menembus tubuh roh bayangan hingga membuatnya menjerit dan memudar secara drastis.
Namun, karena formasi itu telah dipicu dan menguras seluruh energi simpanannya, cahaya keemasan perlahan meredup dan menghilang.
Lin Ye dengan tenang menarik kembali roh bayangannya yang terluka parah ke dalam ruang penyimpanan sistem untuk dipulihkan nanti.
Ia kemudian melangkah melewati lantai batu yang kini telah aman dan kehilangan seluruh kekuatan mematikannya.
Setelah berjalan menuruni lorong selama setengah jam, Lin Ye akhirnya tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas.
Ruangan ini berbentuk melingkar dengan langit-langit melengkung yang dihiasi oleh batu-batu kristal bercahaya merah darah.
Di sekeliling ruangan, terdapat puluhan patung prajurit batu yang memegang berbagai macam senjata mematikan.
Namun, perhatian Lin Ye langsung tertuju pada sebuah objek raksasa yang berada tepat di tengah ruangan tersebut.
Sebuah peti mati raksasa yang terbuat dari logam es hitam tergeletak kokoh di atas altar batu berukir.
Peti mati itu dililit oleh sembilan rantai besi merah menyala yang setebal lengan orang dewasa.
Di setiap permukaan rantai dan peti mati, tertempel ratusan kertas jimat berwarna kuning yang memancarkan energi segel emas.
Aura Yin purba yang sangat mengerikan terus merembes keluar dari celah-celah peti mati yang tertutup rapat tersebut.
Energi itu begitu kental hingga membentuk kabut hitam yang berputar-putar liar di sekitar altar batu.
"Mendeteksi Jiwa Jenderal Kuno yang disegel selama lebih dari seribu tahun di dalam peti mati es hitam."
"Status Segel: Tersisa kurang dari lima persen akibat terkikis oleh waktu dan energi Yin di dasar jurang."
"Sistem menyarankan inang untuk menggunakan kesempatan ini untuk menundukkan jiwa tersebut menjadi Jenderal Yin pertama."