NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 menjelang 5 tahun anniversary pernikahan

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Nadia memutuskan mengambil cuti satu hari dari kantor.

Sinar matahari masuk melalui jendela apartemen, menerangi ruang tamu yang masih sepi. Nadia berdiri di dapur sambil memegang secangkir kopi hangat, memandangi kalender di layar ponselnya.

Hari itu adalah hari yang sudah ia tandai sejak jauh-jauh hari.

Anniversary pernikahannya dengan Adrian.

Lima tahun sejak mereka mengucapkan janji untuk hidup bersama.

Lima tahun mempertahankan hubungan yang dulu harus diperjuangkan mati-matian di hadapan keluarga Mahendra.

Sudut bibir Nadia terangkat membentuk senyum kecil.

Meski akhir-akhir ini hubungan mereka terasa renggang, Nadia masih ingin mencoba.

Masih ingin memperbaiki semuanya.

Masih ingin mengingatkan Adrian tentang alasan mereka bertahan selama ini.

Karena itu ia telah menyiapkan kejutan sederhana.

Di atas meja ruang makan tergeletak beberapa catatan kecil yang sudah ia susun sejak minggu lalu.

Dekorasi makan malam. Pesanan bunga favorit Adrian dan Kue yang akan diantar sore nanti.

Serta reservasi chef pribadi untuk menyiapkan hidangan spesial di apartemen.

Nadia bahkan telah membeli gaun baru yang masih tergantung rapi di lemari.

Gaun yang sengaja ia pilih setelah menghabiskan waktu berjam-jam mencarinya.

Entah kenapa, ia ingin terlihat cantik malam ini.

Seperti saat pertama kali Adrian melamarnya.

Seperti saat pria itu menatapnya dengan cinta yang begitu jelas.

Mengingat hal itu membuat dadanya terasa hangat.

Ia berharap malam nanti bisa menjadi awal yang baru bagi mereka.

Setelah sarapan seadanya, Nadia mulai menghubungi beberapa vendor dekorasi.

Ruang makan yang biasanya terlihat formal perlahan berubah menjadi lebih hangat.

Rangkaian bunga putih dan lilin-lilin kecil mulai ditata sesuai keinginannya.

Meski sederhana, Nadia memperhatikan setiap detail dengan teliti.

Karena bagi dirinya, malam itu bukan sekadar perayaan.

Melainkan usaha terakhir untuk mengembalikan sesuatu yang perlahan hilang dari pernikahan mereka.

Di tengah kesibukannya, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama yang muncul di layar membuat senyumnya langsung memudar.

Ibu Mahendra.

Mertua yang sejak awal tidak pernah benar-benar menerima dirinya.

Nadia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Bu."

Suara wanita di seberang terdengar dingin seperti biasa.

"Nadia."

"Ya, Bu."

"Kamu sedang sibuk?"

Nadia melirik dekorasi yang masih berantakan di ruang makan.

"Sedikit, Bu."

"Aku ingin kamu datang ke rumah hari ini."

Nadia mengernyit pelan.

"Ada sesuatu yang penting?"

"Ada."

Jawaban singkat itu membuat Nadia semakin tidak nyaman.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, sang mertua kembali berbicara.

"Datang saja. Aku tunggu."

Sambungan telepon langsung terputus.

Nadia menatap layar ponselnya beberapa saat.

Perasaan enggan langsung muncul di dalam hatinya.

Selama lima tahun terakhir, hubungannya dengan keluarga Mahendra tidak pernah benar-benar hangat.

Mereka memang tidak lagi terang-terangan menentangnya seperti dulu.

Namun Nadia selalu bisa merasakan jarak yang sengaja dipertahankan.

Seolah apa pun yang ia lakukan tidak akan pernah cukup untuk membuat dirinya benar-benar diterima.

Ia menghela napas panjang.

Jujur saja, ia ingin menghabiskan hari ini untuk mempersiapkan anniversary bersama Adrian.

Bukan menghadapi suasana canggung di rumah keluarga Mahendra.

Namun pada akhirnya Nadia tetap mengambil tasnya.

Bagaimanapun juga, wanita yang meneleponnya tadi adalah ibu dari suaminya.

Dan meskipun hatinya enggan, ia tetap berusaha menjaga hubungan baik.

Tanpa menyadari bahwa kunjungan hari ini akan membuka percakapan yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal dalam hidupnya.

Mobil Nadia memasuki halaman kediaman keluarga Mahendra menjelang siang.

Rumah besar bergaya klasik itu masih sama seperti terakhir kali ia datang. Megah. Berwibawa. Dan entah mengapa selalu membuat Nadia merasa seperti tamu, meskipun ia sudah lima tahun menjadi bagian dari keluarga tersebut.

Seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.

Begitu melangkah ke ruang keluarga utama, Nadia langsung melihat ibu mertuanya duduk dengan anggun di sofa panjang sambil menikmati teh. Wajah wanita itu tampak tenang, namun sorot matanya tetap sama seperti dulu.

"Nadia."

Nadia tersenyum sopan.

"Selamat siang, Bu."

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mempersilakan Nadia duduk sebelum meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang membuat suasana terasa semakin tidak nyaman.

Lalu akhirnya wanita itu berbicara.

"Adrian semakin jarang pulang ke rumah."

Nadia sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka pembicaraan akan langsung menuju ke sana.

"Mungkin akhir-akhir ini dia sedang sibuk, Bu."

"Sibuk?"

Nada suara wanita itu terdengar tipis namun tajam.

"Sibuk sampai lupa keluarga sendiri?"

Nadia menunduk sejenak.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Karena kenyataannya, Adrian memang sudah cukup lama tidak mengunjungi rumah orang tuanya.

"Kamu istrinya."

Kalimat itu terdengar seperti tuduhan.

"Kamu seharusnya bisa mengingatkannya."

Nadia mengepalkan jemarinya di atas pangkuan.

"Saya sudah mencoba, Bu."

"Kalau kamu benar-benar mencoba, Adrian tidak akan seperti sekarang."

Kata-kata itu menusuk tepat ke hatinya.

Meski sudah bertahun-tahun menghadapi sikap ibu mertuanya, Nadia tetap tidak pernah benar-benar terbiasa.

Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan.

Karena apa pun yang terjadi, seolah ia selalu menjadi pihak yang salah.

Jika Adrian menjauh dari keluarga, Nadia yang disalahkan.

Jika Adrian mengambil keputusan yang tidak disukai keluarganya, Nadia yang dianggap memengaruhi.

Dan jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan...

Lagi-lagi Nadia yang menjadi penyebabnya.

"Nadia."

Suara berat tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

Nadia menoleh.

Wajahnya sedikit melunak saat melihat ayah mertuanya memasuki ruangan.

Pria paruh baya itu masih memiliki wibawa yang kuat meski rambutnya sudah mulai dipenuhi uban.

Berbeda dengan istrinya, beliau selalu memperlakukan Nadia dengan baik.

"Buat apa menyalahkan Nadia?" ucapnya tenang sambil duduk di kursi seberang.

"Ia tidak bisa mengatur semua keputusan Adrian."

Ibu Mahendra tampak tidak senang.

Namun ayah Adrian tetap melanjutkan.

"Adrian sudah dewasa."

Kalimat itu sederhana.

Tetapi cukup membuat dada Nadia terasa sedikit hangat.

Setidaknya ada satu orang di keluarga ini yang masih melihatnya secara adil.

Pembicaraan kemudian beralih ke berbagai hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang kondisi firma hukum.

Dan di situlah Nadia mendengar sesuatu yang membuatnya membeku.

"Aku sebenarnya ingin bicara soal firma kalian juga."

Nadia mengangkat wajahnya.

"Maksud Ayah?"

Ayah Adrian terlihat santai saat menjawab.

"Kami sudah menyelesaikan proses akuisisi saham mayoritas firma tempat kamu dan Adrian bekerja."

Untuk sesaat Nadia mengira dirinya salah dengar.

"Akuisisi...?"

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ayah Adrian mengangguk.

"Mulai bulan depan, keluarga Mahendra akan menjadi pemegang saham terbesar di firma itu."

Nadia langsung terdiam.

Pikirannya kosong.

Ia bahkan tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Firma hukum itu bukan firma biasa.

Firma tersebut memiliki sejarah panjang dan independensi yang sangat dijaga.

Banyak pengacara bekerja keras membangun reputasinya selama puluhan tahun.

Keluarga Mahendra menguasai sebagian besar sahamnya?

Nadia berusaha mencerna informasi itu.

Tangannya terasa dingin.

"Apa Adrian sudah tahu?" tanyanya pelan.

Ayah mertuanya tersenyum tipis.

"Belum."

Kata-kata itu membuat perasaan Nadia semakin tidak tenang.

Dan jika pria itu mengetahui bahwa perusahaan keluarganya kini memiliki kendali atas firma yang selama ini menjadi tempatnya membangun nama...

Maka badai besar mungkin hanya tinggal menunggu waktu.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!