Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di Tengah Pesta Besar
Seminggu berlalu dalam ritme yang kaku dan tak berubah. Pagi dimulai jam enam tepat: bersiap, sarapan sederhana di ruang makan kecil, lalu mengantar Angga dan Arshen ke sekolah. Ayranza kemudian diajari Mommy Xena berbagai hal, cara berjalan dengan gaun panjang, cara menjawab pertanyaan orang penting tanpa salah bicara, hingga mengenali siapa saja nama‑nama besar yang wajib ia hafal. Sore hari ia sibuk mengurus kebutuhan adik‑adiknya dan sesekali membantu pelayan rumah. Hal yang sering ditegur Leonardo karena dianggap tak pantas dilakukan istri Tuan Axel.
“Kau punya kedudukan sekarang, Nona,” katanya suatu sore saat mendapati Ayranza sedang melipat cucian sendiri. “Biarkan orang lain yang bekerja kasar.”
Ayranza hanya tersenyum tipis dan berhenti sejenak. “Aku sudah biasa, Leonardo. Tak ada salahnya sedikit bergerak.”
Malam itu, suasana kediaman berubah total. Besok malam akan diadakan pesta resepsi besar: pengumuman resmi pernikahan Axel dan Ayranza bagi seluruh lingkungan bisnis keluarga Alexander. Persiapan berlangsung sibuk mulai pagi: tukang bunga mendatangkan ribuan tangkai mawar putih dan merah, tim katering mengisi gudang dapur dengan bahan makanan mahal, tim dekorasi menggantung ribuan lampu kecil di taman hingga berkilau seperti bintang.
Siang menjelang sore, penjahit pribadi Mommy Xena datang membawa gaun panjang berwarna gading gading berkilauan, kainnya lembut dan jatuh indah sampai ke lantai. Potongannya sopan namun menonjolkan lekuk tubuh, dihiasi manik‑manik halus yang berkilau kena cahaya.
“Ini gaun yang Tuan Axel sendiri yang memilihkan,” kata penjahit itu sambil membantu Ayranza mengenakannya. “Beliau pesan harus pas dan pantas untuk istri resminya.”
Ayranza tertegun. Tak disangka Axel ikut campur hal sepele seperti ini. Saat berdiri di depan cermin tinggi, ia hampir tak mengenali bayangannya sendiri. Wajahnya sedikit bersinar, rambutnya disanggai rapi dengan ikat rambut mutiara sederhana. Meski indah, hatinya tetap berdebar hebat. Ia tahu besok malam adalah ujian terberat sejauh ini.
Malam resepsi tiba. Gerbang kediaman terbuka lebar, mobil‑mobil mewah berjejer masuk tanpa henti. Tamu datang berombongan: pengusaha, pejabat, keluarga terpandang dari berbagai kota di Italia bahkan luar negeri. Suara musik orkestra mengalun lembut memenuhi udara bercampur tawa dan obrolan ramai.
Di ujung tangga utama, Axel sudah menunggu. Ia tampak mempesona dengan setelan jas hitam berpotongan sempurna, dasi berwarna senada gaun Ayranza. Saat Ayranza muncul di puncak tangga, pandangannya sempat tertahan sejenak sebelum kembali dingin seperti biasa. Ia mengulurkan tangan menuntun Ayranza turun satu per satu anak tangga.
“Ingat semua yang sudah diajarkan,” bisiknya pelan tepat di samping telinga Ayranza. “Senyum, jawab seperlunya, dan jangan biarkan ada yang mencium kegugupanmu.”
Di tengah keramaian, Mommy Xena dan Daddy Xavier berdiri menyambut tamu. Wajah mereka tersenyum ramah, namun mata mereka terus mengawasi gerak‑gerik kedua anak muda itu. Leonardo berdiri tak jauh dari mereka, diam‑diam mengamati setiap sudut ruangan, siap menanggapi apa pun yang terjadi.
Tak lama kemudian datanglah pasangan tamu yang membuat suasana berubah agak tegang. Tuan Giancarlo, mitra bisnis lama keluarga Alexander yang dikenal licik, bersama anak perempuannya, Elena. Gadis muda itu cantik, berani, dan sejak awal menatap Axel dengan pandangan yang jelas menyiratkan harapan lebih dari sekadar kenalan lama.
“Selamat atas pernikahannya, Axel,” ucap Giancarlo sambil menjabat tangan Axel erat lalu menoleh ke Ayranza. “Dan ini nyonya mudanya? Cantik sekali. Asal dari mana, kalau boleh tahu?”
Ayranza baru mau menjawab, namun Elena lebih dulu menyela dengan nada manis namun menusuk“Dari luar negeri, kan? Dengar‑dengar tak lama kenal lalu langsung menikah. Cepat sekali urusannya.” Ia tersenyum ke arah Axel. “Padahal dulu kau bilang belum berniat menikah bertahun‑tahun lagi.”
Suasana di sekitar mereka seketika hening sebentar. Beberapa tamu lain mulai melirik penasaran. Ayranza meremas ujung gaunnya di balik lipatan tangan. Axel hanya tersenyum tenang, tak sedikit pun terganggu. Ia merangkul bahu Ayranza erat, menariknya sedikit mendekat.
“Rencana memang bisa berubah sewaktu‑waktu,” jawabnya santai namun tegas. “Dan Ayranza adalah wanita yang tepat untukku. Segala sesuatunya sudah kami pertimbangkan matang‑matang.”
Giancarlo tertawa keras seolah tak terjadi apa‑apa. “Tentu saja, tentu saja. Yang penting semuanya bahagia dan usaha tetap berjalan baik.”
Namun Elena tak berhenti di situ. Sepanjang malam ia terus berusaha mendekat, mencari kesempatan bicara berdua dengan Axel, bahkan sesekali menyeberang ke tempat Angga dan Arshen duduk di sudut ruangan, seolah ingin mencari celah kelemahan keluarga baru itu. Arshen yang masih polos sempat menanggapi dengan ramah, namun Angga segera sadar dan menjaga adiknya tetap diam.
Di tengah kesibukan melayani tamu, Ayranza sempat berpapasan dengan Elena di dekat meja hidangan. Gadis itu berhenti sejenak, menatap Ayranza dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.
“Kau pikir kau bisa bertahan lama di sini?” bisik Elena pelan agar hanya Ayranza yang mendengar. “Tempat ini bukan untuk orang asing yang tiba‑tiba muncul begitu saja. Aku sudah kenal Axel jauh sebelum kau ada di sini. Ingat saja kata‑kataku itu.”
Jantung Ayranza berdebar kencang, namun ia tak mau mundur. Ia menatap balik tenang, mencoba meniru ketenangan yang sering dilihatnya pada Axel.
“Siapa yang bertahan lama dan siapa yang tidak, nanti waktu yang menjawab,” jawabnya rendah namun tegas. Ia lalu berjalan pergi mendekati Axel yang sedang berbincang dengan sekelompok tamu penting lain.
Tak lama kemudian kejadian tak terduga terjadi. Saat Axel sedang bersulang bersama Daddy Xavier dan Giancarlo, seseorang tak sengaja atau mungkin sengaja menabrak pelayan yang membawa nampan berisi gelas‑gelas berisi minuman mahal. Nampan itu miring, dan sebagian isinya tumpah tepat mengenai bagian depan gaun Ayranza.
Gelas pecah berdering nyaring, suara percakapan seketika mati. Semua mata tertuju padanya. Noda basah berwarna kemerahan melebar jelas di kain gaun yang indah itu. Elena yang melihat kejadian itu tersenyum kecil di sudut bibir, seolah puas melihatnya celaka.
Ayranza membeku sejenak, rasa panas menjalar ke wajah karena malu luar biasa. Namun sebelum ia sempat bicara atau bergerak, Axel sudah ada di sisinya. Ia segera melepas jas luarnya dan menyampirkan di bahu Ayranza, menutupi noda itu secepat kilat. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya berubah tajam sekali. Ciri khas Axel saat sedang marah besar.
“Tak apa,” katanya cukup keras agar orang di sekitar mendengar. “Hanya kecelakaan kecil. Silakan lanjutkan pesta.”
Ia kemudian berbisik pada Ayranza dengan nada rendah yang tak bisa dibantah,“Ikut aku ke atas sekarang.”
Tanpa menunggu jawaban, ia menuntun Ayranza berjalan menuju tangga besar, melewati tatapan‑tatapan penasaran dan bisikan‑bisikan pelan tamu. Sesampainya di kamar tamu yang luas di lantai dua, Axel menutup pintu rapat dan menguncinya sebentar.
Di sana, jauh dari keramaian, Ayranza tak sanggup lagi menahan air mata. Ia duduk di tepi tempat tidur, wajah tertunduk dalam. “Maafkan aku… aku sudah merusak pestamu. Semua pasti menggunjingkan kita sekarang.”
Axel berdiri tak jauh darinya, napasnya masih agak berat karena menahan emosi. Ia diam sesaat, lalu berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.
“Bukan salahmu,” ucapnya pelan, nada suara yang jarang terdengar, tak lagi sekeras dan sedingin biasanya. “Aku sudah melihat siapa yang mendorong pelayan itu. Nanti urusanku. Sekarang kau ganti baju dulu, bersihkan diri. Pesta belum berakhir, dan kita harus kembali ke bawah sebentar lagi.”
Ayranza mendongak, terkejut mendengar nada itu. Di bawah lampu kamar yang lembut, ia melihat wajah Axel yang tak sepenuhnya keras seperti di depan umum. Ada bayang kekhawatiran samar yang tak biasa.
“Kenapa kau membelaiku?” tanyanya pelan, hampir tak terdengar. “Padahal ini hanya perjanjian, kan?”
Axel berhenti sejenak, pandangannya beralih ke arah jendela yang menghadap ke taman berpesta. Ia tak langsung menjawab. Detik‑detik hening berlalu lama sebelum akhirnya ia bicara lagi, suaranya rendah dan berat.
“Di depan mereka, kau istriku. Menjatuhkanmu sama saja dengan merendahkan diriku sendiri. Ingat itu baik‑baik.” Meski begitu, kali ini nada bicaranya tak terdengar seperti perintah semata. Ada hal lain yang tersembunyi di balik kalimat itu.
Setelah Ayranza selesai berganti pakaian dengan gaun cadangan yang disiapkan pelayan, mereka kembali turun bersama. Kali ini Axel menggenggam tangan Ayranza erat sepanjang jalan menuruni tangga dan berkeliling menyapa tamu. Elena yang melihat itu tampak kaget dan tak puas sama sekali. Giancarlo pun mulai sadar: pasangan muda itu tak mudah dipisahkan atau digoyangkan begitu saja.
Malam perlahan berakhir. Tamu mulai pulang satu per satu, meninggalkan taman yang indah namun penuh jejak peristiwa tak terlupakan itu. Di ruang tengah yang mulai sepi, Mommy Xena mendekati mereka dan tersenyum tipis. Senyum yang sedikit lebih hangat dari biasanya.
“Kalian mengatasinya dengan cukup baik malam ini,” ucapnya pendek lalu berjalan pergi diikuti Daddy Xavier.
Leonardo menghampiri mereka terakhir kali sebelum beristirahat. “Semua aman, Tuan. Pelayan yang terlibat sudah kami amankan dan diperiksa. Segala hal akan ditangani sebelum pagi tiba.”
Axel mengangguk puas, lalu menoleh ke arah Ayranza yang tampak lelah luar biasa namun lega. Ia menuntun Ayranza kembali ke sayap timur sampai depan pintu kamarnya.
“Istirahatlah malam ini,” katanya singkat sebelum berbalik pergi. Namun sesaat sebelum melangkah, ia berhenti dan menambahkan pelan, “Besok kita bicara soal kejadian malam ini. Dan soal Elena.”
Pintu kamar tertutup pelan di belakang Ayranza. Ia berbaring di atas kasur empuk, menatap langit‑langit kamar yang remang. Malam panjang itu membuktikan satu hal: menjadi istri kontrak Axel Alexander jauh lebih rumit dan berbahaya dari yang ia bayangkan. Namun di balik bahaya dan dinginnya sikap Axel, perlahan tumbuh sesuatu yang tak terduga. Ikatan yang makin kuat dan rasa aman yang mulai muncul di dada Ayranza, meski samar dan sulit diakui.
Di kamar seberang lorong, Axel berdiri di dekat jendela terbuka, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang mulai tenang kembali. Di dalam hatinya, satu tekad bulat terbentuk. Siapa pun yang berani menyakiti atau mencelakai Ayranza, baik karena dendam, ambisi, atau niat buruk lain. Harus siap menghadapi konsekuensi berat dari dirinya. Dan Elena, besok adalah waktu yang tepat untuk memberi pelajaran tegas.