"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lima
Diandra menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang, ranjang mungil itu bergelombang menerima hempasan tubuhnya.
Rasa lelah di tubuhnya sebenarnya tidak terasa, namun lelah yang ia rasakan di hatinya menggerogoti tanpa ampun.
Diandra teringat kembali, saat melihat xavier tadi, pria itu tak berubah sama sekali. Malah semakin terlihat tampan. Harus diakui pria itu memang sangat mempesona, tipe pria yang akan membuat wanita manapun terpesona karena visualnya, tingginya yang diandra yakini sekita 190 cm, dengan tubuh atletis, wanita mana coba yang tidak akan terpana pada pria itu.
Diandra menggelengkan kepalanya kuat, seakan ia ingin mengusir ingatannya tentang pria itu, tentang malam itu, kenangan yang ia punya dengan xavier.
"mamaaa..."
Teriakan killian, putra tampannya itu membuka pintu kamar, mengagetkan diandra yang melamun.
Diandra merangkul putranya yang menubruk, dengan gemas diandra menciumi bocah laki-laki gondrong itu.
"besok lian ulang tahun, mau ke mall beli mainan"
"sabar yah ganteng " jentiknya ke hidung bangir bocah tampan itu.
"ulang tahunnya kan besok, berarti besok ke mallnya"
Bibir bocah itu mengerucut kesal, matanya yang kebiruan dengan hidung bangir, sangat jelas mirip seseorang.
Diandra memeluk gemas, " tadi om elang juga kasih sesuatu buat lian, beli mainan besok"
"asyikkkk" sorak bocah itu kegirangan, menari-nari dalam pelukan mamanya. Rambut ikalnya yang gondrong ikut melonjak-lonjak.
"lian sayang, mama" bocah itu memeluk leher diandra erat, sembari mencium pipinya hangat.
"mama, orang terhebat di dunia"
Diandra tertawa senang, dengan lembut ia mengelus kepala putranya itu penuh cinta.
"mama juga sayang lian, lian pria hebat mama"
Bocah 5 tahun itu tertawa riang masih dengan memeluk diandra erat.
"lian seharian nggak nakal kan sayang?, nurut sama bude ida kan?"
"iya mama.." angguk killian cepat, "bude ida juga bilang lian anak baik"
Diandra tersenyum lembut, sorot matanya sendu. Ada rasa bersalah menggelepar di sudut hatinya, membiarkan putranya besar diurus oleh orang lain.
Killian besar dari 1 pengasuh ke pengasuh lainnya, diandra jelas merasa sangat bersalah, namun ia tak bisa berbuat apapun, diandra harus mencari nafkah untuk membesarkan putranya itu.
Diandra tak memiliki siapapun, dia kehilangan ibunya di usia 10 tahun dan kehilangan ayahnya, 6 tahun lalu.
Diandra tak memiliki seseorang tempat ia bisa bersandar, tempat ia tuju disaat-saat lelah. Diandra semata wayang, mengarungi kerasnya hidup ini.
Tak ada bahu yang bisa diandra sandari saat ia butuh kekuatan, ia hanya memiliki killian dalam hidupnya.
Killian adalah segalanya, killian adalah alasan mengapa diandra sanggup hidup di dunia yang kejam ini.
"mama.." panggil putranya itu, menyadarkannya dari lamunan.
"besok lian mau beli mainan yang banyak, bolehkan?"
Diandra mengangguk lembut, tangannya kembali terulur mengelus lembut kepala bocah tampan itu.
<<<<<<<>>>>>>
Setelah makan, xavier rencananya langsung pulang. Wanita yang omanya jodohkan, geraldine juga sudah ia pastikan tadi pulang terlebih dahulu.
Xavier keheranan pada dirinya sendiri, entah mengapa sosok chef bernama diandra tadi tak mau pergi dari benaknya.
Ia sangat yakin kalau aroma mint tadi jelas tercium dari tubuh wanita itu, rambutnya ikal, tubuhnya mungil dengan kulit putih bersihnya.
Apakah mungkin chef tadi adalah wanita yang ia cari, apalagi wanita tadi juga terlihat sedikit aneh.
Xavier juga heran, entah mengapa wanita tadi cukup menarik perhatiannya. Tapi bukan karena visualnya tentu saja, karena wanita tadi walaupun cantik, namun bukanlah tipe wanita yang kecantikannya langsung mampu menghipnotis.
Xavier sering bertemu dengan wanita yang jauh lebih cantik dari chef tadi, jika dibandingkan dengan cathy juga, secara visual wanita tadi tidak mampu melampau kecantikan cathy.
Namun entah mengapa xavier penasaran, entah karena sorot mata wanita itu, atau karena aroma mint yang sempat tercium tadi.
Xavier melemparkan kunci kontaknya ke arah supir yang sedang membersihkan mobilnya yang lain. Ia memarkirkan mobilnya di carport, dan dengan tenangnya melangkah, sebelah tangannya berada di saku celananya.
"gimana?" tanya omanya dengan wajah penasaran, menyambutnya di teras rumah.
Xavier tak menjawab, ia masuk mengabaikan sang oma yang mengikutinya penasaran.
"apakah putri bungsu santoso itu, masuk ke dalam kriteria kamu?"
"cantik sih.." sahut xavier meletakkan tubuhnya di sofa panjang ruang keluarga.
"tapi nggak ada kesan apapun, biasa aja"
Nyonya wina, menghela nafasnya kesal. Dia sudah menduga jawaban cucunya itu, namun tetap saja agak jengkel mendengarnya.
"oma nyerah deh.." wanita sepuh itu duduk di samping xavier dengan wajah kesal.
"terserah kamu aja, mau menikah atau tidak oma udah nggak perduli"
Xavier tersenyum tipis, melihat wajah omanya yang kesal.
"aku nggak janji akan menikah dengan geraldine oma, tapi lusa aku sudah janjian akan makan malam dengannya lagi"
"sungguh?" mata nyonya wina terbelalak senang, matanya berbinar-binar.
Xavier mengangguk, "aku meminta geraldine untuk mencoba menjalani, tanpa komitmen apapun, dan seandainya nanti kami menemukan kecocokan baru kita bicarakan kemungkinan ke depannya bagaimana"
Nyonya wina mengangguk senang, "oma senang mendengarnya, xavi! Paling tidak kamu sudah mau berusaha"
"oh yah..." seru xavier tiba-tiba,
"minggu depan ulang tahun oma kan?"
Nyonya wina mengangguk, namun wanita sepuh itu memicing heran. Ada apa dengan cucunya itu, bukankah selama ini bocah ini tidak pernah perduli hal seperti itu.
"kita rayakan di rumah saja, oma. Dan undang keluarga santoso, mungkin saja minggu depan ada kemajuan diantara aku dan putri mereka"
Mata nyonya wina kembali berbinar, xavier bersyukur omanya tak lagi curiga. Dia berharap omanya setuju, dengan begitu xavier akan menjalankan rencana yang ada di kepalanya saat ini.
Jika omanya bersedia, ia akan meminta chef diandra yang menyiapkan hidangan di rumahnya.
"tumben kamu mikir bener kek gini, biasanya kamu paling nggak perdulian hal begituan"
Xavier memeluk omanya hangat, suara tawanya terdengar.
"inikan ulang tahun oma yang ke 70, bagaimana bisa aku tidak perduli, dan lagian mungkin saja ini cara aku bisa menerima wanita yang oma jodohkan itu"
Nyonya wina menatap lekat, bola mata kebiruan milik cucunya itu. Sejujurnya dalam 6 tahun ini, ia heran melihat perubahan yang terjadi pada xavier.
Xavier itu pria yang sangat memesona, dan cucunya itu juga menyadari pesonanya itu. Berapa banyak wanita yang tergila-gila padanya, walau ia berpacaran dengan cathy, nyonya wina juga tahu kalau cucunya bukanlah tipe pria yang cukup dengan 1 wanita.
Berapa banyak wanita yang singgah di hidup dan ranjang xavier, ia tahu.
Nyonya wina juga kesal dengan keplayboyan xavier, selalu berganti-ganti wanita. Namun melihat ia berubah selama 6 tahun ini, menghindari wanita sedemikian rupa, seakan ia membenci mereka.
Nyonya wina, sejujurnya takut. Apa mungkin cucunya itu berubah orientasi s*ksnya, atau apakah xavier memiliki penyakit.
Sayangnya, cucu kesayangannya itu tak pernah mau bercerita apapun padanya. Xavier sedikit tertutup, sejak ia kehilangan kedua orangtuanya.
Jadi wajar saja, jika saat ini hatinya bahagia. Xavier mau mempertimbangkan putri bungsu keluarga santoso itu.
Tadinya ia sudah kepengen menyerah, nyonya wina sudah mengikhlaskan jika xavier memilih sekretaris ganjennya itu.
Tapi barusan xavier mendadak perhatian akan hal seperti ulangtahunnya, terus terang nyonya wina sedikit curiga.
"biar aku yang cari chefnya yah oma..!"
Nyonya wina tercengang, matanya kembali terbeliak dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Ternyata benar dugaannya, xavier merencanakan sesuatu.
'siapa chef ini, kenapa xavi begitu antusias'
Nyonya wina menatap lekat sang cucu yang juga menatapnya dengan mata berbinar, nyonya wina akhirnya menganggukkan kepala.
Bersambung..