Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaan Tanpa Hati
Beberapa menit kemudian, Rian menggendong Arumi yang dalam keadaan setengah sadar, dan meletakkannya dengan lembut di kursi tunggu di depan ruang otopsi.
Suasana koridor di depan ruang jenazah rumah sakit yang dingin dan berbau karbol itu mendadak mencekam saat Tony membuka pintu pembatas. Di belakangnya, Rangga Adiwilaga melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Ia mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung kasar dan noda darah kering yang masih kentara di lutut celananya. Di samping kanan dan kirinya, Denny dan dua pengacara lain berdiri tegap, membawa tas kerja kulit yang nampak sangat asing di lingkungan rumah sakit itu.
“Siapa yang namanya Rangga?” tembak Rian langsung. Ia tahu nama itu sebagai penabrak ayahnya, diceritakan oleh supir yang menjemput mereka di sekolah.
Rangga maju dan berdiri di depan mereka.
“Saya.” Kata Rangga dengan wajah sendu.
Arumi langsung mendongak, Ia melepaskan pegangannya pada Rian dengan cepat. Sebelum ada yang sempat mencegah, ia melangkah lebar menghampiri Rangga dan…
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Rangga. Suaranya bergema nyaring di sepanjang koridor rumah sakit yang sepi itu. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat wajah Rangga terlempar ke kanan, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulitnya yang pucat.
“Pak!” Denny dengan sigap melangkah maju, mencoba menghalangi Arumi dengan merentangkan tangannya. "Ibu Arumi, harap tenang. Kita di sini untuk—"
"Jangan ikut campur, kamu!" bentak Arumi ke arah Denny, suaranya meninggi namun bergetar.
"Nggak apa-apa, Denny. Mundur. Saya pantas.” Rangga memegang pundak Denny dan menarik pengacaranya itu mundur ke belakang tubuhnya. Rangga kembali menatap Arumi, membiarkan pipinya yang berdenyut panas menjadi sasaran pandang wanita itu. “Bahkan kalau bu Arumi mau pukul saya sampai mati di sini, saya pantas."
“Nggak usah sok suci lo, anjing!” Rian melompat maju, tangannya mengepal kuat menargetkan rahang Rangga.
"Gara-gara lo, Ayah gue meninggal, bajingan!" teriak Aryo. Ia ikut menerjang dengan mata merah penuh air mata amarah. "Balikin Ayah!!"
" Jangan!" Tony berteriak panik. Ia bersama dua pengacara lainnya langsung pasang badan. Mereka menangkap tubuh Aryo dan Rian, menahan kedua remaja itu di koridor yang sempit. Mereka terus memberontak dan menendang-nendang dengan histeris. Koridor rumah sakit itu mendadak riuh oleh pergulatan. Aryo hampir saja melepaskan diri dari cengkeraman Tony, sementara Rian terus meraung-raung mencoba menggapai kemeja Rangga.
"Lepasin gue! Gue bunuh lo, bangsat!!" raung Aryo, urat-urat di lehernya menegang, membuat beberapa perawat yang lewat memandang takut.
Rangga tidak bergerak setapak pun dari posisinya. Ia membiarkan dirinya menjadi sasaran makian anak-anak itu, matanya berkaca-kaca menatap kehancuran yang ia ciptakan di depan ruang jenazah itu.
"Aryo, Rian... Duduk." suara Arumi memecah keributan. Suaranya bergetar hebat, namun memiliki otoritas seorang ibu yang membuat kedua anaknya perlahan berhenti memberontak, meski napas mereka masih memburu dan tatapan mereka seolah ingin menguliti Rangga hidup-hidup di atas kursi tunggu rumah sakit.
Arumi melangkah lebih dekat ke depan Rangga. Napasnya naik turun, air matanya menetes melewati pipinya yang tegang. "Tadi asistenmu datang ke saya sebelum saya masuk ke dalam, membawa proposal bantuan. Dia bilang kamu mau menanggung semua biaya rumah, sekolah anak-anak sampai kuliah, bahkan menghidupi mertuaku."
“Benar, kalau ibu berkenan...” desis Rangga.
“Huh!” dengus Arumi sinis.
Wanita itu lalu tertawa, sebuah tawa getir yang terdengar sangat mengerikan di lorong rumah sakit itu. "Uang... bagi orang seperti kamu, uang itu mungkin cuma receh yang bisa kamu hamburkan kapan saja! Kamu pikir dengan uangmu yang tidak berseri itu, kamu bisa beli maaf dari kami? Uang bisa dicari, ganti-ganti asal ganti! Tapi nyawa... nyawa harus dibalas nyawa!"
Rangga memejamkan mata, air matanya jatuh. "Saya tahu, Ibu Arumi. Saya tidak sedang membeli maaf. Saya—"
"Ibu Arumi, tolong dengarkan kami dulu sebagai penasihat hukum," Denny memotong dengan nada bicara yang kembali tenang namun dingin khas pengacara. Ia membuka sebuah map yang berisi salinan analisis kecelakaan awal dari kepolisian. "Kami memahami kemarahan luar biasa dari keluarga Anda. Dan berdasarkan rekaman dashboard dari mobil Pak Rangga serta mobil-mobil di sekitar lokasi, kami akui secara terbuka bahwa manuver mendadak Pak Rangga memang menjadi salah satu pemicu utama yang menyebabkan sepeda motor Pak Ary Prambudi goyang dan terjatuh."
Denny menjeda kalimatnya, menatap Arumi dengan tatapan lurus.
"Namun, secara kausalitas hukum medis dan forensik, benturan dari mobil Pak Rangga tidak langsung merenggut nyawa Pak Ary. Hasil visum resmi dari dokter rumah sakit ini menyatakan bahwa saat bertabrakan dan terjatuh ke samping, Pak Ary masih dalam kondisi hidup. Yang menjadi penyebab utama beliau meninggal dunia adalah karena setengah bagian tubuhnya masuk ke kolong lajur sebelah, di mana ban truk kontainer yang sedang melintas melindasnya hingga beliau kehabisan darah di tempat kejadian."
Koridor itu mendadak hening. Kata-kata Denny seperti palu sidang yang menghantam kepala Arumi tepat di depan pintu ruang jenazah tempat suaminya berada.
"Jadi maksud kamu... suami saya mati karena truk? Bukan karena bos kamu ini?!" suara Arumi melengking, menolak menerima logika hukum tersebut. "Dia yang bikin suami saya jatuh ke sana! Kalau dia tidak menabrak, suami saya tidak akan pernah ada di bawah ban truk itu!"
"Secara pidana berlapis, itu yang sedang kami selesaikan lewat jalur Restorative Justice, Ibu," lanjut Denny tenang, mengabaikan tatapan membunuh dari Aryo dan Rian. "Secara hukum, sopir truk juga memiliki andil dalam kelalaian fatal ini. Namun Pak Rangga, dengan iktikad baik yang melebihi kewajibannya, memilih untuk mengambil alih seluruh tanggung jawab dari semua pihak yang terlibat. Beliau tidak mau bergulat di pengadilan untuk memotong pasal. Beliau ingin menanggung semuanya."
Arumi memandang Rangga dengan tatapan yang penuh kebencian sekaligus kemuakan yang mendalam. Wajahnya mengeras. "Ya memang itu kan kewajiban kamu! Kamu tak mau mengaku?! Masih bisa membela diri hah?! Pengecut kamu!! Saya akan tuntut kamu sebagai penyebab utama kecelakaan!!" serunya tajam. Napasnya memburu di balik sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.
"Saya tidak peduli seberapa kaya kamu. Kamu harus membusuk di penjara!" Suaranya yang lirih, nyaris teredam oleh bising koridor rumah sakit, namun setiap suku katanya menembus udara, menargetkan langsung pada Rangga.
Mendengar ancaman itu, Denny, sang kepala pengacara, menarik napas pendek. Ia menatap dua pengacara di belakangnya, memberi kode agar mereka menutup pintu koridor sepi di dekat ruang administrasi itu untuk memastikan pembicaraan ini menjadi sangat tertutup dan rahasia.
Denny melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Arumi dan Rangga. Gestur tubuhnya berubah, tidak lagi sekadar membela klien, tapi mulai memetakan realita hukum yang dingin di depan mata Arumi, Aryo, dan Rian.
"Ibu Arumi, saya mengerti Ibu sedang sangat terluka, kedua orang tua saya pun meninggal sekaligus di usia saya yang masih seumuran Rian. " Denny memulai, suaranya melunak namun membawa otoritas yang tidak bisa diganggu gugat. Namun pengakuan ini justru membuat Arumi dan lainnya terdiam dan melunak.
Denny pun melanjutkan kalimatnya, "Tetapi sebagai praktisi hukum, saya wajib menyampaikan fakta di lapangan. Silakan jika Ibu ingin menuntut atau bahkan memviralkan kasus ini di media sosial. Namun, Ibu harus tahu... biaya untuk maju ke pengadilan melawan korporasi seperti kami akan sangat besar. Tentu saja, biaya itu tidak akan membuat kami goyang, tapi justru akan menguras sisa tabungan keluarga Ibu yang lebih membutuhkan uang itu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Untuk masa depan anak-anak Ibu."
Arumi mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu mengancam saya dengan uang?!"
"Ini bukan ancaman, Ibu Arumi. Ini realita," potong Denny dengan tenang. "Mari kita bicarakan secara rasional. Yang namanya nyawa manusia, Tuhan-lah yang berhak mencabut. Namun dalam kejadian tragis ini, garis takdir menempatkan Pak Rangga sebagai perantaranya. Di mata hukum pidana, ini murni kelalaian, bukan pembunuhan berencana seperti yang Ibu tuduhkan."
Denny menjeda, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam kepala Aryo dan Rian yang sedari tadi mendengarkan dengan rahang mengeras.
"Ibu mungkin berpikir, jika kasus ini viral, perusahaan Pak Rangga akan hancur dan beliau akan bangkrut. Sayangnya, tidak begitu cara dunia kami bekerja, Ibu," Denny tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional yang dingin. "Perusahaan Pak Rangga, Red-Desmont Investment, bergerak di bidang investasi dan pendanaan makro, bukan penjualan barang eceran yang bisa diboikot publik. Kami mendanai mega proyek, kami adalah penyedia modal. Reputasi di bursa saham tidak akan runtuh hanya karena kecelakaan lalu lintas."
Denny mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Arumi. "Dan taruhlah skenario terburuknya terjadi: Pak Rangga masuk penjara. Ibu tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya? Ibu Arumi akan secara tidak langsung dituntut secara moral oleh lima ribu karyawan di bawah kepemimpinan Pak Rangga yang akan kehilangan pekerjaan dan nafkah karena otak strategis perusahaan mereka dilumpuhkan. Pak Rangga tidak berniat secara sengaja mencelakai Pak Ary pagi ini."
Kata-kata Denny seperti hantaman godam yang tak kasat mata. Untuk pertama kalinya di hari itu, Aryo dan Rian terdiam. Remaja itu mendadak dihadapkan pada sebuah kenyataan yang mengerikan. Bahwa di dunia nyata, uang adalah segalanya. Kaum elit yang berdiri di depan mereka mengendalikan hukum, mengendalikan media, dan mengendalikan hajat hidup ribuan orang. Kemarahan mereka yang menggebu-gebu mendadak terasa kerdil di hadapan tembok kekuasaan yang dibawa Rangga.
Suasana koridor rumah sakit itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara mesin pendingin ruangan yang mendengung rendah.
Rangga, yang sejak tadi hanya diam menerima luapan emosi, akhirnya melangkah maju, melewati posisi Denny. Ia menatap Arumi, lalu beralih menatap Aryo dan Rian dengan tatapan mata yang sangat lelah namun penuh ketetapan hati.
"Bu Arumi," suara Rangga serak, terdengar begitu rapuh untuk ukuran seorang Direktur Utama. "Saya mempersilakan ibu untuk memikirkan baik-baik masalah ini. Saya tidak akan lari. Kalau Ibu merasa memukul saya sepuasnya bisa mengembalikan Mas Ary, lakukan sekarang. Sumpah demi Tuhan, saya tidak akan membalas. Bahkan kalau ibu mau membunuh saya hari ini untuk membalas nyawa Mas Ary, saya tidak keberatan. Hidup saya pun sudah lama hancur."
Rangga menghela napas berat, matanya memerah menahan tangis. "Tapi nyatanya... seperti yang Denny katakan, orang-orang di sekitar saya tidak akan tinggal diam. Mereka akan memperjuangkan saya demi isi perut mereka sendiri. Hukum dunia ini memang tidak adil untuk Mbak saat ini. Tapi janji saya di bawah kolong truk itu nyata. Pikirkan masa depan Aryo dan Rian. Mas Ary sudah tiada, jangan biarkan masa depan anak-anak ini ikut mati karena ego kita."
Arumi mematung. Kata-kata Rangga bukan lagi sebuah kesombongan, melainkan sebuah kepasrahan yang menampar logikanya sebagai seorang ibu. Ia melihat ke arah dua anak laki-lakinya yang kini menunduk dengan pundak melorot—kehilangan taring amarah mereka setelah digulung oleh realita.
"Bawa uangmu, bawa pengacaramu, dan pergi dari hadapan saya. Jangan pernah perlihatkan muka kotor kalian di depan keluarga saya lagi."
Rangga menatap Arumi untuk terakhir kalinya siang itu di koridor rumah sakit. Ia membungkuk dalam-dalam, sebuah penghormatan dan permohonan maaf yang tidak akan pernah cukup di depan pintu ruang jenazah.
"Saya akan pergi sekarang, Bu Arumi," ucap Rangga dengan suara serak. "Tapi janji saya pada Mas Ary di detik terakhirnya kalau Saya akan tetap memastikan hidup kalian tidak akan pernah kekurangan tetap berlaku, baik Ibu menerimanya atau tidak."
Rangga berbalik, melangkah gontai keluar dari koridor rumah sakit diikuti oleh tim pengacaranya, meninggalkan Arumi yang kembali luruh di lantai, memeluk kedua anak laki-lakinya yang menangis tersedu-sedu di depan pintu ruang jenazah yang dingin.
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖