Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Penyatuan Dua Golek Pusaka
Aki Sasmita tidak mengubris makian Ki Burak. Beliau menoleh ke arah Cepot dengan mata butanya yang tenang. "Cepot, deukeutkeun Golek Pancasona ka Golek Kuning! (Cepot, dekatkan Golek Pancasona ke Golek Kuning!)" perintah Aki Sasmita cepat. Cepot yang paham situasi langsung berlari dan menempelkan Golek Pancasona miliknya ke Golek Kuning yang dipegang sang aki.
Seketika, keajaiban terjadi. Golek Kuning yang tadinya tidak memiliki wajah, tiba-tiba menyerap energi cahaya emas dari Golek Pancasona. Di wajah kosong Golek Kuning, perlahan muncul ukiran wajah tersenyum yang sangat agung. Kedua golek tersebut menyatu, menciptakan sebilah keris pusaka bersinar putih keemasan yang luar biasa menyilaukan.
Ki Burak yang panik melihat senjata pamungkas itu langsung merapalkan seluruh ilmu hitamnya, memanggil puluhan roh Teluh kepala terbang untuk menyerbu mereka. Aki Sasmita mengambil keris hasil penyatuan tersebut, lalu menyerahkannya kepada Cepot. "Manusa ngan saukur ikhtiar, Cepot. Pungkas kajahatan ieu ku panangan anjeun! (Manusia hanya bisa berikhtiar, Cepot. Akhiri kejahatan ini dengan tanganmu!)" seru Aki Sasmita mantap, siap mengawal langkah terakhir sang murid.
Cepot menggenggam erat gagang keris pusaka bersinar putih keemasan yang diberikan oleh Aki Sasmita. Hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, melenyapkan rasa takut dan lelah yang sejak tadi menggelayuti hatinya. Puluhan roh Teluh kepala terbang melesat maju, melesat cepat dengan taring-taring tajam yang siap mengoyak daging.
"Lumpat, Cepot! Hajar si Burak! (Lari, Cepot! Hajar si Burak!)" teriak Dawala memberikan semangat dari sudut altar, meskipun tubuhnya masih lemas.
Sambil melompat lincah, Cepot mengayunkan keris pusaka tersebut ke udara. SRET! Tebasan pertama mengeluarkan gelombang cahaya putih yang memotong barisan roh Teluh hingga meledak menjadi abu di udara. Ki Burak membelalakkan mata tidak percaya melihat ilmu hitam andalannya hancur begitu mudah. Tanpa membuang waktu, Cepot melesat maju menerobos sisa kabut hitam, langsung mengarah ke jantung pertahanan sang dukun hitam.
Ki Burak mencoba mengangkat golek hitamnya untuk menahan serangan, namun pancaran kesucian dari keris pusaka itu membuat tangan sang dukun kaku seketika. Dengan satu teriakan lantang, Cepot menusukkan keris pusaka tepat ke tengah golek hitam milik Ki Burak. "Ieu balesan keur kabéh kajahatan anjeun, Burak! (Ini balasan untuk semua kejahatanmu, Burak!)" jerit Cepot.
CRACK! Golek hitam milik Ki Burak retak lalu hancur berkeping-keping menjadi debu. Bersamaan dengan hancurnya wadah gaib tersebut, Ki Burak menjerit histeris. Tubuhnya yang semula dialiri kekuatan gaib perlahan menyusut, mengering, dan terbakar oleh cahaya putih keemasan yang keluar dari dalam tanah akibat sisa kekuatan keris pusaka. Sang dukun hitam akhirnya musnah tanpa sisa, menyisakan bau belerang yang perlahan memudar ditiup angin malam.
Seketika itu juga, langit di atas Bukit Tengkorak bergemuruh. Warna merah darah pada gerhana bulan perlahan memudar, digantikan oleh cahaya bulan purnama yang putih bersih dan meneduhkan. Kabut beracun Halimun Getih yang menyelimuti lereng bukit langsung lenyap menyublim ke udara.
Dawala bernapas lega, menjatuhkan tubuhnya ke tanah yang kini terasa lebih dingin dan tenang. "Alhamdulillah, Cepot... Urang salamet, Gusti... (Alhamdulillah, Cepot... Kita selamat, Tuhan...)" bisik Dawala dengan mata berkaca-kaca. Cepot terduduk lemas di sebelah adiknya, meletakkan keris pusaka yang kini cahayanya meredup, kembali menjadi bentuk Golek Kuning yang kini memiliki guratan wajah tersenyum ramah.
Aki Sasmita berjalan mendekati dua bersaudara tersebut dengan senyuman tulus di wajah sepuhnya. Beliau mengambil kembali Golek Kuning dari samping Cepot. "Kalian sudah melakukan tugas besar malam ini. Tanpa keberanian dan ketulusan hati kalian, tanah pasundan ini akan jatuh ke dalam kegelapan abadi," ujar Aki Sasmita sambil mengusap kepala Cepot dan Dawala bergantian.
Ah, Aki mah bisa waé. Nu penting urang tiasa mulang slamet, Ki (Ah, Aki bisa saja. Yang penting kita bisa pulang selamat, Ki)," balas Cepot sambil menyengir khas, mencoba mencairkan suasana mencekam yang baru saja mereka lalui.
Sebelum mereka melangkah turun dari Bukit Tengkorak, Aki Sasmita memberikan satu pesan terakhir. "Inget, Cepot, Dawala. Kajahatan moal kungsi meunang lamun urang tetep boga kaiman jeung silih tulungan (Ingat, Cepot, Dawala. Kejahatan tidak akan pernah menang jika kita tetap punya keimanan dan saling menolong). Jaga golek Pancasona ini, jadikan pengingat bahwa cahaya akan selalu menang melawan kegelapan."
Dengan langkah kaki yang ringan di bawah siraman cahaya bulan purnama yang indah, Cepot dan Dawala berjalan pulang mengiringi Aki Sasmita. Petualangan menegangkan di Leuweung Larangan dan Bukit Tengkorak telah usai, meninggalkan cerita kepahlawanan dua bersaudara yang tidak akan pernah dilupakan.