NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlahan Diabaikan

Hari demi hari bergulir dengan cepat, namun terasa begitu berat dan lambat bagi mereka berdua. Satu bulan telah berlalu sejak malam itu di hotel. Satu bulan sejak pintu lift tertutup memisahkan mereka, dan satu bulan sejak Aga harus duduk mendengarkan rencana pertunangannya dengan wanita lain di meja makan keluarga.

Dunia seolah kembali berputar pada porosnya yang semula. Aga kembali menjadi CEO yang dingin, tegas, dan sangat fokus pada pekerjaan. Dia menumpahkan seluruh emosi dan kekesalannya dengan bekerja keras menyiksa tubuhnya, membuat jadwalnya padat hingga larut malam setiap harinya. Dia mencoba membunuh rasa rindu dengan kesibukan, mencoba melupakan kehangatan tubuh Nadia dengan dinginnya tumpukan berkas di meja kerjanya.

Begitu juga dengan Nadia. Gadis itu kembali menyibukkan diri dengan rutinitas kantornya yang monoton. Dia berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi di antara mereka. Setiap kali bertemu di lorong kantor atau di lift, mereka hanya saling melempar senyum tipis, sapaan singkat, atau sekadar tatapan mata yang bertukar pesan ribuan kata namun tak terucap.

Terkadang, Aga sengaja datang ke meja bagian administrasi tempat Nadia bekerja, berpura-pura meminta dokumen atau hanya sekadar lewat. Atau sesekali mereka makan siang bersama di kantin perusahaan, namun obrolan mereka hanya berkisar tentang pekerjaan, cuaca, atau hal-hal remeh yang tidak berarti.

Tidak ada satu pun kata yang terucap tentang malam itu.

Tidak ada pembicaraan tentang apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada pertanyaan tentang perasaan masing-masing, dan tidak ada pembicaraan tentang masa depan. Mereka seolah sepakat untuk mengubur kenangan itu dalam-dalam, berpura-pura bahwa malam itu hanyalah mimpi indah yang sebaiknya dilupakan demi menjaga hati masing-masing dan demi menjaga profesionalisme di tempat kerja.

Aga sering membelikannya kopi dari kafe favorit mereka, meletakkannya di meja Nadia dengan diam-diam atau menyampaikannya lewat orang lain. Dan Nadia hanya akan menerimanya dengan senyum getir, meminumnya sambil menahan sesak di dada. Sentuhan mereka kini hanya sebatas tatapan, jauh, dingin, dan penuh sekat.

Namun... tubuh manusia memiliki caranya sendiri untuk berbicara ketika mulut enggan bersuara.

Dua minggu terakhir, kondisi fisik Nadia mulai menunjukkan perubahan yang mencolok. Gadis itu terlihat semakin lemah. Langkah kakinya yang biasanya cepat dan gesit, kini terlihat melambat dan sering kali terhuyung.

"Eh Nad, kamu gak apa-apa?" tanya salah satu rekan kerjanya siang itu saat melihat Nadia duduk lemas di kursinya, wajahnya menempel pada meja. "Wajah kamu pucat banget hari ini. Kamu sakit, Nad?"

Nadia mengangkat kepalanya pelan, mencoba tersenyum namun terlihat sangat lemas. "Enggak kok, Mbak. Cuma mungkin kurang tidur aja. Atau mungkin kecapekan."

"Kamu harus periksa, Nad," sahut temannya yang lain sambil meraba kening Nadia. "Kamu demam? Badanmu kelihatan lemes banget gitu. Atau kamu lagi sakit apa? Dari seminggu lalu kayaknya kamu udah kelihatan lemes terus."

Nadia menggeleng lemah, meski dalam hatinya ada firasat aneh yang mulai mengganggu. Dia merasa lelah yang luar biasa, seolah energinya tersedot habis tanpa sebab. Pusing sering menyerang, dan nafsunya makan benar-benar hilang. Bau makanan tertentu bahkan membuatnya ingin muntah.

"Kayaknya cuma masuk angin biasa deh," jawab Nadia beralasan, meski dia sendiri tidak yakin. "Nanti aku minum obat."

Tapi hari demi hari, kondisinya semakin memburuk. Wajahnya yang dulu ceria kini terlihat pucat pasi, kehilangan warna. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, dan badannya terlihat semakin kurus.

Siang itu, saat sedang mencoba berdiri untuk mengambil berkas di lemari arsip, tiba-tiba pandangan mata Nadia menjadi kabur. Kepalanya terasa sangat berat dan berputar hebat. Dunia seolah bergoyang.

"Ya Ampun... Nad!"

Terakhir yang dia dengar adalah teriakan panik rekan kerjanya sebelum akhirnya kakinya lemas, dan tubuhnya ambruk tak sadarkan diri di lantai ruang kerja.

***

Suasana di lantai bagian keuangan sempat menjadi geger dan ricuh karena kejadian itu. Teriakan panik dan suara langkah kaki yang berlarian terdengar hingga ke koridor utama gedung. Kabar bahwa Nadia—staf bagian keuangan yang dikenal pendiam dan rajin itu—jatuh pingsan dan segera dilarikan ke klinik perusahaan menyebar dengan cepat seperti api yang membakar semak belukar.

Kabar itu pun sampai ke telinga Mario.

Saat itu, Mario baru saja keluar dari ruang rapat untuk mengambil dokumen tambahan yang diperlukan. Seorang staf kantor—Ana—rekan yang paling dekat dengan Nadia, datang menghampiri Aga dengan wajah panik.

"Pak Mario! Nadia dari bagian keuangan tadi jatuh pingsan, Pak!" lapor staf itu dengan napas terengah-engah. "Sekarang dia udah sadar, dia ada di klinik medis perusahaan, tapi mukanya pucat banget."

Mario hanya menoleh sekilas, wajahnya tetap datar, dingin, dan tanpa ekspresi sedikitpun. Tidak ada rasa kaget, apalagi rasa khawatir yang terlintas di matanya. Bagi Mario, nama 'Nadia' hanyalah sumber masalah, bukan seseorang yang perlu dikhawatirkan.

"Oh, begitu," jawabnya singkat, nada suaranya acuh tak acuh, dan tanpa minat, bahkan dia tidak menghentikan langkah kakinya, dia terus berjalan seolah itu adalah hal sepele. "Sudah, urus saja sesuai prosedur. Kalau memang parah, panggilkan ambulans untuk dibawa ke rumah sakit besar. Itu bukan hal yang mustahil ditangani tim medis kan?"

"Tapi... Nadia dekat sama Pak Aga, Pak. Nadia sempat minta tolong aku untuk panggilkan Pak Aga setelah dia sadar," ucap Ana ragu-ragu, masih berdiri di tempatnya.

Mendengar itu, Mario akhirnya berhenti melangkah. Dia perlahan memutar tubuhnya, menatap staf itu dengan tatapan tajam dan menusuk yang membuat orang yang melihatnya langsung gemetar ketakutan.

"Pak Aga sibuk, saat ini dia sedang memimpin rapat strategis yang sangat penting," ucap Mario pelan namun tegas, menekankan setiap katanya. "Jangan pernah ganggu konsentrasi beliau dengan hal-hal remeh seperti ini. Dia sedang membahas proyek bernilai miliaran rupiah yang menentukan nasib perusahaan ini. Jangan campur adukan urusan kantor dengan urusan pribadi yang tidak jelas. Lagian, cuma pingsan biasa kan? Pasti kecapekan atau kurang makan. Nanti juga sembuh."

Tanpa menunggu jawaban atau bantahan, Mario berbalik dan kembali melangkah masuk ke dalam ruang rapat yang megah itu.

Di dalam ruangan yang besar, dingin, dan ber-AC penuh itu, Aga sedang berdiri tegak di depan papan presentasi. Wajahnya tampak serius, penuh wibawa, matanya tajam mengamati data-data yang ditampilkan. Suaranya lantang, logis, dan penuh kekuatan saat menjelaskan strategi perusahaan kepada para direksi. Tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang bisa menebak bahwa di balik wajah dingin dan tegas itu, tersimpan hati yang sedang bergelut dengan badai perasaan.

Mario duduk di sudut ruangan, tangannya sibuk mencatat poin-poin penting, namun pikirannya terus tertuju pada kabar tadi.

Biarkan saja, batin Mario bertekad kuat. Ini justru lebih baik. Kalau Pak Aga tahu, pasti beliau akan langsung lari ke sana, meninggalkan segalanya, dan membiarkan pekerjaan numpuk begitu saja. Dan itu tidak boleh terjadi. Tidak untuk sekarang.

Waktu terus berjalan. Rapat berlangsung sangat lama, hampir dua jam lamanya. Ketika rapat akhirnya selesai dan semua peserta mulai bubar dengan wajah puas, Aga menghela napas panjang, melepas kacamata bacanya dan mengusap pelipisnya yang terasa pening dan tegang.

"Mario," panggil Aga pelan sambil merapikan berkas di tangannya.

"Iya, Pak?" sahut Mario sigap.

"Siapkan jadwal untuk besok pagi. Dan... cek dulu, apa ada pesan atau telepon masuk tidak saat aku rapat tadi? Atau mungkin ada hal mendadak atau masalah yang harus aku tangani?" tanya Aga santai, sama sekali tidak curiga.

Mario menyusun berkas-berkas di tangannya dengan rapi, lalu mengangkat wajahnya, menatap bosnya dengan senyum profesional yang tipis, senyum yang menyembunyikan banyak hal.

"Tidak ada yang mendadak, Pak. Semuanya berjalan lancar dan sesuai jadwal," jawab Mario berbohong dengan sangat tenang dan percaya diri. Dia sama sekali tidak menyebutkan sepatah kata pun tentang Nadia. Tidak menyebutkan kalau gadis itu pingsan, tidak menyebutkan kalau gadis itu sedang dirawat di klinik. Semua informasi itu dia kubur dalam-dalam.

"Baiklah. Ayo kita kembali ke ruangan," ucap Aga sambil berjalan mendahului.

Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor yang panjang dan mewah itu. Hati Mario terasa berat, namun keyakinannya jauh lebih kuat. Dia tahu apa yang dia lakukan mungkin salah, mungkin terlihat kejam, tapi baginya ini adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

Waktu terus berjalan, dan detik terus bergulir menuju tanggal yang ditentukan.

Hanya tinggal hitungan hari.

Tepat tiga hari lagi.

Hanya dalam waktu tiga hari ke depan, Aga akan resmi bertunangan dengan Jenna Wijaya. Acara pertunangan besar dan megah sudah disiapkan sempurna. Keluarga kedua belah pihak sudah siap, undangan untuk pejabat dan pengusaha ternama sudah tersebar, dan seluruh media sudah menantikan momen bersejarah yang akan mengukuhkan posisi Aga sebagai pemimpin masa depan.

Tidak ada ruang untuk kesalahan. Tidak ada ruang untuk gangguan kecil seperti seorang gadis staf bagian keuangan bernama Nadia.

"Pak," sela Mario memecah keheningan saat mereka masuk ke dalam lift. Wajahnya kembali serius. "Tiga hari lagi acara pertunangan Anda dengan Nona Jenna. Semua persiapan sudah final. Gaun, Jas, cincin, tempat, semuanya sudah siap, Pak. Tidak ada yang kurang."

Langkah Aga terhenti sejenak saat pintu lift terbuka di lantai mereka. Dia menatap jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang sibuk di bawah sana. Wajahnya kembali datar, namun ada getaran halus di rahangnya yang menandakan bahwa dia sedang menahan emosi yang sangat besar di dalam sana.

"Aku tahu," jawab Aga pelan, nyaris seperti bisikan yang tertiup angin. "Aku tahu semuanya sudah siap."

Mario menghela napas panjang, dalam hati dia berkata, 'Maafkan saya, Pak Aga. Tapi demi masa depan Bapak, demi kehormatan keluarga Santoso, dan demi bisnis raksasa ini... saya harus melakukan ini. Nadia harus hilang dari pikiran Bapak, mulai detik ini juga, dan selamanya.'

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!