"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Malam kembali merayap di langit Jakarta. Jam digital di ruang tengah apartemen sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika suara kunci pintu berdenting. Gavin melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah agak longgar—dasinya sengaja dilonggarkan, memberikan kesan acak-acakan yang justru menambah daya tarik visualnya. Wajahnya tampak lelah, namun seulas senyum puas masih tertinggal di bibirnya setelah menghabiskan waktu makan malam bersama salah satu klien wanitanya.
Di sofa ruang tengah, Aruna sudah menunggu. Di sampingnya, Kenzie telah tertidur lelap dengan botol susu kosong yang masih dipeluk erat. Wajah bocah itu tampak tenang, bertolak belakang dengan Aruna yang aura di sekitarnya terasa sedingin es.
Gavin yang menyadari kehadiran Aruna langsung memasang senyum andalannya. Ia berjalan mendekat tanpa rasa bersalah, melonggarkan kancing kemejanya dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat dan penuh pesona.
"Belum tidur, Una? Sengaja nungguin suami pulang ya?" goda Gavin, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, tepat di atas kepala Aruna. Ia bahkan sempat mengedipkan sebelah matanya, mencoba mencairkan ketegangan dengan pesona playboy-nya yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati wanita.
Aruna tidak bergeming. Ia bahkan tidak sudi melirik kedipan mata Gavin yang menurutnya sangat salah tempat itu. Hubungan pernikahan mereka yang terjadi karena amanah mendiang kakak-kakak mereka terasa semakin hambar dan berat karena kelakuan pria di hadapannya ini.
"Besok aku akan mulai mengajar lagi. Masa cuti ku sudah habis." ucap Aruna lugas, memotong segala rayuan murahan Gavin. Suaranya datar, namun terselip ketegasan yang tak terbantahkan.
Senyum menawan di wajah Gavin seketika luntur. Matanya yang semula sayu karena lelah langsung membelalak lebar. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Aruna dengan tatapan tidak percaya seolah-olah wanita itu baru saja mengumumkan perang dunia ketiga.
"Maksud kamu apa, Na? Mengajar lagi?" tanya Gavin dengan nada suara yang meninggi, kehilangan topeng ramahnya. "Kamu mau balik kerja?"
"Iya. Masa berkabungku sudah selesai. Aku ngga bisa terus-menerus mengurung diri di sini, dan anak-anak di sekolah sudah terlalu lama kutinggalkan," jawab Aruna tenang, sambil membetulkan selimut Kenzie agar tidak kedinginan.
Gavin mendengus kencang, frustrasi. Ia berjalan mondar-mandir di depan sofa, menjambak rambut klimisnya yang kini mulai berantakan. Pikirannya langsung berputar liar—bukan memikirkan bagaimana kondisi mental Aruna yang mencoba bangkit, melainkan memikirkan kenyamanan hidupnya sendiri yang terancam terusik.
"Terus kalau kamu kerja, Kenzie gimana, Aruna?!" seru Gavin setengah berbisik, takut membangunkan keponakan mereka. "Kamu mikir ngga sih? Kenzie itu masih butuh perhatian penuh. Dia baru aja kehilangan orang tuanya!"
Aruna menengadah, menatap Gavin dengan senyap namun mematikan. "Aku sudah memikirkan semuanya. Besok adalah hari Rabu. Sesuai dengan jadwal pembagian tugas yang kita sepakati—dan yang selalu kamu langgar—hari Rabu dan Kamis adalah giliranmu untuk menjaga Kenzie dari pagi sampai sore karena jadwal kantormu lebih fleksibel. Jadi, besok kamu yang jaga Kenzie di apartemen."
Mendengar hal itu, Gavin rasanya ingin meledak. Jaga Kenzie seharian? Di apartemen? Sendirian? Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya meremang.
"Ngga bisa, Na! Ngga bisa begitu!" tolak Gavin cepat dengan lambaian tangan panik. "Kamu tahu sendiri kan perusahaan Kak Rendy lagi transisi ke tanganku. Aku sibuk banget! Belum lagi besok siang aku ada... ada janji makan siang penting sama rekan bisnis baru."
Rekan bisnis atau kencan baru? Aruna membatin sinis. Ia tahu betul tabiat suaminya yang berkedok "urusan kerjaan" padahal hanya ingin tebar pesona dan berganti-ganti teman kencan setiap malam.
"Gavin, perusahaan Kak Rendy sudah punya jajaran direksi yang solid. Kamu itu pemilik saham, bukan pegawai kantoran yang harus absen jam delapan pagi sampai jam lima sore. Jangan bikin alasan lagi," cecar Aruna, suaranya naik satu oktav.
Gavin mendecak kesal. Sifat aslinya yang egois dan tak mau susah mulai keluar. "Na, denger ya. Waktuku itu berharga. Kalau aku harus di rumah seharian cuma buat ganti popok, nyuapin, bermain dan dengerin Kenzie nangis, waktuku bisa terbuang sia-sia! Finansial kita bisa keganggu. Mending kamu aja yang lepas pekerjaan kamu di TK itu. Toh, uang bulanan dari aku lebih dari cukup buat kamu dan Kenzie!"
Kata-kata 'terbuang sia-sia' yang keluar dari mulut Gavin seperti sebuah tamparan keras bagi Aruna. Dada Aruna bergemuruh hebat, menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Terbuang sia-sia kamu bilang?" Aruna berdiri dari duduknya, menatap Gavin dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena kecewa yang teramat dalam. "Mengurus keponakan kandungmu sendiri, darah daging kakakmu yang sudah tiada, kamu sebut sebagai membuang waktu sia-sia, Gavin?!"
Gavin agak tersentak melihat kilatan amarah di mata Aruna, namun egonya yang setinggi langit menolak untuk mengalah. Ia membuang muka, mendengus pelan sambil membetulkan letak jam tangan mewahnya. "Ya... maksud aku bukan gitu. Tapi kan harusnya ada skala prioritas. Tugas utama istri itu di rumah, ngurus anak."
"Aku mengajar hanya dari jam delapan pagi sampai jam dua siang, Gavin! Hanya enam jam!" potong Aruna dengan suara bergetar. "Dan ini bukan cuma soal pekerjaan. Ini soal tanggung jawab yang sudah aku berikan pada tempat ku bekerja. Kita juga sudah buat persepakat dimana kita berdua akan selalu bergantian mengurus Kenzie. Tapi apa? Kamu selalu punya seribu alasan setiap kali giliranmu tiba!"
Gavin menghela napas panjang, memasang wajah seolah dialah korban yang paling tersakiti di sini. Ia melangkah mendekati Aruna, mencoba merengkuh pundak wanita itu dengan gerakan sok manis untuk meredakan amarahnya—trik andalan yang biasa ia pakai kalau pacar-pacarnya sedang ngambek.
"Udah deh, Na. Jangan hobi membesarkan masalah kecil. Gini aja, besok aku panggilin babysitter infal atau kita titip aja Kenzie ke tempat Mbok Rin di rumah lama. Beres, kan? Aku tetep bisa kerja, kamu tetep bisa mengajar, dan waktuku ngga terbuang buat hal-hal seperti ini. Adil, kan?" Gavin tersenyum meremehkan, mengedipkan matanya sekali lagi dengan percaya diri.
Aruna menepis kasar tangan Gavin yang berada di pundaknya. Rasa muak menjalar ke seluruh tubuhnya melihat sikap suaminya yang begitu dangkal dan menganggap semua hal bisa diselesaikan dengan uang atau kedipan mata.
"Kenzie belum siap bertemu orang asing, Gavin! Dan rumah lama terlalu jauh. Kamu kan tau sendiri Kenzie masih trauma setelah kejadian itu!" Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya yang hampir menangis karena lelah batin.
Ia menatap Gavin lurus-lurus, dengan pandangan paling dingin yang pernah ia miliki. "Aku tidak mau tahu. Besok jam tujuh pagi aku berangkat. Kalau sampai jam delapan pagi kamu belum bangun atau kamu berani melangkah keluar dari pintu apartemen ini dan menelantarkan Kenzie... aku bersumpah akan membawa Kenzie pergi dari sini, dan kamu tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk menepati janjimu pada Bang Rendy."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman itu, Aruna langsung menggendong tubuh lelap Kenzie dengan hati-hati. Ia berjalan melewati Gavin begitu saja, meninggalkan suaminya yang mematung di tengah ruangan dengan wajah melongo dan dongkol setengah mati.
Gavin menatap kepergian Aruna dengan jengkel. "Sialan," umpatnya lirih. Rencana kencannya dengan model majalah besok siang mendadak buyar berantakan hanya karena urusan mengurus bocah kecil. Dengan kesal, Gavin menendang angin, merutuki nasibnya yang harus terkekang dalam pernikahan dan tanggung jawab yang sama sekali tidak ia inginkan ini.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor