Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : LANGKAH MENUJU HARI YANG TERTUNDA
...BAB 30 ...
...LANGKAH MENUJU HARI YANG TERTUNDA...
Matahari sudah condong ke barat ketika mobil Alina memasuki halaman rumah. Langit mulai dihiasi semburat jingga yang lembut, seolah menjadi penanda bahwa satu hari yang panjang akhirnya hampir usai. Alina mematikan mesin mobilnya, lalu mengembuskan napas perlahan. Wajahnya tampak tenang, tetapi jauh di dalam hatinya masih tersimpan percakapan terakhir dengan Raka di balik ruang kunjungan penjara.
Ucapan pria itu terus terngiang di benaknya. Ada penyesalan, ada luka, dan ada masa lalu yang akhirnya benar-benar selesai. Namun Alina memilih menyimpan semuanya sendiri. Tidak semua hal harus diceritakan kepada orang lain. Ada luka yang cukup dijadikan pelajaran, bukan untuk terus dikenang.
Ia merapikan hijabnya di depan kaca mobil, kemudian turun sambil membawa tas kerja. Begitu memasuki rumah, aroma teh hangat langsung menyambutnya.
Di ruang tamu, Farhan sedang berbincang santai bersama Pak Aditya, Papanya yang kesehatannya sudah mulai membaik. Di atas meja telah tersaji teh hangat, pisang goreng, dan beberapa camilan kesukaan keluarga Mahendra.
"Assalamu'alaikum," sapa Alina sambil tersenyum.
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya hampir bersamaan.
Farhan segera berdiri menghampiri.
"Kamu baru pulang?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.
Alina mengangguk pelan.
"Iya."
Pak Aditya memperhatikan wajah putrinya beberapa saat.
"Kamu kelihatan capek sekali, Nak."
Alina tersenyum tipis.
"Sedikit, Pah. Hari ini memang lumayan melelahkan."
Pak Aditya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu istirahat dulu. Papa mau lihat Ibu di belakang."
Beliau sengaja meninggalkan ruang tamu agar memberi kesempatan kepada calon pasangan itu berbincang tanpa merasa sungkan.
Setelah Pak Aditya pergi, suasana berubah lebih tenang. Hanya terdengar suara jam dinding dan semilir angin dari jendela yang terbuka.
Farhan menarik salah satu kursi.
"Duduk dulu."
Alina mengangguk lalu meletakkan tasnya.
Farhan berdiri.
"Aku buatkan teh hangat, ya."
"Nggak usah repot."
"Nggak repot. Aku juga mau bikin lagi buat diriku."
Beberapa menit kemudian Farhan kembali membawa dua cangkir teh hangat. Kebiasaannya membantu di rumah keluarga Mahendra membuat semua terasa begitu alami.
"Terima kasih, Han."
"Sama-sama."
Mereka menikmati teh dalam diam selama beberapa saat.
Farhan sesekali mencuri pandang ke arah Alina yang tampak lebih banyak melamun daripada biasanya.
Akhirnya ia membuka percakapan.
"Kamu dari mana?"
Alina mengusap bibir cangkirnya pelan sebelum menjawab.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Urusan pekerjaan?"
Alina mengangguk. "Kurang lebih begitu."
Farhan tidak langsung bertanya lagi. Ia mengenal Alina sebagai sosok yang terbuka. Jika hari ini perempuan itu memilih diam, pasti ada alasan yang tidak sederhana.
Meski begitu rasa penasarannya tetap muncul.
"Boleh aku tahu?"
Alina menatap Farhan beberapa detik, lalu tersenyum lembut.
"Maaf, Han. Untuk sekarang... aku belum bisa cerita."
Farhan mengangguk tanpa menunjukkan kekecewaan.
"Nggak apa-apa."
"Kamu nggak penasaran?"
"Pasti penasaran."
"Lalu kenapa nggak memaksa?"
Farhan tersenyum tipis.
"Karena aku percaya sama kamu. Kalau memang belum waktunya diceritakan, berarti memang belum saatnya aku tahu."
Jawaban sederhana itu membuat hati Alina menghangat.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena kamu selalu percaya padaku."
Farhan tersenyum.
"Kepercayaan itu dijaga dua arah. Aku percaya sama kamu, dan aku yakin kamu juga menjaga kepercayaan itu."
Alina mengangguk pelan.
"Iya."
Sesaat mereka kembali larut dalam keheningan. Namun kali ini suasananya terasa nyaman, bukan canggung.
Alina lalu teringat sesuatu.
"Tunggu sebentar."
Farhan mengernyit.
"Mau ke mana?"
"Ada yang tertinggal di mobil."
Alina keluar sebentar, lalu kembali membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam.
"Nah... ini buat kamu."
Farhan tampak terkejut.
"Hadiah?"
"Iya."
"Tapi ini bukan ulang tahunku."
"Memang bukan."
"Terus?"
Alina tersenyum kecil.
"Nggak harus menunggu hari istimewa untuk berterima kasih kepada seseorang, kan!"
Farhan membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan hitam dengan desain sederhana namun elegan. Ia membalik bagian belakangnya. Di sana terukir kalimat pendek.
Untuk seseorang yang selalu percaya.
Farhan terdiam beberapa saat.
"Kamu sengaja pesan ukiran ini?"
"Iya."
"Terima kasih."
Alina tersenyum. "Aku cuma ingin kamu tahu, selama semua masalah ini terjadi, kamu selalu ada. Kamu nggak banyak bicara, tapi selalu mendukungku."
Farhan memandang jam tangan itu penuh rasa syukur. "Aku hanya melakukan apa yang memang seharusnya."
"Itulah yang membuat semuanya terasa berarti."
Farhan langsung mengenakan jam tangan tersebut.
"Cocok?"
"Cocok."
"Nanti akan selalu kupakai."
Alina tersenyum puas.
"Itu yang aku harapkan."
Tak lama kemudian Pak Aditya kembali ke ruang tamu.
"Wah, ada hadiah rupanya."
Farhan tersenyum malu. "Alina yang kasih, Om."
Pak Aditya mengangguk sambil tersenyum bijak.
"Semoga jam itu selalu mengingatkan bahwa hubungan yang baik dibangun dari saling percaya."
"Aamiin," jawab mereka bersamaan.
*****
Beberapa hari kemudian. Hari yang selama ini dinanti akhirnya tiba. Sidang etik yang menyeret nama Alina resmi ditutup. Seluruh tuduhan terhadapnya dinyatakan tidak terbukti. Semua bukti yang diajukan selama persidangan justru membuktikan bahwa Alina adalah korban fitnah yang direncanakan dengan sangat rapi.
Keputusan itu disambut lega oleh banyak pihak.
Media mulai memberitakan pemulihan nama baik Alina. Banyak orang yang sebelumnya ragu kini justru mengakui keberanian dan integritasnya dalam mempertahankan kebenaran.
Di kantor hukum tempatnya bekerja, suasana terasa lebih hangat dari biasanya.
Begitu Alina memasuki ruangan, tepuk tangan langsung terdengar.
"Selamat, Bu Alina!"
"Alhamdulillah akhirnya semua selesai."
"Kami memang yakin Ibu tidak bersalah."
Salah seorang rekan kerja bahkan menyerahkan sebuket bunga sebagai ucapan selamat.
Alina tersenyum haru.
"Terima kasih atas doa dan kepercayaan kalian semua. Dukungan kalian sangat berarti untuk saya."
Pimpinan kantor hukum juga menghampirinya.
"Kami bangga memiliki pengacara yang tetap teguh memegang prinsip, meski harus menghadapi tekanan sebesar apa pun."
Alina mengangguk hormat.
"Insyaallah saya hanya berusaha menjalankan amanah sebaik mungkin."
Bukan hanya di kantor. Beberapa klien yang pernah ditanganinya sengaja datang untuk memberikan ucapan selamat. Mereka kembali mempercayakan berbagai perkara hukum kepada Alina.
Nama Alina Mahendra kini semakin dikenal sebagai pengacara muda yang berani memperjuangkan keadilan tanpa mengorbankan integritas.
*****
Sore harinya. Farhan kembali datang ke rumah Mahendra. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, wajahnya tampak jauh lebih lega.
Pak Aditya dan Bu Kirana sudah menunggu di ruang keluarga.
"Silakan duduk, Han," ujar Bu Kirana ramah.
"Terima kasih, Tante."
Tak lama kemudian Alina ikut bergabung membawa minuman.
Pak Aditya tersenyum. "Alhamdulillah. Akhirnya semua persoalan selesai."
"Alhamdulillah, Pah."
Farhan memandang Pak Aditya dengan wajah sedikit serius.
"Om... kalau boleh, saya ingin menyampaikan sesuatu."
Pak Aditya mengangguk.
"Silakan, Nak Farhan..."
Farhan menarik napas perlahan.
"Soal pernikahan yang tertunda... Sebab masalah persidangan kasus Raka."
"Iya."
"Dan sekarang, alhamdulillah semuanya sudah jelas. Nama baik Alina sudah dipulihkan kembali."
Pak Aditya tersenyum. "Jadi?"
"Saya ingin melanjutkan rencana pernikahan kami." Wajah Farhan langsung memerah malu-malu setelah menyampaikan itu.
Bu Kirana spontan tersenyum bahagia.
"Itu kabar yang paling kami tunggu."
Alina hanya menunduk malu sambil memainkan ujung hijabnya.
Pak Aditya memandang Farhan dengan penuh kebanggaan.
"Selama ini kamu sudah membuktikan kesabaranmu. Tidak semua laki-laki mampu tetap bertahan ketika calon istrinya diterpa masalah sebesar ini."
Farhan menggeleng pelan. "Saya hanya berusaha menepati janji, Om."
"Janji apa?"
"Dulu saya pernah bilang akan tetap mendampingi Alina dalam keadaan apa pun. Kalau saya pergi saat dia sedang diuji, berarti janji itu tidak ada artinya."
Ucapan itu membuat suasana menjadi hening sejenak.
Bu Kirana mengusap sudut matanya yang mulai berkaca-kaca.
Pak Aditya lalu menepuk bahu Farhan.
"Papa percaya, Alina berada di tangan orang yang tepat."
Farhan tersenyum penuh hormat.
"Terima kasih, Om."
Pak Aditya kemudian menoleh kepada Alina.
"Bagaimana menurutmu?"
Alina tersenyum sambil mengangguk.
"Aku siap, Pah."
Bu Kirana tersenyum semakin lebar.
"Kalau begitu besok kita mulai bicarakan lagi tanggal akad. Kali ini semoga Allah mudahkan sampai hari bahagia itu benar-benar tiba."
"Aamiin," jawab mereka hampir bersamaan.
Sore itu dipenuhi rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Tidak ada lagi ketakutan.
Tidak ada lagi fitnah yang membayangi.
Semua ujian yang sempat menghentikan langkah mereka kini telah berubah menjadi pelajaran berharga tentang kesabaran, keikhlasan, dan arti sebuah kepercayaan.
Alina menatap kedua orang tuanya, lalu memandang Farhan yang kini tersenyum tenang di hadapannya.
Perjalanan mereka memang sempat tertunda oleh badai yang hampir merenggut impian itu. Namun Allah selalu memiliki waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Setelah kebenaran ditegakkan dan semua luka perlahan sembuh, jalan menuju kebahagiaan kembali terbuka.
Hari yang dulu sempat tertunda itu... kini benar-benar sudah berada di depan mata.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏