Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roti Hangat dan Tatapan Dingin
Pagi datang bukan dengan sapaan cahaya matahari yang hangat, melainkan dengan warna abu-abu pucat yang merembes malu-malu melalui kaca jendela yang kotor.
Di luar, badai semalam telah mereda, menyisakan langit yang tertutup awan timah tebal yang menggantung rendah, seolah atap dunia telah runtuh menimpa Menara Barat.
Elara terbangun dengan sentakan pelan saat kepalanya terbentur sandaran kursi kayu yang keras.
Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa sakit. Rasa nyeri yang tumpul menjalar dari leher, turun ke punggung, hingga ke pinggangnya.
Tidur dalam posisi duduk dengan tubuh terbungkus jubah tebal dan gaun wol ternyata menyiksa otot-ototnya yang tidak terbiasa. Namun, rasa sakit itu segera kalah oleh sensasi lain yang lebih mendesak: dingin.
Api di perapian—yang memang tidak pernah menyala—tentu saja tidak memberikan kehangatan. Udara di dalam kamar itu membeku. Saat Elara menghembuskan napas, uap putih tebal keluar dari mulutnya, berputar-putar sejenak sebelum menghilang.
Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun jemarinya terasa kaku seperti kayu. Dengan susah payah, Elara bangkit berdiri. Lututnya gemetar, protes karena dipaksa menahan berat tubuh setelah semalaman menekuk dalam posisi yang tidak wajar. Ia berjalan terseok-seok menuju meja tulis, tempat baskom air yang ditinggalkan Silas semalam berada.
Elara berniat membasuh wajahnya untuk mengusir rasa kantuk, namun langkahnya terhenti.
Air di dalam baskom itu telah berubah menjadi bongkahan es padat.
Elara menatap permukaan es yang keruh itu dengan pandangan kosong. Semalam, air ini hangat. Hanya dalam beberapa jam, udara di kamar ini mampu membekukan air hingga ke intinya. Jika ia tidak mengenakan pakaian berlapis-lapis semalam, mungkin darah di venanya pun akan ikut membeku saat ia tidur.
Realitas situasinya menghantamnya lebih keras daripada angin utara: Kaelen tidak menempatkannya di kamar tamu yang buruk; suaminya itu menempatkannya di dalam lemari pendingin raksasa.
Perutnya berbunyi nyaring, sebuah protes kemarahan dari tubuh yang belum diisi makanan layak sejak kemarin siang. Elara melirik nampan makanan yang dibawa Martha.
Lemak di permukaan sup rusa itu telah membeku menjadi lapisan putih tebal yang menjijikkan. Rotinya sekeras batu bata.
Tidak. Ia tidak akan memakan sampah ini.
Elara memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang berserakan di lantai dingin itu. Ia adalah putri seorang Baron. Ia sekarang adalah seorang Duchess, istri sah dari penguasa wilayah ini. Ia tidak akan mati kelaparan di menara terpencil hanya karena takut menghadapi pelayan yang kasar.
Dengan tangan gemetar, Elara merapikan rambutnya sebisa mungkin menggunakan pantulan samar di kaca jendela. Ia tidak memiliki cermin. Ia mengencangkan ikatan jubahnya, memastikan tidak ada celah bagi angin untuk masuk, lalu berjalan menuju pintu.
Gagang pintu besi itu terasa membakar telapak tangannya saking dinginnya. Ia memutarnya. Berat, berkarat, tapi terbuka.
Elara menuruni tangga spiral batu itu dengan hati-hati. Setiap langkahnya bergema di keheningan menara yang mati. Tap. Tap. Tap. Debu beterbangan di setiap pijakan kakinya, menari-nari dalam sorotan cahaya suram yang masuk dari celah ventilasi.
Saat ia membuka pintu utama menara dan melangkah keluar menuju jembatan penghubung, angin pagi langsung menyambutnya. Kali ini, tanpa kegelapan malam yang menutupi pandangan, Elara bisa melihat dengan jelas kengerian tempat tinggal barunya.
Jembatan batu itu sempit, tanpa atap, dan licin oleh lapisan es baru. Di bawahnya, jurang menganga lebar. Elara memberanikan diri melirik ke bawah. Jauh di dasar sana, ratusan meter di bawah kakinya, sungai hitam mengalir deras di antara bebatuan tajam yang tertutup salju.
Suara gemuruh airnya terdengar samar namun mematikan. Satu langkah yang salah di jembatan licin ini, dan ia akan menjadi bagian dari sejarah kelam Blackiron.
Elara mencengkeram pagar jembatan, sarung tangannya mencicit bergesekan dengan batu beku. Ia melangkah perlahan, menundukkan kepala melawan angin, menuju bangunan utama kastil yang berdiri kokoh di seberang jurang.
Bangunan utama itu tampak seperti dunia yang berbeda. Dinding batunya lebih terawat. Asap mengepul dari belasan cerobong asap, menandakan kehidupan dan kehangatan di dalamnya.
Saat Elara mencapai pintu masuk sisi barat kastil utama dan mendorongnya terbuka, sensasi hangat langsung memeluk tubuhnya. Bukan panas yang menyengat, melainkan kehangatan sisa pembakaran perapian yang terjaga semalaman. Aroma kayu bakar, lilin lebah, dan sesuatu yang jauh lebih menggoda—aroma roti panggang—tercium di udara.
Elara berada di koridor panjang yang sepi. Karpet merah tua yang sudah memudar tergelar di lantai, meredam suara langkah kakinya. Ia tidak tahu arah menuju ruang makan, atau dapur, atau di mana pun ia bisa menemukan manusia. Jadi, ia mengikuti hidungnya.
Ia berjalan melewati deretan lukisan leluhur keluarga Draxos. Pria-pria berwajah keras dengan mata abu-abu yang sama dengan Kaelen menatapnya dari balik bingkai emas yang berdebu. Mereka semua memegang pedang, atau berdiri di atas bangkai hewan buruan. Tidak ada satu pun lukisan wanita di koridor ini. Seolah-olah wanita tidak pernah ada dalam sejarah keluarga ini, atau mungkin, keberadaan mereka tidak dianggap cukup penting untuk diabadikan.
Suara denting panci dan percakapan samar terdengar dari ujung lorong. Elara mempercepat langkahnya. Ia berbelok di sudut koridor, menuruni beberapa anak tangga batu, dan menemukan sebuah pintu ganda yang terbuka lebar.
Dapur Kastil Blackiron.
Ruangan itu sangat besar, dengan langit-langit tinggi yang menghitam karena asap bertahun-tahun. Tiga perapian raksasa menyala serentak, memanggang daging dan merebus panci-panci besar berisi sup. Puluhan pelayan sibuk berlalu-lalang seperti semut pekerja.
Ada yang memotong sayuran dengan kecepatan tinggi, ada yang mengangkut karung tepung, ada yang sedang mengaduk adonan roti.
Kehangatan di ruangan itu begitu intens hingga membuat pipi Elara yang beku terasa perih. Aroma ragi, bawang putih tumis, dan daging asap memenuhi rongga dadanya, membuat air liurnya nyaris menetes.
Elara melangkah masuk.
Satu detik berlalu. Dua detik.
Seseorang menyadari kehadirannya. Seorang gadis pencuci piring yang sedang membawa tumpukan piring kotor menjatuhkan sebuah sendok perak. Tring!
Suara itu memicu reaksi berantai. Satu per satu, para pelayan menghentikan aktivitas mereka. Suara pisau yang mencincang berhenti. Percakapan mati seketika. Puluhan pasang mata kini tertuju pada sosok asing yang berdiri di ambang pintu dapur.
Elara berdiri tegak, meski lututnya terasa goyah. Ia tampak sangat kontras dengan suasana dapur yang sibuk dan berminyak. Pakaiannya adalah gaun tidur wol yang ditutupi jubah perjalanan mewah yang kini kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya pucat pasi.
Namun, postur tubuhnya tetap tegak, dagunya diangkat sedikit—sebuah kebiasaan yang ditanamkan ibunya sejak kecil: 'Jika kau takut, angkat dagumu agar mereka tidak melihat gemetar di bibirmu.'