Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Matahari sore baru saja bergeser ke barat, namun Rindu Prameswari sudah berdiri di depan gerbang Fakultas Olahraga. Sengaja ia meminta sopir pribadinya untuk menurunkan dirinya tiga puluh menit lebih awal dari jadwal. Bukan karena ia bersemangat, melainkan karena ia tidak tahan berlama-lama berada di dalam mobil jemputan bentukan ayahnya yang terasa seperti peti mati berjalan.
Rindu melangkah masuk menyusuri koridor fakultas dengan langkah yang terasa begitu berat. Setiap ketukan sol sepatunya di atas ubin koridor seolah menggaungkan rasa frustrasi yang menumpuk di dadanya.
Tas ransel besar berisi perlengkapan renang yang biasanya terasa ringan, kini terasa seperti bongkahan batu yang menekan pundaknya ke bawah. Wajahnya ditekuk datar, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin dan defensif. Ia sengaja menarik topi jepitnya agak rendah, berusaha menyembunyikan sepasang mata sembap yang kurang tidur akibat menangis semalaman.
Begitu melewati pintu masuk area kolam renang indoor, aroma tajam kaporit langsung menyengat indra penciumannya. Langkah Rindu sempat terhenti kaku di ambang pintu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, memicu memori traumatis bentakan Coach Hermawan dan tatapan dingin ayahnya tadi pagi kembali berputar di kepala.
Rindu memejamkan mata sejenak, mengepalkan tinjunya kuat-kuat di dalam saku jaket olahraga tebalnya.
“Gue cuma perlu gugur kewajiban di sini. Habis itu pulang,” batin Rindu membentengi diri.
Area kolam renang universitas itu masih sangat sepi. Belum ada tanda-tanda kehadiran anak-anak UKM atau mahasiswa lain. Air kolam yang berwarna biru jernih itu tampak begitu tenang, memantulkan cahaya matahari sore yang menembus jendela-jendela kaca besar di langit-langit gedung.
Rindu berjalan menuju bangku tribun penonton di sisi kolam, lalu mencampakkan tasnya ke atas kursi plastik dengan kasar. Ia duduk di sana sendirian, melipat kedua tangan di dada sambil menatap tajam ke arah balok start lintasan empat. Di tempat asing inilah harga dirinya sebagai pemegang rekor nasional dipaksa untuk tunduk di bawah arahan seorang mahasiswa tingkat akhir yang bahkan belum ia ketahui rekam jejak prestasinya.
Rindu bersiap memasang tembok pertahanan setinggi mungkin. Jika mahasiswa bernama Kenzo Adhyaksa itu datang dan berani berlagak mengatur atau membentaknya, Rindu bersumpah tidak akan sudi menyentuh air kolam itu, bahkan jika ayahnya harus menyita seluruh medalinya sekalipun.
Suara derit pintu besi area kolam renang memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti Rindu.
Kenzo melangkah masuk ke dalam area indoor dengan gaya yang sangat santai, jauh dari bayangan sosok pelatih kaku yang ada di kepala Rindu. Ransel besarnya disandang di satu bahu, sementara tangan kanannya memegang sebuah papan klip. Begitu matanya menyapu area sekitar, Kenzo langsung mendapati sesosok gadis yang sedang berdiri tegak di tepi kolam, menatap lurus ke dalam air biru jernih itu dengan punggung yang kaku dan defensif.
Kenzo tidak langsung memanggil atau mengejutkannya. Ia sengaja memperlambat langkah kakinya, berjalan memutar melewati pinggir kolam. Dari jarak beberapa meter, ia mengamati profil samping Rindu Prameswari. Gadis itu tampak mungil dalam balutan jaket olahraga tebalnya, namun aura "Ratu Lintasan" itu tetap terpancar sekaligus memperlihatkan kerapuhan yang disembunyikan rapat-rapat di balik rahangnya yang mengeras.
Kenzo berhenti tepat beberapa langkah di samping Rindu, ikut menatap air kolam yang tenang tanpa riak.
"Airnya lumayan dingin kalau jam segini. Tapi kaporitnya nggak sekeras di klub elite, jadi nggak bakal bikin mata lo perih," suara Kenzo memecah keheningan, terdengar renyah dan kasual, sama sekali tidak ada nada mengancam atau menuntut.
Rindu sedikit tersentak, lalu menolehkan kepalanya dengan cepat. Sepasang matanya yang dingin langsung menatap tajam ke arah Kenzo, mengamati cowok jangkung berkaos hitam polos di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki memiliki postur atletis.
"Lo... Kenzo?" tanya Rindu dengan nada ketus dan penuh selidik, sengaja menjaga jarak pertahanannya.
Kenzo tidak tersinggung dengan sapaan ketus itu. Ia justru menurunkan papan klipnya, lalu mengulurkan tangan kanan sambil melempar senyum tipis yang ramah.
"Kenzo Adhyaksa. Pelatih privat lo—atau lebih tepatnya, orang yang ditugasin buat nemenin lo berenang di sini," jawab Kenzo tenang.
Rindu menatap uluran tangan itu selama beberapa detik tanpa niat untuk membalasnya. Ia malah melipat kembali kedua tangannya di dada, membuang muka kembali ke arah kolam.
"Gue ke sini cuma karena dipaksa bokap gue. Jadi, jangan harap gue bakal nurutin semua menu latihan gila lo kayak yang biasa dilakuin pelatih-pelatih senior." Ucap Rindu ketus.
Kenzo menarik kembali tangannya dengan santai, lalu terkekeh pelan. Sikap ketus Rindu justru membuatnya merasa tertantang.
"Siapa juga yang mau ngasih menu latihan gila?" Kenzo berjalan selangkah ke depan, lalu duduk di tepi kolam dengan kaki yang dibiarkan menggantung di atas permukaan air. Ia menoleh ke atas, menatap Rindu yang masih berdiri kaku. "Sore ini gue bahkan nggak bawa stopwatch. Lo mau langsung nyebur, atau mau berdiri terus di situ sampai masuk angin?" Ucap Kenzo dengan nada santai.
Kenzo tidak berniat meladeni perdebatan itu lebih jauh. Sambil bersiul pelan, ia bangkit dari tepi kolam, membalikkan badan, dan melangkah santai menuju deretan kursi pelatih di sudut ruangan. Ia mengabaikan tatapan mata Rindu yang seolah ingin menguliti punggungnya hidup-hidup.
Melihat dirinya diabaikan begitu saja, kekesalan Rindu memuncak. Dengan menyentakkan kakinya dengan keras ke lantai porselen menimbulkan bunyi plak-plak yang nyaring Rindu terpaksa berjalan mengikuti Kenzo dari belakang. Egonya terluka, namun ia tidak punya pilihan lain.
"Di mana kamar ganti cewek?!" tembak Rindu ketus saat jarak mereka sudah dekat, suaranya naik satu oktav karena dongkol.
Kenzo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia bahkan tidak menghentikan kegiatannya yang sedang menaruh tas ransel di atas kursi. Dengan gerakan super santai, cowok itu hanya mengangkat tangan kirinya, lalu ibu jarinya menunjuk ke arah koridor pendek di sisi kiri tribun, di mana terdapat papan penunjuk arah berlogo siluet wanita.
Rindu mendengus kasar melihat respons super irit dan cuek dari pelatih mahasiswanya ini.
"Gak punya mulut ya," gerutu Rindu pelan, sengaja agar Kenzo mendengarnya.
Ia menyambar tas olahraganya dengan sentakan kasar, membalikkan tubuh, dan melangkah lebar-lebar menuju ruang ganti yang ditunjuk. Rindu bersumpah dalam hati, ia akan sengaja berlama-lama di dalam ruang ganti hanya untuk menguji sampai di mana batas kesabaran cowok menyebalkan bernama Kenzo Adhyaksa itu.
Kenzo tertawa kecil melihat punggung Rindu yang akhirnya menghilang di balik pintu ruang ganti cewek. Gelengan kepalanya menyertai senyum yang tertahan di sudut bibirnya.
"Keras kepala banget," gumam Kenzo pelan.
Ia bisa mendengar bunyi bantingan pintu ruang ganti yang cukup keras dari tempatnya berdiri. Jelas sekali gadis itu sengaja menyalurkan kekesalannya pada fasilitas kampus. Namun, alih-alih merasa kesal atau terancam dengan sikap defensif Rindu,
Kenzo justru merasa sedikit lega. Marah dan ketus jauh lebih baik daripada tatapan kosong putus asa yang ia lihat di berkas profil Rindu semalam. Selama gadis itu masih punya energi untuk kesal, artinya mentalnya belum sepenuhnya mati.
Kenzo berjalan santai ke arah loker penyimpanan, meletakkan papan klipnya di atas meja juri, lalu mulai melakukan peregangan ringan untuk dirinya sendiri. Ia tahu persis trik Rindu. Gadis itu pasti sengaja mengulur waktu di dalam sana, berharap Kenzo akan kehilangan kesabaran, mulai mengetuk pintu, atau minimal menunjukkan wajah gusar saat dia keluar nanti.
"Silakan aja lama-lamain di dalem, Rindu," ucap Kenzo pada keheningan kolam sambil melirik jam dinding besar di atas tribun.
Ia sengaja mendudukkan dirinya di kursi pelatih, meluruskan kakinya yang panjang, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa kembali beberapa poin kecil revisi skripsinya yang sempat ia pindahkan ke catatan digital. Kenzo siap meladeni permainan taktik ini. Sore ini, ia punya seluruh waktu di dunia untuk menunggu sang Ratu Lintasan keluar dari persembunyiannya.
Sementara itu, di dalam ruang ganti wanita yang sunyi, Rindu sedang berdiri di depan cermin besar. Ia baru saja selesai memakai baju renang one-piece hitam andalannya, namun tangannya tertahan saat hendak mengikat rambutnya yang panjang menjadi kuncir kuda.
Wajahnya masih merona merah, campuran antara kesal dan rasa malu yang tiba-tiba menyergap.
"Cik! Dasar nyebelin! Belum aja sehari sama dia tapi sudah bikin kesal saja!" gerutu Rindu pada pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia menyentak ikat rambutnya dengan gemas.
Namun, sedetik kemudian, bayangan senyum santai Kenzo saat duduk di tepi kolam tadi mendadak melintas di kepalanya. Rindu terdiam. Matanya mengerjap lambat, menatap lurus ke arah cermin saat kilasan visual cowok itu kembali berputar. Bahunya yang tegap, kaos hitam yang pas di badannya, dan caranya bicara yang tidak pakai urat.
“Kalau diperhatikan... ganteng juga sih. Gak bosanin kayak muka magrib milik Coach Hermawan” gumam Rindu dengan pelan dan jujur, membandingkan wajah menyegarkan Kenzo dengan wajah sangar penuh kerutan pelatih lamanya yang selalu sukses bikin dia jantungan.
Seketika, mata Rindu membelalak menyadari apa yang baru saja ia pikirkan. Ia langsung menepuk kedua pipinya sendiri dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi plak.
"Astaga, Rin... lo lagi bayangin apa sih?!" bisiknya histeris, merutuki kebodohannya sendiri.
Bisa-bisanya di tengah situasi tertekan begini, otaknya malah sempat-sempatnya mengagumi ketampanan mahasiswa yang ditunjuk ayahnya itu. Rindu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha membuang jauh-jauh pikiran melantur itu dari kepalanya.
Ia menarik napas dalam-dalam, membusungkan dada, dan kembali memasang wajah sedingin es yang paling maksimal. Setelah memastikan kacamata renang dan penutup kepalanya terpasang sempurna, Rindu membuka pintu ruang ganti dengan hentakan mantap. Ia harus keluar sekarang sebelum otaknya makin berpikiran yang tidak-tidak tentang pelatih barunya itu.
Rindu melangkah keluar dari ruang ganti dengan langkah yang sengaja dibuat terdengar tegas. Tembok pertahanannya sudah kembali kokoh. Namun, begitu matanya menyapu tepi kolam, ia mendapati Kenzo sedang bersandar santai di kursi pelatih, matanya fokus menatap layar ponsel di genggamannya tanpa mempedulikan sekitar.
Rindu mendengus sinis. Rasa kesalnya yang tadi sempat luntur kini kembali naik ke permukaan. Ia merasa diremehkan.
"Lo ke sini mau ngelatih atau main hape?" tembak Rindu ketus, berdiri beberapa langkah di depan Kenzo sambil melipat tangan di dada.
Kenzo tidak langsung melompat panik atau buru-buru menyembunyikan ponselnya. Dengan gerakan yang sangat konstan dan tenang, ia menyelesaikan ketikan terakhir pada draf revisi bab empatnya, menyimpannya ke cloud storage, baru kemudian menurunkan ponsel tersebut.
Kenzo mendongak, menatap sesaat Rindu di depannya dengan tenang. Dari posisi duduknya, Kenzo bisa melihat bagaimana baju renang hitam itu melekat pas di tubuh atletis Rindu. Postur tubuhnya memang proporsional sebagai seorang perenang profesional.
Namun, Kenzo juga tidak buta untuk melihat bagaimana cengkeraman tangan Rindu pada lengannya sendiri begitu erat sebuah gestur pertahanan diri yang sangat jelas.
"Dua-duanya," jawab Kenzo santai, suaranya tetap rendah dan tidak terpancing emosi. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana olahraga. "Gue lagi beresin revisi skripsi yang bisa nentuin masa depan kelulusan gue, sekaligus nungguin lo selesai 'konser' di dalam ruang ganti yang makan waktu hampir dua puluh menit."
Kenzo bangkit berdiri, membuat Rindu terpaksa mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup kontras.
"Tapi karena lo sekarang udah siap..." Kenzo berjalan melewati Rindu menuju tepi lintasan empat, lalu menoleh sekilas. "Mau mulai dari mana? Mau langsung pamer gaya bebas andalan lo, atau mau pemanasan dulu biar otot lo yang kaku itu gak kram di dalam air?"
Rindu tertawa sinis, sebuah tawa hambar yang penuh dengan nada sarkasme. Ia melangkah mendekati tepi kolam, menatap air dengan pandangan dingin sebelum kembali mengarahkan matanya pada Kenzo.
"Biasanya pelatih langsung kasih menu program latihan yang buat atletnya mati kutu," cetus Rindu, menyindir cara melatih Coach Hermawan yang selalu menjejalkannya ratusan meter latihan berat tanpa peduli kondisinya. "Kenapa? Lo bingung mau ngasih menu apa karena belum punya lisensi?"
Mendengar sindiran tajam itu, Kenzo justru tertawa rendah. Bukan tawa meremehkan, melainkan tawa yang terdengar begitu tenang, seolah ia sudah bisa membaca isi kepala gadis di hadapannya ini.
"Jangan samakan saya dengan pelatih kamu," ujar Kenzo.
Seketika, Kenzo mengubah gaya bicaranya. Nada suaranya yang tadinya santai dan kasual kini berubah menjadi berat, dalam, dan dipenuhi penekanan yang begitu berwibawa. Tatapan matanya yang teduh mendadak mengunci sepasang mata Rindu, menembus langsung ke dalam pertahanan yang sejak pagi dibangun gadis itu.
Perubahan drastis itu tak pelak membuat jantung Rindu berdegup dua kali lebih cepat. Ada getaran aneh yang mendadak menyergap dadanya, membuat ujung jarinya mendingin karena deg-degan. Sosok mahasiswa santai yang tadi ia lihat, kini menguap, digantikan oleh aura seorang mentor yang sangat dominan.
"Saya ke sini bukan untuk membuat kamu mati kutu, Rindu," lanjut Kenzo, melangkah satu kali lebih dekat hingga jarak mereka mengikis. "Pelatih kamu yang lama fokus pada angka di stopwatch. Tapi saya? Saya fokus pada manusia yang ada di dalam baju renang itu. Kalau kamu mau disiksa dengan menu ratusan meter sampai muntah, silakan kembali ke klub kamu. Tapi kalau kamu mau kembali menikmati rasanya menang, berdiri di sini, dan dengerin saya."
Rindu terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk membalas ucapan Kenzo. Ini pertama kalinya dalam setahun terakhir, ada seorang pelatih yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar mesin pencetak medali emas.
—bersambung—