NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Rokok Gajah Baru Buat Pengawal Baru

Faris ngangguk siap, terus mau ngikutin langkah Viona yang udah agak jauh di depannya, tapi tiba-tiba dia berhenti sebentar, dia keruk saku celananya yang isinya udah kosong melompong, sisa uang yang dia bawa dari rumah udah dikit banget cuma cukup buat makan sehari-hari aja. Terus dia teriak dikit manggil Viona yang udah mau buka pintu mobil.

"Eh Mbak Viona! Sebentar dong, saya minta izin sebentar aja nggak lama kok!" panggil Faris sambil lari kecil nyamperin Viona.

Viona nengok, natap Faris dengan pandangan bingung dan agak kesel karena terburu-buru. "Ada apa lagi sih Faris? Cepetan dong, kita harus buru-buru ke kantor, banyak urusan penting yang harus saya selesaikan hari ini juga."

Faris jalan cepet sampe deket banget sama Viona, terus dia senyum sengklek khas dia, senyum yang agak nakal tapi sopan, tangannya dia ulurin santai ke arah Viona seolah minta sesuatu yang wajar banget.

"Gini Mbak, kan saya dari tadi mikir, sekarang kan saya udah resmi jadi anak buahnya Mbak, udah jadi orang kepercayaan Mbak, berarti Mbak kan bos saya yang paling tinggi ya kan?" kata Faris santai dan beralasan. "Kalau gitu boleh nggak minta tolong beliin rokok dulu sebungkus? Saya kebetulan lagi nggak pegang uang lebih, uang saya simpen rapet banget buat kebutuhan penting sama cadangan kalau ada apa-apa. Beliin aja yang biasa saya hisap, Gajah Baru isi 16 batang yang murah meriah itu, yang kemasan merah polos itu lho. Kan gajian juga belum, masa saya kerja keras jagain nyawa Mbak terus nggak ada bekal sama sekali, kurang enak rasanya kalau lagi capek atau pusing terus nggak ada rokok buat nenangin pikiran. Ini kan kebutuhan kerja juga biar saya tetep fokus dan waspada."

Viona natap tangan Faris yang diulurin itu, terus natap muka Faris dengan pandangan nggak percaya sama agak kesel campur heran. Dia bener-bener nggak nyangka orang yang baru aja dia angkat jadi pengawal pribadi, yang baru aja nolongin nyawanya, berani minta dibeliin rokok gitu aja dengan alasan yang ngawur banget, padahal mereka baru kenal beberapa jam yang lalu dan belum ada hubungan apa-apa selain kerja sama.

"Kamu ini gimana sih Faris? Baru juga kerja, baru juga saya angkat jadi pengawal udah minta ini itu, udah manja minta dibeliin segala macem," jawab Viona ketus, dia tepis tangan Faris pelan biar Faris narik tangannya lagi. "Nggak ada! Urus sendiri kebutuhan kamu yang kayak gitu, itu kebutuhan pribadi bukan kebutuhan kerja. Saya bayar kamu gaji gede banget biar kamu bisa beli apa aja yang kamu mau sendiri, jadi jangan minta-minta sama saya lagi kayak anak kecil. Itu juga kebiasaan buruk yang nggak boleh dibiasain, saya nggak mau pengawal saya manja, boros, atau terbiasa minta-minta sama orang lain."

Faris senyum kecut, terus narik tangannya lagi, garuk belakang lehernya yang kelihatan agak kaku karena ditolak, tapi dia nggak marah atau tersinggung sama sekali, dia udah biasa ngadepin orang yang pelit atau tegas gitu.

"Waduh, pelit juga ya bos saya ini, padahal kan cuma rokok murah doang, harganya murah banget dibanding harta sama kekayaan Mbak yang melimpah ruah itu, nggak sampe sepersekian persen harta Mbak," gumamnya pelan tapi kedengeran jelas banget sama Viona, nadanya agak menggoda tapi sopan. "Yaudah kalau gitu, saya beli sendiri pakai uang sisa saya yang dikit ini, saya ikhlas ngurangin uang makan saya buat beli rokok biar bisa kerja bagus. Tapi inget ya Mbak, nanti pas gajian jangan lupa ditambahin gajinya sebagai ganti modal saya beli rokok buat kerja keras jagain Mbak, anggap aja tunjangan kerja biar saya makin rajin dan setia sama Mbak."

Viona cuma mendengus kesel dan geleng-geleng kepala, terus masuk ke dalem mobil duluan tanpa jawab lagi karena dia tau kalau dia jawab bakal dibilang ngawur lagi sama Faris. Faris cuma ketawa kecil ngeliat ekspresi Viona yang kesel itu, terus dia jalan santai ke warung kecil di seberang jalan yang jual rokok sama makanan ringan.

Pas dia beli rokok Gajah Baru isi 16 batang itu, dia langsung terima bungkusnya, terus dia kertek-kertek ujung bungkusnya sampe bunyi krek krek beberapa kali biar isinya padet, rapi, dan enak pas diambil, dia ngerasa kalau rokok yang bungkusnya udah dikertek rasanya lebih enak dan baunya lebih keluar. Terus dia ambil sebatang rokok dari dalem bungkus itu, dia kertek lagi ujung batang rokoknya pelan-pelan biar baunya makin wangi dan nggak ada bagian yang cacat atau remuk, baru dia selipin di sela jari tengah sama telunjuknya dengan gaya santai dan sengklek khas dia, gaya yang sering dia lakuin pas lagi duduk santai ngobrol sama temen di kampung dulu.

Selesai beli dan siap, Faris langsung jalan balik menuju mobil mewah Viona, terus masuk ke dalem mobil itu dengan santai dan tenang, duduk di kursi penumpang belakang sebelah tempat duduk Viona. Di dalam mobil itu adem banget, dingin dan nyaman karena ada penyejuk udara yang suhunya diatur pas banget, jauh banget bedanya sama udara panas, berdebu, sama bising di luar sana. Faris natap keluar jendela kaca yang gede dan bening itu, ngeliatin gedung-gedung tinggi yang mereka lewati satu per satu, rasanya kayak lagi masuk ke dunia yang beda banget dari apa yang dia tau selama ini, dunia yang penuh kemewahan, kekuasaan, dan bahaya yang nggak kelihatan.

"Ini baru awal perjalananmu di sini Ris, jangan sampe kelewatan atau sombong cuma karena dapet kerjaan bagus," batinnya dalam hati sambil sesekali natap rokok yang dia pegang itu, dia nggak nyalain juga karena dia sadar ini mobil orang lain, mobil bosnya, jadi dia harus sopan dan nggak sembarangan ngelakuin kebiasaan dia. "Inget tujuan kamu ke sini, inget janji kamu sama bapak sama ibu di rumah, kamu harus bawa kebanggaan pulang nanti, bukan bawa malu atau masalah."

Sepanjang jalan menuju kantor Viona, Viona sibuk banget sama HP-nya, dia nelpon sana sini, ngasih perintah sama instruksi cepat ke bawahannya, mukanya kelihatan serius dan tegang banget, dia ngomongin soal urusan kantor, soal masalah yang lagi dihadapi perusahaan, sama soal keamanan yang harus diperketat lagi. Faris cuma diem, duduk tenang, natap jalanan yang makin rame dan padat, matanya selalu waspada ngeliat orang-orang atau kendaraan yang lewat, dia udah mulai terbiasa jadi pengawal yang harus selalu siap siaga.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!