Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. keputusan orang tua Davka
Davka memang tak menceritakan pada siapa pun jika dia sudah punya rencana dan pilihannya untuk menikah kontrak dengan wanita bayaran. Dia pikir ini akan jadi rahasianya untuk membuktikan kegagahannya sebagai lelaki. Nanti jika sudah ada kabar baik, barulah dia memberitahu ibu dan ayahnya agar bisa mengadopsi bayi dari istri kontraknya itu tanpa sepengetahuan Selvia, tentu saja.
"Kamu ini kenapa sih? Apa susahnya menikah lagi? Mommy tidak memintamu menceraikan istrimu kok. Kamu tinggal memilih satu saja dari mereka ini. Mommy yakin mereka itu wanita sehat dan subur yang bisa memberimu keturunan dan pewaris untuk keluarga kita, tidak seperti istrimu yang mandul itu," Ujar Bu Linda mendesak anak nya.
"Mommy, berhenti!!" Sentak Davka keras.
Pak Alex Tedja yang baru masuk di pintu depan rumah besarnya menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar pertengkaran ramai antara ibu dan anak itu. Jika dari mereka tak ada yang mau mengalah, dia yakin perdebatan itu akan makin sengit dan memanas sampai kapan pun.
"Cukup! Aku tak ingin dipaksa lagi!! Aku yang menikah, jadi aku yang akan memutuskan hidupku sendiri. Mau aku cerai atau tetap sama Selvia, aku yang akan memutuskan sendiri!!" Teriak Davka keras berapi-api.
"Dav, kamu berani ya membantah mommymu? Pokoknya kamu harus menikah lagi agar aku bisa cepat punya cucu!" Bu Linda tak mau kalah, meneriaki anaknya.
"Aish, masa bodoh! Mommy selalu saja egois dan mau menang sendiri. Aku bosan dengan keinginan mommy yang aneh begitu!"
"Kamu yang egois, tak mau memahami keinginan ibumu ini! Kamu yang mau menang sendiri!!!"
"Ya ampun, kalian berdua?!" Dua orang itu serempak menoleh, dan Bu Linda langsung menghampiri sang suami, bermaksud melaporkan tingkah nakal putranya.
"Mas...~ lihat anakmu itu! Dia berani memarahiku, dia juga membentakku tadi!"
"Hah, dasar mommy," Keluh Davka. Dia yakin nanti akan dimarahi lagi oleh ayahnya.
"Dav, ada apa memangnya? Kenapa kamu membentak mommymu seperti itu?" Tanya Pak Alex tegas.
"Soalnya mommy sudah keterlaluan. Dia mau menjodoh-jodohkan aku lagi, padahal aku sudah menikah. Mommy malah membuatku kesal saja," Jawab Davka tak kalah emosi.
"Yak! Ini juga demi kebahagiaanmu, dasar bocah nakal ini," Sangkal Bu Linda cepat.
"Bahagia dari mana? Yang ada aku menderita karena terus-menerus bertengkar dengan Selvia. Huh, pokoknya aku tak sudi nikah lagi!"
"CUKUP!!"
Pak Alex bersuara keras dan penuh amarah. Sebagai kepala keluarga, dia harus bersikap tegas kali ini. "Kalian berdua mau sampai kapan ribut dan berteriak-teriak seperti itu? Telingaku sampai sakit karena suara berisik kalian!" Davka mencebikkan bibirnya kesal, dan ibunya pun duduk di sofa dengan wajah yang tak kalah kesal.
"Dav, sikapmu juga salah. Sangat tidak pantas kamu membentak ibumu seperti itu. Ingat posisimu sebagai anak, dosa membentak orang tua dan bicara kasar!"
Davka menunduk, merasa bersalah. Dia sadar memang sikapnya tadi sungguh tak sopan dan tak pantas sebagai seorang anak.
"Ingat, mommymu ini yang sudah melahirkanmu ke dunia ini, beliau juga yang membesarkanmu sampai seperti ini. Bicaralah yang sopan dengan mommymu. Apa kamu paham?"
"Iya, Daddy. Maafkan sikap tak sopan ku tadi," Jawab Davka lirih. Ayahnya mengangguk, masih mendekap lengan anaknya.
"Minta maaf pada mommymu, jangan pada Daddy!!" Perintah Pak Alex.
Bu Linda mengusap air matanya, dia masih duduk di sofa. Davka pun berjongkok dan menggenggam erat tangan wanita paruh baya itu.
"Mom, maafkan aku. Sungguh aku tak bermaksud membentak mommy tadi. Tolong maafkan aku ya," Ujar Davka lembut.
"Mommy juga minta maaf ya. Aku salah sudah memaksamu. Aku memang ibu yang egois," Isak Bu Linda menyesal.
Davka memeluk perempuan tua itu, dia menyesal sudah membuat ibunya menangis. "Tidak kok. Mommy itu ibuku yang terbaik di dunia. Aku minta maaf, sungguh maafkan anakmu... aku sayang sekali sama mommy."
"Sudah, sekarang duduklah sini. Daddy ingin bicara serius sama kamu," Panggil Pak Alex.
"Iya, Dad." Akhirnya Davka menurut dan membuat kesepakatan dengan kedua orang tuanya. Tak ada jalan lain jika dia mau rumah tangganya berjalan harmonis; memang harus ada anak di antara dia dan Selviana.
Dia juga bercerita dengan jujur bahwa jika mencari wanita yang mau menjadi istri keduanya, sebenarnya dia tidak menginginkan istri untuk selamanya. Dia berniat hanya menikah kontrak dengan wanita itu nantinya. Kemarin pengawalnya sudah mendapatkan perempuan yang dia pesan dari perantara Denny, rencananya mereka akan membawanya ke vilanya. Namun soal rencana detail ini masih dirahasiakan Davka dari kedua orang tuanya, dan ajaibnya ibu dan ayahnya justru menanggapi hal ini dengan antusias.
"Aku akan memberi waktu pada istrimu sampai tiga bulan ke depan. Jika dia belum hamil juga, maka dia harus setuju kamu menikah lagi. Lebih bagus jika kamu punya calon istri sendiri, kami akan menerima perempuan itu. Yang penting dia wanita baik-baik, setia padamu, dan bisa memberikan cucu laki-laki untuk kami. Dav, kami serahkan semua keputusan padamu," Ujar Pak Alex tegas.
Davka menghela napas panjang. Mencari sosok perempuan seperti ini memang susah-susah gampang. Dia sampai menugaskan Dino dan Denny berkeliling ke klub malam untuk mencari wanita muda yang masih suci dan mau menjadi istri kontraknya, sekadar menjadi tempat menyimpan benihnya.
Tapi setelah mereka bilang sudah mendapatkan perempuan yang sesuai dengan keinginannya, dia jadi takut. Takut jika perempuan itu ternyata licik, atau hanya mata duitan. Jadi dia harus berhati-hati sekali soal ini.
"Kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Keinginan ibu dan ayahmu ini sangat sederhana, hanya ingin cucu. Kamu tahu kan, Fiz?" Davka mengangguk lirih.
"Iya, Daddy. Aku paham. Semoga saja aku juga bisa mendapatkan calon istri yang tepat."
"Berikan pengertian pada istrimu itu. Aku rasa dia akan maklum jika kamu menikah lagi dengan alasan anak. Dia bisa jadi istrimu sampai kapan pun itu, tak masalah untuk kami." Davka diam dan menunduk dalam. Ayahnya sebenarnya bukan pemaksa seperti ibunya, namun jika ayahnya juga memutuskan seperti itu, Davka yakin jika masalah ini memang sudah menjadi hal yang berat.
*****
Davka sampai di apartemennya hampir jam sepuluh malam setelah mengobrol banyak dengan kedua orang tuanya. Rumahnya masih gelap, tak ada tanda-tanda istrinya ada di sana
"Ke mana dia pergi? Tumben sekali malam-malam masih di luar? Sel, aku pulang!" Serunya keras.
Lelaki itu melepas ikatan dasinya, lalu mengambil air dingin di kulkas dan melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka sepuluh malam. Davka berjalan ke sofa lalu duduk bersandar sambil memijat dahinya yang terasa pening karena memikirkan permintaan orang tuanya.
"Aish, kenapa pilihan mereka sulit sekali sih? Masa aku harus serius menikah lagi? Percuma dong aku sibuk mencari perempuan yang mau aku nikahi kontrak," Gumam lelaki itu sambil mengacak rambut hitamnya, lalu mulai menghubungi sang istri.
"Kenapa ponselnya tak aktif? Di mana dia? Sudah jam sepuluh malam masih keluyuran di luar," Gerutunya sambil mengecek HP nya.
Sudah hampir sepuluh kali dia menghubungi istrinya, namun tak ada jawaban dan dia sama sekali tak tahu di mana perempuan itu berada.