NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Mama Amelia mendekap wajah Athur dengan kedua tangannya yang gemetar, mengabaikan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya. "Kamu membuat Mama hampir mati ketakutan, Athur! Jangan pernah lagi menghilang dan membuat Mama seperti ini, Nak..."

Athur menggenggam lembut tangan ibunya, tatapan matanya melembut—sebuah pemandangan yang sangat langka bagi seorang bos yang biasanya tak tersentuh. "Maafkan Athur, Ma. Athur baik-baik saja sekarang. Lukanya sudah ditangani," ucap Athur dengan suara beratnya yang dalam dan menenangkan.

Tuan Ganesha melangkah mendekat, lalu meletakkan tangan kokohnya di atas pundak sang istri untuk menenangkannya. Sepasang mata elang pria paruh baya itu menatap Athur dengan binar kebahagiaan dan kelegaan yang luar biasa, meruntuhkan topeng wibawanya yang kaku sejak kemarin.

"Papa bangga padamu, Athur. Kamu membuktikan kalau kamu adalah pria sejati yang memegang kata-katamu," ucap Tuan Ganesha dengan nada suara yang bergetar penuh haru, merujuk pada janji Athur kemarin di ruang kerja untuk melindungi keluarga kecilnya dengan taruhan nyawa.

Athur mengangguk perlahan ke arah ayahnya, sebuah tatapan penuh rasa hormat dan terima kasih karena sang Papa telah melindunginya dari balik layar termasuk mengurus masalah beasiswa Fino.

Mama Amelia kemudian menghapus air matanya, lalu pandangannya beralih pada Rara yang masih menunduk malu dan canggung di ranjang sebelah. Amelia perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh lembut lengan Rara agar gadis itu mau mendongak menatapnya.

"Rara... terima kasih ya, Nak," ucap Amelia dengan suara yang sangat tulus, sukses membuat Rara mengerjapkan matanya yang bulat.

"Terima kasih karena kamu sudah melindunginya, dan mau mendampingi Athur di saat-saat paling sulit dalam hidupnya. Mulai hari ini, kamu tidak perlu canggung atau takut lagi. Kamu adalah menantu Mama, bagian dari keluarga Ganesha."

Mendengar penerimaan yang begitu hangat dari sang Ibu mertua, dada Rara mendadak bergemuruh oleh rasa haru yang teramat sangat.

 Ia tersenyum sangat manis dengan air mata yang kembali merebak di pelupuk matanya, perlahan rasa canggung yang sempat menghimpitnya menguap digantikan oleh kebahagiaan baru di dalam ruangan VIP yang hangat itu.

Di tengah suasana haru yang menyelimuti kamar VIP Rumah Sakit Medika Utama, Fino yang sejak tadi berdiri menyimak di dekat sofa langsung menegakkan tubuhnya. Otak remaja itu berputar cepat. Melihat Athur dan Rara yang sama-sama terbaring sakit, ditambah rasa bersalah karena beasiswanya sempat bermasalah, keinginan Fino untuk bekerja paruh waktu meledak berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan kemarin.

Fino sengaja berdeham keras, memecah keheningan romantis untuk menarik perhatian semua orang di ruangan, termasuk Tuan Ganesha dan Mama Amelia."Ehem! Permisi, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian," celetuk Fino dengan gaya tengil andalannya, melangkah maju mendekati sisi ranjang Athur.

 "Berhubung suasana hati Bos Besar kayaknya lagi bagus karena habis dapet pelukan gratis dari kakak gue, gue mau menagih sesuatu nih."

Rara yang mendengar ucapan adiknya langsung membelalakkan mata, wajahnya merona merah. "Fino! Mas Athur baru saja sadar, jangan macam-macam!"

"Santai, Bos Rara. Ini urusan masa depan pria dewasa," sahut Fino sambil nyengir tanpa dosa. Ia lalu menatap lurus ke arah sepasang mata elang Athur yang kini sedang menatapnya datar.

"Gini, Bang. Kemarin kan gue udah minta izin sebelum Abang keluar rumah. Sekarang, dengan kondisi Abang yang bocor di pinggang dan Kak Rara yang tangannya diperban dua-duanya, keinginan gue buat cari cuan makin nggak bisa ditahan, Bang." Fino bersedekap dada, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi sok serius yang terlihat kocak karena ia masih memakai seragam sekolah kusam.

 "Gue mau kerja paruh waktu di perusahaan lu, Bang. Jadi apa aja bebas, yang penting halal dan menghasilkan. Selama masa skorsing dua minggu ini, gue nggak mau cuma gabut makan biskuit premium di kulkas baru. Gue pengin ngerasain capeknya cari duit biar bisa bantu ringankan beban Kak Rara dan jagain Nina.

"Mendengar penuturan jujur yang sarat akan tanggung jawab dari anak berusia itu, Mama Amelia sempat tertegun heran, sementara Tuan Ganesha yang berdiri di belakang istrinya diam-diam menyunggingkan senyuman miring yang sangat tipis. Ganesha semakin takjub dengan mental adik ipar anak sulungnya ini.

Athur tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat-lekat gurat lebam sisa perkelahian di wajah Fino, lalu mengalihkan pandangannya pada Bagas yang berdiri di dekat pintu. Di dalam hati Athur, ia sangat menghargai keras kepalanya Fino yang ingin mandiri demi melindungi keluarganya.

"Bagas," panggil Athur dengan suara beratnya yang masih serak.

"Ya, Bos?" sahut Bagas sigap, melangkah mendekat.

"Masukkan anak ini ke divisi logistik paruh waktu di kantor pusat mulai besok pagi," perintah Athur mutlak tanpa bantahan.

"Biarkan dia merasakan bagaimana kerasnya bekerja di bawah pengawasanmu. Jika dia malas atau ketahuan tengil saat jam kerja, potong gajinya 50 persen." Mendengar perintah Athur, mata Fino seketika berbinar-binar kegirangan.

 Ia langsung memasang sikap hormat ala tentara dengan senyuman miringnya yang paling menyebalkan ke arah Evan yang sedang asyik menahan tawa di sudut ruangan."Siap, Bos Besar! Laksanakan! Divisi logistik bakal gempar karena kedatangan kurir spek bidadari kontrakan!" sesumbar Fino heboh, memicu tawa kecil dari Nina dan gelengan kepala pasrah dari Rara, mengembalikan keceriaan di dalam ruangan VIP setelah badai maut yang hampir merenggut nyawa mereka.

Di dalam keheningan canggung yang sempat merayap setelah kedatangan Alden, Mama Amelia dengan cepat tanggap membaca situasi. Ia beralih mendekati anak bungsunya itu, mengusap memar di pipi Alden dengan tatapan penuh keibuan yang sarat akan rasa bersalah sekaligus penyesalan.

"Alden, wajahmu... Papa bilang kamu berkelahi di sekolah kemarin," ucap Amelia, memecah kesunyian dengan suara yang melembut penuh gurat kesedihan.

"Kenapa kamu tidak bilang pada Mama kalau Kakak iparmu ini... adalah Rara?"

Alden memaksakan diri untuk menatap Mamanya, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa sangat hambar.

"Maaf, Ma. Alden baru tahu semuanya kemarin malam dari Papa. Alden cuma... salah paham."

Tuan Ganesha melangkah tegap mendekati Alden, menepuk pundak anak bungsunya itu dengan cengkeraman yang sangat kokoh.

"Semua kesalahpahaman sudah selesai. Yang terpenting sekarang adalah memulihkan kondisi Athur dan Rara. Masalah anak muda di sekolah, anggap saja itu ujian kedewasaan kalian."

Mendengar ucapan Tuan Ganesha, Fino yang sejak tadi berdiri kaku di samping sofa langsung mencairkan suasana dengan gaya tengil andalannya. Ia sengaja melirik ke arah Alden yang masih memasang wajah mendung.

"Nah, dengerin tuh kata Om Ganesha, Bang Alden!" celetuk Fino sambil menyengir tanpa dosa, menyikut pelan lengan senior kelas 3-nya itu.

"Biarpun kemarin kita sempat guling-gulingan di koridor sampai beasiswa gue melayang, tenang aja. Mulai besok gue udah sah jadi karyawan paruh waktu di kantor pusat Bang Athur. Jadi, status kita sekarang bukan cuma rival di mading, tapi lu resmi jadi adiknya bos gue! Gimana? Keren kan?"

Evan yang sejak tadi bersandar di dinding dekat jendela langsung mendengus geli, menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung untuk ikut menimpali. "Heh, Fino, belum juga hari pertama kerja lu udah sok jadi karyawan teladan. Di kantor pusat itu logistiknya ketat. Lu kalau tengil dikit di depan Bagas, bisa-bisa lu dipindah jadi tukang bersihin kandang anjing pelacak jaringan kita di gudang belakang."

"Wah, Bang Evan tega bener! Masa muka spek pangeran kontrakan begini disuruh bersihin kandang anjing," protes Fino dramatis, membuat Nina yang duduk di dekat ranjang Rara langsung terkekeh kecil menahan tawa.

"Cih pangeran? Muka lu itu jauh di atas rata-rata no?

Nina mendongak menatap Bagas yang berdiri rapi di sisi ranjang. "Om Bagas, nanti tolong jagain Fino ya di kantor. Dia kalau nggak diawasin suka malas, sukanya cuma makan biskuit premium di kulkas baru."

Bagas tersenyum ramah dan mengangguk takzim ke arah Nina. "Jangan khawatir, Nyonya Muda Nina. Di bawah pengawasan saya, Fino akan belajar bagaimana caranya menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan di divisi logistik."

Rara yang bersandar di dada tegap Athur hanya bisa tersenyum sangat manis mendengar interaksi hangat itu. Rasa canggung yang sempat menghimpit dadanya akibat kehadiran Alden perlahan memudar, digantikan oleh rasa aman yang mendalam karena seluruh anggota keluarga besar suaminya kini telah berkumpul dan menerimanya dengan sangat tulus di dalam ruangan VIP tersebut.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!