Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Dengan hati-hati, Oma Elsa melangkah sambil menggenggam erat sebuah bingkai foto yang telah lama menjadi teman sepi dalam diamnya.
Ia berhenti di depan kamar William, lalu membuka pintu dengan suara lembut, "Will… sudah bangun?’”
“Sudah dari tadi, Oma.” William tersenyum kecil, lalu berjalan ke arah pintu dan menyambut lengan Oma untuk menuntunnya duduk di sofa kamarnya.
Oma Elsa menarik napas panjang, seolah tengah mengumpulkan keberanian yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Pandangannya tertuju pada William, cucu yang ia besarkan dengan segenap cinta dan pengorbanan.
“William… selama ini kamu selalu bertanya tentang siapa orang tuamu dan di mana mereka berada. Maafkan Oma karena tidak pernah bisa menjawabnya. Bukan karena Oma tidak ingin, tapi karena Oma takut… takut jika setelah kamu tahu kebenarannya, kamu akan menjauh dan meninggalkan Oma.” Suaranya lirih, bergetar, sementara matanya mulai berkaca-kaca.
Pandangan Oma Elsa perlahan bergeser ke arah bingkai foto yang sejak tadi ia genggam erat. Ada getar halus di tangannya saat ia mengangkatnya, seolah berat oleh kenangan yang tersimpan di dalamnya.
“Wanita yang ada di foto ini… dialah mamamu, William. Satu-satunya anak Oma.”
Dengan hati-hati, ia menyerahkan bingkai foto itu ke pangkuan William, seakan sedang menitipkan separuh jiwanya.
Setiap kalimat yang didengarnya, membuat William terdiam. Sebenarnya ia sudah lama menduga, tapi mendengarnya langsung dari mulut Omanya, tetap saja membuat hatinya bergetar.
Oma Elsa menatap jauh, matanya mulai berkabut oleh kenangan. “Mama kamu, Alena… ia bukan hanya cantik, tapi juga berhati lembut. Tidak ada pria yang bisa menolak pesonanya. Oma dan Opa dulu sudah menyiapkan jodoh terbaik untuknya, seorang kolega bisnis yang mapan dan terhormat. Tapi, Alena memilih jalan berbeda. Ia menolak semua rencana kami… demi seorang pria bernama Arbian. Dan Arbian itulah, Will… papa kandungmu.”
Kalimat Oma Elsa berhenti sejenak, air matanya jatuh.
“Lalu… kenapa aku bisa bersama Oma sekarang? Di mana mereka?” Suara William mulai bergetar.
“Saat Mama-mu memilih Papa-mu, Opa sangat marah. Karena itu juga, ia tak pernah merestui hubungan mereka. Hingga akhirnya, Papa-mu membawa Mama-mu pergi meninggalkan rumah ini. Tak lama berselang… Opa meninggal dunia. Dan sejak saat itu, Oma benar-benar sendirian di rumah ini.” Suara Oma pecah di akhir kalimat, lalu tangisnya meledak, mengguncang tubuh rapuh yang selama ini berusaha tegar.
William memeluk Omanya, menahan emosinya.
“Beberapa tahun kemudian, Oma melihat berita di surat kabar. Foto Alena bersama Arbian… dengan perut besarnya. Saat itu Oma tahu ia akan melahirkan. Dan di sanalah Oma bertekad… untuk mengambilmu diam-diam.”
“Apa?” William terperanjat.
“Oma bekerja sama dengan pihak rumah sakit. Saat Alena melahirkan, Oma membawa kamu pergi, tanpa mereka tahu. Sejak itu, kamu Oma besarkan sendiri.”
William menggenggam tangan Oma, wajahnya penuh amarah yang ditahan. “Lalu… di mana mereka sekarang?”
Oma menggeleng. “Papa kamu… Oma tidak tahu. Tapi mamamu…” suaranya kembali pecah, “dia sudah tiada sejak kamu berusia tiga tahun.”
William terdiam kaku. Rasanya ada beban berat menghantam dadanya.
Ia menatap foto itu, memperhatikan wajah Alena lama sekali. “Cantik…” Batinnya. Ada perasaan hangat sekaligus hampa.
Saat itu juga, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ingatannya melayang pada sosok wanita yang pernah ia lihat di alun-alun pelabuhan. Entah mengapa, ada kemiripan samar.
William yakin Omanya masih menyimpan sesuatu. Tapi ia memilih diam. Biarlah ia mencari tahu dengan caranya sendiri.
Malam itu, setelah Oma Elsa kembali ke kamarnya dengan wajah muram, William mengambil ponselnya. Ia menghubungi seseorang—orang yang ia tugaskan untuk mengikuti Kinara.
“Berikan aku semua informasi tentang wanita itu. Aku tunggu secepatnya.” Ujarnya tegas.
•••
Sesuai rencana yang telah dibicarakan oleh Bayu pada Diana di pertemuan terakhir mereka, malam ini Bayu kembali membawa keluarganya untuk berkunjung ke rumah Diana.
Setelah kepulangan Bayu waktu itu, Diana segera menemui kedua orang tuanya di kamar untuk menyampaikan apa yang ia dengar darinya.
Keesokan harinya, mobil keluarga Bayu berhenti di halaman rumah, disambut Rani dengan senyum ramah yang berusaha menghangatkan suasana. Begitu juga Arbian, ia menyodorkan tangan menyapa Dimas—Papa Bayu, meski sejujurnya Dimas begitu enggan menyambut sodoran tangan dari calon besannya itu.
Bagi Dimas dan Sana, pertunangan ini sebenarnya sudah tidak lagi menarik untuk diteruskan. Mereka lelah dengan sikap keras kepala anaknya.
Namun karena Bayu tidak berhenti untuk memaksa, mereka akhirnya mengikuti permintaan putranya itu. Jelas Bayu terus memaksa kedua orangtuanya, ia takut Diana akan membuka rahasia tentang apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua.
Baginya, resiko terbesar adalah bayang-bayang skandal yang bisa merusak reputasi perusahaan Papanya. Cukuplah ia pernah merasakan amarah Dimas kemarin. Bayu tidak ingin hal itu terulang.
“Silakan masuk, Jeng. Kita langsung ke meja makan saja, biar lebih santai.” Ucap Rani ramah, mempersilakan tamu masuk.
Arbian dan Rani sudah bersepakat sebelumnya. Setelah penolakan Kinara untuk menjodohkan Renald dengan Diana, mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana pertunangan Diana dengan Bayu.
Biarlah waktu yang menjawab, siapa tahu kelak takdir justru mempertemukan Diana dan Renald. Namun untuk saat ini, yang terpenting adalah memastikan keluarga Minoto tetap berada dalam genggaman mereka.
Arbian memimpin jalan menuju ruang makan. Makan malam berlangsung cukup lancar. Obrolan hanya sebatas basa-basi ringan, penuh formalitas. Tidak ada yang benar-benar ingin membuka hati.
Usai makan malam, acara inti pun tiba. Kedua keluarga berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan pertunangan.
“Mengingat pada acara makan malam sebelumnya sudah kita sepakati pertunangan dilaksanakan dua minggu dari sekarang, jadi minggu depan kita langsung gelar acaranya ya, Pak Arbian?” Ujar Dimas, mulai membuka percakapan serius itu.
“Iya betul sekali, Pak Dimas.” Sahut Arbian, mencoba terdengar mantap.
“Baiklah. Ini kesepakatan dua keluarga. Saya berharap acara pertunangan berjalan lancar.” Lanjut Dimas, sebelum menambahkan dengan nada lebih hati-hati, “dan… mengenai urusan pendanaan acaranya bagaimana?” Tatapannya lurus pada Arbian, seolah memberi sinyal bahwa ia tidak ingin seluruh beban jatuh ke keluarganya.
Pertanyaan itu membuat Arbian langsung menegakkan tubuhnya. Dalam pikirannya, sudah seharusnya pihak pria yang menanggung semua keperluan pertunangan. Perusahaannya sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, dan beban tambahan bukanlah hal yang ia butuhkan saat ini.
“Maaf, Pak… seingat saya, biasanya pihak pria yang mengurus segala persiapan pertunangan." Ujar Arbian hati-hati.
Sana langsung menyambar, nadanya tajam. “Loh, mana bisa begitu? Di sini kan yang kekeuh mau dengan anak saya ya, Diana. Mestinya pihak keluarga wanita juga ikut tanggung jawab dong.”
Rani yang mendengar nada merendahkan itu langsung naik pitam. “Maksud Jeng apa bicara begitu? Anak saya ini cantik, siapa pun yang melihatnya pasti jatuh hati. Jadi jangan merendahkan Diana dengan ucapan seperti itu.”
“Eleh...” Sana mendengus sinis. “Saya ini sudah tahu, ya. Anak saya Bayu itu sebelumnya punya hubungan dengan Kinara—kakak dari Diana, sejak mereka kuliah. Tapi entah kenapa, tiba-tiba sekarang anak saya ini mau nikahnya malah sama Diana. Kalau bukan penggoda, apalagi namanya?”
Kalimat yang dilontarkan Sana membuat Rani dan Arbian sama-sama terkejut. Diana pun tak kalah kaget, namun ia cepat menguasai diri. Ia tidak bisa membiarkan dirinya dituduh begitu saja.
Dengan suara lirih, ia berkata, “Maaf Tante… bukan maksud saya merebut Bayu dari Kinara. Tapi… Bayu sudah—” kalimatnya terhenti, menoleh sekilas pada Bayu.
Bayu langsung menimpali, wajahnya tegang. “Ma, aku suka sama Diana. Udah sejak lama, tapi aku nggak berani ngomong. Jadi tolong, jangan salahkan Diana lagi. Dia nggak salah, Ma. Dan disini aku juga yang mau nikah dengan dia secepatnya.”
Diana tersenyum tipis, menundukkan kepala. Ada kepuasan dalam hatinya. Ia berhasil membuat Bayu membela dirinya—persis seperti yang ia rencanakan. Memanfaatkan kelemahan Bayu adalah senjata terampuhnya.
Sana terdiam, memalingkan pandangan. Ada rasa malu karena anak yang dibelanya justru berbalik membela Diana.
Melihat suasana yang mulai kondusif, Arbian memilih untuk langsung mengambil keputusan. “Baiklah, Pak Dimas. Agar lebih adil, bagaimana kalau biaya pertunangan kita bagi dua?”
Sana yang sudah tidak sabar ingin segera pergi dari rumah itu, memberi kode pada suaminya dengan sentuhan di lengannya.
Dimas menghela napas. “Baik. Kami setuju dengan usul Pak Arbian.”
Kesepakatan pun tercapai. Dimas berdiri, menyalami Arbian. “Kalau begitu, kami sekeluarga pamit.”
Sana hanya mengangguk dingin, lalu melangkah cepat keluar. Rani dan Diana saling berpandangan, menyimpan rasa tidak nyaman yang sulit diungkapkan.
semoga kelakuan Rani segera terbongkar...lewat Danu yg merupakan ayah biologis Diana..
geregetan banget kok Kinara yg dijadiin sapi perah