NovelToon NovelToon
JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

JIWA MAFIA DI TUBUH GADIS TERHINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25

Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pengungkapan, Wajah Sebenarnya Terbuka

Pagi itu, suasana di Sekolah Menengah Atas Harapan Bangsa terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Kabar bahwa kepala sekolah akan mengadakan pertemuan khusus untuk mengusut kasus insiden tangga yang melibatkan Claudia dan Sari telah menyebar ke seluruh penjuru gedung sejak malam sebelumnya. Rasa penasaran, ketegangan, dan kekhawatiran melingkupi setiap siswa maupun guru yang mengetahui hal itu.

Di ruang kelas 12 IPA 2, suasana terasa hening dan mencekam. Semua mata sesekali melirik ke arah dua sosok yang menjadi pusat permasalahan itu. Claudia duduk tenang di tempatnya, membaca buku seolah tidak ada hal istimewa yang akan terjadi hari ini. Sebaliknya, Sari duduk dengan wajah pucat pasi, keringat dingin terus membasahi telapak tangannya, dan matanya tampak gelisah melirik ke mana-mana seolah mencari jalan keluar.

Rina yang duduk di sampingnya mencoba berbisik menenangkan, namun suaranya sendiri terdengar bergetar. “Tenang saja, Sari. Selama kita tetap teguh pada cerita, tidak ada yang bisa membuktikan sebaliknya.”

Namun kata-kata itu tidak lagi menenangkan hati Sari. Ia teringat sikap Rian yang menjauh, tatapan tajam Arjuna yang tidak lagi lembut, dan ketenangan Claudia yang terasa seperti ancaman yang akan meledak kapan saja. Dalam hatinya, ia mulai merasakan ketakutan yang sangat besar , ketakutan bahwa semua rencananya akan hancur dalam sekejap.

Tak lama kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelas dan menyampaikan perintah. “Semua siswa yang terlibat atau mengetahui kejadian di tangga hari itu, harap segera menuju ruang rapat utama. Kepala sekolah dan tim pengawas sudah menunggu.”

Claudia segera menutup bukunya, merapikan seragamnya dengan rapi, lalu melangkah keluar dengan langkah yang mantap dan percaya diri. Di belakangnya, Sari berjalan tertatih seolah sedang memikul beban yang sangat berat, disusul oleh Rina, Rian, serta Arjuna dan ketiga temannya yang ikut hadir karena menjadi saksi dan pihak yang terlibat secara emosional.

Sesampainya di ruang rapat, suasana terasa sangat resmi dan serius. Di meja panjang di bagian depan sudah duduk Pak Bima selaku kepala sekolah, dua orang guru bimbingan konseling, serta Pak Joko dan petugas teknis yang bertugas mengelola sistem keamanan sekolah.

“Silakan duduk,” ujar Pak Bima dengan nada tegas namun tenang. “Hari ini kita berkumpul bukan untuk menghakimi, melainkan mencari kebenaran yang sesungguhnya. Setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya, namun harus berbicara berdasarkan fakta dan apa yang benar-benar terjadi.”

Ia memandang sekeliling ruangan, lalu melanjutkan, “Kasus ini sempat dianggap selesai dengan keterangan awal, namun setelah diteliti lebih lanjut, ditemukan kejanggalan pada sistem rekaman pengawas. Oleh karena itu, kita akan mengusutnya dari awal dengan lebih teliti.”

Pertama, Pak Bima mempersilakan Sari untuk menyampaikan kembali ceritanya. Dengan suara yang bergetar, Sari menceritakan ulang peristiwa yang sama seperti sebelumnya , bahwa ia didorong oleh Claudia secara tiba-tiba dari belakang hingga terjatuh dan kakinya terluka parah. Ia berusaha menampilkan ekspresi sedih dan terluka, namun kali ini tidak lagi terlihat seyakin dulu.

Setelah Sari selesai, giliran Claudia yang diminta berbicara. Ia berdiri tegak, menatap semua orang di ruangan itu dengan pandangan yang jernih dan tenang, lalu mulai berbicara dengan nada yang jelas dan terstruktur.

“Saya tidak akan mengulangi penyangkalan yang sama berkali-kali, karena itu hanya akan terdengar seperti alasan biasa. Saya hanya ingin menyampaikan bukti dan fakta yang bisa diperiksa kebenarannya. Pertama, mengapa saya harus melakukan tindakan itu di tempat terbuka yang banyak dilalui orang? Jika saya benar-benar berniat menyakiti, tentu saya akan memilih tempat yang lebih aman dan sepi.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kedua, masalah rekaman kamera yang tiba-tiba tidak merekam pada jam kejadian bukanlah kebetulan. Pak Joko dan tim teknis telah memeriksa dan menemukan bahwa sistemnya tidak rusak secara fisik, melainkan ada gangguan pada aliran data yang sengaja dimanipulasi.”

Mendengar hal itu, kepala tim teknis yang hadir mengangguk membenarkan. “Benar, Pak. Kami baru saja selesai memeriksa secara mendalam. Ada perubahan pada catatan waktu penyimpanan data yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan tentang sistem jaringan komputer. Dan dari jejak akses yang tersisa, diketahui bahwa perubahan itu dilakukan dari salah satu komputer di laboratorium sekolah.”

Seketika itu juga, semua mata beralih menatap Rian yang duduk menunduk dalam. Wajahnya sudah pucat pasi, dan tubuhnya terguncang hebat.

Pak Bima memandang Rian dengan tatapan tajam. “Rian, kau adalah siswa yang paling menguasai bidang komputer di sekolah ini. Apakah kau mengetahui sesuatu soal ini?”

Rian mengangkat wajahnya perlahan, matanya berkaca-kaca. Ia menatap Claudia sekilas, melihat ketenangan yang memberinya keberanian untuk berbicara jujur, lalu menunduk kembali dan mengangguk.

“Saya… saya mengaku,” ujarnya dengan suara terisak. “Saya yang melakukannya. Sari datang menemui saya dua hari sebelum kejadian, menawarkan uang dalam jumlah besar dan meminta saya memotong rekaman kamera di dekat tangga selama dua puluh menit. Dia bilang itu hanya untuk urusan pribadi dan tidak akan menyakiti siapa pun. Saya tergoda dan takut dia menyebarkan gosip buruk tentang saya jika menolak, jadi saya melakukannya.”

Pengakuan itu seperti petir di siang bolong. Seluruh ruangan hening seketika, lalu tatapan semua orang beralih menatap Sari yang kini terlihat seperti mau pingsan.

“Tidak… tidak benar! Dia berbohong!” teriak Sari panik, air matanya tumpah deras. “Dia membuat cerita itu untuk menuduh saya!”

Namun sebelum ia melanjutkan, Rian mengeluarkan selembar kertas dan menyodorkannya ke depan. “Ini bukti percakapan pesan singkat antara saya dan Sari. Saya belum sempat menghapusnya, dan isinya membuktikan bahwa dia yang memerintahkan saya untuk melakukannya. Setelah selesai mengubah sistem, saya juga mengirim laporan kepadanya bahwa tugas itu sudah selesai.”

Pak Bima menerima kertas itu dan membacanya dengan saksama, lalu menyerahkannya kepada guru lain untuk diperiksa. Isinya memang sangat jelas, berisi janji imbalan dan instruksi agar jejak tidak terdeteksi.

“Dan satu hal lagi,” tambah Rian dengan tegas meski masih terguncang. “Setelah kejadian itu, Sari mengaku pada saya secara diam-diam bahwa dia tidak terjatuh karena didorong, melainkan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri agar terlihat seperti korban, sekaligus untuk menjatuhkan nama baik Claudia yang dia iri hati.”

Kata-kata itu menghancurkan benteng pertahanan Sari sepenuhnya. Ia tidak lagi mampu berdiri tegak, tubuhnya melorot jatuh ke kursi, dan tangisannya meledak tanpa kendali. Semua kebohongan yang ia susun rapi selama ini runtuh dalam sekejap.

“Ya… ya benar! Saya yang merencanakannya!” teriak Sari sambil memukul meja dengan tangan gemetar. “Saya iri padanya! Dia memiliki segalanya — kekayaan, kasih sayang orang tua, dan bahkan perhatian Arjuna yang diam-diam saya cintai! Dia selalu terlihat sempurna, sedangkan saya harus berjuang keras hanya untuk hidup layak. Saya ingin dia jatuh, saya ingin semua orang membencinya seperti saya membencinya!”

Pengakuan terakhir itu menggantung di udara, membuat suasana ruangan terasa semakin sunyi. Semua orang terpaku, terutama Arjuna dan ketiga temannya yang duduk di ujung meja. Wajah mereka terlihat sangat pucat, dipenuhi rasa terkejut, malu, dan rasa bersalah yang sangat dalam.

Selama ini, mereka telah menghina, membenci, dan menjauhi Claudia hanya karena percaya pada kebohongan yang disusun dengan licik. Mereka telah menjadi alat bagi ambisi dan kebencian buta Sari, dan kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa mereka telah salah menilai orang yang sebenarnya selama bertahun-tahun.

Claudia hanya diam, menatap Sari yang menangis histeris itu dengan tatapan datar tanpa rasa menang atau pun rasa kasihan yang berlebihan. Bagi Zerrin, ini hanyalah konsekuensi logis dari perbuatan yang dilakukan , setiap tindakan pasti memiliki balasannya.

Pak Bima menghela napas panjang, lalu memukul meja perlahan untuk menenangkan suasana. “Baiklah, semuanya sudah jelas sekarang. Kebohongan yang menutupi kebenaran akhirnya terbongkar. Sari, tindakanmu ini sangat kejam dan melanggar aturan sekolah serta norma kesusilaan. Kamu telah merusak nama baik orang lain, menciptakan keributan, dan melibatkan siswa lain dalam perbuatan tidak benar.”

Ia menoleh ke arah Rian, “Dan kamu, Rian, meskipun dipengaruhi dan tertekan, kamu tetap bertanggung jawab karena telah membantu menyembunyikan kejahatan. Namun karena kamu berani mengaku dan memberikan keterangan jujur, hukuman yang akan kamu terima akan dipertimbangkan.”

Keputusan sementara diambil: Sari akan diberhentikan sementara dari sekolah menunggu sidang komite, sedangkan Rian akan mendapatkan hukuman berat dan pengawasan ketat selama satu semester ke depan. Semua tuduhan yang selama ini ditujukan kepada Claudia secara resmi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Setelah pertemuan selesai dan semua orang mulai keluar ruangan, Arjuna dan ketiga temannya berjalan mendekati Claudia dengan langkah yang lambat dan kepala tertunduk. Mereka merasa sangat malu dan tidak berani menatap wajah gadis itu.

“Claudia…” suara Arjuna terdengar sangat pelan dan parau, berbeda dari nada tegas dan dinginnya biasanya. “Kami… kami minta maaf. Selama ini kami telah salah menilai, salah menghakimi, dan memperlakukanmu dengan sangat buruk. Kami tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menebus kesalahan ini.”

Daffa, Raka, dan Leo juga mengangguk setuju, ekspresi mereka penuh rasa bersalah yang mendalam. Mereka sadar bahwa jika saja mereka mau mendengar penjelasan Claudia lebih awal dan tidak membiarkan emosi menguasai akal pikiran, hal ini tidak akan berlarut begitu lama.

Claudia menatap keempat pemuda itu dengan tenang, lalu menggeleng pelan. “Permintaan maaf tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah terbuang, tidak bisa menghapus kata-kata kasar yang pernah diucapkan, dan tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan. Namun, saya tidak memendam dendam berlebihan. Yang terpenting sekarang adalah kebenaran sudah terungkap, dan tidak ada lagi tuduhan yang menimpa saya.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, “Tapi ingatlah satu hal: jangan pernah lagi menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan atau dari cerita orang lain. Gunakan akal pikiran, buktikan dengan fakta, dan jangan biarkan emosi atau rasa suka pada seseorang membuatmu buta akan kebenaran. Itu adalah pelajaran yang mahal, dan saya harap kalian mengingatnya selamanya.”

Setelah mengucapkan itu, Claudia melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam memikirkan kata-katanya. Di luar ruangan, banyak siswa yang menunggu dan segera menyingkir saat melihat Claudia lewat. Tatapan mereka kini berubah , bukan lagi tatapan benci, jijik, atau meremehkan, melainkan tatapan penuh rasa hormat, rasa ingin tahu, dan rasa malu karena telah ikut menghakimi tanpa bukti.

Claudia berjalan menyusuri koridor sekolah dengan kepala tetap tegak, merasakan beban berat yang selama ini menimpa nama baik tubuh ini perlahan terangkat. Namun bagi Zerrin, ini hanyalah satu rintangan kecil yang berhasil dilewati. Ia tahu, setelah kebenaran terungkap, tantangan baru akan datang bagaimana beradaptasi dengan pandangan baru orang lain, serta menghadapi masalah yang mungkin muncul dari balik tirai kehidupan keluarga dan bisnis yang kini menjadi bagian dari dirinya.

Sore harinya, saat ia pulang ke rumah, kedua orang tuanya menyambutnya dengan pelukan hangat dan rasa lega yang tak terhingga. Adrian dan Brian juga berdiri di ruang tengah, wajah mereka terlihat sangat rumit penuh rasa malu karena selama ini mereka juga telah mempercayai tuduhan itu dan membenci adik mereka sendiri.

“Claudia…” ujar Adrian dengan suara rendah, kepalanya tertunduk. “Kami juga minta maaf. Kami terlalu cepat percaya pada gosip dan tidak cukup mendukungmu. Kami telah gagal menjadi kakak yang baik untukmu.”

Brian mengangguk setuju, matanya terlihat berkaca-kaca. “Maafkan kami, adik. Kami tidak tahu bahwa kau selama ini menjadi korban. Kami berjanji, mulai hari ini kami akan melindungimu dan tidak akan membiarkan siapa pun lagi menyakitimu.”

Claudia menatap kedua kakaknya itu dengan pandangan yang tenang. Ia merasakan keinginan tulus untuk memperbaiki hubungan, dan itu adalah hal baik untuk keberlangsungan hidupnya di tubuh baru ini.Tapi dia tetap tak ingin terlalu percaya, sebab kematian sebelumnya juga karena penghianatan dari orang yang dia percaya.

“Masa lalu sudah berlalu,” jawabnya dengan nada lembut namun tegas. “Yang terpenting adalah apa yang akan kita lakukan ke depannya. Mari kita lupakan kesalahpahaman ini dan mulai membangun hubungan yang lebih baik sebagai keluarga.” ucap Claudia meskipun hatinya tidak semudah itu menerima semua ya begitu saja.

Mendengar jawaban itu, hati Adrian dan Brian terasa sangat lega. Mereka semakin sadar bahwa adik mereka kini telah berubah menjadi sosok yang luar biasa ,kuat, bijaksana, dan mampu memaafkan meski telah disakiti berkali-kali.

Malam itu, Claudia duduk di kamarnya sambil menatap langit yang penuh bintang. Ia menarik napas panjang, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tantangan di sekolah telah berhasil ia selesaikan dengan baik, namun ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang.

Ini baru permulaan, pikirnya dalam hati. Sekarang nama baik sudah bersih, keluarga mulai bersatu kembali. Namun dunia luar masih penuh dengan bahaya dan intrik, baik dalam urusan bisnis maupun persaingan tersembunyi. Sebagai Claudia Ramirez, aku harus membuktikan bahwa aku bukan hanya gadis kaya yang lemah, melainkan sosok yang mampu melindungi keluargaku dan memegang kendali atas nasibku sendiri.

Dan di tengah kegelapan malam, matanya bersinar tajam, memancarkan kekuatan seorang penguasa yang telah bangkit kembali, siap menghadapi setiap rintangan yang menanti di masa depan.

**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!