NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang tertinggal

Cahaya matahari Minggu pagi menyusup melalui celah gorden kamar Agnesa, membentuk garis-garis emas yang lurus di atas karpet bulu. 

Srak.

 Agnesa menarik gorden itu sepenuhnya. Langit Bandung terlihat biru bersih setelah diguyur hujan sepanjang Sabtu malam. 

Ia berdiri diam selama beberapa saat, menatap ke arah gerbang hitam di bawah sana. 

Tutup pentil ban motor yang terjatuh di atas pilar beton masih ada di sana, berkilauan kecil tertimpa cahaya.

​Agnesa berpaling. Ia merapikan tempat tidurnya dengan gerakan mekanis. Seprai ditarik hingga kencang tanpa kerutan, bantal diletakkan sejajar.

 Pluk, pluk. Ia menepuk bantalnya dua kali.

​"Agnes, sudah bangun?" Suara ketukan pintu terdengar. 

Tok, tok. Itu suara ibunya.

​"Sudah, Ma."

​"Mama dan Papa mau ke klub golf. Kamu jangan lupa les matematika jam sepuluh. Sopir sudah Mama kasih tahu."

​"Iya, Ma."

​Langkah kaki ibunya menjauh. Tak, tak, tak. Agnesa duduk di tepi kasur. Ia menatap jam dinding. Masih ada satu setengah jam sebelum les dimulai.

 Ia meraih ponselnya. Tidak ada pesan baru dari nomor Naren setelah pesan singkat semalam yang hanya ia baca melalui bilah notifikasi.

Agnesa membuka laci mejanya, mengambil sebuah amplop cokelat kecil. Ia memasukkan uang tunai ke dalamnya, lalu menuliskan 'Dana Taktis' di bagian depan. 

Jarinya berhenti sebentar pada huruf terakhir, menekankan pulpennya hingga tinta hitamnya sedikit meleber, lalu ia segera menutup laci itu kembali dengan hentakan kecil.

​"Bi! Bi Sumi!" Agnesa memanggil asisten rumah tangganya sambil menuruni tangga.

​"Iya, Non?"

​"Bi, Mama bilang sopir yang antar saya les, kan?"

​"Iya, Non. Pak Jaka sudah siap di depan."

​"Bilang ke Pak Jaka, kita mampir ke swalayan sebentar sebelum ke tempat les. Ada perlengkapan OSIS yang harus saya cek sendiri."

​"Oh, iya Non. Siap."

​Sepuluh menit kemudian, mobil sedan hitam itu meluncur keluar dari gerbang. Saat melewati pilar beton, Agnesa menoleh ke jendela samping. 

Tutup pentil itu tidak lagi terlihat, mungkin tertiup angin atau tertutup bayangan pohon. Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan.

​Di swalayan "Bintang Baru" yang terletak tidak jauh dari sekolah, suasana belum terlalu ramai.

 Suara musik instrumental pelan mengalun dari speaker langit-langit. 

Ting-tung.

"Selamat datang di Bintang Baru, selamat berbelanja."

​Agnesa mendorong troli kecil. Ia berjalan menuju lorong bahan makanan pokok. Ia memegang ponsel yang menampilkan foto revisi yang ia kirim ke Naren.

Agnesa berhenti di depan deretan dus mi instan. Ia mengambil satu bungkus, memutar-mutarnya di tangan, membaca informasi nilai gizi dengan sangat teliti, seolah-olah ia sedang meninjau dokumen negara penting. 

Ia menghabiskan tiga menit hanya untuk membandingkan kandungan natrium antara dua merek mi goreng, sementara matanya sesekali melirik ke ujung lorong yang masih kosong.

​"Dua puluh dus... angka ganjil menyulitkan pembagian," gumamnya sendiri. 

Ia teringat kalimat yang ia tulis semalam. Kenapa aku harus menulis sepanjang itu? Dia pasti berpikir aku aneh.

​Ia memasukkan beberapa barang kebutuhan pribadinya ke troli—susu cair rendah lemak, roti gandum, dan beberapa bungkus cokelat hitam. Ia terus berjalan menuju lorong minuman kotak.

​Di ujung lorong, ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenali.

​"Woy! Jangan dimakan dulu kerupuknya, Yan! Belum dibayar itu!"

​"Laper, Zo! Cacing di perut gue udah demo minta kenaikan upah!"

​Agnesa menghentikan langkahnya tepat di balik rak pajangan teh celup.

 Di lorong sebelah, tiga orang pemuda sedang berdiri mengelilingi dua troli besar yang hampir penuh. 

Naren, Venzo, dan Abyan. Naren memakai kaus abu-abu yang agak belel dan celana kargo pendek. Rambutnya berantakan, jauh dari kesan rapi yang selalu dituntut Agnesa.

Agnesa mengintip dari celah rak. Ia melihat Naren sedang memegang sebuah kotak susu cokelat kecil.

 Naren tidak meminumnya, ia hanya memegang kotak itu sambil mendengarkan perdebatan antara Abyan dan Venzo soal merek minyak goreng. 

Agnesa memiringkan kepalanya sedikit, jari-jarinya meremas pegangan trolinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Ren, ini revisi dari Ibu Negara bilang minyak gorengnya harus yang kemasan dua liter, bukan satu liter. Katanya lebih efisien tempat," Venzo membacakan kertas di tangannya.

​"Ambil aja yang dua liter," sahut Naren.

​"Tapi yang satu liter lagi diskon, Ren! Beli dua gratis satu! Matematika lo ke mana sih?" Abyan protes.

​"Revisinya bilang dua liter, Yan. Lo mau kita kena omel lagi Senin pagi?" Naren melempar kotak susu cokelat ke dalam troli dengan gerakan santai.

​"Cih, takut banget sama Agnesa. Lo beneran udah jadi budak cinta ya?"

Naren tidak langsung membalas. Ia menoleh ke arah rak teh celup—tepat ke arah tempat Agnesa bersembunyi.

 Agnesa segera menarik kepalanya ke belakang, napasnya tertahan. Jeda tiga detik berlalu sebelum Naren menjawab dengan suara datar.

​"Berisik. Cepetan ke kasir."

​Agnesa memejamkan mata. Jantungnya berdebu kencang. Kenapa aku harus sembunyi? Ini tempat umum. 

Ia menarik napas dalam, membetulkan letak kacamata hitamnya yang sebenarnya ia taruh di atas kepala, lalu dengan sengaja mendorong trolinya keluar dari balik rak, menuju lorong yang sama dengan mereka.

​Krieeet. 

Roda troli Agnesa yang sedikit macet mengeluarkan suara yang nyaring di lorong yang sunyi itu.

​Ketiga pemuda itu menoleh serempak.

​"Loh? Ibu Negara?" Abyan berseru kaget. Ia sedang memegang sebungkus besar kerupuk udang. "Ngapain di sini? Mau inspeksi mendadak ya?"

​Agnesa menghentikan trolinya tepat di depan mereka. Ia menjaga ekspresi wajahnya tetap datar, sedatar penggaris besi di tas sekolahnya.

 "Saya sedang belanja mingguan. Bukan inspeksi."

​"Kebetulan banget," Venzo tersenyum sopan. "Kami baru saja mau menyelesaikan daftar revisi dari kamu."

​Agnesa melirik ke dalam troli Naren. Matanya terpaku pada tumpukan mi instan, minyak goreng, dan... sebuah kotak susu cokelat tunggal di atas tumpukan beras.

​"Kalian belanja di hari Minggu?" tanya Agnesa.

​"Naren yang maksa," Abyan menunjuk Naren dengan kerupuknya.

 "Katanya biar Senin nggak grasak-grusuk. Padahal gue tadi mau nonton balapan di TV."

​Naren tidak bicara. Ia hanya berdiri di sana, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap Agnesa tanpa berkedip.

Naren melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka menjadi kurang dari satu meter.

 Agnesa tidak mundur, namun ia sedikit mendongak untuk menyeimbangkan perbedaan tinggi badan mereka. 

Dinamika di antara mereka seketika berubah; suara berisik Abyan dan Venzo seolah memudar menjadi latar belakang yang tidak penting.

​"Daftar lo ribet," kata Naren.

​"Itu namanya terorganisir, Naren. Kamu harus belajar bedanya," balas Agnesa.

​"Gue udah beli semua. Termasuk yang nggak boleh masuk anggaran."

​Agnesa melirik lagi ke arah susu cokelat itu. "Saya tidak peduli kamu beli apa untuk dirimu sendiri."

​"Oh ya?" Naren meraih kotak susu cokelat itu, lalu menyodorkannya ke arah Agnesa. "Nih."

​Agnesa terpaku. "Apa ini?"

​"Ganti yang kemarin siang. Anggap aja tiket parkir gue di depan rumah lo."

Agnesa menatap kotak susu di tangan Naren, lalu menatap wajah Naren. Ia tidak mengambilnya. Ia justru merapikan letak kerah kausnya sendiri yang sebenarnya sudah lurus. 

Tangannya sedikit gemetar, tapi ia menutupinya dengan cara menggenggam erat pegangan trolinya kembali.

​"Saya tidak butuh ganti rugi, Naren. Dan saya tidak minum susu manis."

​"Lo bohong," potong Naren cepat. "Kemarin pas lo lari masuk, gue lihat lo liatin kotak susu di meja dapur lo lewat jendela."

​Wajah Agnesa seketika memerah hingga ke telinga. "Kamu... kamu mengintip?"

​"Gue cuma punya mata yang berfungsi baik. Nggak usah gengsi. Ambil aja."

​Abyan dan Venzo saling lirik. Abyan menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa yang hampir meledak.

​"Ambil aja, Nes. Naren kalau udah ngasih barang terus ditolak, biasanya bakal dibuang ke tempat sampah. Mubazir kan?" timpal Abyan.

​Agnesa menelan ludah. Ia merasa semua mata di lorong itu—termasuk cctv di pojok atas—sedang memperhatikannya. 

Dengan gerakan yang sangat cepat, ia menyambar kotak susu itu dari tangan Naren dan memasukkannya ke dalam trolinya, menimbunnya di bawah roti gandum.

​"Hanya karena saya menghargai makanan. Bukan karena hal lain," tegas Agnesa.

​"Terserah," Naren mengedikkan bahu.

​"Sudah selesai belanjanya?" tanya Venzo berusaha menengahi suasana.

​"Sedikit lagi. Saya harus ke bagian alat tulis," jawab Agnesa.

​"Yaudah, kita duluan ke kasir ya, Bu Ketua. Sampai ketemu Senin pagi di ruang sidang!" Abyan melambai dengan riang sambil mendorong salah satu troli.

 Venzo mengangguk sopan pada Agnesa dan mengikutinya.

​Naren tidak langsung pergi. Ia tetap berdiri di sana selama beberapa detik.

"Les jam berapa?" tanya Naren.

"Jam sepuluh," jawab Agnesa singkat.

"Jangan telat makan siang."

Naren kemudian berbalik dan berjalan menyusul teman-temannya tanpa menunggu balasan.

​Agnesa berdiri mematung di lorong minuman. Ia menatap punggung Naren yang menjauh. 

Langkah pemuda itu santai, sedikit menyeret, tipikal orang yang tidak punya beban hidup.

​Ia meraba kotak susu cokelat di bawah roti gandumnya. Kotaknya masih dingin.

​"Dia benar-benar tidak sopan," bisik Agnesa pada deretan botol jus di depannya. "Tapi kenapa dia tahu saya les hari Minggu?"

​Ia teringat sesuatu. Saat pendaftaran OSIS awal semester, semua pengurus harus mengisi formulir jadwal mingguan untuk koordinasi rapat. Naren pasti pernah melihat formulirnya di ruang OSIS.

​"Dasar pengamat yang menyeramkan," gumamnya lagi.

Agnesa mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan ke sopirnya agar menjemput sepuluh menit lagi. 

Namun, ia justru membuka aplikasi catatan dan mengetik sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan belanja: 'Naren - Susu Cokelat - 10 Mei'. 

Setelah itu, ia segera menghapusnya dengan panik, seolah-olah ada orang yang sedang mengintip layarnya.

​Ia berjalan menuju kasir. 

Di sana, ia melihat ketiga anggota ZENTRIX itu sedang mengantre di kasir paling ujung. 

Abyan sedang sibuk mencoba memasukkan koin ke mesin donasi dengan gaya basket, sementara Venzo sibuk mengepak barang ke dalam kardus. Naren berdiri paling belakang, menatap ke arah pintu keluar.

​Agnesa memilih kasir yang paling jauh dari mereka. Ia tidak ingin ada interaksi tambahan.

​Bip. Bip. Bip. Suara pemindai harga terdengar berulang-ulang.

​"Totalnya jadi seratus lima puluh ribu rupiah, Kak," ucap kasir pada Agnesa.

​Agnesa membayar, lalu membawa kantong belanjaannya keluar. 

Saat ia berjalan menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggunya di lobi, ia melihat motor Naren meluncur keluar dari area parkir bawah tanah. 

Naren tidak melihatnya, atau mungkin dia pura-pura tidak melihat.

​Di dalam mobil, Agnesa duduk di kursi belakang. Ia mengeluarkan kotak susu cokelat itu.

Agnesa menusukkan sedotan plastik ke lubang kotak susu itu. 

Plup. 

Ia menyesapnya sedikit. Rasa manis cokelat dan dinginnya susu menyentuh lidahnya. Ia memejamkan mata sebentar, merasakan tenggorokannya yang tadi kering kini menjadi lebih nyaman. Ia menarik napas panjang, aroma susu cokelat itu memenuhi kabin mobil yang biasanya beraroma parfum jeruk yang tajam.

​"Pak Jaka," panggil Agnesa.

​"Iya, Non?"

​"Bapak tahu cara membetulkan tutup pentil ban motor?"

​Sopir itu melirik dari kaca spion tengah, tampak bingung. "Tinggal diputar saja, Non. Memangnya kenapa?"

​"Tidak apa-apa. Saya cuma tanya."

​Agnesa kembali menatap ke luar jendela. Mobilnya melewati jalanan yang mulai padat dengan orang-orang yang berolahraga pagi. 

Ia melihat sekelompok anak muda sedang tertawa di pinggir jalan, membawa raket badminton.

​Hidup ini berisik sekali kalau hari Minggu, pikir Agnesa.

​Ia teringat ayahnya yang selalu menuntut ketenangan total di hari libur. Ia teringat ibunya yang selalu bicara soal target dan pencapaian bahkan saat sedang sarapan.

​Lalu ia teringat Naren yang melempar kotak susu ke troli seolah-olah itu adalah hal paling natural di dunia. Tidak ada protokol, tidak ada etiket, hanya sebuah kotak susu seharga lima ribu rupiah.

"Saya benci susu manis," ucap Agnesa pelan.

Namun, ia terus meminumnya hingga terdengar suara sedotan yang menyedot udara di dasar kotak.

 Sruuuuup. Ia menghabiskannya sampai tetes terakhir.

​Sesampainya di tempat les, Agnesa turun dengan langkah yang lebih ringan. Ia membuang kotak susu kosong itu ke tempat sampah di depan lobi dengan gerakan yang sedikit terlalu bersemangat.

​"Selamat pagi, Agnesa. Siap untuk kalkulus hari ini?" sapa guru lesnya saat ia masuk ke ruangan.

​"Siap, Pak."

​Agnesa duduk di kursi belajar, membuka buku catatannya yang rapi. Namun, pikirannya melayang ke hari Senin. 

Ruang OSIS. Jam tujuh kurang lima belas menit.

​Ia membayangkan Naren masuk dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana, memakai dasi yang—mungkin—masih agak miring.

 Ia membayangkan dirinya sendiri berdiri di depan kelas, memberikan ceramah tentang kedisiplinan, sementara di sakunya, ada sebuah rasa manis yang tertinggal.

​"Agnesa? Kamu melamun?" tanya guru lesnya.

​"Maaf, Pak. Saya hanya sedang memikirkan klasifikasi logistik baksos sekolah."

​"Wah, rajin sekali. Padahal ini hari libur."

​"Tanggung jawab tidak mengenal hari libur, Pak," ucap Agnesa, mengulangi kalimatnya sendiri kemarin.

 Kali ini, kalimat itu terasa sedikit kurang kaku di lidahnya.

​Di luar, matahari Minggu siang semakin terik.

 Di suatu tempat di kota Bandung, Naren mungkin sedang membongkar dus-dus mi instan dengan sarung tangan plastik yang dibelikan Venzo, sambil mengumpat pelan karena revisi Agnesa yang terlalu detail.

​Dan entah mengapa, pemikiran itu membuat Agnesa tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang sangat langka dan tidak tercatat dalam jadwal mingguannya yang sempurna.

Di dalam saku rok Agnesa, ada selembar struk belanja dari swalayan tadi. 

Di bagian bawahnya, ada tulisan tangan kecil menggunakan pulpen merah yang ia bawa: 'Beli sendiri: Terlaksana'. 

Ia melipat struk itu menjadi bentuk persegi kecil yang sangat rapi, lalu menyimpannya di bagian paling dalam dompetnya.

​Minggu pagi hampir berakhir. 

Pacing hidup Agnesa yang biasanya monoton kini memiliki ritme yang sedikit naik-turun, seperti detak jantung yang baru saja menemukan alasan untuk berdegup sedikit lebih cepat.

​"Oke, mari kita mulai dengan turunan fungsi," kata guru lesnya.

​Agnesa mengangguk. Ia mulai menulis. Tulisannya tetap rapi, tetap tajam, tapi kali ini, ia tidak terlalu keberatan jika ada sedikit noda tinta yang mengotori jarinya.

BERSAMBUNG…

Bab Selanjutnya ➜

"Takut ditinggal?"

"Nggak peduli gue,"

Naren Beneran Nggak Peduli? Yuk Lanjut Baca Bab 6: Garis Batas

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!