Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Dahan kecil menjerit, ketika lembaran daunnya jatuh berguguran. Angin nakal membawa tanpa permisi. Lantas jatuh pada halaman asing tak diketahui. Semua orang menyaksikan, namun tak faham. Bagaimana mungkin sejumput rumput ilalang, dipandang bagai pohon Rumbia?
Ting...
Notifikasi pesan masuk secara bersamaan.
"Kita cuma berasal dari keluarga sederhana. Jika bukan karena kemurahan hati nyonya, kamu ngga akan bisa ngerasain belajar di sekolah elit. Anak ibu harus terus rendah hati, terutama sama anak nyonya, tapi ibu lupa siapa namanya "
"Jangan lupa sama tugas penting ini, jagain anak temen bunda dengan baik yah!"
"Ngga usah khawatir. Mamih udah bilang sama temen mamih, biar anaknya yang jagain kamu disana"
Naysilla, Mohan dan Olivia. Ketiga remaja yang kini tengah duduk di sofa, dengan laptop menyala. Tidak, bukan laptop yang menjadi fokusnya. Tapi pesan dari ibu masing-masing.
Dalam benak mereka, terlintas pertanyaan yang sama. "Siapa yang di maksud? Anak yang mana? Namanya siapa?"
Ding dong
Ding dong
Dentingan bel terdengar nyaring, mengacak lamunan ketiga remaja, pada pikiran masing-masing .
"Siapa Na?"
"Kayaknya tukang antar makanan deh, tadi aku order makanan" Naysilla menyibakkan selimutnya, tapi seketika ditahan Olivia.
"Biar aku ajah Nay. Kamu lagi sakit, duduk ajah disini" ujarnya lembut. Naysilla mengangguk patuh, lantas kembali menarik selimut sebatas dada.
"Kenapa dia ada di kamar lo?" Ucap Mohan tiba-tiba.
"Emangnya kenapa?"
"Di tanya malah balik nanya"
"Iya deh Iyah. Tadi waktu gue mau buang sampah di luar, terus dia lewat. Dia liat gue yang pucet, terus dia kasian. Terus dia nanya gue sama siapa di kamar, karena gue sendirian, jadi dia menawarkan diri untuk bantu rawat gue sekalian nemenin. Seperti itu ceritanya"
"Lo percaya sama dia?"
"Kenapa engga? Dia baik kok"
"Lo baru kenal sama dia dua hari, Na"
"Gue juga baru kenal sama lo dua hari"
"Lo percaya sama gue?"
"Percaya, hehehe..."
"Ati-ati sama orang yang baru lo kenal!"
"Iyah Iyah deh"
Hening, berbagai pertanyaan yang tak siap dilontarkan, berputar di kepala. Hingga Olivia kembali dengan nampan berisi makanan di atasnya.
"Naysilla, ini makanannya. Aku taro sini yah" ia meletakkan nampan itu diatas meja depan sofa. Terlihat tutup yang sedikit menganga. Mohan menatapnya dengan penuh selidik.
"Makasih" ucap Naysilla tulus.
"Sama-sama, tapi aku mau pulang dulu yah Nay. Udah sore, waktunya mandi sore"
Naysilla menilik jam digitalnya "sore apanya? Baru juga setengah 4"
"Hehe, maaf yah Nay. Aku ada perlu di luar"
"Hah, perlu diluar? Emangnya boleh keluar?" Bisiknya lirih.
Klik
Pintu tertutup sempurna. Memutus pandangan Naysilla dari pertanyaan yang belum sempat mendapat jawaban.
"Aneh banget dia, sering banget pergi buru-buru gitu"
Ia membuka penutup makanan, pelan. Aromanya tak terlalu kuat karena sudah dingin, tapi penampakannya mampu membuat air liur menetes.
Ia menyibakkan selimut sembarang, bersiap menyantap makan sorenya. Tapi rencana itu gagal saat sepasang tangan kekar mengambil paksa nampan itu.
"Eh, eh. Apaan nih? Momon, itu makanan gue....!"
Tak disangka, tanpa diduga, cowok itu dengan cepat melahapnya tanpa sisa.
"Nih" ia letakkan begitu saja mangkok kosong itu. Menghapus kasar sisa kuah yang menempel diujung bibir, lantas tersenyum miring.
"Lho, udah habis? Kok malah dimakan sih, lo habisin makanan gue Momon?" Suaranya naik dua oktaf. Ia berdiri dengan sedikit lemas.
"Udah gue duga, lo pasti bakal pesen makanan sembarangan"
"Ya kenapa? Gue pengen makan itu momon, tadi di kantin gue udah ngiler banget. Gue mau bakso tapi keburu di bully sama murid sialan itu" gerutunya kesal.
Ia kembali menyandarkan tubuh lemahnya di sofa. Mood nya berantakan. Menahan sakit kepala, rasa kesal dan lapar. Ditambah orang yang ia anggap tersangka malah sibuk dengan ponselnya.
"Nanti gue ganti" ditatapnya gadis berwajah pucat itu, tanpa rasa bersalah. Lantas berlalu kedepan, entah untuk apa.
Cukup lama, hampir sepuluh menit Mohan kembali dengan semangkuk makanan. Asap mengepul diatasnya, aroma kenikmatan mengudara.
Naysilla, dengan wajah cemberut mengintip sedikit, yang sialnya tertangkap basah oleh cowok itu. Mohan tertawa tanpa suara, semakin membuatnya jengkel saja.
"Habisin...! Gue balik dulu" ucapnya cepat. Lantas pergi tanpa permisi. Naysilla terlalu sibuk dengan makanan, hingga kepergiannya ia acuhkan.
"Buru-buru amat sih. Ah bodo amat, yang penting gue makan dulu. Kayaknya enak nih"
Dibukanya penutup makanan berbahan kaca. Seketika aroma lezat mengudara. Bagai mantra rahasia penyembuh lara. Sepertinya selain karena kehujanan, ia sakit karena kelaparan.
Semangkuk bubur ayam dengan toping bakso terhidang. Terdengar sedikit aneh, tapi ia suka.
"Rasanya kaya familiar, sedikit aneh tapi gue suka"
*****
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, namun suasana diluar nampak mencekam. Udara lembab menusuk kulit, memaksa manusia berlindung dibalik kain tebal mereka.
Naysilla berjalan diatas rumput basah. Aroma malam bercampur sisa hujan, terasa menyejukkan. Ia berjalan sendirian mengikuti rombongan tak dikenal.
Matanya meliar, saat kaki menapaki pintu sebuah kantin. Tanpa ragu, ia melangkah menuju barisan antrian. Hanya mengambil menu sederhana, lantas menuju meja kosong disudut ruangan.
Kring kring
Layar ponselnya menyala. Tertera kontak bernama momon cupu tengah melakukan panggilan kepadanya. Dengan cepat ia menggeser icon hijau, menerima telepon.
"Lo dimana?"
"Meja pojok samping Dispenser"
"Oh, udah nyampe kantin"
"Iyah, lo lama jadi gue duluan"
"Oke gue nyusul sekarang"
Tut...
Ia mengurungkan niatnya menikmati santapan malam. Memutuskan menunggu teman cowoknya terlebih dahulu. Dibukanya hoodie tebal miliknya, serta masker penutup wajah.
Ia memang sedikit was-was. Terbayang-bayang, takut kejadian tak mengenakan kembali terulang.
"Nay...! Naysilla...!" pekik Olivia heboh. Tangannya melambai-lambai. Ia tersenyum riang ditengah antrian.
"susah payah gue ngumpet disini, dia malah manggil gue sekencang itu. Ah sial...!" batinnya kesal.
"Nay, aku ikut gabung disini yah?" ucap Olivia dengan satu nampan penuh makanan. Naysilla mengangguk lemah, sambil menyeruput lemon thea nya.
"Lo sendiria?" tanya Naysilla menyelidik.
"Iyah"
"Kemana temen baru lo?"
"Temen yang mana? Temen baruku kan kamu, Naysilla. Hehe..." jawabnya dengan senyum Pepsodent.
"Si pirang itu?"
"Oh Jessy, ada kok"
"A-apah?"
Uhuk...
Saking terkejutnya, ia sampe tersedak minum sendiri.
"Sial, kayaknya gue ngga aman malam ini" batinnya. Ia mengelus dadanya pelan.
"Kenapa Nay? Pelan-pelan ajah minumnya" ucap Olivia lirih. Ada semburat kekhawatiran saat ia menatap wajahnya sekejap. Hanya sekejap.
Aroma maskulin tercium samar. Naysilla mengerutkan dahi "ini bukan wangi parfum momon, wanginya lumayan walau sedikit menyengat" batinnya. Ia membalikkan tubuhnya, dan mendapati sesosok cowok asing tersenyum tak jauh darinya.
Cowok berparas manis dengan hoodie hitam dan celana robek.
"Hai" sapa cowok itu ramah.
"Hai juga" balas Olivia ikut campur. Ia membasahi bibirnya dengan lidah. Berekspansi centil guna menarik perhatian cowok asing itu. Tapi sayangnya berakhir sia-sia.
"Kenalin, nama gue Satria"
Naysilla menegakkan punggung. Ia pandangi tangan yang melayang di udara. Belum sempat ia menjabat tangan cowok itu, dari arah belakang datang serombongan gadis berpenampilan modis.
Wajahnya memancarkan kemarahan. Hingga pertempuran dimulai.
Terlalu cepat. Naysilla bahkan tak tau kapan tibanya rombongan gadis itu. Spontan ia menutupi wajahnya. Ketika telapak tangan hampir mendarat di pipinya.
Satu detik, dua detik, hening. Ia merasakan kehangatan melingkupinya. Disertai aroma lembut tapi maskulin tercium samar.
"Lo nggak apa-apa Na?" Digenggamnya kedua bahu gadis itu. Mohan menatap dengan wajah gelisah.
"Hah, gue...?" tubuhnya berotasi, menyaksikan pemandangan keributan sepasang sejoli yang entah karena apa.
"Ini semua gara-gara lo. Dasar cewek ganjen, cewek miskin, kampungan...! Lo sengaja kan mau merayu cowok gue....?" Pekik si pirang dengan wajah berang.
Kedua temannya begitu kerepotan memegangi nya, karena ia hampir saja menyerang didepan umum.
"Lo yang apa apaan. Kita udah putus satu Minggu yang lalu, ngga usah ganggu gue...!" bentaknya kasar.
Tak peduli masalah mereka jadi konsumsi publik. Ia meninggalkan Jessy begitu saja. Berniat mengejar kembali buruannya, tapi ia urungkan ketika melihat gadis itu tengah digandeng cowok lain.
"Hahaha... Cewek kampung kaya lo emang pantes nya sama si Cupu. Cocok banget sih kalian. Hahahaha..." ucap Jessy remeh.
Suasana kantin yang cukup ramai tapi sunyi, sehingga suaranya menggema ke penjuru ruangan.
Bisik-bisik kembali terdengar. Terjadi pro dan kontra antara dua kubu. Tak banyak yang merasa iba pada Naysilla. Sebagian Meraka mencemooh, melontarkan caci maki, karena berpihak pada si pirang Jessy.
Gadis berambut ikal tersenyum miring, saat mendapati sosok bayangan menghilang disudut ruangan.
"Rencana kita berhasil. Umpan dimakan korban" bisiknya lirih pada si pirang Jessy.
cupu tuh apaan ?