NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 5

Nadia melangkah dengan langkah besar.

Dada perempuan itu naik turun menahan amarah.

Jemarinya mengepal kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.

Begitu sampai di hadapan meja, ia menatap Ratna tajam.

“Ratna!”

Suara Nadia meninggi.

Beberapa pengunjung langsung menoleh ke arah mereka.

Ratna.

Nama itu saja sudah cukup membuat dada Nadia sesak.

Sejak kecil, sepupunya itu selalu ingin memiliki apa pun yang Nadia punya.

Bahkan setelah kedua orang tua Nadia meninggal, ayah Ratna mengambil sebagian besar hasil penjualan rumah warisan yang seharusnya menjadi hak Nadia.

Ratna selalu hadir seperti duri dalam daging.

Tersenyum manis, tetapi diam-diam melukai.

Ratna menoleh.

Senyum mengejek terbit di sudut bibirnya.

Sementara Nanda menegang di kursinya.

Cup minuman bersoda di tangannya hampir terjatuh.

“Kenapa kamu memberikan makanan dan minuman sembarangan pada Nanda?” suara Nadia bergetar menahan marah.

Tanpa menunggu jawaban, Nadia langsung mengambil gelas minuman bersoda dari tangan Nanda.

“Ya ampun, Mira.” Ratna menyandarkan tubuh ke kursi dengan santai. “Sesekali saja. Nggak akan mati, kan? Lagian dia bukan anak....”

“Stop, Ratna.”

Nada suara Nadia tegas.

Tatapannya berubah dingin.

Ia tak ingin Ratna menyebut sesuatu yang bisa mengungkap kenyataan bahwa Nanda bukan anak kandungnya.

“Maaf, Bunda.”

Suara Nanda bergetar.

Mata anak itu mulai berkaca-kaca.

Melihat itu, amarah Nadia langsung runtuh.

Ia segera berjongkok di hadapan Nanda.

Kedua tangan mungil itu digenggam erat.

“Sayang, Bunda melakukan ini karena Bunda sayang pada Nanda.”

Nadia mengusap pipi anak itu dengan lembut.

“Lihat, sekarang Nanda sehat. Jarang sakit. Dan selalu menjadi juara kelas. Itu karena Nanda anak yang pintar.”

Ratna terkekeh pelan.

“Ah, kamu tahu apa tentang mendidik anak?” katanya sinis. “Kamu cuma ibu rumah tangga. Kurang pergaulan. Anak-anak itu harus senang. Kalau sakit, ya tinggal diobati.”

Tatapan Nadia berubah tajam.

Rahangnya mengeras.

“Enak sekali kamu bicara.” Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan. “Siapa kamu sampai merasa berhak merusak semua hal yang sudah aku bangun untuk Nanda?”

Ratna mengangkat bahu.

“Kalau aturanmu bikin anak tertekan, mungkin memang aturannya yang salah.”

“Bunda...” bisik Nanda pelan.

Sebelum Nadia sempat menjawab, suara Yuni terdengar.

“Ada apa ini?”

Yuni baru saja kembali ke dalam mal.

Sedari tadi ia mengomel sendirian karena Nadia menghilang begitu saja.

Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat Nadia sedang memarahi Ratna.

Nanda segera berlari memeluk neneknya.

“Oma...”

Anak itu menangis.

“Nanda tadi Mamah Ratna dan Papah jemput Nanda, Oma. Ngajak aku makan di sini.”

“Dengar sama kamu, Ratna. Nanda tidak mau makan seblak, kamu yang ngajak!” kesal Nadia.

“Sudah, Nadia, sudah. Jangan ribut. Malu sama orang,” tegur Yuni.

“Bu, dia sudah memengaruhi Nanda. Aku menjaga pola makan Nanda demi kesehatan Nanda. Aku tidak ingin Nanda sakit, Bu.”

“Ratna, lagian kamu juga kenapa ajak Nanda makan sembarangan?”

Kali ini Yuni menatap Ratna dengan kesal.

Namun Ratna tetap tenang.

Ia bahkan tersenyum santai.

“Sudahlah, Mah. Jangan norak. Aku sayang sama Nanda. Sesekali makan enak yang ada rasanya apa salahnya? Dan maaf, Mah, tadi aku menjemput Nanda bersama Raka.”

Tentu saja itu bukan permintaan maaf.

Itu adalah pengumuman.

Rahang Nadia langsung mengeras.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

Suaminya tidak pulang.

Tidak bisa dihubungi.

Katanya sibuk bekerja.

Tapi sempat-sempatnya bersama Ratna menjemput Nanda.

Perut Nadia terasa melilit.

“Ratna, lain kali kalau mau jemput Nanda kamu bilang dulu sama Mamah. Biar Mamah enggak khawatir dan kita bisa belanja bersama. Nadia tidak pandai pilih barang. Bawa Nadia aku kayak bawa pembantu saja,” ucap Yuni.

Kalimat itu menghantam Nadia tanpa ampun.

Dadanya terasa nyeri.

Ia yang membayarkan semua belanjaan.

Ia yang mengurus semua kebutuhan.

Namun sekarang justru disebut seperti pembantu.

Ratna tentu saja tersenyum penuh kemenangan.

Sorot matanya dipenuhi kepuasan.

Tak terasa air mata turun membasahi pipi Nadia.

Ia segera membuang wajah, tetapi terlambat.

“Bunda... Bunda jangan nangis.”

Nanda menarik-narik tangan Nadia dengan panik.

Hati Nadia menghangat.

Setidaknya Nanda masih peduli padanya.

Namun Ratna justru menatap Nanda dengan ekspresi kecewa.

Tatapan itu membuat Nanda perlahan melepaskan tangannya dari Nadia.

Alis Nadia langsung berkerut.

Ada sesuatu yang tidak beres.

“Jangan-jangan Nanda dipaksa ikut Ratna.”

Pikiran itu melintas begitu saja.

Amarah kembali naik ke permukaan.

Namun Nadia menahannya.

Ada Nanda di sini.

Ia sudah memberi contoh buruk dengan meluapkan emosi.

Ia tidak ingin mengulanginya lagi.

“Terima kasih, Sayang. Nanda tahu kan kenapa Bunda menjaga makan Nanda?”

“Iya. Bunda sayang Nanda,” jawab Nanda.

Hanya kalimat sederhana itu.

Namun cukup membuat hati Nadia kembali hangat.

Ratna terlihat tidak senang melihat kedekatan mereka.

Perempuan itu langsung mengambil ponselnya.

“Mas Raka, aku di mal.”

Ratna sengaja mengeraskan suaranya.

Nadia langsung menoleh.

Perasaan tidak nyaman kembali muncul.

“Ada hubungan apa antara Mas Raka dan Ratna?”

Tak lama kemudian terdengar suara Raka dari ponsel.

“Kamu harus segera kembali ke kantor.”

“Baik, Mas. Aku pulang sekarang.”

Ratna tersenyum dramatis lalu berkata pada Yuni,

“Mamah, aku kembali kerja ya. Mas Raka menunggu aku.”

“Ya, pulanglah sana. Karier kamu lebih penting.”

“Maaf ya, Mah, enggak bisa temani Mamah belanja.”

“Iya, enggak apa-apa.”

Ratna lalu menoleh ke arah Nadia.

Senyumnya penuh ejekan.

Nadia mengepalkan tangan kuat-kuat.

Kuku-kukunya sampai menekan telapak tangan sendiri.

Andai saja tidak ada Nanda di sana, ia mungkin sudah kehilangan kesabaran.

Suaminya tidak pulang.

Tidak membalas pesan maupun panggilan teleponnya.

Sedangkan saat Ratna menelepon, langsung merespons.

“Jangan-jangan mereka mempunyai hubungan.”

Pikiran itu kembali muncul.

Dan lagi-lagi Yuni terlihat begitu dekat dengan Ratna.

Nadia mengembuskan napas berat.

Dadanya terasa penuh.

“ Kamu memang selalu ingin merebut yang aku punya,” ucap Nadia dalam hati.

“Sudah, ayo pulang,” kata Yuni.

Nadia meraih tas sekolah Nanda dan kantong-kantong belanja.

Sementara Yuni menggandeng tangan Nanda.

Anak itu berjalan dengan wajah tertunduk.

Entah karena takut.

Entah karena merasa bersalah.

Mereka keluar dari mal dalam diam.

Tak ada satu pun yang berbicara.

Beberapa menit kemudian, taksi online datang.

Nadia duduk di kursi depan.

Yuni dan Nanda duduk di kursi belakang.

Suasana di dalam mobil sunyi.

Hanya terdengar dengungan pendingin udara dan musik pelan dari radio.

Tiba-tiba suara Yuni memecah keheningan.

“Andaikan kamu punya mobil sendiri seperti Ratna.”

Nadia memejamkan mata sejenak.

Bukan karena ia tak mampu.

Kalau hanya membeli sebuah mobil, Nadia lebih dari sanggup.

Bahkan jika ingin, ia bisa membeli mobil yang jauh lebih baik daripada milik Ratna.

Namun untuk apa?

Nadia tak pernah merasa perlu membeli sesuatu hanya demi menandingi orang lain.

Selama ada taksi online, ia bisa pergi ke mana saja dengan nyaman.

Tak perlu repot memikirkan sopir, parkir, atau biaya perawatan.

Lagipula, ada kepuasan tersendiri saat ia bisa berbagi rezeki dengan para pengemudi yang bekerja keras mencari nafkah.

Di mata Nadia, kesederhanaan bukanlah kekurangan.

Itu adalah pilihan hidup.

Sayangnya, tak semua orang memahaminya.

Nadia menatap jalanan di depan.

Matanya terasa panas.

Di dadanya, luka-luka hari itu masih terasa segar.

Ucapan Ratna.

Sikap Raka.

Dan kalimat Yuni yang tak pernah gagal merendahkan dirinya.

Namun Nadia tetap memilih diam.

Karena terkadang, diam adalah satu-satunya cara agar air mata tidak jatuh di hadapan orang-orang yang tak pernah benar-benar memahami perasaannya.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!