NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah di Bawah Sumpah

Ruang sidang Pengadilan Agama hari ini terasa jauh lebih sempit dan pengap daripada biasanya. Rania duduk di kursi penggugat dengan setelan formal berwarna abu-abu gelap, wajahnya tampak tenang bagaikan permukaan danau yang membeku. Di sampingnya, seorang pengacara handal yang disiapkan oleh Elang sedang merapikan tumpukan berkas.

​Di seberang sana, Rendra duduk dengan gelisah. Penampilannya jauh dari kata rapi; matanya merah karena kurang tidur, dan jasnya tampak sedikit kebesaran—mungkin karena nafsu makannya hilang sejak rumahnya menjadi seperti gua tanpa listrik dan air bersih. Tapi di balik wajah kuyu itu, tersimpan kilat kebencian yang nyata. Ia merasa telah menyiapkan peluru yang akan menghancurkan reputasi Rania selamanya.

​"Sidang dibuka," ketuk hakim ketua dengan tegas.

​Setelah pembacaan gugatan cerai dan hak asuh anak oleh pihak Rania, hakim beralih kepada Rendra. "Saudara tergugat, apakah Anda menerima gugatan ini atau ingin memberikan pembelaan?"

​Rendra berdiri dengan perlahan, menarik napas panjang untuk memberikan kesan dramatis. Ia tidak menatap hakim, melainkan menunjuk tepat ke arah Rania dengan jari yang gemetar.

​"Saya menolak keras gugatan hak asuh anak ini, Yang Mulia! Dan saya ingin mengajukan gugatan rekonvensi," suara Rendra menggema di ruang sidang.

"Istri saya, Rania, bukanlah wanita suci yang dizalimi seperti yang ia ceritakan. Alasan dia meninggalkan rumah dan mengunci data perusahaan saya adalah karena dia memiliki hubungan gelap dengan pria lain!"

​Gumam kaget terdengar dari beberapa kerabat yang hadir. Ibu Ratna yang duduk di kursi penonton langsung berteriak, "Benar itu, Pak Hakim! Menantu saya ini pezina! Dia kabur ke apartemen pria kaya!"

​Hakim mengetuk palu dengan keras. "Harap tenang! Saudara Tergugat, apakah Anda memiliki bukti atas tuduhan perselingkuhan ini?"

​Rendra tersenyum licik. Ia mengeluarkan sebuah amplop berisi foto-foto Rania yang sedang masuk ke mobil Elang Danuarta malam itu, dan foto mereka berdua di balkon apartemen mewah.

"Ini buktinya, Yang Mulia! Belum genap 24 jam dia keluar dari rumah, dia sudah tinggal di apartemen Elang Danuarta. Bagaimana mungkin seorang ibu yang baik membawa anaknya tinggal bersama pria asing jika bukan karena ada hubungan spesial? Dia sengaja menghancurkan saya agar bisa hidup mewah dengan selingkuhannya!"

​Rania tetap diam. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Ia hanya melirik sekilas ke arah foto-foto itu, kemudian beralih menatap Rendra dengan tatapan penuh simpati—tipe simpati yang diberikan seseorang kepada orang yang sedang kehilangan akal sehatnya.

​"Apakah Saudara Penggugat ingin menanggapi?" tanya hakim.

​Rania berdiri dengan tenang. Ia tidak butuh pengacaranya untuk menjawab hal ini. Ia ingin menyuarakannya sendiri.

​"Yang Mulia, foto-foto itu benar adanya. Saya memang berada di kendaraan Pak Elang dan tinggal di salah satu unit apartemen miliknya," ucap Rania dengan suara yang jernih dan tak bergetar sedikit pun.

​Rendra langsung berseru, "Lihat! Dia mengaku, Yang Mulia!"

​"Akan tetapi," lanjut Rania, suaranya sedikit meninggi hingga membungkam Rendra.

"Saya berada di sana bukan sebagai simpanan, melainkan sebagai aset berharga yang sedang diselamatkan. Malam itu, saya membawa anak saya yang hampir meninggal karena serangan asma akut. Suami saya, Tuan Rendra, menolak mengantar ke rumah sakit karena lebih memilih melakukan video call mesum dengan wanita bernama Gisela."

​Rania mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya. "Jika Tuan Rendra punya foto saya sedang masuk mobil, maka saya punya rekaman data log dari kamera dashboard mobil Pak Elang yang merekam bagaimana saya menggendong anak saya yang sedang kejang di tengah hujan deras, berteriak meminta tolong di jalanan karena suami saya enggan meminjamkan kunci mobilnya atau pun mengantarkan kami."

​Rania melangkah maju, meletakkan tablet itu di meja hakim. "Dan soal apartemen? Itu adalah fasilitas perlindungan saksi dan karyawan yang diberikan oleh Danuarta Group karena saya adalah pemegang kunci aset digital mereka yang terancam disalahgunakan oleh pihak Wijaya Corp. Tidak ada hubungan asmara. Yang ada hanyalah hubungan antara seorang penyelamat dan korban penelantaran."

​Rania menoleh ke arah Rendra, matanya berkilat tajam. "Mas Rendra ... kamu menuduhku selingkuh dengan Elang? Lucu sekali. Kamu pikir semua orang sepertimu, yang tidak bisa menahan nafsu saat ada wanita cantik sedikit saja?"

​"Rania, jangan berbohong! Kamu pasti tidur dengan dia untuk mendapatkan posisi itu!" teriak Rendra, wajahnya kini merah padam karena malu.

​"Mas, tolong bedakan antara tidur untuk posisi dan pintar untuk posisi," sahut Rania dengan nada pedas yang menghujam jantung.

"Kamu menuduhku berselingkuh untuk menutupi kenyataan bahwa kamu sendiri adalah pezina yang nyata. Yang Mulia, jika Tuan Rendra ingin bicara soal perselingkuhan, saya memiliki bukti mutasi rekening Tuan Rendra selama dua tahun terakhir ke akun atas nama Gisela Putri. Mulai dari biaya sewa apartemen, pembelian tas mewah, hingga biaya liburan ke Bali yang dia katakan pada saya sebagai perjalanan dinas."

​Suasana sidang seketika berbalik. Rendra terperangah. Ia tidak tahu Rania diam-diam sudah mengumpulkan semua jejak digital finansialnya.

​"Uang yang kamu pakai untuk menyenangkan selingkuhanmu itu, Mas ... adalah uang yang seharusnya menjadi tabungan pendidikan Abid. Dan sekarang, kamu punya muka untuk menuduhku tidak bermoral?" Rania tertawa dingin, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Rendra berdiri.

​"Hak asuh anak tidak diberikan kepada siapa yang paling kaya, Rendra. Tapi diberikan kepada siapa yang paling manusiawi. Dan di ruangan ini, semua orang bisa melihat ... pria yang menelantarkan anaknya yang sedang sekarat demi wanita simpanan, bukanlah seorang ayah. Dia hanyalah seorang kriminal yang kebetulan punya surat nikah."

​"Cukup! Kurang ajar kamu, Rania!" Ibu Ratna berdiri dan hendak melabrak Rania, petugas keamanan segera menahannya.

​Hakim mengetuk palu berkali-kali. "Tergugat, tuduhan Anda tidak didukung oleh bukti yang kuat mengenai adanya hubungan asmara, sementara Penggugat telah memberikan bukti fisik dan digital mengenai penelantaran anak serta dugaan perselingkuhan dari pihak Tergugat. Persidangan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi minggu depan."

​Rania merapikan tasnya, ia menatap Rendra yang kini terduduk lemas di kursinya, dikelilingi oleh tatapan sinis dari orang-orang di ruang sidang.

​"Mas," panggil Rania pelan sebelum ia melangkah keluar. Rendra mendongak, berharap ada sedikit belas kasihan.

​"Fitnahmu tadi ... justru memudahkan jalanku untuk mengambil hak asuh penuh Abid tanpa celah. Terima kasih karena sudah menjadi bodoh di saat yang tepat. Aku tidak perlu bersusah payah menghancurkanmu, karena ternyata, kamu sangat ahli menghancurkan dirimu sendiri."

​Rania berjalan keluar dari ruang sidang dengan kepala tegak. Di lobi pengadilan, Elang sudah menunggu di samping mobilnya, mengenakan kacamata hitam dengan senyum tipis di bibirnya.

​"Bagaimana sidangnya?" tanya Elang sambil membukakan pintu untuk Rania.

​"Panas, pedas, dan berakhir memuaskan," jawab Rania sambil masuk ke dalam mobil. "Rendra mencoba memfitnah kita, El. Tapi sepertinya dia lupa, bahwa di dunia ini, data tidak pernah berbohong ... tidak seperti mulutnya."

​Mobil mewah itu meluncur meninggalkan pengadilan, meninggalkan Rendra yang kini harus menghadapi amukan Ibu Ratna dan tagihan pengacara yang mulai menumpuk.

​Rania memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Gisela. "Selanjutnya ... wanita itu. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan saat dia mencoba merebut ayah dari anakku."

1
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
akhirnya mereka di penjara
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
walau jauh bisa memantau lewat cctv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!