NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gengsi di atas segalanya

Kalila baru saja berpamitan untuk pulang ketika mobil antar-jemput sekolah Daffa memasuki halaman rumah. Begitu mobil berhenti, bocah laki-laki itu turun dengan langkah penuh semangat. Di tangannya tergenggam selembar kertas gambar yang sejak tadi dijaganya agar tidak terlipat.

“Auntie Lila!” serunya sambil berlari kecil.

“Hati-hati, nanti jatuh,” tegur Kalila.

Daffa berhenti tepat di hadapannya. Nafasnya sedikit terengah karena terlalu bersemangat.

“Auntie, lihat hasil mewarnaiku di sekolah!” ujarnya bangga sambil mengangkat kertas itu. “Bagus, kan?”

Kalila menerima kertas tersebut lalu memperhatikannya dengan saksama.

“Masyaallah, bagus sekali!” pujinya tulus. “Keponakan Auntie ternyata punya bakat seni.”

Wajah Daffa langsung berbinar. Sejak bersekolah di PAUD, menggambar dan mewarnai memang menjadi kegiatan favoritnya. Dari waktu ke waktu, hasil karyanya semakin rapi dan indah.

Hari itu ia menggambar pemandangan sawah di pagi hari. Terlihat seorang petani sedang membajak sawah menggunakan kerbau, sementara beberapa ekor bebek berenang di genangan air. Perpaduan warnanya tampak serasi dan hidup.

Daffa tersenyum puas mendengar pujian tersebut. Lalu ia menoleh ke arah Kinanti yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Tante, nanti gambar ini dikasih bingkai kaca terus dipajang di ruang tamu ya,” pintanya penuh harap. “Biar kalau ada tamu yang datang, mereka bisa lihat.”

Kinanti tersenyum hangat.

“Tentu saja boleh.”

Wajah Daffa semakin berseri. Namun Kalila tiba-tiba berkata, “Masa masih manggil Tante?” ujarnya. “Beliau kan sudah jadi istri ayahmu. Harusnya kamu memanggilnya Ibu.”

Senyum Daffa perlahan memudar.

“Ehm...”

Kinanti segera menangkap perubahan ekspresi bocah itu.

“Sudah, nggak apa-apa kok,” sela Kinanti lembut. “Daffa, sekarang ganti baju dulu, setelah itu makan, ya.”

Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak menjadi canggung.

“Memangnya Tante masak apa?” tanya Daffa penasaran.

“Tante masak udang goreng tepung.”

“Asyik!”

Daffa langsung berlari masuk ke dalam rumah. Kalila menggeleng pelan setelah bocah itu menghilang dari pandangan.

“Apa susahnya sih manggil Ibu? Padahal Mbak Kinan yang mengurus semua kebutuhannya.”

Kinanti hanya tersenyum.

“Daffa cuma butuh waktu.”

Kalila menatap kakak iparnya itu beberapa saat. Lagi-lagi ia dibuat kagum oleh kesabaran wanita tersebut.

“Aku pamit pulang dulu ya, Mbak.”

Kinanti mengangguk.

“Kue bolunya nggak dibawa?”

Kalila menoleh ke meja teras. Sebuah wadah berisi bolu pandan masih tergeletak di sana.

“Oh iya!” Ia menepuk dahinya sendiri. “Aku sampai lupa.”

Keduanya terkekeh.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Setelah mengantar Kalila sampai gerbang, Kinanti masuk kembali ke dalam rumah. Di ruang makan, ia mendapati Daffa sudah berganti pakaian dan sedang menikmati makan siangnya.

Bocah itu menyantap udang goreng tepung dengan lahap hingga pipinya menggembung penuh makanan.

“Enak nggak udangnya?” tanya Kinanti sambil duduk di kursi seberangnya.

“Enak banget,” jawab Daffa dengan mulut penuh.

Kinanti terkekeh geli.

“Makan pelan-pelan. Nanti tersedak.”

Daffa mengangguk cepat lalu kembali melanjutkan makannya.

Tiba-tiba pandangan bocah itu tertuju pada rak sepatu yang berada di dekat pintu.

“Loh, sepatu Mas Yudha, kok ada di rumah? Memangnya Mas Yudha nggak sekolah?”

Kinanti sempat terdiam sejenak.

“Mas Yudha pulang lebih awal,” jawabnya hati-hati. “Katanya guru-guru di sekolah sedang rapat.”

“Ooh... gitu ya.”

Daffa mengangguk tanpa curiga sedikit pun.

Saat itulah terdengar suara seseorang dari arah teras.

“Permisi... Bu Keenan.”

Kinanti langsung mengenali suara tersebut. Itu Ozi.

“Kamu lanjutkan makannya ya, Tante ke depan sebentar.”

Namun rasa penasaran Daffa ternyata jauh lebih besar daripada rasa laparnya. Begitu Kinanti melangkah menuju teras, bocah itu diam-diam turun dari kursinya. Ia mengintip ke arah pintu, lalu menyusulnya. Daffa sangat ingin tahu siapa tamu yang datang.

“Bu Keenan, semua pekerjaan sudah beres. Halamannya sudah rapi, dan toren air juga sudah bersih. Saya sikat sampai kinclong,” lapor Ozi sambil mengusap keringat di dahinya.

Kinanti tersenyum.

“Tunggu sebentar, ya.”

“Bu, saya tidak minta bayaran, lho,” sahut Ozi cepat.

Kinanti mengernyit.

“Maksud kamu?”

“Tadi saya sudah bilang ke Pak Keenan. Saya mengerjakan semuanya dengan sukarela. Saya tidak mengharapkan upah apapun.”

“Kamu mengerjakan semua itu dengan tenaga dan waktu,” jawab Kinanti lembut. “Kalau saya membiarkanmu pulang tanpa menerima apa pun, justru saya yang tidak menghargai usahamu.”

“Bu Keenan... Bu... tidak usah!”

Namun Kinanti sudah terlanjur masuk ke dalam rumah. Saat itulah Ozi menyadari ada sepasang mata kecil yang mengintip dari balik pintu. Daffa berdiri setengah bersembunyi, memperhatikannya dengan rasa penasaran.

Ozi tersenyum lebar.

“Eh, anak ganteng. Siapa namamu?”

Daffa tidak langsung menjawab. Tatapan matanya turun ke lengan Ozi yang penuh tato. Penampilan pria itu membuatnya sedikit ragu untuk mendekat.

“Nggak usah takut. Om Ozi nggak gigit, kok,” ujar Ozi sambil terkekeh.

Daffa ikut tertawa kecil. Keraguannya perlahan mencair. Ia melangkah keluar mendekat.

“Om Ozi temannya Ayah atau Tante?” tanyanya polos.

“Tante?” Ozi mengulang dengan bingung.

Sebelum Ozi sempat bertanya lebih jauh, Kinanti kembali keluar membawa beberapa lembar uang.

“Ozi, ini upahmu. Terima kasih sudah membantu hari ini,” ujarnya sambil menyodorkan uang itu.

“Saya kan sudah bilang tidak minta upah.”

“Ambil saja. Anggap sebagai bekal. Besok kamu mulai bekerja ‘kan?”

Ozi menatap uang itu beberapa saat sebelum akhirnya menerimanya.

“Terima kasih banyak, Bu Keenan.”

Kinanti hanya tersenyum tipis. Ia sudah mulai terbiasa mendengar panggilan itu.

Daffa yang tadi berdiri di dekat mereka kini berlari masuk ke dalam rumah. Setelah bocah itu menghilang dari pandangan, Ozi kembali menoleh kepada Kinanti.

“Maaf kalau saya lancang bertanya,” ucapnya hati-hati sambil menggaruk tengkuk. “Tadi bocah itu memanggil Ibu dengan sebutan Tante. Saya jadi bingung.”

Sorot mata Kinanti melembut.

“Saya ibu sambungnya Daffa. Ibu kandungnya sudah meninggal dunia.”

“Oh...” Ozi mengangguk pelan. “Maaf, saya tidak tahu.”

“Tidak apa-apa."

Beberapa saat mereka terdiam sebelum Ozi menundukkan kepala sopan.

“Kalau begitu saya pamit, Bu. Terima kasih untuk semuanya.”

“Hati-hati di jalan.”

“Siap, Bu.”

Ozi tersenyum lalu berjalan menuju sepeda motornya. Tak lama kemudian suara mesin kendaraan itu menghilang di balik gerbang.

Kinanti masuk kembali ke dalam rumah. Awalnya ia berniat mengajak Daffa melanjutkan makan siangnya. Namun bocah itu sudah tidak berada di meja makan. Pandangannya menyapu ruang tengah dan menemukan Daffa tertidur pulas di atas sofa. Mungkin karena terlalu kenyang atau lelah setelah bermain seharian.

Senyum tipis terbit di bibir Kinanti. Ia mendekat, lalu mengusap lembut rambut Daffa. Saat itulah bibir kecil Daffa bergerak pelan.

“Ibu...”

Kinanti membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik.

“Ibu...”

Suara itu terdengar lagi, lirih dan samar. Mata Kinanti mendadak terasa hangat. Mungkin dalam tidurnya bocah itu sedang bertemu dengan almarhumah Ratih, sosok ibu yang sangat dirindukannya.

Tiba-tiba pintu kamar Yudha terbuka.

Remaja itu keluar dengan rambut sedikit berantakan. Matanya masih terlihat berat, tanda ia baru saja terbangun dari tidur siang. Namun begitu pandangannya bertemu dengan Kinanti yang sedang duduk di ruang tengah, ekspresinya langsung berubah masam.

“Yudha, kalau lapar, Tante sudah masak,” ujar Kinanti lembut.

Yudha sama sekali tidak menanggapi. Ia berlalu begitu saja menuju dapur seolah tak mendengar apa pun.

Kinanti hanya menghela nafas pelan.

Dari ambang pintu dapur, ia memperhatikan Yudha membuka kulkas lalu mengambil sebutir telur. Rupanya remaja itu berniat memasak sendiri.

Yudha meletakkan teflon di atas kompor, lalu memutar kenop gas hingga api menyala besar. Setelah itu ia menuangkan minyak goreng dalam jumlah yang menurutnya cukup. Sayangnya, ia tidak menyadari bahwa minyak yang dituangkannya terlalu banyak.

Kinanti tetap diam memperhatikan. Beberapa saat kemudian, Yudha memecahkan telur. Namun karena dilakukan tergesa-gesa, sebagian cangkangnya ikut jatuh ke dalam minyak.

“Ah, sial!” gerutunya.

Ia buru-buru berusaha mengambil pecahan cangkang itu dengan jari. Namun minyak yang mulai panas membuat ujung jarinya tersentuh cipratan panas.

“Aww!” Yudha refleks menarik tangannya lalu meniup-niup jari yang memerah.

Setelah telur mulai matang, ia mengambil spatula untuk membaliknya. Namun karena minyak terlalu banyak dan api terlalu besar, minyak panas justru memercik ke arah wajahnya.

“Ah!”

Ia kembali mendengus frustasi. Kini Yudha sadar minyaknya kebanyakan. Dengan kesal ia menuangkan sebagian minyak dari teflon ke wadah lain. Namun bukannya membaik, jumlah minyak malah menjadi terlalu sedikit. Akibatnya bagian bawah telur cepat mengering dan gosong.

Aroma hangus perlahan memenuhi dapur. Yudha menatap telur mata sapi itu dengan rahang mengeras. Semua perjuangannya berakhir sia-sia.

Saat itulah Kinanti melangkah mendekat.

“Tante buatkan yang baru saja, ya?” tawarnya lembut.

Yudha tidak menjawab. Ia tetap memindahkan telur gosong itu ke atas piring, lalu mengambil sebotol kecap.

“Telurnya sudah gosong. Nanti rasanya pahit,” ujar Kinanti lagi.

Tetap tidak ada respons. Dengan wajah dingin, Yudha membawa piring dan botol kecap ke meja makan. Ia duduk lalu mulai menyantap hasil masakannya sendiri. Gigitan pertama langsung membuat dahinya berkerut. Telur mata sapi gosong itu tentu saja sangat pahit. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa Kinanti benar.

Ia memaksa menelan beberapa suap sambil sesekali meneguk air putih. Tak lama kemudian pandangannya melirik ke arah meja makan. Di bawah tudung saji masih tersimpan udang goreng tepung buatan Kinanti.

Yudha menoleh ke arah dapur. Sunyi…

Ia mengira Kinanti sedang sibuk di belakang. Dengan gerakan cepat, ia mengangkat sedikit tudung saji lalu mengambil beberapa potong udang goreng. Satu demi satu langsung masuk ke mulutnya. Gurih dan renyah, jauh lebih enak daripada telur gosong yang sedang teronggok di piringnya.

Tanpa sadar, tangannya kembali mengambil potongan berikutnya. Di balik dinding dapur, Kinanti memperhatikan semua itu. Senyum kecil terbit di bibirnya. Ia tidak merasa tersinggung karena Yudha diam-diam memakan masakannya.

Justru sebaliknya. Setidaknya hari ini ia mendapat satu jawaban. Mungkin Yudha belum bisa menerima dirinya sebagai ibu. Namun perlahan-lahan, remaja itu mulai menerima masakan yang ia buat dengan setulus hati.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!