Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Raungan mesin mobil hitam milik anak buah Surya Adiguna laksana lolongan serigala yang menggema di antara tebing-tebing curam. Jalur alternatif yang membelah perbukitan ini terkenal dengan kelokan ekstremnya, dihimpit oleh dinding batu di satu sisi dan jurang menganga tanpa pembatas di sisi lainnya.
Jalur ini sengaja dipilih oleh Pak Gibran untuk menghindari kepungan di gerbang tol, namun kini, jalur sepi ini justru menjelma menjadi medan tempur yang mematikan.
Di atas jok belakang motor sport hitam Pak Gibran, Hani mencengkeram erat rompi kulit pria paruh baya itu. Tas ranselnya ia dekap di bagian depan dada, melindunginya seolah benda di dalamnya jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Angin pegunungan yang menusuk tulang menampar wajahnya, berpadu dengan cipratan kerikil yang beterbangan dari roda belakang motor.
"Pegang yang erat, Hani!" teriak Pak Gibran di balik helmnya, suaranya sedikit parau.
Hani melirik sekilas ke arah bahu kanan Pak Gibran. Kain perban yang tadinya putih bersih kini kembali merona merah pekat. Tekanan akibat mengendalikan motor sport berkekuatan besar di jalur ekstrem ini membuat luka tembaknya kembali robek.
Namun, pria tua itu seolah menjelma menjadi mesin yang tidak mengenal rasa sakit, matanya yang menatap lurus ke depan tetap tajam dan penuh perhitungan.
Dari kaca spion, Hani bisa melihat moncong SUV hitam itu kian mendekat. Jarak mereka kini tak lebih dari sepuluh meter.
Sang pengemudi mobil tampaknya tidak peduli lagi dengan keselamatan, beberapa kali mobil besar itu sengaja meliuk ke kanan dan ke kiri untuk memotong jalur angin motor, mencoba menyenggol roda belakang mereka agar tergelincir ke dasar jurang Cikidang yang tertutup kabut tipis.
BRRAAKK!
Benturan pertama tak terhindarkan. Bumper depan mobil itu menyenggol spatbor belakang motor sport dengan keras. Motor sempat limbung, bergoyang hebat ke arah kanan, tepat di bibir jurang yang dalamnya ratusan meter.
Hani memekik, memejamkan matanya rapat-rapat sambil merapalkan doa di dalam hati. Namun dengan keahlian taktis yang luar biasa, Pak Gibran menurunkan kaki kirinya ke tanah, melakukan teknik ekstrem untuk menstabilkan kembali bobot kendaraan, lalu menarik gas dalam-dalam untuk menciptakan jarak.
"Mereka tidak berniat menangkap kita hidup-hidup, Pak!" seru Hani di sela deru angin.
"Surya tahu kalau bukti itu sampai ke Jakarta, riwayatnya tamat! Dia memerintahkan mereka untuk menghabisi kita di jalur sepi ini agar bisa direkayasa sebagai kecelakaan lalu lintas tunggal!" balas Pak Gibran tanpa menoleh.
"Kita harus bertahan sampai memasuki wilayah perbatasan Bogor, di sana tim pengamanan internal Narendra sudah bersiap!"
Namun, ucapan Pak Gibran seolah membentur dinding kenyataan yang pahit. Di depan mereka ada sebuah tikungan tajam. Jalur tersebut sangat sempit, dan dari arah berlawanan, sebuah truk bermuatan bambu sedang melaju pelan, memakan hampir dua pertiga badan jalan.
Melihat celah yang menyempit, pengemudi SUV di belakang mereka justru menambah kecepatan. Mereka berniat mengunci motor Pak Gibran di antara bodi mobil mereka dan bak truk bambu tersebut.
"Pak Gibran! Truk di depan!" jerit Hani, panik memuncak saat melihat mobil di belakang mereka sudah sejajar dengan roda belakang motor.
"Percayalah padaku, Hani! Jangan lepaskan peganganmu!"
Pak Gibran tidak menginjak rem. Alih-alih melambat, ia justru menurunkan gigi persneling dengan paksa, membuat putaran mesin motor berteriak melengking tinggi.
Tepat di titik paling kritis sebelum tikungan, di mana celah antara truk bambu dan pembatas jalan hanya tersisa kurang dari satu meter, Pak Gibran memiringkan motornya hingga sudut yang tak masuk akal.
SREEEKKK!
Lutut Pak Gibran bergesekan dengan aspal, menimbulkan percikan api dari pelindung lututnya. Motor sport itu berhasil melewati celah sempit di samping truk, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tumpukan bambu yang runcing.
Sementara itu, mobil hitam di belakang mereka tidak memiliki kelincahan yang sama. Sang pengemudi yang terkejut melihat truk mendadak membanting setir ke kanan dengan panik.
CIIIIIITTTT! BRAAAKKK!
Suara dentuman keras menggema di belakang mereka. Mobil mewah itu menghantam tebing batu di sisi jalan dengan telak. Kap mesinnya ringsek seketika, menyemburkan asap putih tebal dan oli yang berceceran di atas jalanan. Mobil itu lumpuh seketika, menutup jalur jalan sepenuhnya dan menghentikan pengejaran liar tersebut.
Pak Gibran terus memacu motornya dengan kecepatan stabil selama sepuluh menit berikutnya hingga mereka benar-benar keluar dari jalur Cikidang dan memasuki rute utama yang lebih ramai. Begitu merasa situasi sudah relatif aman, ia mengarahkan motornya ke sebuah area pom bensin yang cukup luas di pinggir jalan raya perbatasan Sukabumi-Bogor.
Ketika motor akhirnya berhenti di dekat jajaran pohon peneduh, Pak Gibran langsung mematikan mesin dan terkulai lemas di atas stang motor. Napasnya memburu cepat, dan keringat dingin bercucuran dari dahinya yang mulai memucat.
Hani bergegas turun dari jok belakang. "Pak Gibran! Bapak tidak apa-apa?"
Pak Gibran melepas helmnya dengan gerakan lambat, tangan kirinya bergetar hebat saat memegangi bahu kanannya yang kini benar-benar basah oleh darah segar. "Luka... lukanya robek parah, Hani. Aku tidak bisa... mengemudi lebih jauh lagi ke Jakarta."
Hani menambahkan tatapan cemas pada kondisi Pak Gibran dengan rasa khawatir yang mendalam. Ia segera memapah pria paruh baya itu untuk duduk di sebuah bangku panjang di area peristirahatan pom bensin. "Kita harus ke rumah sakit sekarang, Pak. Darahnya tidak mau berhenti."
"Tidak... tidak ada waktu," Pak Gibran menggeleng lemah, matanya menatap Hani dengan tatapan penuh permohonan. "Telepon nomor pribadi Narendra sekarang. Katakan posisi kita. Surya pasti punya rencana cadangan jika anak buahnya gagal."
Hani langsung merogoh ponselnya dari saku blus dengan tangan bergetar. Ia mencari kontak nomor pribadi Narendra Baskara yang diberikan subuh tadi sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Setelah beberapa nada sambung yang menegangkan, panggilan itu akhirnya diangkat.
"Hani?! Kamu di mana? Apakah kamu aman?" Suara Narendra di seberang telepon terdengar sangat cemas dan penuh desakan.
"Pak Narendra, saya bersama Pak Gibran di pom bensin perbatasan Sukabumi-Bogor," kata Hani dengan suara tercekat, mencoba menahan tangisnya agar penjelasannya tetap jelas.
"Anak buah Surya mengejar kami. Mobil mereka kecelakaan, tapi Pak Gibran terluka parah karena luka tembaknya robek kembali. Kami membawa bukti aslinya, Pak. Kotak hitam milik almarhum ayah saya."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara Narendra kembali terdengar dengan nada yang jauh lebih tegas dan berwibawa.
"Gibran... dia bersamamu? Syukurlah dia masih hidup. Hani, dengarkan aku dengan baik. Tetap berada di tempat yang ramai di pom bensin itu. Jangan pergi ke mana-mana. Dua mobil tim pengamanan internal tertutupku sudah berada di jalur tol menuju Sukabumi. Mereka akan sampai di posisimu dalam waktu lima belas menit. Aku sendiri yang akan memimpin tim medis untuk menjemput kalian."
"Bagaimana dengan Pak Reza, Pak?" tanya Hani, menyisipkan rasa khawatir yang sejak tadi ia pendam di sudut hatinya.
"Reza sudah sadar satu jam yang lalu," jawab Narendra, memberikan sedikit embusan angin segar di tengah badai yang melanda Hani.
"Hal pertama yang dia tanyakan adalah keberadaanmu. Dia marah besar saat tahu aku membiarkanmu pergi sendiri, tapi setelah aku jelaskan situasi Proyek-X, dia mengerti. Dia memintaku untuk memastikan selembar rambutmu pun tidak boleh terluka, Hani. Jadi, bertahanlah."
"Baik, Pak. Kami menunggu di sini," Hani mengakhiri panggilan tersebut dengan perasaan yang sedikit lebih lega.
Hani kembali duduk di samping Pak Gibran, mengeluarkan botol air mineral dari dalam tasnya dan memberikannya kepada pria itu. Di bawah hangatnya sinar matahari pagi yang mulai meninggi, kompleks pom bensin itu perlahan mulai ramai oleh kendaraan yang hendak menuju arah Jakarta.
"Reza... dia anak yang baik," ucap Pak Gibran tiba-tiba setelah meneguk air minumnya, senyum tipis terukir di wajahnya yang kusam. "Dia sangat mirip dengan ayahnya, Narendra. Mereka berdua memiliki rasa keadilan yang tinggi, sangat berbeda dengan pamannya, Hendra, atau bajingan sekelas Surya Adiguna."
Hani menunduk, menatap tas ranselnya. "Pak Gibran, terima kasih karena telah menjaga rahasia ini selama delapan tahun. Terima kasih karena telah melindungi nama baik ayah saya, meskipun Bapak harus hidup menderita."
Pak Gibran menepuk pelan punggung tangan Hani dengan tangan kirinya yang sehat. "Ayahmu adalah sahabat terbaikku, Hani. Kehormatannya adalah kehormatanku juga. Selama bertahun-tahun aku hidup bersembunyi, hanya satu hal yang membuatku bertahan, melihat hari di mana Surya Adiguna berlutut di depan hukum atas semua kejahatannya."
...****************...
Pria tua itu mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya, di mana dua mobil putih dengan kaca film gelap pekat mendadak berbelok masuk ke area pom bensin dengan kecepatan tinggi namun teratur.
Dari dalam mobil pertama, Narendra Baskara melangkah turun dengan setelan formal yang tampak sedikit kusut karena kurang tidur, diikuti oleh empat pria berbadan tegap dengan pakaian sipil yang langsung menyebar membentuk barikade pengamanan tertutup.
Narendra melangkah cepat menghampiri Hani dan Pak Gibran. Matanya sempat membelalak saat menatap wajah rekan lamanya yang telah hilang selama delapan tahun.
"Gibran..." bisik Narendra, suaranya bergetar penuh emosi.
"Narendra," Pak Gibran mencoba berdiri untuk memberi hormat, namun Narendra langsung menahan pundaknya dengan lembut.
"Jangan banyak bergerak dulu. Tim medis ada di mobil belakang," kata Narendra tegas. Ia kemudian menoleh ke arah Hani, tatapannya beralih pada tas ransel yang didekap wanita itu. "Hani, apakah barangnya aman?"
Hani mengangguk pasti. Ia membuka resleting tasnya, mengeluarkan kotak beludru hitam kecil yang sudah berjamur dan buku catatan harian cokelat milik ayahnya, lalu menyerahkannya ke tangan Narendra Baskara.
Narendra menerima kedua benda itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat ia membuka kotak hitam dan melihat lembar sertifikat saham asli dengan cap jempol darah milik Surya Adiguna, serta sebuah kartu memori MicroSD di bawahnya. Kilat kemarahan sekaligus kepuasan terpancar dari sepasang matanya.
"Permainan catur ini sudah selesai, Surya," bisik Narendra dengan nada dingin yang mematikan.
Ia lalu menatap Hani dan Pak Gibran dengan penuh rasa hormat. "Kalian berdua telah melakukan hal yang luar biasa. Sekarang, biarkan aku yang membawa peluru ini ke Jakarta untuk melakukan skakmat terakhir."